
"Baiklah, aku akan menyerahkan segalanya untukmu dan menjadikanmu sebagai pewaris Kerajaan bisnisku. Tapi... dengan satu syarat kau harus menikah secepatnya dan segera berikan cucu pewaris yang akan meneruskan bisnisku kelak." ucap kakeknya dengan entengnya. "Paling lambat dua minggu. Jika tidak, maka kau tidak akan pernah mendapatkan apa-apa dariku." tambahnya dengan sedikit ancaman.
"Baik, aku terima syaratmu." ucap Alex dengan entengnya.
"Aku pegang janjimu, bocah nakal. Datanglah ke mansion bersama calon istrimu. Aku memberimu waktu dalam seminggu untuk memperkenalkan calon istrimu. Kau bebas memilih wanita yang akan kau nikahi dan aku pun tidak mempermasalahkan asal usulnya, yang jelas kau mencintainya." jelas tuan Joseph kepada cucunya.
"Secepatnya aku akan membawanya di hadapanmu." ucap Alex dengan tegasnya.
Kemudian Alex membungkukkan badannya di hadapan kakeknya lalu melenggang pergi. Entah apa yang sedang direncanakan pria itu sampai mendatangi perusahaan kakeknya.
"Gery, selidiki gerak-gerik cucuku dan cari tahu siapa wanita yang akan dia nikahi. Aku merasa aneh tiba-tiba dia datang kepadaku hanya untuk membahas masalah tahta dan warisan, padahal selama ini dia tidak pernah menginginkannya. Menemuiku saja dia seolah enggan, karena dia masih saja membenciku sampai detik ini. Aku terus berusaha membujuknya untuk datang kepadaku dan menjadikannya sebagai penerus kerajaan bisnisku. Tapi, apa yang dia lakukan? dia lebih memilih menjadi anjing penurut cucu penerus keluarga Manav dibandingkan menjadi boneka ku. Bukankah hal ini begitu aneh dan mencurigakan? cari tahu apa motif dibalik sikap anehnya cucuku Alex. Jangan sampai dia hanya membodohi ku" ucap tuan Joseph menyeringai. Jika memang cucunya bersungguh-sungguh untuk menjadi penerusnya tak masalah, namun jika ada motif tersembunyi untuk balas dendam kepadanya maka ia pun akan mengikuti permainannya.
Sementara itu, Alex berjalan tergesa-gesa keluar dari gedung perkantoran tersebut. Dia langsung memberhentikan taksi yang melintas lalu bergegas naik.
Alex melamun memikirkan kembali ucapan kakeknya.
"Istri? sial...sial!..kenapa aku langsung setuju dengan syaratnya. Harusnya aku menolaknya mentah-mentah atau memberi jangka waktu yang cukup lama untuk memikirkan syaratnya itu. Arrgghhh sial...pria tua itu selalu saja memberikan tekanan berat." ucapnya sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
"Kemana aku harus mencari wanita yang bersedia untuk menjadi istriku. Memikirkannya saja membuatku tambah pusing. Apalagi sampai detik ini Viona tak kunjung ditemukan, semoga dia baik-baik saja." ucap Alex memijit keningnya yang kembali kepikiran dengan syarat yang diajukan kakeknya untuknya beserta ia masih terus memikirkan Viona yang tak kunjung ditemukan.
*
*
*
Di Villa....
Suasana di Villa milik Keynand tampak sepi, dikarenakan nyonya Tias sudah tidur di kamarnya, begitu halnya dengan Bu Mary si penjaga Villa
Keynand terlihat tak bersemangat menjalani hari-harinya. Sudah beberapa hari ini, ia tidak masuk kantor, ia masih terus mencari keberadaan Viona. Keynand begitu frustasi ditinggal oleh Viona, namun mau bagaimana lagi, ialah yang begitu kejam sampai wanita tawanannya memilih kabur darinya.
"Akkkh" Keynand menjambak rambutnya yang sedang duduk di tempat tidur. Ia sedang di landa frustasi atas perbuatannya sendiri.
"Maafkan aku Viona, aku sangat-sangat menyesali perbuatanku, aku hanyalah lelaki bodoh dan kejam yang sudah menyianyiankanmu. Selama ini aku cuma memberikan penderitaan kepadamu, tolong maafkan aku." gumam Keynand dengan wajah murungnya.
__ADS_1
Keynand hanya mampu menyesal dan menyesal perbuatannya. Setelah ditinggal pergi, ia baru sadar kehilangan wanita tawanannya.
Oeeee.... Oeeee
Keynand mengalihkan pandangannya ke arah tempat tidur putrinya. Ia mendengar putrinya menangis. Keynand bergerak menghampirinya lalu menggendong putrinya dengan penuh kasih sayang.
"Jangan takut sayang, ayah bersamamu." ucap Keynand sambil mengelus punggung mungil putrinya yang berusaha menenangkannya hingga tak berselang lama putrinya kembali tertidur dalam dekapannya.
