Terpaksa Menikahi Tawanan-ku

Terpaksa Menikahi Tawanan-ku
Bab 26


__ADS_3

"Aku memang selalu berada di dalam kamarmu. Tapi, bukan aku wanita yang sudah bercinta denganmu." tegas Viona dengan tatapan dingin lalu buang muka.


"Jangan bohong, aku tahu kau wanita yang sudah bercinta denganku." timpal Keynand dengan entengnya. Refleks Viona langsung mengalihkan pandangannya menatap kearahnya.


"Lalu apa yang akan kau lakukan jika aku orang yang sudah bercinta denganmu? apa kau ingin menghabisi ku saat ini juga!" tantang Viona tanpa kenal takut membuat Keynand langsung bungkam mendengar ucapannya. Dari ucapan wanita tawanannya, dia sudah mengambil kesimpulan bahwa wanita tawanannya lah yang bercinta dengannya semalam.


Sementara itu, mendadak dada Viona bergemuruh menahan amarahnya melihat pria itu terlihat tidak memiliki rasa bersalah sedikitpun setelah apa yang dilakukannya kepadanya.


Viona sudah menduga bahwa Keynand akan mempertanyakan kejadian semalam, dia sungguh tidak ingin lagi mengingat kembali kejadian semalam. Dia mengaggap semalam adalah kesialan yang ia dapatkan dari pria kasar yang sama sekali tidak memiliki hati nurani.


Viona sangat membenci Keynand, sangat membenci kelakuannya dan segala sifat yang dimiliki pria itu. Kalau perlu dia tidak ingin lagi bertatap muka dengan pria itu, pria yang sudah merenggut mahkotanya.


"Aku yakin kau sengaja memanfaatkan keadaan semalam, karena aku dalam kondisi mabuk, lalu kau menggodaku hingga akhirnya kita berakhir bercinta di atas ranjang. Sungguh licik dirimu, kau dan ibumu tidak ada bedanya, sama-sama licik." tegas Keynand sambil mengepalkan tangannya.


"Cukup! jangan membawa-bawa ibuku. Kejadian semalam murni karena kesalahanmu. Tidak seharusnya kau pulang dalam keadaan mabuk. Kenapa tidak kau menginap saja di hotel lalu bercinta dengan wanita yang kau inginkan, bukan malah bercinta denganku. Aku memang bukan wanita baik-baik. Tapi, untuk urusan ranjang, aku juga akan tetap pilih-pilih pria yang boleh bercinta denganku!" ucap Viona dengan tegasnya, bahkan sorot matanya begitu tajam dan memancarkan kilatan amarah.


Sontak membuat Keynand langsung diam seribu bahasa mendengar ucapan Viona. Ada benarnya ucapan Viona, memang tidak seharusnya dirinya pulang dalam kondisi mabuk. Keynand langsung merutuki kebodohannya, dia terlalu terbawa suasana pesta bersama rekan bisnisnya hingga membuatnya mabuk berat.


Mereka kembali saling diam dengan pikiran masing-masing dan suasana hening mulai mendominasi balkon kamar.


Oeeee.... oeeeekk


Tiba-tiba baby Daisy menangis dalam gendongan Viona. Refleks Keynand langsung mengalihkan pandangannya menatap ke arah putrinya.


Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Viona bergegas membawa baby Daisy ke kamar. Sepertinya bayi mungil itu kembali mengantuk. Sedangkan Keynand ikut bergerak mengikuti langkah kaki Viona menuju kamarnya.


Dengan hati-hati Viona membaringkan tubuh mungil baby Daisy di atas tempat tidur bayi. Sementara Keynand hanya mampu memperhatikan gerak-gerik Viona yang tengah duduk di sofa, dia mencoba menjaga jarak darinya.


Setelah itu, Keynand kembali mengalihkan pandangannya ke arah tempat tidur yang masih berantakan dan belum juga dirapikan. Masih terlihat jelas noda darah di atas sprei berwarna putih. Keynand hanya mampu mengusap dagunya sembari berpikir keras.

__ADS_1


Apa mungkin darah itu milik..... arghhh tidak. Ini tidak mungkin, wanita itu tidak mungkin masih perawan, jelas-jelas dia wanita j*l*ng bekas pria bandot tua. Tapi, bagaimana mungkin ada noda darah di atas sprei jika wanita itu sudah tidak perawan? atau mungkin saja bagian tubuhnya yang lain sedang terluka karena ulahku semalam?. Batin Keynand yang mulai bermonolog dengan pikirannya.


"Bagaimana bisa ada noda darah di atas sprei, apa kau yang terluka semalam?" tanya Keynand kepada Viona.


Viona yang mendengar langsung pertanyaan dari Keynand mendadak raut wajahnya berubah memerah bak kepiting rebus. Bisa-bisanya pria itu mempertanyakan hal seperti itu, tentu saja itu darah miliknya alias darah keperawanannya.


"Aku tidak tahu!" jawab Viona singkat padat dan tidak ingin jawaban yang diucapkannya berbuntut panjang. Dia menunjukkan sikap cueknya terhadap pria itu.


