
Tubuh Keynand mematung menatap rumah sederhana yang menjadi tempat persembunyian Viona, istrinya. Tanpa basa-basi ia melangkah mendekati rumah itu. Namun langkahnya terhenti saat salah satu anak buahnya menghampirinya.
"Maaf tuan, nona Viona sudah pergi!"
Deg!
Seketika jantung Keynand seakan berhenti berdetak saat mengetahui bahwa Viona sudah pergi.
"Cepat cari dia! kenapa hal seperti ini kalian semua tak becus!." bentak Keynand kepada anak buahnya.
"Kami sudah berusaha mencarinya tuan. Tapi, kami belum menemukannya." ucap salah satu anak buahnya.
Tanpa basa-basi Keynand menghajar anak buahnya, lalu menyuruhnya pergi dari hadapannya. Seharusnya mereka mencari Viona.
"Aaahhhh!!!" ucapnya merutuki kebodohannya.
Keynand melihat di sekelilingnya lalu mendekati rumah sederhana yang merupakan rumah dari nenek Lando, yang mana rumah itu juga dialihfungsikan menjadi toko bunga.
Keynand menarik nafas dalam-dalam lalu dihembuskan dengan kasar. Ia pun mengulurkan tangannya untuk mengetuk pintu rumah nenek Lando.
Tok
Tok
Tok
Hening, tak ada sahutan dari dalam rumah membuat Keynand melirik ke arah kanan dan kiri. Namun tetap saja suasana disekitaran rumah tampak sepi.
Tak berselang lama kemudian, terdengar suara pintu terbuka hingga muncullah sosok pria paruh baya dengan raut wajah lelah dan masih terlihat mengantuk berat, seolah baru saja bangun tidur.
"Maaf, aku tidak bermaksud mengganggumu. Aku datang untuk mencari istriku." ucap Keynand menjelaskan perihal kedatangannya.
"Istri?" ucap Pria paruh baya itu sambil mengucek matanya.
"Ya, istriku bernama Viona. Dia sempat menginap di rumah ini. Tolong katakan dimana istriku pergi, jangan lagi menyembunyikannya. Aku tidak akan berbuat macam-macam kepadanya dan juga kepada keluargamu." ucap Keynand dengan tatapan memohon.
Pria paruh baya itu tidak lain adalah Paman Gober (Paman Lando). Paman Gober tampak termenung mendengar ucapan Keynand, lalu mendongak menatap wajah pria itu.
__ADS_1
'Paman, jangan katakan apapun jika seorang pria datang mencari Viona. Katakanlah kepadanya bahwa paman tidak mengenalnya.'
Seketika ucapan ponakannya tempo hari terlintas di pikirannya agar tutup mulut.
"Maaf tuan, aku tidak tahu wanita yang kau maksud, bahkan aku tidak mengenal istrimu. Mungkin kau salah rumah, tuan. Jika tidak percaya tuan boleh menggeledah rumah ini." ucap Paman Gober gugup dan tak berani bertemu pandang dengan pria itu.
Keynand langsung menarik kerah kemeja pria paruh baya itu.
"Aku hanya ingin tahu kemana perginya istriku! untuk apa aku menggeledah rumahmu jika orang yang kucari sudah pergi. Aku sudah tau segalanya pak. Jadi... mohon kerja samanya dan katakan kemana arah tujuannya." ucap Keynand dingin, karena sepertinya pria paruh baya itu tidak bisa diajak bekerjasama.
Sementara Paman Gober terkejut mendengar ucapan Keynand, mendadak jantungnya terus memompa lebih cepat yang mendadak dirundung ketakutan. Bahkan kedua tangannya gemetaran.
"Katakan kemana perginya istriku!" ucap Keynand dengan nada tinggi.
"A-aku tidak tahu apa-apa, tuan." ucap Paman Gober dengan jujur sambil mengangkat kedua tangannya guna meyakinkan pria berkuasa di hadapannya, bahwa dirinya memang tidak tahu apa-apa kemana arah tujuan wanita yang sempat bersama ponakannya.
Dengan terpaksa Keynand melepaskan tangannya dari kerah baju Paman Gober. Ia mampu melihat dengan jelas raut wajah pria paruh baya itu yang memang tidak tahu apa-apa tentang kepergian istrinya.
Keynand menghela nafas berat, ia tidak boleh tersulut emosi dan harus pandai-pandai merendamkan emosinya mulai sekarang dan seterusnya.
"Kurasa aku hanya mengganggu waktu istirahat mu, permisi." ucap Keynand lalu melenggang pergi.
"Ayo pergi, jangan buang waktu." teriak Keynand kepada anak buahnya.
