
Laurent terus memberontak di dalam mobil, sepanjang mobil melaju kencang membelah jalanan pusat kota yang tampak lenggang di malam hari.
"Ufffhhh...uuuuhh.."
Alex yang sedang fokus mengemudi terlihat cuek kepada wanita arogan nan licik itu. Ia akan memberi pelajaran kepada wanita itu dengan caranya sendiri.
Alex memutuskan membawa Laurent ke apartemen miliknya yang letaknya cukup jauh dari pusat kota. Apartemen itu ia beli dari hasil jerih payahnya sendiri selama menjadi sekretaris tuan Keynand.
Ada cara lain yang harus Alex lakukan terhadap Laurent. Jika mendatangkan langsung Laurent di hadapan tuannya untuk memintanya mengakui perbuatannya, ia khawatir jikalau wanita licik itu tak mengakui perbuatannya, bisa-bisa semuanya menjadi runyam.
Sekitar 30 menit perjalanan, mobil yang membawa mereka mulai memasuki kawasan apartemen yang ditempati oleh Alex dan berhenti di bassment apartemen.
Alex bergegas turun dari mobil lalu bergerak kesamping untuk membuka pintu mobil. Kemudian Alex menyeret tubuh Laurent lalu membawanya ke unit apartemennya.
***
Sementara itu, Viona dan Lando sudah pergi dari kediaman nenek Sara sejak satu jam yang lalu. Mereka sempat berjalan kaki melewati jalan rahasia yang sering dilalui oleh petani bunga ketika akan pergi ke perkebunan bunga nya. Karena mayoritas mata pencaharian masyarakat di daerah tersebut adalah petani bunga.
Setelah mereka berhasil melewati jalan setapak yang merupakan jalan rahasia khusus para petani, barulah mereka akan menapaki jalan yang semestinya dilalui kendaraan.
Kemudian mereka memberhentikan kendaraan yang melintas di kawasan tersebut. Dan biasanya kendaraan yang melintas tujuannya ke kota seberang untuk membawa hasil perkebunannya. Jadi mereka bisa menumpang.
Tampak Viona dan Lando sudah berada di atas mobil pengangkut bunga. Mereka terpaksa duduk di atas keranjang bunga demi mendapatkan tumpangan.
"Apa kau sudah menghubungi Alex bahwa kita sudah pergi dari rumah nenekmu?" tanya Viona.
"Sudah, namun Alex tak kunjung mengangkat panggilanku. Sepertinya ia sedang memberikan pelajaran kepada nenek sihir itu." ucap Lando dengan nada penekanan di akhir kalimat.
"Nenek sihir? siapa yang kau maksud nenek sihir?" tanya Viona dengan kening berkerut.
"Eeh itu si wanita licik bernama Laurent." jawab Lando.
"Laurent?"
"Ya. Dia orang yang....." Lando tidak melanjutkan ucapannya melihat rombongan pemotor yang melakukan konvoi di jalan dan mereka semua adalah anggota The Lion.
"Gawat, Viona, cepat menunduk." ucap Lando panik.
Viona langsung menunduk dan berusaha menyembunyikan wajahnya. Jangan sampai ada yang mengenalinya. Hingga para pemotor melintas mendahului mobil yang ditumpanginya.
Viona dan Lando menghembuskan nafasnya dengan kasar melihat pemotor tersebut sudah menjauh. Namun sayangnya, di depan sana terjadi pemeriksaan yang dilakukan oleh anggota The Lion. Setiap kendaraan yang melintas harus di periksa terlebih dahulu.
"Kenapa ada pemeriksaan seperti itu, biasanya tidak pernah dilakukan di daerah ini." ucap sang supir.
Viona dan Lando yang mendengar ucapan supir seketika membulatkan kedua matanya.
"Pak berhenti, kami akan turun disini." ucap Lando cepat. Dan seketika itu juga sang supir langsung memberhentikan mobilnya. Lando hanya tidak ingin jika mereka sampai tertangkap.
