
Keynand mengetuk pintu kamar Viona dan tak berselang lama pintu kamar itu terbuka lebar dan muncullah pemilik kamar tersebut.
"Baby Daisy..."
"Maaf, aku sedang istirahat" potong Viona cepat dengan muka sembab dan langsung menutup kembali pintu kamarnya.
Keynand langsung mengepalkan tangannya dengan rahang mengeras melihat tingkah wanita tawanannya. Tanpa basa-basi dia langsung menendang pintu kamar Viona hingga membuat pintu kamar itu rusak parah.
Viona yang tengah berbaring di atas tempat tidurnya, seketika bangun dan lekas turun. Dia tidak menyangka Keynand sampai merusak pintu kamarnya.
Sungguh pria kasar yang tidak memiliki sopan santun. Sudah tahu bahwa dia ingin beristirahat, akan tetapi pria kasar itu masih kekeh pada pendiriannya.
"Aku sudah katakan bahwa aku sedang istirahat!. Jadi tolong keluar!" ucap Viona dengan tatapan dingin. Dia tidak ingin terus ditindas oleh pria yang berusaha untuk dilupakannya itu.
"Kau hanya seorang budak di sini! jadi tidak ada kata istirahat!" tegas Keynand dengan sorot mata tajam.
"Ya, aku memang hanya seorang budak dan akan terus mengabdikan hidupku kepadamu. Tapi, seenggaknya urusan anakmu bukanlah urusanku. Tugasku disini menjaga Villa mewah mu dan membersihkannya sampai bersih yang selalu aku kerjakan setiap hari, bukan menjadi pengasuh bayi kecilmu. Kau ayahnya, harusnya dia lebih dekat denganmu dan bisa dikatakan lebih tunduk kepadamu, bukan diriku." ucap Viona panjang lebar dan berusaha mengontrol emosinya, agar tindakannya tidak melewati batas kesabarannya.
Keynand mengepalkan kedua tangannya dengan tatapan sulit diartikan. Dia langsung terpancing emosi mendengar ucapan wanita tawanannya.
Tanpa basa-basi Keynand langsung mengangkat sebelah tangannya untuk menampar wajah Viona. Namun Viona langsung buka suara.
"Silahkan tampar wajahku. Biar kau puas, tuan!" tantang Viona dengan mata memerah.
Seketika Keynand menghentikan aksinya dan dengan kesalnya mulai meninju udara. Kemudian Keynand memilih keluar dari kamar Viona sambil menggebrak pintu kamar Viona dengan kesalnya lalu melangkah pergi.
"Maafin tante, bayi mungil. Untuk hari ini, tante tidak bisa menemuimu." gumam Viona dengan mata berkaca-kaca.
Sementara di lantai dua, Laurent ikut membantu nyonya Tias untuk menenangkan baby Daisy yang masih saja terus menangis keras.
Kenapa lagi anak ini. Aku bahkan sudah pusing mendengarnya terus menangis. Batin Laurent kesal.
Akan tetapi, Laurent terus berusaha memposisikan dirinya agar menjadi ibu yang baik untuk ponakannya kelak. Dia terus menggunakan sandiwaranya demi mendapatkan simpati dari Nyonya Tias.
"Sayang, berhenti nangis ya, nanti aunty akan membawamu jalan-jalan ke mall" ucap Laurent sambil memijit keningnya. Dia sungguh pusing mendengar suara tangis anak kecil.
__ADS_1
Tak berselang lama kemudian, Keynand masuk ke dalam kamarnya dengan wajah ditekuk. Dia hanya mampu menghembuskan nafasnya dengan kasar melihat ibunya tampak kesulitan menenangkan bayinya yang masih saja menangis.
"Taruh saja di tempat tidurnya, Mama. Biar aku saja yang menenangkannya supaya dia berhenti menangis." ucap Keynand.
"Mana Viona? kenapa kau tidak memanggilnya kesini?" tanya ibunya dan sama sekali tidak merespon ucapan putranya.
"Lupakan saja wanita itu. Sebaiknya Mama keluar." ucap Keynand marah.
"Keynand, biar aku saja yang...." timpal Laurent, namun ucapannya dipotong cepat oleh Keynand.
"Tidak perlu, kau juga harus keluar dari kamarku!" ketus Keynand dan tidak ingin dibantah.
"Baiklah, mama dan Laurent akan keluar." timpal ibunya. Kemudian meletakkan bayinya di atas tempat tidur bayi.
Wanita paruh baya itu, sungguh tidak tega meninggalkan cucunya. Pasalnya dia begitu panik melihat cucunya tak kunjung berhenti menangis dan dia tidak tahu harus menenangkannya seperti apa.
Sementara itu, Viona tampak mondar-mandir di dalam kamarnya. Sungguh dia sangat mengkhawatirkan bayi mungil itu. Karena tidak biasanya Keynand sampai datang mencarinya di kamar.
