Terpaksa Menikahi Tawanan-ku

Terpaksa Menikahi Tawanan-ku
Bab 33


__ADS_3

Seketika Alex dan Viona diseret paksa keluar dari kamar tersebut, mereka digiring persis orang yang habis melakukan zina di lingkungan masyarakat.


Diam-diam Laurent mengintip di celah pintu kamarnya dan sedari tadi menguping pembicaraan mereka di kamar sebelah. Laurent tersenyum kemenangan melihat Viona dan Alex diseret paksa keluar dari Villa.


"Yes rencanaku berhasil, nikmatilah hidupmu bodoh." ucapnya diiringi gelak tawa bahagia. Sungguh Laurent begitu bahagia, rencananya berhasil.


Sementara itu, nyonya Tias yang sedang menuruni anak tangga sambil menggendong cucu kesayangannya tampak terkejut melihat Viona dan Alex diseret paksa keluar dari Villa.


Nyonya Tias mengalihkan pandangannya ke sudut ruangan hingga menangkap sosok putra semata wayangnya tampak berdiri di sana. Nyonya Tias mengerutkan keningnya melihat penampilan putranya tampak acak-acakan sambil memegang botol minuman.


Nyonya Tias mempercepat langkahnya menuruni anak tangga untuk menghampiri putranya.


"Nak, kenapa mereka di seret seperti itu?" tanya Nyonya Tias kepada putranya yang tengah berdiri di sudut ruangan.


Keynand menghela nafas berat mendengar pertanyaan ibunya. Ia sampai lupa bahwa ibunya sedang berada di villa.


"Karena mereka penghianat! mereka bajingan dan mereka adalah binatang yang habis melakukan kumpul kebo. Mereka para bajingan tidak tahu diri, beraninya mereka melakukan asusila di villa milikku, Mama." ucap Keynand marah, namun sebisa mungkin mengontrol emosinya di depan ibunya.


Nyonya Tias terkejut mendengar ucapan putranya. Sungguh ia sudah dapat menebak bahwa putranya saat ini sedang diselimuti amarah berapi-api. Apakah Viona dan Alex melakukan perselingkuhan di belakang putranya? Jika hal itu terjadi, perbuatan mereka sungguh sangat menjijikkan dan bisa-bisanya mereka bermain api di belakang putra semata wayangnya, pikirnya.


Hingga fokus wanita paruh baya itu beralih pada baby Daisy yang kembali rewel dalam gendongannya. Bayi mungil itu kembali menangis kencang.


Aku bersumpah akan membuat mereka hidup sengsara. Mereka semua hanya lah penghianat yang tidak akan pernah mendapatkan pengampunan dariku, perbuatan mereka sudah melanggar hukum dan kepercayaan ku. Batin Keynand dengan mata memerah yang diselimuti kabut amarah.


Tiba-tiba Viona mengalihkan pandangannya mendengar suara tangis baby Daisy. Viona tampak mencari-cari keberadaan sosok anak sambungnya yang sangat disayanginya itu. Namun sayangnya, ia sudah tidak mampu melihat anak semata wayangnya untuk terakhir kalinya.


"Baby girl, ku harap kau tumbuh dengan baik. Maaf, aku harus pergi meninggalkanmu." gumam Viona dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


Mendadak dada Viona sesak mendengar suara tangis baby Daisy. Tapi ia sudah tidak bisa lagi menenangkannya. Karena saat ini, nyawanya sudah berada di ujung tanduk, jika memang ini menjadi hari terakhirnya hidup di dunia, ia bahkan sudah siap menjemput kematiannya.


Tak ada lagi yang perlu ia gapai atau perjuangkan saat ini. Karena semenjak menjadi tawanan Keynand, seluruh impiannya pupus sudah. Ditambah janjinya kepada mendiang ibunya sudah ia tepati dengan baik tanpa mengingkarinya.


Sementara itu, Alex terus memberontak untuk di lepaskan. Alex tidak suka di seret paksa persis seorang pencuri yang tertangkap basah dan akan dihakimi massa. Padahal ia dan Viona hanyalah korban penjebakan.


Masalah yang sedang dialaminya sekarang murni hanya kesalahpahaman, namun tuannya lebih mengedepankan apa yang dilihatnya di anggap benar, dibandingkan harus mencari bukti terlebih dahulu atau mendengar penjelasannya saja. Memang kenyataannya pria selalu berpikir dengan logika dan selalu mengedepankan sifat emosionalnya.


Aku tidak akan tinggal diam tuan, aku akan mencari bukti dan menangkap orang yang sudah menjebak kami, agar kau mau percaya. Batin Alex.


Dari arah belakang, Keynand melangkah lebar mengikuti orang yang dianggap pengkhianat di depannya. Keynand sudah mengeluarkan titahnya untuk memberikan mereka hukuman cambuk hingga mereka mati mengenaskan.


Karena bagi Keynand hukuman tersebut sudah dianggap setimpal dengan perbuatan yang dilakukan oleh Alex dan Viona. Tak ada keringanan hukuman yang akan mereka dapatkan, kalau perlu Keynand bisa saja langsung menembak mati keduanya. Namun hal itu tidak akan ia lakukan. Lebih baik membunuh mereka secara perlahan-lahan hingga mereka tewas mengenaskan.