"Ayo Viona, kita harus turun sekarang." ajak Lando yang lebih dulu melompat turun dari mobil.
__ADS_1
"Baik" ucap Viona.
Lando mengulurkan tangannya untuk membantu Viona turun dari mobil, dengan cepat Viona menerima uluran tangannya. Setelah itu mereka berjalan memasuki hutan. Mereka tidak peduli bahaya yang menantinya di dalam hutan, yang jelas mereka tidak tertangkap oleh anak buah Keynand.
*
*
*
Apartemen Alex....
Alex menatap tajam ke arah Laurent yang terduduk di lantai. Ia sempat kewalahan membawa Laurent menuju unit apartemennya, pasalnya wanita itu terus memberontak, sehingga jalan satu-satunya ia kembali menggendong Laurent menuju unit apartemennya.
Alex melangkah satu langkah mendekati Laurent, lalu berjongkok di depan wanita itu. Alex membuka penutup mulut Laurent dan seketika wanita itu langsung berteriak.
"Lepaskan aku, brengsek." teriak Laurent dengan kilatan amarah yang terpancar dari matanya.
Alex tak menggubris ucapannya, ia hanya mencengkeram dagu wanita itu guna membuatnya mendongak menatapnya.
"Aku tidak akan melepaskanmu, kau akan menanggung akibatnya karena sudah berurusan denganku." tegas Alex dengan tatapan tajam.
"Kau salah orang pria babu, aku tidak tahu apa-apa dan bu-bukan aku orang yang sudah menjebakmu." bantah Laurent yang masih saja mengelak.
"Wow, kau benar-benar tidak ingin mengakui perbuatanmu? baiklah aku akan membuatmu mengaku sekarang." ucap Alex sambil merogoh ponselnya dari saku jaketnya lalu menunjukkan rekaman video yang membuktikan bahwa Laurent lah pelakunya.
"I-itu tidak mungkin!" ucap Laurent terkejut. Bagaimana bisa ada rekaman video seperti itu. Padahal jelas-jelas dia merusak dua cctv waktu itu.
Alex melepaskan cengkeramannya lalu berpindah mencengkeram kuat lengan Laurent. Kemudian Alex menyeret paksa tubuh wanita itu, lalu dihempaskannya di atas ranjang.
"Jangan macam-macam kepadaku!" ucap Laurent marah sambil beringsut membawa tubuhnya mundur.
"Aku hanya ingin membuatmu mengaku." sinis Alex lalu mengambil rantai besi di dalam laci nakas. Alex akan mengikat kedua tangan Laurent di tiang ranjang.
Alex melangkah mendekati Laurent dengan tatapan dingin, membuat bulu kuduk wanita itu berdiri melihat rantai di tangan Alex. Perlahan Laurent mencoba untuk turun dari ranjang namun Alex langsung menahan tubuhnya.
"Pergi!" teriak Laurent ketakutan.
Sreeeek
Latban hitam yang mengikat kedua tangan Laurent dilepaskan lalu di gantikan rantai besi. Lalu Alex menarik ujung rantai besi hingga membuat Laurent terjatuh di lantai.
"Akkkkhh." Laurent kembali meringis kesakitan dengan mata berkaca-kaca. Ia seolah binatang yang ditarik paksa.
"Kau akan menyesal!" marah Laurent. Namun Alex tidak peduli.
Sreeeetttt
Kemudian Alex mengikatkan rantai besi di kedua tiang ranjang. Laurent masih saja memberontak untuk melepaskan rantai besi yang mengikat masing-masing pergelangan tangannya, hingga membuat permukaan kulit putihnya yang seputih susu tampak memar.
__ADS_1
"Pergilah kau ke neraka brengsek!"
Alex mengepalkan tangannya lalu merobek pakaian Laurent, sehingga hanya mengisahkan bikini. Seketika wajah Laurent merah padam dengan aksi kurang ajar pria itu.
Hanya tatapan tanpa ekspresi yang ditujukan Alex melihat penampilan Laurent yang menggoda iman. Bagaimana tidak, tubuh Laurent yang sintal begitu seksi dan menggoda.
