Terpaksa Menikahi Tawanan-ku

Terpaksa Menikahi Tawanan-ku
Bab 17


__ADS_3

"Aku membencimu Keynand, aku sangat membencimu. Kau sungguh tidak menghargai seorang wanita. Kenapa kau terus mengatakan bahwa aku hanyalah sampah dan wanita kotor. Apa begitu buruknya aku di matamu. Asal kau tahu, aku ini masih suci. Aku bersumpah tidak akan pernah membuka hatiku untukmu." ucap Viona mengeluarkan unek-uneknya karena sakit hati dengan ucapan Keynand.


Sebelum berangkat ke kantor pencatatan sipil, lagi-lagi Keynand mencaci maki dirinya bahkan merendahkannya dan bersumpah tidak akan pernah menyentuhnya selama menjadi istrinya.


"Ya Tuhan, sanggupkah aku menjalani rumah tangga dengan keterpaksaan seperti ini. Kami sama sekali tidak memiliki perasaan satu sama lain, tidak ada kata cinta diantara kami berdua. Kami hanya sekedar menikah, dan aku hanya dijadikan sebagai seorang pengasuh bukan seorang istri untuknya, hiks...hiks..hiks." gumam Viona berderai air mata.


Mungkin ini merupakan salah satu karma baginya, mengingat bagaimana kelakuannya di masa lalu terhadap Anna (saudara sepupunya). Viona sungguh menyesali perbuatannya di masa lalu. Jika dia memiliki kesempatan untuk bertemu kembali dengan Anna, dia ingin meminta maaf kepadanya, bahkan ingin memohon-mohon agar mendapatkan maaf dari Anna. Pasalnya dia begitu berdosa kepada saudara sepupunya itu.


Viona mengusap kasar air matanya. Tidak seharusnya dia menangis seperti ini. Harusnya hal ini menjadi momen bahagia baginya, karena dia selalu bermimpi untuk menjadi istri Keynand.


Namun seribu sayang, walaupun impiannya sudah terwujud, akan tetapi hanya penderitaan dan cacian yang dia dapatkan dari pria itu. Menikah tanpa cinta sungguh teramat menyakitkan, dia pun akan menjalaninya mulai dari sekarang.


Tok


Tok


Tok


"Nak Viona, apa kau ada di dalam?" teriak seseorang diluar kamarnya dan sedang mengetuk pintu kamarnya berulang kali.


"Iya Bu, aku baru saja pulang." teriak Viona sambil mengusap sisa-sisa air matanya. Setelah itu, dia bergerak cepat membuka pintu kamarnya.


Ceklek


Viona membuka pintu kamarnya lalu bersandar di daun pintu. Dia pun tersenyum melihat wanita paruh baya yang sudah dia anggap sebagai ibunya sendiri. Sementara wanita paruh baya itu tampak mengerutkan keningnya melihat kedua mata Viona tampak sembab seperti habis menangis.


"Ada apa Bu Mary?" tanya Viona.


"Nyonya Tias mencarimu, sana temui di kamar nona muda." ucap wanita paruh baya itu yang tidak lain adalah Bu Mary.


"Baik Bu, kalau begitu aku ke atas dulu" ucap Viona tersenyum dan Bu Mary hanya menggangguk menanggapi ucapannya. Kemudian Viona melangkah terburu-buru menuju kamar Baby Daisy.

__ADS_1


"Bergegaslah temui nyonya Tias, sepertinya ada hal penting yang ingin dibicarakan kepadamu." ucap Bu Mary berteriak sembari menatap punggung Viona yang mulai menjauh darinya.


"Iya Bu." ucap Viona sembari berbalik badan menghadap ke arah Bu Mary dan Bu Mary hanya mampu mengangkat kedua tangannya memberikan semangat kepada Viona. Kemudian Viona melanjutkan langkahnya menuju kamar Baby Daisy yang terletak di lantai dua.


Sebelum masuk ke dalam kamar baby Daisy, Viona terlebih dahulu mengetuk pintu. Setelah mendengar suara seseorang mempersilahkannya masuk ke dalam kamar, dengan hati-hati Viona langsung membuka pintu kamar tersebut lalu bergegas masuk ke dalam.


Dengan begitu antusiasnya Nyonya Tias melangkah menghampiri Viona.


"Selamat atas pernikahanmu sayang. Sekarang kau sudah menjadi istri Keynand dan sekaligus ibu dari cucuku, itu artinya kau bagian dari keluarga kami. Mama sangat senang akhirnya kalian menikah. Semoga kalian bahagia hingga maut memisahkan dan keinginan Mama secepatnya berikan adik untuk cucuku. Jangan sekali-kali menunda-nundanya, nak Viona." ucap Nyonya Tias tersenyum sambil memegang kedua bahu Viona.


