Terpaksa Menikahi Tawanan-ku

Terpaksa Menikahi Tawanan-ku
Bab 56


__ADS_3

"Aku tidak tahu tuan." jawab Alex dengan pandangan tertunduk. Sementara wanita hamil bersamanya terkejut bukan main melihat pria yang sangat dikenalnya itu.


"Bohong! kaulah orang yang sudah membawanya kabur." tegas Keynand sambil mengepalkan tangannya menatap tajam ke arah Alex.


"Dan kau! kaulah wanita licik yang sudah menjebak istriku. Aku tidak akan mengampunimu!" bentak Keynand kepada wanita hamil itu sambil menunjuk-nunjuk wajahnya.


"Ya. Aku memang melakukannya, karena aku begitu mencintaimu, Keynand. Aku akan melakukan segala cara demi mendapatkan keinginanku, termasuk menjebaknya demi mendapatkanmu. Karena aku tidak ingin wanita asing masuk ke dalam kehidupanmu dan menjadi ibu sambung putrimu. Kalau kau ingin membunuhku sekarang lakukan saja. Yang jelas kau tidak membunuh nyawa tak berdosa dalam perutku." ucap Laurent panjang lebar.


Keynand tercengang mendengar ucapan Laurent. Tatapannya masih saja penuh intimidasi menatap wanita licik itu. Benarkah mereka sudah menikah? pikirnya.


Sementara Alex bergerak cepat berusaha untuk melindungi Laurent. Ia akan terus melindungi istrinya dan calon bayinya.


"Aku sudah menghukumnya dengan caraku sendiri, tuan. Kau tidak perlu mengotori tanganmu sendiri hanya untuk menghukumnya. Saat ini dia sedang hamil dan bayi dalam kandungannya adalah darah dagingku. Aku akan berusaha melindunginya untuk saat ini. Namun, setelah dia melahirkan penerus untuk keluargaku, kau bisa menghukumnya atau melakukan apa saja terhadapnya. Aku tidak akan ikut campur, tuan." ucap Alex serius sambil menghela nafas berat.


"Dasar bajingan! teganya kau menikahiku lalu menghamiliku. Setelah aku melahirkan penerus untukmu dengan tega kau akan mencampakkan ku hah!" protes Laurent dan begitu marah mendengar ucapan Alex. "Jadi sikap baikmu dan segala perhatianmu selama ini hanya kebohongan belaka?" ucap Laurent dengan sorot mata penuh kekecewaan.


"Ya. Aku menghukum mu dengan cara seperti ini, jadi terima saja. Semua perhatian yang kuberikan kepadamu hanya untuk calon bayiku, bukan untukmu." ucap Alex sambil buang muka. Ada keraguan dari lubuk hatinya mengatakan semua itu.


"Kalau begitu mulai sekarang ceraikan aku!. Satu lagi aku tidak akan pernah menyerahkan anakku kepadamu. Lebih baik aku mati bersama anakku dibandingkan harus menyerahkannya kepadamu pria bajingan!" ucap Laurent dengan amarah menggebu-gebu sambil menunjuk ke arah Alex. Ternyata ia salah mengartikan sikap baik dan segala perhatian yang dilakukan pria itu untuknya.


"Cukup! aku tidak ingin mendengar pertengkaran kalian!" bentak Keynand kepada mereka. "Aku tidak peduli wanita licik ini sedang hamil atau tidak, dia akan tetap mendapatkan balasan yang setimpal dariku." ucap Keynand dingin.


"Tidak tuan, selama aku menjadi orang kepercayaanmu aku tidak pernah meminta sesuatu darimu. Maka dari itu, sekarang aku menagih janjimu, permintaanku cuma satu... tolong jangan sakiti istriku, karena dia sedang hamil anakku." ucap Alex dengan tatapan memohon.


"Ciihh! aku tidak menyangka kau menikahi wanita licik yang sudah menjebakmu. Apa stok wanita baik sudah habis sampai kau menikahi wanita macam dia! Alex...Alex, kau sungguh bodoh.Tidak seharusnya kau memohon kepadaku hanya untuk wanita ini." ucap Keynand menghela nafas berat.


"Ini sudah menjadi keputusanku, tuan. Aku mohon, jangan sakiti istriku. Aku sendiri yang sudah memberikan hukuman kepadanya." ucap Alex dengan pandangan tertunduk sambil mengatupkan kedua tangannya.


"Jika kau menikahinya cuma untuk melahirkan penerusmu, itu hal yang salah. Banyak wanita baik di luar sana yang bisa kau dapatkan untuk melahirkan penerusmu, Alex. Mengapa harus wanita seperti dia, bukankah kau sudah menjadi penerus keluargamu, kau bisa mencari atau membeli wanita yang siap menjadi istrimu." ucap Keynand dan begitu menyayangkan keputusan Alex.


Sementara Laurent mengepalkan tangannya dengan dada bergemuruh mendengar ucapan kedua pria itu yang sungguh menyayat hati. Pikirannya mulai kacau, sebaiknya ia mengakhiri saja permasalahan tersebut.


Sedangkan Alex sendiri masih saja berusaha keras untuk memohon pengampunan untuk sang istri. Mereka mengobrol dengan seriusnya tanpa memperdulikan Laurent.

