
Sementara di tempat lain....
Tampak warga berdatangan dan memenuhi pekarangan rumah milik nenek Rosi. Semua orang terlihat marah dan beberapa diantaranya membawa kayu dan golok seolah akan menebas seseorang.
"Usir mereka!" teriak orang-orang dengan geramnya.
"Bakar rumah mereka!" segerombolan orang kembali berteriak untuk membakar rumah sederhana nenek Rosi yang letaknya di lereng gunung.
Tampak penghuni rumah itu diseret paksa keluar dari rumah miliknya. Orang-orang kembali meneriakinya sebagai pencuri. Tiga penghuni rumah itu sama sekali tidak tahu menahu tentang tuduhan orang terhadapnya.
Ketiga penghuni rumah itu adalah Viona, Bibi Jane dan Nenek Rosi. Mereka tampak terkejut dengan apa yang sedang dialaminya. Tiba-tiba orang berdatangan untuk mengusirnya, bahkan sampai ingin membakar rumahnya. Tidak hanya itu mereka dituduh sebagai pencuri.
"Lepas!, jangan sakiti kami." teriak wanita hamil yang tidak lain adalah Viona. Ia mencoba untuk menghentikan semua orang yang sama sekali tidak tahu permasalahannya sampai menyeretnya paksa.
Viona takut melihat orang berdatangan seolah akan melakukan massa kepada mereka. Jangan sampai orang-orang itu menyakiti keluarganya.
Sementara beberapa orang lainnya bergerak membakar rumah sederhana yang ditempatinya.
"Tidak! jangan bakar rumah kami!" teriak Bibi Jane mencoba menghentikan beberapa orang yang ingin membakar rumahnya.
Namun semuanya sudah terlambat, semua orang geram dan melakukan tindakan anarkis membakar rumah mereka. Seketika api mulai merambat melalap rumahnya.
Nenek Rosi dan Bibi Jane hanya mampu menangis menatap rumahnya dilalap api. Sedangkan Viona tidak kuasa menahan air matanya lalu merangkul mereka berdua mencoba untuk melindunginya.
"Dasar pencuri, usir mereka dari desa." Kembali orang-orang berteriak keras untuk mengusir mereka.
"Kami bukan pencuri! tolong jangan menuduh kami yang tidak-tidak." ucap Viona membantah tuduhan mereka.
"Alaaah..mana ada maling mau ngaku, bisa-bisa penjara penuh. Kau dan Jane sudah terbukti mencuri hasil jerih payah petani. Kau diam-diam mencuri seluruh bunga Krisan yang dipanen oleh petani lalu menjualnya keluar daerah. Sudahlah akui saja perbuatan kalian, dasar pencuri. Ayo, usir mereka." ucap Norin yang kembali mengompori orang-orang.
"Dasar pencuri!"
"Dasar Pencuri!"
"Kami tidak mencuri, kalian salah besar menuduh kami!" teriak Viona membela diri.
__ADS_1
"Dan kau! aku sangat yakin kau yang sudah melakukan konspirasi terhadap kami. Katakan dengan..." Viona tidak melanjutkan ucapannya. Karena semua orang tak ada yang mau mendengarkannya.
Semua orang kembali meneriakinya sebagai pencuri bahkan ada juga yang melemparinya tomat busuk. Viona dan Bibi Jane mencoba menghindar dari lemparan tersebut sembari melindungi Nenek Rosi. Sedangkan Nenek Rosi hanya mampu menangis tersedu-sedu.
Hal tersebut suatu penghinaan terhadap keluarganya. Walau mereka miskin tak sekalipun memiliki niatan untuk mengambil milik orang lain, apalagi sampai mencuri. Wanita tua itu begitu percaya kepada anaknya, begitu halnya percaya kepada Viona. Tidak mungkin kedua orang yang dipercayainya sampai mencuri.
"Usir mereka!" kembali semua orang berteriak untuk mengusir mereka. Bahkan beberapa diantara mereka kembali menyeret paksa Viona, Bibi Jane dan Nenek Rosi untuk mengusirnya pergi dari desa.
Mau tak mau Viona, Bibi Jane dan Nenek Rosi harus meninggalkan desa tersebut. Tidak ada lagi harapan bagi mereka untuk menetap di desa tersebut. Semua orang begitu membenci mereka. Padahal mereka tidak salah apa-apa dan bukan pelakunya.
"Itulah akibatnya jika kalian melawan Norin." gumam Norin tersenyum penuh kemenangan melihat orang yang dibencinya sudah dibawa pergi.
Padahal Norin dan kawan-kawannya dalang dibalik semua ini. Norin sengaja membayar preman kampung untuk mencuri seluruh hasil panen bunga Krisan milik petani lalu dipindahkan ke tempat pengepul yang biasa dijadikan sebagai tempat untuk menyimpan hasil panen Bibi Jane. Kemudian preman kampung suruhan Norin diam-diam menjual seluruh hasil panen bunga Krisan milik petani di daerah lain hingga Bibi Jane dan Viona lah yang menjadi batunya, karena semua hasil penjualnya diatasnamakan Bibi Jane dan Viona.
