
Alex tersenyum miring, tanpa basa-basi Alex langsung mencium bibir Laurent dan melumattnya dengan racusnya. Membuat Laurent mengerjapkan matanya dan langsung mencubit perut Alex. Refleks Alex menarik tengkuknya untuk memperdalam ciumannya.
"Ha ha ha, kalian boleh lanjutkan di kamar." ucap tuan Joseph diiringi gelak tawa, kemudian mengajak orang tua Laurent ke ruang makan untuk menikmati jamuan makan siang bersama.
Laurent memberontak agar Alex berhenti menciumnya. Bisa-bisanya pria babu itu menikmati bibirnya tanpa ingin melepaskannya.
Laurent sungguh tidak rela ciuman pertamanya di ambil oleh Alex. Ia ingin menenggelamkan Alex ke lautan paling dalam karena begitu lancang menciumnya
"Emmpphh.... berhenti!!..." ucap Laurent marah, lalu mendorong dada bidang Alex dengan kencang hingga membuat Alex mundur beberapa langkah sampai ciumannya terlepas.
"Kau sengaja memanfaatkan keadaan dengan mengambil kesempatan dariku!" kesal Laurent sambil menunjuk wajah Alex.
"Aku hanya...."
Laurent menggerutu kesal sambil menghentakkan high heels nya lalu bergerak cepat menyusul kedua orang tuanya. Ia tidak mau mendengarkan penjelasan pria babu itu. Ibunya harus tahu masalahnya, supaya bisa membawanya pergi dari pria babu itu.
Sementara itu, Alex menyeringai sambil mengusap bibirnya. Alex sungguh terbawa suasana dan cukup lama menikmati bibir Laurent yang semanis permen. Dan ini kali pertamanya dirinya mencium wanita, ditambah wanita itu sudah sah menjadi istrinya. Bisa dikatakan wanita licik itu beruntung di cium olehnya.
*
*
*
Sementara di tempat lain....
Viona begitu antusias membantu Bibi Jane memanen bunga. Padahal bibi Jane dan Nenek Rosi berusaha keras melarangnya dan memintanya untuk tinggal di rumah, mengingat kondisinya yang tengah hamil muda. Namun wanita itu begitu keras kepala.
Untungnya cuaca di tempat tersebut agak mendung jadi dimanfaatkan dengan baik oleh para petani yang akan memanen bunga yang sudah siap panen.
Berbagai macam bunga dibudidayakan di perkebunan tersebut mulai dari bunga Krisan atau serunai, bunga gladiol, bunga botan, bunga mawar, bunga amarilis dan lainnya.
"Bibi Jane, keranjangku sudah penuh." teriak Viona di tengah perkebunan yang habis memanen bunga Krisan.
Seketika para petani menoleh ke arah wanita cantik yang begitu bahagia sedang memanen bunga. Para petani melambaikan tangan kearahnya. Sontak Viona juga melambaikan tangannya ke arah para petani dan berteriak keras menyemangati mereka.
"Taruh saja di situ, biar bibi yang mengangkatnya." ucap bibi Jane.
"Baik bibi." teriak Viona dengan antusiasnya.
Kulit Viona yang putih bersih semakin bersinar di tengah perkebunan bunga. Membuat beberapa petani yang umumnya kaum pria terus menatap ke arah Viona yang bagaikan bidadari turun dari langit. Mereka tak henti-hentinya mengagumi kecantikan Viona. Sampai-sampai pekerjannya terbengkalai.
Sehingga menimbulkan percikan api cemburu oleh para wanita di tempat tersebut. Mereka menganggap Viona hanyalah wanita penggoda yang sedang menarik perhatian kaum pria. Beberapa dari mereka begitu iri dan membenci Viona.
__ADS_1
"Kita harus mengusir wanita asing itu dari desa, jika terus dibiarkan... bisa saja dia merebut suami kita." ucap wanita setengah baya bernama Norin.
"Betul, aku setuju." timpal temannya.
"Terus bagaimana caranya, tidak mungkin kita bisa melawan Jane. Jane wanita terkuat di desa ini." timpal teman satunya.
"Menurutku kita bisa libatkan Bu kades sebelum semuanya terlambat." ucap Norin dengan idenya.
"Aku setuju." kompak kedua temannya. Mereka menatap penuh kebencian ke arah wanita asing yang menjadi saingannya di desa tersebut.
Tampak Viona dan Bibi Jane berjalan bersama-sama melewati ketiga wanita yang sedang menatapnya dengan tatapan tidak suka. Bibi Jane menganggap ketiga wanita itu trio gosip dan biang kerok di desanya.
"Bibi Jane, siapa mereka? kenapa mereka menatap kita dengan tatapan tidak suka? apa bibi punya dendam kepada mereka?" tanya Viona.
"Mereka trio gosip yang selalu cari masalah. Jangan ladeni dia." jawab bibi Jane.
"Baik bibi." ucap Viona tersenyum.
Mereka sampai di rumah saat senja. Nenek Rosi menyambut mereka dengan antusias dan langsung menghampiri Viona untuk menanyakan kondisinya. Pasalnya wanita cantik itu tengah hamil muda.
"Ayo duduk, kalian pasti lelah. Nenek sudah buatkan kalian teh hangat." ucap Nene Rosi sambil menarik tangan Viona lalu menuntunnya duduk di kursi.
