Terpaksa Menikahi Tawanan-ku

Terpaksa Menikahi Tawanan-ku
Bab 27


__ADS_3

"Nak Viona, kau sakit?" tanya Nyonya Tias dengan nada khawatir dan Viona langsung menggeleng cepat tidak membenarkan ucapan ibu mertuanya.


"Aku hanya kurang enak badan, mama." jawab Viona sambil menundukkan pandangannya. Dia tidak ingin orang-orang merasa curiga kepadanya.


"Kalau begitu, beristirahat lah nak dan jangan khawatirkan Isy. Biar mama yang mengurusnya. Jangan lupa minum vitamin." ucap Nyonya Tias tersenyum.


"Baik mama." ucap Viona sembari mengangguk.


Mereka berempat mulai menikmati sarapannya. Sesekali Alex melirik ke arah Viona yang terlihat menunduk sambil mengunyah makanannya. Alex merasa aneh dengan sikap Viona yang tampak tidak bersemangat pagi ini. Tidak biasanya dia melihat wanita itu menjadi murung.


Gerak-gerik Alex mengundang perhatian Laurent. Diam-diam Laurent juga melirik ke arah Alex untuk mengetahui siapa objek yang sedang diperhatikan oleh Alex.


Aku sangat yakin pria babu ini begitu menyukai Viona. Tenang saja, tidak lama lagi aku akan mempersatukan kalian. Batin Laurent dengan seringai licik diwajahnya.


Tiba-tiba saja Viona terbatuk-batuk, refleks Alex langsung menyodorkan segelas air putih untuk Viona, dengan cepat Viona langsung mengambilnya lalu meneguk segelas air putih hingga tandas dan akhirnya mampu melegakan tenggorokannya.


"Terima kasih." ucap Viona menatap ke arah Alex.


"Sama-sama." ucap Alex tersenyum tipis.


Wow... mereka berinteraksi dengan baik, sungguh pasangan yang serasi. Ini benar-benar sangat menarik, aku sudah tidak sabar untuk menjalankan rencanaku. Batin Laurent menyeringai.


Selesai sarapan, mereka meninggalkan meja makan. Kebetulan hari ini adalah hari weekend sehingga mereka hanya mampu menghabiskan waktunya di villa.


*


*


*


Malam harinya....


Viona begitu canggung berada di dalam kamar bersama dengan Keynand. Bahkan dia tidak bisa bernafas dengan leluasanya ketika melihat pria itu dengan santainya duduk bersandar di kepala tempat tidur sambil memainkan ponselnya.


Seketika kejadian semalam langsung terlintas di pikirannya. Viona langsung memijit pangkal hidungnya dan tidak ingin kembali mengingat bayangan dirinya bercinta dengan Keynand. Dia pun memutuskan tidak ingin tidur di tempat tidur yang sama ditempati oleh Keynand.

__ADS_1


Malam ini Viona putuskan untuk tidur di sofa. Tapi, keputusannya tidak bisa terlaksana dengan baik, karena baby Daisy mendadak menjadi rewel dan sudah tidak betah menempati tempat tidur bayinya.


Hal itu membuat Viona langsung mengangkat tubuh baby Daisy lalu menggendongnya dengan penuh kasih sayang. Viona lalu berjalan kesana-kemari sembari menggendong baby Daisy dan tak henti-hentinya mencoba menenangkan baby Daisy agar membuatnya berhenti menangis.


Namun sayangnya, bayi mungil itu masih saja terus menangis. Hal tersebut mengundang perhatian seorang Keynand. Dia bergegas turun dari tempat tidur lalu melangkah menghampiri mereka.


"Sayang, sini sama ayah." ucap Keynand sambil mengulurkan kedua tangannya untuk mengambil putrinya dari gendongan Viona.


"Katakan sayang, kalau Viona yang sudah membuatmu menangis." ucap Keynand dengan nada khawatir, dimana putrinya sudah berada dalam gendongannya.


Keynand mencoba mengajak putrinya berbicara, padahal jelas-jelas putrinya belum tahu apa-apa. Tapi, dia seenggaknya sedang berusaha untuk menenangkan putrinya.


"Viona, awas kau jika membuat putri kecilku menangis. Tidak ada yang boleh membuatnya menangis, termasuk kau!" ucap Keynand berpura-pura marah kepada Viona. Refleks baby Daisy langsung menghentikan tangisnya dan mulai mengerjapkan matanya melihat wajah ayahnya.


Sementara Viona hanya mampu memutar bola matanya jengah mendengar ucapan dari Keynand. Bisa-bisanya pria itu mengompori dirinya bersama baby Daisy.


"Viona!"


"Iya, kenapa?" ucap Viona dengan malasnya.


