Terpaksa Menikahi Tawanan-ku

Terpaksa Menikahi Tawanan-ku
Bab 31


__ADS_3

Sementara Keynand yang berada di balkon kamar bersama putrinya hanya mampu tertawa kecil mendengar suara teriakan Viona.


Dengan perasaan marah plus kesal, Viona langsung menyelimuti tubuhnya hingga sebatas leher lalu bergegas turun dari ranjang dan berlari kecil masuk ke kamar mandi.


"Aku tidak akan membiarkan dia terus menguasai tubuhku." kesal Viona sambil menggosok permukaan kulitnya yang masih terlihat jelas memerah bekas percintaan semalam.


Viona benci dengan sikap Keynand yang selalu berbuat semena-mena terhadapnya. Apalagi sekarang ia harus selalu berurusan dengan pria itu yang sepertinya akan dijadikan sebagai budak nafsu pria yang begitu dibencinya.


Ya sejak Keynand merenggut paksa mahkotanya, rasa bencinya semakin menjadi-jadi kepada pria itu. Ia tidak ingin lagi berurusan ataupun terus-menerus melayani pria itu.


"Sepertinya aku harus menyusun rencana agar membuatnya ilfill. Bodohnya aku pernah menyukainya. Ku akui, dia pria yang memiliki sejuta pesona dan mampu mengikat kaum wanita, termasuk diriku yang masih polos kala itu. Bahkan aku sampai memujanya karena ketampanannya dan sikapnya yang dingin serta cuek terhadap setiap orang, membuatku langsung jatuh hati kepadanya." ucap Vivian sambil memainkan busa-busa yang menutupi sebagian tubuhnya.


Berendam menjadi satu-satunya aktivitas yang membuat Viona rileks, nyaman dan betah, bahkan jika tidak ada pekerjaan lain ia akan berlama-lama berendam di dalam bathtub. Namun hal itu tidak mungkin ia lakukan, bisa-bisa pria yang dibencinya kembali murka kepadanya.


Untuk itu Viona lekas keluar dari bathtub lalu membilas tubuhnya di bawah shower. Setelah selesai, ia menyambar jubah mandi lalu memakainya cepat dan bergegas keluar dari kamar mandi.


Terlihat Keynand sudah berada di kamar dan sedang duduk di sofa, dimana putrinya masih berada dalam gendongannya. Keynand tampak bekerja keras untuk membuat putrinya tertawa dan usahanya itu patut diapresiasi. Karena Viona mampu mendengar suara tawa baby Daisy terdengar lembut.


Seketika sudut bibir Viona terangkat membentuk senyuman tipis, ia sempat memperhatikan ayah dan anak itu sesaat sebelum akhirnya masuk ke ruang ganti untuk memakai pakaiannya.


Diam-diam Keynand juga tersenyum tipis saat melihat tubuh Viona di pantulan cermin. Setelah sekian lama suasana hatinya tertutup awan gelap, sekarang suasana hatinya kembali secerah mentari pagi persis saat pertama kali mendengar kabar kehamilan mendiang istrinya.


"Kenapa pagi ini dia terlihat berbeda." gumam Keynand yang sedang mendeskripsikan tentang penampilan Viona pagi ini.


Padahal yang lalu-lalu ia begitu cuek terhadap wanita tawanannya. Melihatnya saja ia sungguh muak dan tak ingin berlama-lama memandanginya. Namun sekarang semuanya malah berbanding terbalik, ia bahkan ingin berlama-lama memandanginya.


"Sayang, jika kau mendukung ayah bersama Viona maka tersenyum lah." ucap Keynand kepada putrinya.


Tiba-tiba putrinya langsung tersenyum lebar seolah tahu betul ucapan ayahnya.


Keynand tidak mampu berkata-kata, ia langsung mencium kedua pipi putrinya dengan penuh kasih sayang. Ternyata putrinya sangat mendukungnya bersama Viona.


"Pandai nya putri Ayah. Terima kasih sayang, ayah sangat menyayangimu." ucap Keynand tersenyum tipis lalu kembali mencium kening putrinya.

__ADS_1


Viona melangkah mendekat kearah mereka. Ia ingin mengambil baby Daisy dari gendongan Keynand.


"Aku meminta Mary membawakan sarapan untukmu di kamar, jadi sebaiknya kau sarapan dulu." ucap Keynand.


Viona langsung mengalihkan pandangannya ke arah meja dan benar saja sudah terhidang makanan dan minuman di atas meja.


"Selama aku bersama putriku, kau tidak boleh mengambilnya dariku." ucap Keynand yang lebih dulu membaca pikiran Viona.


Sehingga Viona mengurungkan niatnya untuk mengambil baby Daisy dari gendongan Keynand. Viona memilih berbalik badan lalu berjalan mendekati meja kayu yang sudah terhidang sarapannya. Lalu ia pun sarapan.