"Terima kasih, tante. Kami akan berusaha mewujudkan keinginan tante." ucap Viona tersenyum.


Maaf tante, aku tidak bisa mewujudkan keinginan tante secepatnya. Karena sesungguhnya kami menikah hanya karena unsur keterpaksaan. Kemungkinan besar secepatnya Keynand akan menceraikan. Batin Viona sambil menghela nafas berat.


"Loh, kok tante sih. Panggil saja mama, karena kau itu sudah menjadi putriku." protes nyonya Tias yang mendengar panggilan Viona.


"Maaf tan...Emm maaf Mama." ucap Viona terbata-bata.


"Nah, itu baru benar. Tidak usah meminta maaf, karena kau itu tidak salah apa-apa sayang." ucap Nyonya Tias tersenyum sambil membelai rambut Viona, membuat Viona seolah mendapatkan kembali kasih sayang dari mendiang ibunya.


Sementara itu, Viona mengalihkan pandangannya ke arah tempat tidur baby Daisy. Dia pun langsung tersenyum melihat baby Daisy sedang tertidur pulas di atas tempat tidur bayinya.


"Sekarang tante sudah menjadi ibu sambung mu sayang. Semoga kau senang dan menerima pernikahan tante dengan ayahmu." gumam Viona dengan mata berkaca-kaca.


"Viona, kemari nak." ucap Nyonya Tias yang sedang duduk di sofa sambil memegang kotak perhiasan.


"Iya tante." ucap Viona cepat sembari melangkah mendekat ke arah Nyonya Tias.


"Loh kok tante lagi" Lagi-lagi nyonya Tias melontarkan kata-kata protes kepada menantunya. Karena kembali memanggilnya dengan sebutan tante.


"Maaf Mama, aku belum...." Viona tidak melanjutkan ucapannya.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, mulai hari ini biasakan ya sayang panggil mama. Karena mama akan marah jika kau tidak memanggil dengan sebutan mama." ucap nyonya Tias antusias berpura-pura marah. Dia pun sengaja melakukannya untuk memberi peringatan kepada Viona perihal panggilannya.


"Baik mama." ucap Viona tersenyum tipis disertai anggukan kepala dan nyonya Tias lagi-lagi tersenyum merekah dan begitu bahagianya kembali memiliki menantu.


"Duduk, nak Viona" ucap nyonya Tias lemah lembut kepada Viona. Sedangkan Viona bergegas duduk di sofa tepat di sampingnya.


"Ini hadiah untukmu, jangan lupa di pakai." ucap Nyonya Tias sambil menyodorkan kotak perhiasan yang berisi satu stel perhiasan emas putih berlapis berlian mulai dari cincin, gelang, kalung, anting dan gelang kaki.


Viona hanya mampu menganga menatap perhiasan berkilauan indah dan diyakini harga perhiasan tersebut bukan kaleng-kaleng, bisa saja seharga rumah mewah.


"Ini terlalu mewah, ak-akku tidak pantas untuk...."


"Tidak, ini memang khusus untukmu nak dan sudah menjadi tradisi di dalam keluarga kami. Setiap menantu perempuan berhak mendapatkan satu stel perhiasan. Jadi jangan menolaknya." tegas Nyonya Tias.


"Oh iya, sebagian barang-barangmu sudah dipindahkan Mary di kamar ini. Jadi mulai sekarang kau akan menempati kamar ini." jelas nyonya Tias.


"Baik Mama." ucap Viona dengan anggukan kepala sambil menghela nafas berat.


*


*


*


Malam harinya....


Tepat pukul 1 malam Keynand baru tiba di Villa. Setelah selesai mendaftarkan pernikahannya, Keynand memilih ke kantor untuk bekerja, sepulang kerja dia sempat mampir ke club malam untuk bertemu dengan salah satu rekan bisnisnya, setelah itu barulah dia pulang ketika larut malam.


Dengan pelan-pelan Keynand membuka pintu kamarnya dan dia terkejut mendapati Viona masih terjaga dan sepertinya wanita tawanannya sedang membantu putrinya minum susu. Karena di jam-jam seperti ini biasanya putrinya terbangun karena lapar.


Keynand melangkah masuk dan tidak lupa menutup kembali pintu kamarnya lalu menguncinya. Dia menatap sekilas kearah Viona yang sedang membantu putrinya menyusu di atas tempat tidur.

__ADS_1


"Ternyata mereka belum tidur." ucap Keynand dengan raut wajah tampak lelah.


Bersambung


__ADS_2