"Tunggu sebentar." ucap Viona dengan cueknya lalu melangkah ke ruang bayi yang khusus disiapkan untuk baby Daisy di dalam kamar tersebut.


"Cepat ambilkan mainannya!" teriak Keynand kepada Viona.


"Iya tunggu!" ketus Viona sembari melangkah


ke ruang bermain khusus untuk baby Daisy.


Ruang bermain baby Daisy sengaja di desain sedemikian rupa dan lebih dominan bermotif ala-ala princess bak negeri dongeng, mengingat baby Daisy berjenis kelamin perempuan, otomatis desainnya ala-ala ruang princess.


Tidak hanya itu, ruang bermain baby Daisy terdapat banyaknya aneka mainan diantaranya baby playmat dan playgym, kerincingan, boneka dan masih banyak lainnya. Playmat bayi adalah karpet yang dirancang sebagai arena bermain dan juga terdapat playgym yang memiliki mainan gantung. Playmat dan playgym mendorong bayi untuk mengeksplorasi lingkungannya melalui penglihatan, sentuhan, dan suara. Dengan cara ini, ia bisa melihat mainan berbagai warna yang digantung di atasnya, menyentuh dan merasakan tekstur karpet, serta mendengar suara kerincing dari mainan yang ia sentuh. Alas playmat dengan warna-warna cerah juga mendorong bayi untuk tengkurap serta melatih kekuatan tangan dan kakinya.


Selain itu, kerincingan bayi biasanya terbuat dari bahan yang ringan sehingga mudah digenggam bayi. Mainan ini memang membantu melatih kemampuan menggenggam bayi. Selain itu, kerincingan mengajarkan konsep sebab-akibat pada bayi. Ketika ia menggerakkan tangannya, kerincingan yang dia pegang akan berbunyi. Walau sederhana, hal ini akan membuat bayi merasa senang.


Kemudian Viona menghampirinya sambil membawa kerincingan dan juga playgym. Sedangkan Keynand sedang membaringkan tubuh putrinya di atas tempat tidur yang selalu ditempatinya.

__ADS_1


Pasalnya setiap kali Keynand akan membaringkan baby Daisy di atas tempat tidur bayi, mendadak putri kecilnya menangis. Sehingga Keynand memilih membaringkan tubuh putrinya di atas tempat tidur sambil menunggu kedatangan Viona.


"Lumayan juga, akhirnya kau berhasil menenangkan putrimu." ucap Viona tersenyum tipis melihat keakraban ayah dan anak itu.


"Segera bawa kesini mainannya." ucap Keynand yang sudah tak sabaran.


Viona melangkah cepat mendekat kearahnya, lalu meletakkan mainan baby Daisy di samping Keynand.


"Itu mainannya. Kau yang ingin istirahat terlebih dahulu atau aku?" ucap Viona dengan tatapan dingin.


"Beristirahatlah terlebih dahulu, biar aku sendiri yang mengurus putriku malam ini." timpal Keynand.


"Oke, aku sungguh lega akhirnya kau mau membantuku." ucap Viona tersenyum tipis lalu berbalik badan untuk mendekat ke arah sofa.


Namun baru beberapa langkah, Viona kembali menghentikan langkahnya mendengar ucapan Keynand.


"Kau tidak boleh tidur di sofa, tempat tidurmu disini." ucap Keynand lalu menepuk bantal di sampingnya. Tidak mungkin dia akan membiarkan Viona tidur di sofa, pasalnya ketika putrinya kembali rewel otomatis sudah menjadi tugas wanita tawanannya.


"Baiklah" ucap Viona lalu mendekat ke arah tempat tidur.


Dengan hati-hati Viona naik ke atas tempat tidur lalu berbaring di sisi bagian sebelah kiri, sedang Keynand duduk di pinggir tempat tidur pada bagian sebelah kanan yang tengah asyik membuat putrinya tersenyum.


"Viona!" ucap Keynand melirik kearah wanita tawanannya yang tampak berbaring. Sontak Viona mengubah posisinya menyamping menghadap kearahnya.


"Ada apa?" tanya Viona dengan kening berkerut.


"Aku minta maaf untuk kejadian semalam. Dan anggap saja kejadian itu tidak pernah terjadi di antara kita." ucap Keynand serius.


"Lupakan saja, tidak ada yang perlu disesalkan." balas Viona tersenyum sinis.


"Ya kau benar. Tidak ada yang perlu kita sesalkan." timpal Keynand dan kembali melirik ke arah Viona yang terlihat sudah memejamkan matanya.


Pandangan Keynand beralih menatap leher jenjang Viona yang sudah di penuhi tanda kissmark dan itu adalah perbuatannya.


"Aku sampai tidak sadar melakukannya." ucap Keynand tersenyum tipis melihat hasil karyanya semalam.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2