Sementara di ruang makan Laurent masih mondar-mandir setelah selesai sarapan. Tak mendapati Viona di meja makan membuatnya menjadi cemas. Ia menjadi iri kepada wanita itu, karena terus berada di dalam kamar Keynand, sedang dirinya tak memiliki kesempatan untuk masuk ke dalam kamar pria yang diincarnya.


Sementara rencananya sudah ia susun dengan matang dan tepatnya hari ini rencananya harus ia jalankan. Pasalnya, beberapa orang rumah sudah mengonsumsi makanan dan minuman yang sudah ia taburi sesuatu.


Hanya Viona dan Keynand yang terbebas dari akal bulus nya. Untuk itu, ia menunggu wanita itu turun untuk sarapan, namun sepertinya hal itu tidak mungkin terjadi, karena Bu Mary sudah membawa sarapan untuk mereka di kamarnya.


"Pokoknya rencanaku harus berhasil kali ini." gumam Laurent sambil bertolak pinggang.


Laurent memilih melangkah ke ruang tamu, ia perlu berbicara dengan Nyonya Tias untuk membicarakan hal yang tidak penting demi menarik perhatian wanita paruh baya itu.


Dengan cueknya Keynand berjalan melewati Laurent yang tampak terbengong melihatnya. Namun dia tidak ingin meladeni adik iparnya itu.


Sial, kenapa dia tidak menyapaku. Padahal raut wajahnya tampak bersahaja pagi ini. Batin Laurent sambil menatap punggung Keynand yang mulai menjauh dari pandangannya.


"Kita tunggu saja, sebentar lagi kau akan berpihak kepadaku Keynand. Rencanaku kali ini akan menggemparkan seisi Villa." gumam Laurent menyeringai.


Keynand melangkah tergesa-gesa menghampiri ibunya untuk berpamitan.


"Mama, aku berangkat ke kantor." pamit Keynand kepada ibunya lalu mencium punggung tangannya.


Nyonya Tias hanya mengangguk menanggapi ucapan putranya. Kemudian bergerak mengantar putranya hingga di depan pintu.


"Keynand, usahakan jangan pulang larut malam."

__ADS_1


"Baik mama" ucap Keynand tersenyum tipis.


Sementara di teras Villa, sedari tadi Alex menunggu kedatangan tuannya. Saat melihat tuannya sudah muncul, ia lekas membukakan pintu mobil untuk tuannya.


Keynand bergegas masuk ke dalam mobil. Lalu Alex dengan cepat menutup pintu mobil, kemudian ia pun bergegas masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi kemudi. Lalu melajukan mobilnya menuju perusahaan.


Setibanya di perusahaan, Keynand baru menyadari bahwa ia lupa membawa beberapa dokumen pentingnya. Padahal dokumen tersebut berisi tentang kontrak kerja samanya dengan rekan bisnisnya. Untuk itu, ia meminta Alex kembali ke Villa untuk mengambil dokumen penting tersebut.


Sepanjang perjalanan pulang ke Villa, berkali-kali Alex menguap dan mendadak dilanda kantuk. Untungnya dia masih fokus mengemudikan mobilnya hingga tiba di Villa.


"Bagus, akhirnya dia datang juga." ucap seseorang yang mengintip dari balik jendela.


Sementara Alex tampak linglung masuk ke dalam Villa. Mendadak penglihatannya buram, namun dia berusaha melangkah menuju ruang kerja tuannya.


"Hei berhenti, aku butuh bantuanmu." ucap Laurent dan langsung menghadangnya.


"Bantuan? untuk apa?" tanya Alex sambil memegangi keningnya yang terasa pusing.


"Pintu kamarku rusak, aku ingin kau memperbaikinya." jawab Laurent.


"Aku sedang sibuk, nanti saja." ucap Alex.


"Ya sudah, kalau begitu tunjukkan perkakasnya. Sepertinya kau menyimpannya." ucap Laurent yang memang sudah menyelidiki segalanya. Termasuk perkakas untuk membenarkan pintu, jendela dan lainnya.


"Baiklah, ayo ikuti aku." ucap Alex sambil mengerjapkan matanya yang terasa berat.


Mereka melangkah bersama-sama menuju kamar Alex. Tampak seringai licik terpatri di wajah Laurent. Alex mulai merasakan pusing dan sama sekali tidak fokus disekelilingnya. Dia bahkan tidak menaruh curiga kepada Laurent dan hanya bergegas masuk ke dalam kamarnya diikuti oleh Laurent yang mengekor di belakangnya.


Diluar dugaan sosok wanita sudah menempati tempat tidurnya dan berada di bawah selimutnya. Sepertinya wanita itu sudah tak sadarkan diri.


Tanpa basa-basi Laurent langsung memukul kepala belakang Alex menggunakan tongkat baseball, hingga membuat Alex tak sadarkan diri. Dengan susah payah, Laurent memindahkan tubuh Alex ke tempat tidur, tepatnya di samping wanita itu.


"Selamat bersenang-senang untuk kalian." ucap Laurent dengan seringai licik diwajahnya melihat dua insan berada di atas tempat tidur yang sama.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2