"Aku baik-baik saja nenek. Kalau aku terus tinggal di rumah, seluruh tubuhku bisa saja sakit-sakitan." ucap Viona tersenyum sambil memamerkan gigi ratanya.
"Jangan khawatirkan aku nenek, aku bisa menjaga calon anakku dengan baik, percayalah." ucap Viona tersenyum lalu melepaskan pelukannya.
Viona segera meminum teh buatan nenek Rosi lalu berlari kecil menuju kamarnya.
"Astaga anak ini, jangan terus berlari seperti itu kau sedang hamil!" tegur nenek Rosi.
"Biarkan saja ibu." ucap bibi Jane tersenyum lalu melangkah ke kamarnya.
*
*
*
Sementara di tempat lain....
Suasana malam hari di mansion mewah tuan Joseph tampak meriah dengan diadakannya sebuah pesta atas pernikahan Alex dan Laurent yang diadakan di area halaman belakang. Pesta tersebut hanya dihadiri oleh kerabat dekat dan para pekerja di mansionnya.
Semua orang begitu antusias dan enjoy menikmati pesta tersebut. Sementara Alex dan Laurent sedari tadi meninggalkan area pesta. Mereka sudah berada di dalam kamar sedari tadi.
__ADS_1
Laurent duduk termenung menatap koper miliknya yang dibawa langsung oleh ibunya.
Mommy, Daddy, kenapa kalian begitu bahagia dengan pernikahan palsu ku. Aku pikir kalian tidak merestui ku dengan pria babu itu. Tapi nyatanya dugaanku salah. Batin Laurent kesal.
"Mereka seolah mengusirku dari rumah dengan membawa koper ini." kesal Laurent lalu menendang koper tersebut.
Ceklek
Laurent langsung mengalihkan pandangannya ke arah pintu kamar mandi dan terkejut melihat Alex bertelanjang dada berdiri di sana. Ia langsung buang muka dengan wajah merona.
Bersamaan pula pintu kamarnya di ketuk dari luar. Alex bergerak membuka pintu kamar dan terlihat sedang berbicara dengan seseorang.
Kemudian kepala pelayan masuk ke dalam kamar, lalu mengambil koper Laurent.
"Mau dibawa kemana koperku?" tanya Laurent mencoba merebut kembali kopernya dari tangan kepala pelayan. Namun kepala pelayan bergegas keluar dari kamar tuan mudanya
"Aku menyuruhnya untuk membuangnya." ucap Alex dengan entengnya lalu mengunci pintu kamarnya.
"Apa maksudmu hah! koperku berisi pakaian mahal dan kau tidak mampu membelinya untukku!" ketus Laurent.
"Aku bisa membelinya untukmu, bahkan bersama tokonya." ucap Alex dingin menatap tajam ke arah Laurent. " Bukankah selama kau menjadi tawananku, selamanya kau hanya memakai handuk." ucap Alex dengan seringai licik diwajahnya lalu berjalan ke ruang ganti.
"Sialan!, brengsek kau Alex!" geram Laurent lalu berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Dia butuh air dingin untuk menjernihkan seluruh tubuhnya yang panas yang diselimuti amarah.
Di kamar mandi, Laurent menanggalkan seluruh pakaiannya lalu berdiri di bawah shower. Air berjatuhan membasahi seluruh tubuhnya sehingga membuatnya menjadi rileks.
Sementara itu, Alex sudah mengenakan piyama tidur dan tengah berdiri di depan jendela menatap ke halaman belakang tempat diselenggarakannya pesta.
"Aku akan membuktikan ucapanku!" ucap Alex tersenyum sinis sambil mengepalkan tangannya.
Tak berselang lama kemudian, Laurent keluar dari kamar mandi hanya mengenakan jubah mandi. Laurent mengalihkan pandangannya mencari keberadaan Alex hingga dia terkejut melihat Alex berdiri di depan jendela yang luas. Namun Alex dengan cepat menutup tirai jendela lalu berbalik badan menghadap ke arah Laurent.
"Pakaianku dimana?" tanya Laurent dengan ketusnya. Karena kopernya sudah dibuang, jadi dia meminta pakaian kepada Alex.
"Untuk apa kau mencari pakaian, bukankah aku sudah mengatakan bahwa kau hanya akan memakai handuk. Lagian tidak ada pakaian wanita di dalam kamarku. Jika kau ingin berpakaian, pakai saja pakaian yang ada di kamar ini." ucap Alex sambil melangkah mendekati Laurent, membuat Laurent mundur beberapa langkah mendekati tempat tidur.
"Kalau begitu, aku akan memakai jubah mandi ini sebagai piyama tidur." ucap Laurent gugup sambil melangkah mundur melihat Alex terus mendekatinya.
Tanpa diduga Alex langsung mendorong tubuh Laurent hingga terhempas di atas tempat tidur.
"Bagus berarti aku tidak akan susah membukanya ." ucapnya menyeringai sambil membungkukkan badannya. Membuat Laurent beringsut mundur.
"Bersiaplah, kita akan melakukan malam pertama." ucap Alex dengan entengnya lalu membuka kancing atas piyamanya. Membuat Laurent terlonjat kaget.
__ADS_1
Bersambung....