Setelah mendengar jawaban dari Viona, Keynand memutuskan bangkit dari duduknya lalu melangkah menuju pintu. Dia memilih untuk keluar dari kamar tersebut, dia butuh menghirup udara segar di pagi hari guna menjernihkan pikirannya.


*


*


*


Sementara itu, Laurent baru saja bangun. Wanita cantik itu tampak mengumpulkan kesadarannya sambil meregangkan otot-ototnya yang kaku habis bangun tidur.


"Sial, kenapa mesti aku ketiduran sih. Sekarang aku gagal lagi dengan rencanaku!" ucap Laurent penuh sesal sambil menjambak rambutnya yang terlihat acak-acakan persis rambut singa yang baru saja bangun tidur.


Laurent bergegas turun dari tempat tidur, dia melangkah cepat menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Dia butuh berendam air hangat dan akan berlama-lama menikmati ritual mandinya.


Selesai membersihkan diri, Laurent bergegas keluar dari kamar mandi lalu berpakaian. Tidak lupa ia merias wajahnya senatural mungkin, agar mampu memikat Keynand. Penampilan Laurent sudah rapi plus cantik dengan gaun sebatas lutut dan bermotif bunga-bunga kecil yang begitu pas di tubuhnya.


Kemudian Laurent melangkah anggun keluar dari kamarnya dan bersamaan pula Alex juga keluar dari kamar. Mereka terlihat kompak menutup pintu kamar. Dan tiba-tiba saja mereka kompak mengalihkan pandangannya hingga pandangan mata mereka bertemu.


Dengan cepat Laurent buang muka sambil berdengus kesal. Dia sungguh merasa sial setiap kali harus bertemu pria babu itu di pagi hari. Laurent mengibaskan rambutnya, lalu berbalik badan sambil menghentakkan kakinya dan melangkah cepat meninggalkan pria itu.


Sementara Alex hanya mampu geleng-geleng kepala melihat tingkah laku wanita arogan itu. Dia pun melangkah lebar menyusul wanita arogan itu. Karena arah tujuan mereka sama-sama menuju ke ruang makan.

__ADS_1


Laurent tersenyum merekah melihat Keynand sudah berada di meja makan. Dengan penuh semangat dia melangkah terburu-buru menghampiri Keynand.


"Selamat pagi" sapa Laurent dengan senyuman manis menghiasi bibirnya.


"Pagi." balas Keynand cuek lalu meneguk secangkir teh hijau.


Laurent dengan pelan menarik kursi untuk ia duduki. Tapi, melihat piring Keynand masih kosong, ia berinisiatif untuk mengambilkan makanan untuknya. Saking semangatnya, Laurent berbalik badan untuk mendekati Keynand, namun sayang tubuhnya langsung bertubrukan dengan tubuh kekar pria yang menjadi bulan-bulanannya, siapa lagi kalau bukan Alex


"Benar-benar kau ini!, setiap hari cari masalah denganku!" kesal Laurent menatap sinis pria itu.


"Siapa yang cari masalah denganmu, nona cerewet!" ucap Alex sambil menyilangkan lengannya di depan dada.


"Dasar menyebalkan!" ketus Laurent dan begitu kesalnya setiap kali harus bertemu dengan pria babu itu.


Sementara Keynand memilih bangkit dari duduknya lalu membawa secangkir teh menuju teras rumah. Kepalanya akan semakin sakit mendengar pertengkaran mereka.


"Keynand, kau mau kemana!" teriak Laurent yang melihat Keynand melenggang pergi menjauh darinya. Sedangkan Keynand tidak peduli dengan teriakannya.


Laurent berdengus kesal menatap tajam ke arah Alex. Lalu dia memilih duduk di kursi untuk sarapan. Begitu halnya yang dilakukan oleh Alex, dia pun langsung mendaratkan bokongnya di kursi.


Mereka sarapan dengan suasana hening. Hingga kedatangan nyonya Tias mampu mencairkan suasana, lalu disusul dengan kedatangan Viona yang ikut bergabung di meja makan.


Laurent mengerutkan keningnya melihat raut wajah Viona yang tampak pucat bahkan bibir bawah wanita itu terlihat bengkak. Ditambah wanita itu memakai jaket, Laurent mulai menerka-nerka bahwa wanita itu sedang sakit. Dia sungguh senang jika wanita itu memang sakit, ibaratnya dia senang di atas penderitaan orang lain.


"Nak Viona, kau sakit?" tanya Nyonya Tias dengan nada khawatir dan Viona langsung menggeleng cepat tidak membenarkan ucapan ibu mertuanya.


"Aku hanya kurang enak badan, mama." jawab Viona sambil menundukkan pandangannya. Dia tidak ingin orang-orang merasa curiga kepadanya.


"Kalau begitu, beristirahat lah nak dan jangan khawatirkan Isy. Biar mama yang mengurusnya. Jangan lupa minum vitamin." ucap Nyonya Tias tersenyum.

__ADS_1


"Baik mama." ucap Viona sembari mengangguk.


Bersambung......


__ADS_2