"Segera bawa mereka ke markas, lalu siksa mereka tanpa henti. Jika belum mati, maka tempatkan mereka di penjara bawah tanah." perintah Keynand kepada dua anak buahnya.


Para pengawal langsung memasukkan Alex dan Viona ke dalam minibus. Tapi sebelumnya kedua tangan dan kaki Alex dan Viona masing-masing diikat kuat, agar mereka tidak berusaha untuk kabur.


Sementara itu, Keynand juga bersiap untuk pergi. Pria tampan itu melangkah lebar keluar dari Villa hingga berlari kecil menuju mobilnya lalu bergegas naik.


Minibus terlebih dahulu melaju meninggalkan Villa, kemudian disusul oleh mobil Keynand yang juga mulai bergerak meninggalkan Villa. Kendaraan roda empat itu bergerak menuju suatu tempat dan digadang-gadang ke markas besar mereka.


Singkat cerita minibus yang membawa Viona dan Alex tiba di markas besar The Lion. Tak berselang lama, mobil Keynand juga mulai melaju memasuki halaman markas besar The Lion dan berhenti tepat di depan gedung empat lantai yang dijaga ketat oleh pria bertubuh kekar dan masing-masing memegang senjata api.


Kembali Viona dan Alex diseret paksa turun dari mobil lalu digiring masuk ke dalam markas oleh anggota The Lion, dimana keduanya ditodongkan pistol di kepalanya masing-masing. Baik Viona dan Alex hanya mampu diam digiring menuju ke sebuah ruangan gelap dan diyakini ruangan yang akan mereka datangi adalah ruangan pembantaian yang sering digunakan untuk membantai para penghianat dan para musuh klan The Lion.


Raut wajah Viona berubah pucat sepanjang menuruni anak tangga menuju ruang pembantaian, dimana ruangan tersebut letaknya di ruang bawah tanah dan begitu terisolasi dari bangunan bertingkat tersebut.

__ADS_1


Sedangkan Alex merasa lalai, bahkan gagal menjadi orang kepercayaan tuannya. Harusnya hal ini tidak pernah terjadi, namun nasi sudah menjadi bubur. Ditambah wanita yang dikaguminya ikut terseret dalam hal ini. Ia seolah pria tak berguna dan tidak bisa berbuat apa-apa.


Tapi, Alex bertekad untuk mengungkap kebenaran dan menangkap pelaku utamanya. Selagi ia masih bernapas dengan penuh keyakinan ia akan bekerja keras menyelidiki dan menuntas kasus yang tengah di hadapinya. Apapun resikonya ia harus menangkap pelakunya.


"Ikat mereka di tiang!." ucap salah satu anggota The Lion berwajah beringas yang merupakan algojo yang selalu membantai para penghianat.


"Jangan sakiti wanita ini, dia sama sekali tidak bersalah. Limpahkan segala hukumannya kepadaku." ucap Alex dan mencoba bernegosiasi kepada mereka. Ia mencoba untuk melindungi Viona dari hukuman cambuk.


Algojo tadi saling pandang dengan rekannya lalu menatap tajam kearah Alex dan Viona secara bergantian.


"Tidak ada pengecualian, wanita sampah itu akan tetap mendapatkan hukuman cambuk. Kalian pikir akan bebas dari jeratan hukuman pembantaian ku!" ucap suara bariton seseorang yang baru saja masuk ke dalam ruangan tersebut dan orang itu tidak salah lagi adalah Keynand.


"Dia istrimu tuan, tidak seharusnya kau melakukan penyiksaan terhadapnya!" protes Alex.


"Dia bukanlah lagi istriku, hari ini juga aku menceraikannya. Pengacaraku sudah turun tangan mengurus perceraian ku!." tegas Keynand dengan tatapan dingin.


Viona yang mendengar ucapan Keynand hanya mampu menunduk pasrah, toh ia memang tidak pernah dianggap sebagai istri. Jika Keynand ingin menceraikannya, ia tidak bisa berbuat apa-apa, karena segala keputusan selalu ada di tangan pria itu.


"Lakukanlah sesukamu, yang jelas aku tidak pernah berharap menikah denganmu. Kalau perlu bunuh sekalian aku dengan tanganmu sendiri, biar kau semakin puas!" ucap Viona dengan mata memerah.


"Cepat ikat mereka, lalu cambuk mereka tanpa henti!" ucap Keynand dengan nada tinggi dan begitu menggema di ruangan tersebut.


Seketika anak buahnya langsung bergerak mengikat tubuh mereka. Alex memberontak untuk melindungi Viona, namun cambuk sudah mendarat di punggungnya. Alex hanya mampu menggigit bibir bawahnya untuk menahan kesakitan nya. Sesekali ia berteriak keras meminta mereka untuk tidak menyakiti Viona.


Namun Keynand dan anak buahnya tidak peduli dengan teriakannya. Mereka sama sekali tidak memiliki hati nurani. Viona tetap mendapatkan hukuman cambuk.


Bersambung.....

__ADS_1


Mohon maaf baru update 🙏


__ADS_2