Seketika perasaan Keynand selalu menghangat setiap kali bersama dengan putri tercintanya. Dia merasa putrinya adalah malaikat kecil yang selalu membuatnya bahagia di kala susah maupun senang. Apalagi saat ini ia kehilangan sosok wanita tawanannya.
Keynand memilih membawa putrinya kembali ke villa, sementara ibunya ia tidak membiarkannya untuk tinggal bersamanya. Namun tetap saja ibunya keras kepala dan selalu memiliki alasan ampuh untuk bersama dengan cucunya. Sehingga Keynand tidak bisa berbuat apa-apa, ia hanya mampu membiarkan ibunya kembali tinggal bersamanya.
Sekarang Keynand hanya ingin memproritaskan waktunya untuk putrinya dan juga mencari Viona. Ia memutuskan rehat sejenak dari pekerjaannya.
"Sayang, maafin ayah karena belum bisa membawa mommy Viona pulang ke rumah. Kau patut memarahi ayahmu yang bodoh ini karena begitu egois sudah memisahkan mu dengan ibu sambung mu." ucap Keynand dengan mata berkaca-kaca dan tidak bisa membendung penyesalannya.
"Ayah janji cepat atau lambat, ayah akan membawa mommy Viona pulang ke rumah, biar kita bisa berkumpul lagi." ucap Keynand sambil membelai lembut puncak kepala putrinya.
Viona, aku benar-benar minta maaf sudah membuatmu menderita. Aku sungguh bodoh dan tak becus menjadi suamimu. Aku bahkan tidak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah, aku selalu melimpahkan masalahku kepadamu, merendahkanmu, mencaci maki, memarahimu dan tak segan-segan membentakmu. Sungguh aku menyesalinya. Batin Keynand dengan mata berkaca-kaca.
*
*
*
"Vivi, ayo bangun sarapan sudah siap." teriak Bibi Jane dari luar kamar sambil mengetuk pintu kamar Viona.
Sementara sosok wanita yang dipanggil di dalam sana tengah berada di dalam kamar mandi.
Hoeeekk.... Hoeeekk
Viona sedang mual dan muntah. Tubuhnya benar-benar lemas tak bertenaga, sedari tadi ia bolak balik masuk ke kamar mandi hanya memuntahkan cairan bening yang begitu menggangu tenggorokannya.
"Aduh, sepertinya aku masuk angin." gumam Viona sembari membasuh wajahnya dengan air. Kemudian ia bergegas keluar dari kamar mandi.
__ADS_1
Viona memilih mendekati tempat tidur lalu membaringkan tubuhnya di atas kasur. Ia hanya ingin berbaring dan tak ingin melakukan apa-apa pagi ini.
Sementara di meja makan, nenek Rosi heran melihat Jane tidak bersama Viona.
"Mana Viona? bukankah kau memanggilnya di kamar? tak baik jika makanan sudah dingin. Segeralah panggil anak itu." perintah Nenek Rosi.
"Aku sudah memanggilnya ibu. Hanya saja Viona belum bangun." jawab Bibi Jane dengan dugaannya.
"Ya sudah jangan mengganggunya biarkan dia tidur, sepertinya dia lelah habis menemanimu memetik bunga." ucap Nenek Rosi yang begitu perhatian kepada Viona.
"Iya ibu."
Mereka pun mulai sarapan bersama tanpa kehadiran Viona.
Sementara itu, tak berselang lama Viona baru keluar dari kamar dan melangkah ke dapur. Raut wajahnya terlihat memucat membuat nenek Rosi dan Bibi Jane yang melihatnya menjadi khawatir.
Viona dengan santai mengambil segelas air putih pada teko air lalu meminumnya cepat. Namun tak berselang lama keseimbangan tubuh Viona oleng bahkan gelas di tangannya sudah terjatuh di lantai hingga tubuhnya ikut limbung di lantai.
Brukk
"Vivi!" teriak Bibi Jane dan Nenek Rosi bersamaan. Mereka bergerak cepat menghampiri Viona.
"Vivi!" mereka mengguncang tubuh Viona untuk membangunkannya, namun sayang wanita itu sudah tak sadarkan diri.
***
"Pak mantri, bagaimana kondisi cucuku? apa yang terjadi kepadanya?" tanya nenek Rosi kepada pria yang baru saja memeriksa Viona.
Pak mantri, seorang petugas medis yang ditempatkan di desa-desa terpencil, termasuk desa yang sekarang menjadi tempat tinggal Viona.
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan nenek Rosi, sepertinya cucumu sedang hamil. Untuk mengetahui lebih jelas dia hamil atau tidak, suruh dia mengetesnya dengan alat ini. Ada petunjuk dalam bungkusannya, jika menunjukkan garis dua berarti cucumu memang hamil." jelas Pak Mantri dengan ramahnya.
Viona terlonjat kaget mendengar penjelasan dari pak Mantri. Apakah ia sedang hamil?, pikirnya.
"Hamil?" kompak Bibi Jane dan Nenek Rosi.
__ADS_1
Bersambung....