__ADS_1


Dengan perasaan kacau, Laurent melihat disekelilingnya hingga pandangannya tertuju pada pengendara motor yang berkendara ugal-ugalan melaju kearahnya.


Tanpa pikir panjang Laurent langsung menghadang pengendara motor tersebut di tengah jalan dan membiarkan untuk menabraknya.


Tak berselang beberapa menit, terdengar suara tabrakan. Sontak Alex dan Keynand mengalihkan pandangannya hingga mereka terlonjat kaget melihat tubuh Laurent berlumuran darah dan sudah tergeletak di pinggir jalan.


"Laurent!" teriak Alex memanggil istrinya dan segera menghampirinya.


"Segera bawa dia ke rumah sakit." perintah Keynand.


Tanpa mengucapkan sepatah katapun Alex segera melarikan istrinya ke rumah sakit. Sementara Keynand memutuskan untuk pulang ke kediamannya.


*


*


*


Sementara di tempat lain...


"Bibi, tolong diingat kembali alamatnya." ucap Viona cemas sambil mengelus perutnya. Apalagi cuaca sudah mendung tanda akan turun hujan.


"Kalau tidak salah alamatnya di Jln mawar. " ucap Bibi Jane dengan dugaannya. Karena ia hanya sekali berkunjung ke rumah kerabat dekatnya. Itupun saat dirinya masih gadis, bayangkan saja hal itu sudah berpuluh tahun lamanya.


"Sebaiknya kita cari tempat penginapan dulu bibi, lihat langit begitu mendung, bahkan gerimis sudah turun" ucap Viona memelas.


"Benar kata Vivi. Kita harus cari penginapan untuk istirahat." timpal nenek Rosi dan raut wajahnya tampak lelah.


"Ya sudah, ayo kita cari penginapan di sekitaran sini." ucap Bibi Jane.


Kemudian mereka berjalan bersama-sama melewati jalanan yang sedang dipadati kendaraan mengingat jam seperti ini adalah waktu macet-macetnya di jalan raya.


Viona sudah kelelahan berjalan jauh, namun mereka belum juga menemukan penginapan dengan harga murah. Hanya ada hotel-hotel berbintang yang sama sekali tidak sesuai dengan isi dompet mereka.

__ADS_1


Tiba-tiba hujan turun dengan derasnya membuat Viona, bibi Jane dan Nenek Rosi basah kuyup. Mereka segera menyeberang jalan menghampiri halte bus untuk berteduh. Namun, mendadak sebuah mobil melaju kencang kearah mereka.


Nenek Rosi yang masih dituntun oleh bibi Jane menyeberang jalan langsung menghentikan langkahnya melihat mobil melaju kencang kearahnya. Kedua kaki mereka tak mampu digerakkan untuk beranjak pergi dan hanya mampu memasang badan di tengah jalan dengan penuh ketakutan.


"Nenek! bibi!" teriak Viona memanggil mereka, dimana Viona sudah menyeberang jalan terlebih dahulu.


Sementara si pengendara mobil yang asik memainkan ponselnya mulai mengalihkan pandangannya ke arah depan hingga matanya membulat sempurna, bahkan ponsel di tangannya terjatuh begitu saja. Dengan cepat di pengendara langsung banting stir.


Criiiittt....


Mobilnya menabrak pembatas jalan. Si pengendara mobil langsung menggeram kesal karena terpaksa menabrak pembatas jalan, agar tidak menabrak kedua pejalan kaki tersebut.


Sementara Nenek Rosi dan Bibi Jane terlihat berpelukan dan seolah pasrah ditabrak mobil. Mereka menyerahkan segalanya pada Yang Maha Kuasa.


"Nenek, bibi, kalian baik-baik saja kan?" tanya Viona menghampiri mereka.


Keduanya hanya mampu mengangguk dan masih saja syok atas kejadian tersebut. Viona lalu berhambur memeluk mereka.


Sedangkan si pengendara mobil yang merupakan seorang pria bergegas turun dari mobilnya. Penampilan pria itu begitu rapi dengan setelan jas yang dipakainya. Sepatu pantofel berwarna hitam tampak mengkilat di kedua kakinya.


Pria itu melangkah dengan langkah lebar sambil menggunakan payung hitam. Sorot matanya begitu tajam bagaikan elang yang siap menerkam mangsanya. Tidak hanya itu, hawa dingin disertai awan gelap seketika mengelilingi pria itu.


Perlahan pria itu menghampiri pejalan kaki yang hampir saja ditabraknya.


"Apa kalian terluka?" tanyanya dengan suara berat.


Refleks Viona, bibi Jane dan Nenek Rosi langsung melepaskan pelukannya, lalu berbalik badan menghadap ke arah pria itu.


Deg!


Viona langsung membulatkan kedua matanya melihat pria itu. Begitu halnya sebaliknya tingkah pria itu yang bertatapan langsung dengan wanita hamil. Dan tanpa sadar pria itu langsung menjatuhkan payung hitam yang dipegangnya.


"Viona!" ucap pria itu dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


Bersambung.....


Mohon maaf baru update 🙏 soalnya akhir-akhir ini aku sibuk banget 🙏


__ADS_2