***
Dengan menggunakan delman, Viona, Bibi Jane dan Nenek Rosi meninggalkan desa tersebut. Mereka tak membawa barang-barangnya, hanya pakaian yang melekat ditubuhnya beserta sedikit uang simpanan Viona dan Bibi Jane yang hanya mereka bawa.
Nenek Rosi begitu sedih dan masih saja terus menangis dengan nasib keluarganya. Semua orang menuduh anggota keluarganya sebagai pencuri. Padahal tuduhan tersebut tidaklah benar adanya, namun semua warga sudah terprovokasi satu sama lain.w
Viona yang melihat nenek Rosi masih terus menangis hanya bisa menghela nafas berat lalu mengelus lembut lengannya.
Sementara bibi Jane hanya bisa menutup mulutnya dan tidak bisa berkata-kata. Tatapannya begitu kosong menatap pepohonan yang dilewatinya.
Hingga Delman yang membawanya berhenti di jalanan beraspal. Kebetulan sekali sebuah bus yang selalu membawa warga desa ke kota tampak sudah siap berangkat.
Selesai membayar ongkos delmannya, mereka bergegas naik ke Bus. Tak berselang lama kemudian, Bus mulai melaju meninggalkan desa tersebut.
*
*
*
Sementara di tempat lain....
__ADS_1
Sepulang dari kantor, Keynand melajukan mobilnya menuju tempat pemakaman mendiang istrinya. Hari ini merupakan hari ulang tahun mendiang istrinya dan sampai sekarang ia masih mengingatnya.
Untuk itu, Keynand memutuskan mengunjungi kuburan mendiang sang istri. Keynand memarkirkan mobilnya di seberang jalan, lalu berjalan kaki menuju tempat peristirahatan terakhir mendiang sang istri.
Keynand meletakkan sebuket bunga mawar putih yang dibawanya di atas kuburan mendiang sang istri.
"Selamat ulang tahun Jasmine, kuharap kau selalu bahagia di alam sana." ucap Keynand tersenyum sambil memandangi batu nisan bertuliskan nama mendiang istrinya.
Keynand mulai bercerita tentang putri kecilnya. Dengan mata berkaca-kaca, ia mengatakan segalanya tentang tumbuh kembang putrinya, semoga mendiang istrinya mendengar apa yang ceritakannya saat ini. Setelah itu, ia pun pamit untuk pulang.
Di perjalanan menuju kediamannya, mobil Keynand hampir saja menabrak mobil di depannya yang tiba-tiba berhenti mendadak. Untungnya ia masih sempat merem mendadak, jika tidak sudah dipastikan ia menabrak mobil di depannya.
Keynand bergegas turun dari mobil, begitu halnya dengan pengendara mobil di depannya. Terlihat wanita hamil dan seorang pria tampak turun dari mobil, keduanya langsung melontarkan kata-kata kasar.
Keynand sempat melirik ke arah mereka, namun fokusnya beralih pada kap bagian depan mobilnya yang tampak tergores.
"Aku akan menggugurkan kandunganku agar kau puas!" ucap wanita hamil itu dengan nada tinggi.
"Lakukan saja jika kau berani! jika calon bayiku sampai kenapa-kenapa, kaulah yang akan mendapatkan akibatnya!" ancam pria itu.
Refleks Keynand mengalihkan pandangannya, karena merasa tidak asing dengan suara pria tersebut. Seketika kedua matanya menatap penuh intimidasi kedua orang tersebut.
"Alex! Laurent!" ucap Keynand dengan suara beratnya memanggil nama kedua orang itu.
Sontak pria dan wanita hamil yang sedang bertengkar langsung mengalihkan pandangannya ke arah Keynand. Hingga mereka pun terkejut melihat orang yang sudah memanggil namanya.
"Tuan Keynand!" ucap pria itu yang tidak lain adalah Alex.
Keynand melangkah tergesa-gesa mendekati mereka dengan sorot mata tajam.
"Dimana istriku?" tanya Keynand dengan suara meninggi kepada Alex.
"Aku tidak tahu tuan." jawab Alex dengan pandangan tertunduk. Sementara wanita hamil bersamanya terkejut bukan main melihat pria yang sangat dikenalnya itu.
"Bohong! kaulah orang yang sudah membawanya kabur." tegas Keynand sambil mengepalkan tangannya menatap tajam ke arah Alex.
__ADS_1
"Dan kau! kaulah wanita licik yang sudah menjebak istriku. Aku tidak akan mengampunimu!" bentak Keynand kepada wanita hamil itu sambil menunjuk-nunjuk wajahnya.
Bersambung.....