"Ya Tuhan, kenapa aku sangat mengkhawatirkan bayi mungil itu." ucap Viona khawatir sambil memeluk tubuhnya sendiri.
"Sebaiknya aku harus menemuinya. Aku tidak peduli jika harus bertemu dengan ayahnya yang super galak dan juga kasar." gumam Viona dengan keputusannya.
Viona berpapasan dengan Nyonya Tias dan Laurent dipertengahan anak tangga. Sontak wanita paruh baya itu langsung menyentuh lengannya.
"Viona, cepat temui cucuku, nak. Dia sangat membutuhkanmu." ucap nyonya Tias memelas dengan tatapan memohon dan Viona hanya mampu mengangguk menanggapi ucapan Nyonya Tias.
Sementara Laurent langsung mengepalkan tangannya mendengar ucapan Nyonya Tias. Bisa-bisanya wanita paruh baya itu begitu mendukung seorang wanita pelayan untuk mengurus ponakannya.
Ini tidak bisa dibiarkan, tante Tias harus berpihak kepadaku. Agar rencanaku untuk mendapatkan Keynand berjalan dengan lancar. Aku tidak boleh kalah dari wanita pelayan itu. Batin Laurent kesal.
"Aku ke atas dulu." ucap Viona dan nyonya Tias langsung memberi jalan untuknya.
Viona bergegas menuju kamar Keynand. Suara tangis baby Daisy masih saja terdengar, begitu halnya dengan suara Keynand yang terus mengoceh tak jelas agar bayinya berhenti menangis.
Tok
__ADS_1
Tok
Tok
"Masuk!" ucap Keynand dengan suara bariton yang sedang menggendong bayinya.
Viona dengan ragu membuka pintu kamar Keynand dan bergegas masuk ke dalam. Sedangkan Keynand langsung menatapnya dengan tatapan tajam.
"Untuk apa lagi kau datang kesini? bukankah kau ingin istirahat hah!" ketus Keynand yang mengembalikan ucapan Viona.
"Aku datang untuk bayimu. Tapi, sebelumnya aku ingin mengatakan bahwa aku tidak ingin serta-merta hanya menjaga bayimu dengan sukarela. Akan tetapi, aku ingin seperti pengasuh bayi yang...." Viona tidak melanjutkan ucapannya karena Keynand langsung memotong ucapannya cepat.
"Berapa bayaran yang kau minta? aku akan membayarmu berapapun, 100 juta, 300 juta, 500 juta, 1 M, 5 M.... oh atau jangan-jangan kau menginginkan rumah atau apartemen karena sekarang kau sama sekali tidak memiliki tempat tinggal!" ucap Keynand dengan ketusnya.
"Ya, aku memang menginginkan sebuah rumah dan uang sebesar 2 M. Apa kau sanggup untuk membayar ku?" ucap Viona dengan tatapan sinis.
"Aku sanggup membayarmu, bahkan membeli mu saja sudah kulakukan!" ucap Keynand tersenyum merendahkan.
Viona mengepalkan tangannya mendengar ucapan Keynand. Namun dia tidak ingin terpancing emosi.
Aku melakukan semua ini demi bisa menebus hutang peninggalan Max. Aku tidak ingin terus berada di Villa ini, aku harus pergi sejauh mungkin. Batin Viona yang mulai berpikir logis.
Viona tidak ingin terus tinggal di Villa mewah milik Keynand. Dia harus memulai kehidupan baru di luar sana. Dia tidak ingin lagi bergantung kepada orang lain. Apalagi terus dihadapkan pada pria kasar seperti Keynand.
"Secepatnya Alex akan mengurus surat-surat atas kepemilikan rumahmu dan nominal uang yang kamu inginkan." ucap Keynand dengan entengnya.
Viona tidak menggubris ucapan dari Keynand, dia hanya mampu menggangguk. Lalu melangkah mendekat ke arah Keynand untuk mengambil baby Daisy.
Viona dengan hati-hati mengambil baby Daisy dari gendongan ayahnya. Seketika bayi mungil itu mengerti bahwa yang menggendongnya adalah calon ibu sambungnya.
Perlahan baby Daisy menghentikan tangisnya dan hanya mengisahkan segukan yang dilakukan berulang kali ketika bayi mungil itu berhenti menangis. Viona dengan penuh kasih sayang mengelus lembut punggung kecil bayi mungil itu dan mendekapnya hangat, karena dia mampu merasakan suhu tubuh bayi mungil itu tidak normal.
"Berikan botol susunya, sepertinya dia sudah kehausan akibat terlalu lama menangis." ucap Viona dan Keynand langsung menyerahkan botol susu bayinya.
"Besok pagi-pagi aku akan kembali ke kota untuk mengurus masalah perusahaanku. Jadi, aku percayakan putriku kepadamu." ucap Keynand ragu yang belum bisa percaya sepenuhnya kepada Viona.
__ADS_1
"Baik, aku akan menjaganya dengan baik." ucap Viona cuek sambil membantu baby Daisy menyusu.
Bersambung......