"Bajingan kau, aku bersumpah akan membalasmu. Dan..aku tidak akan mengaku. Biarlah kau dan wanita sampah itu di cap tukang selingkuh." ucap Laurent marah dan Alex hanya tersenyum simpul.
Alex mengambil kameranya lalu meletakkannya di atas meja yang mengarah ke arah Laurent. Kemudian Alex melepaskan jaketnya, lalu melepaskan kaosnya, hingga ia hanya bertelanjang dada. Bekas cambukan masuk terlihat jelas di permukaan kulitnya.
"Lihat ini baik-baik, luka ini adalah hasil perbuatanmu. Untuk itu, aku ingin memberimu dua pilihan di cambuk menggunakan ikat pinggang atau menggunakan rantai besi. Dan berkata jujur." ucap Alex sambil melepas ikat pinggangnya.
Laurent tampak bungkam, ia begitu benci dengan pria babu itu, ia hanya buang muka dan sedang dilanda ketakutan mendengar ucapan Alex. Namun ia harus tetap terlihat kuat.
"Kurasa kau menyetujui keduanya. Baiklah, permainan akan dimulai." ucap Alex menyeringai lalu menyalakan kameranya.
Perlahan Alex melangkah mendekati Laurent sambil membawa ikat pinggangnya, tampak Laurent ketakutan berdiri di tempatnya. Ia berusaha untuk membuka ikatan tangannya, tapi semuanya hanya sia-sia.
"Jangan mendekat!" Laurent takut plus gugup dan sudah tak tenang di tempatnya melihat Alex mendekatinya.
Hal itu membuat Alex menyeringai dan langsung mencambukkan ikat pinggangnya di rantai.
Tringg
"Aaakkhh." Laurent menjerit ketakutan, padahal Alex belum menggunakan ikat pinggangnya untuk membuat wanita itu mengaku.
Triinng
"Aaaaaaa"
Kali ini ikat pinggang itu mengenai lengannya. Dan langsung membuat Laurent menjerit kesakitan. Padahal itu baru permulaan, sementara kedua kaki Laurent sudah gemetaran, ia bahkan ingin pipis saking takutnya.
Alex menyeringai lalu berdiri di belakang tubuh Laurent, wangi semerbak aroma tubuh Laurent mendadak membangkitkan kejantanannya. Namun, Alex mencoba tidak terpengaruh hal itu.
"Sekali lagi aku tekankan benda ini bisa merobek kulitmu." ancam Alex sambil menyentuh punggung mulus Laurent, membuat Laurent memejamkan mata dan refleks berteriak.
"Aku mengakui perbuatanku. Aku orang yang sudah menjebak kau dengan Viona. Aku terpaksa melakukannya agar aku bisa bersama dengan Keynand." Laurent mengatakannya dengan jujur.
"Ulangi lagi." bisik Alex di telinga Laurent. Membuat Laurent mengulangi ucapannya sampai puluhan kali.
Setelah itu, Alex langsung mengirimkan rekaman video itu beserta rekaman cctv tempo hari ke nomor ponsel tuan Keynand, Nyonya Tias dan Kedua orang tua Laurent. Bagaimana ia bisa mendapatkan nomor ponsel mereka, itu hal kecil bagi Alex.
***
Sementara itu, Keynand yang sedang menunggu kedatangan anak buahnya yang akan membawa Viona ke hadapannya tampak mondar-mandir di ruangan pribadinya.
Tiba-tiba sebuah pesan masuk di ponselnya membuat Keynand mengulurkan tangannya mengambil ponselnya lalu membukanya cepat.
Kedua mata Keynand membulat sempurna melihat rekaman video yang dikirim oleh nomor tak dikenal. Tanpa basa-basi Keynand langsung berlari keluar dari ruangannya. Pikirannya langsung tertuju pada wanita tawanannya.
__ADS_1
Bersambung.....
Mohon maaf baru update 🙏