Salah satu anak buahnya berlari bergerak membukakan pintu mobil untuknya. Kemudian Keynand bergegas masuk ke dalam mobil yang siap membawanya pergi.
Dan Helikopter yang sempat membawanya ke daerah tersebut sudah terbang jauh yang lebih dulu pergi meninggalkan daerah tersebut.
*
*
*
Sementara di tempat lain....
Alex memilih untuk membuka rantai besi yang mengikat kedua tangan Laurent. Sungguh ia menjadi serba salah melihat wanita itu terus menangis sesenggukan sedari tadi.
__ADS_1
Padahal Alex berencana akan menyiksa wanita licik itu sampai pagi. Tapi, ia menjadi tidak tega untuk melakukannya. Sungguh, ia tidak terbiasa menyiksa apalagi menyakiti yang namanya wanita.
Karena sedari kecil ia sudah berjanji kepada mendiang ibunya tidak akan pernah menyiksa apalagi menyakiti yang namanya wanita. Bukan tanpa sebab sampai dia harus berjanji kepada ibunya. Ada alasan dibalik semua itu.
Alex dan ibunya selalu mendapatkan kekerasan fisik dari ayahnya. Hampir setiap hari ia melihat dengan jelas kekerasan fisik yang dialami oleh mendiang ibunya. Setiap kali ia melindungi ibunya, ujung-ujungnya tubuhnya lah yang terkena imbasnya dari aksi kejam ayahnya. Sehingga ia bertekad untuk menjaga dan melindungi ibunya pada waktu itu dan berjanji tidak akan menyakiti wanita.
Entah permasalahan apa yang tengah dialami oleh orang tuanya hingga setiap hari ia melihat pertengkaran yang dilakukan kedua orang tuanya. Hingga akhirnya kedua orang tuanya memutuskan untuk berpisah.
Alex menghela nafas, sungguh ia tidak ingin mengingat kembali masa-masa kecil yang menjadi masa kelam seumur hidupnya. Masa itulah menjadi mimpi buruk baginya, karena selalu mendapatkan kekerasan fisik dari orang yang harusnya memberikan kasih sayang kepadanya, namun malah berbanding terbalik.
"Aku membawamu ke tempat ini bukan untuk melihatmu menangis, melainkan akan menyiksamu." ketus Alex melirik tajam ke arah Laurent yang masih saja terisak.
"Kau sudah menghancurkan masa depanku, pria babu!. Aku begitu menantikan Keynand menjadi suamiku. Tapi, kau malah menggagalkan semuanya... hiks....hiks.." ucap Laurent terisak.
"Sudahi dramamu dan pikirkan kehidupanmu saat ini. Karena aku tidak akan pernah membebaskan mu!. Kau tidak akan lagi bertemu dengan orang tuamu" tegas Keynand lalu berbalik badan.
Laurent yang mendengar ucapan Alex langsung mengepalkan kedua tangannya. Dan diam-diam wanita itu mengulurkan tangannya untuk mengambil asbak di atas meja yang mudah dijangkau nya.
Sebelum asbak itu mendarat sempurna di punggung Alex, dengan sigap Alex langsung menggagalkan aksi Laurent karena mampu membaca gerakan Laurent. Tangan kiri Alex langsung menangkis tangan Laurent yang memegang asbak, hingga asbak yang dipegangnya terjatuh di atas meja.
Praanggg
"Simpan tenagamu untuk saat ini, karena kedepannya kau belum tentu bisa melawanku, nona Laurent yang picik." sindir Keynand.
Laurent tidak terima dengan ucapan Alex, ia ingin menghajar Alex, namun Alex keburu menarik pinggang Laurent, membuat Laurent memberontak dan langsung melayangkan tamparan di pipi Alex.
Plakkk
Sorot mata Alex memancarkan kilatan amarah dengan aksi wanita licik itu. Tanpa basa-basi Alex langsung mendorong tubuh Laurent, hingga membuat tubuh Laurent terhempas di atas ranjang.
"Berhenti memancingku karena bisa saja jari-jari tanganmu aku potong dan jadikan sebagai santapan untukmu." ancam Alex. Sontak membuat Laurent langsung bungkam seketika melihat jemari tangannya lalu menyembunyikannya.
Setelah mengatakannya, Alex bergegas keluar dari kamarnya. Ia mengunci pintu kamar tersebut. Pasalnya ia ingin menghubungi Lando. Lagi-lagi Alex mengeram kesal, ini kali ketiga baginya menghubungi nomor Lando dan Viona tapi semuanya sudah tidak aktif.
"Kenapa mereka tidak bisa di hubungi? apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Alex pada dirinya sendiri.
"Jangan-jangan mereka...aku harus menyusulnya." ucap Alex lalu melenggang pergi.
__ADS_1
Bersambung.....