Terpaksa Menikahi Tawanan-ku

Terpaksa Menikahi Tawanan-ku
Bab 47


__ADS_3

"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan nenek Rosi, sepertinya cucumu sedang hamil. Untuk mengetahui lebih jelas dia hamil atau tidak, suruh dia mengetesnya dengan alat ini. Ada petunjuk dalam bungkusannya, jika menunjukkan garis dua berarti cucumu memang hamil." jelas Pak Mantri dengan ramahnya.


Viona terlonjat kaget mendengar penjelasan dari pak Mantri. Apakah ia sedang hamil?, pikirnya.


"Hamil?" kompak Bibi Jane dan Nenek Rosi.


Mereka langsung melirik ke arah Viona yang tampak mematung dengan posisi duduk di atas tempat tidur.


"Kalau begitu saya permisi." pamit Pak Mantri undur diri dari hadapan mereka.


Bibi Jane segera mengantarkan pak mantri sampai di pintu. Setelah itu kembali ke kamar Viona.


Untuk membuktikan ucapan pak Mantri, Viona bergegas ke kamar mandi sambil membawa alat tes kehamilan yang sempat diberikan oleh pak mantri.


Bibi Jane dan Nenek Rosi hanya mampu saling pandang hingga mereka kompak mengidihkan bahunya yang sama sekali tidak tahu apa-apa perihal tentang kehidupan Viona. Yang mereka tahu Viona di kejar oleh penjahat sampai di dalam hutan hanya untuk dihabisi.


Sementara itu Viona yang berada di dalam kamar mandi tampak harap-harap cemas menunggu tes kehamilan itu bekerja.


Ya Tuhan, semoga ucapan pak Mantri tidak benar. Aku pasti tidak hamil, aku tidak mau hamil. Ya..aku tidak mau hamil, aku tidak ingin benih pria kejam itu tumbuh di rahimku. Batin Viona takut sambil menyentuh perut ratanya. Ia tidak ingin hal itu terjadi.


Viona langsung mengambil testpack yang di simpan di dalam wadah bersama urine nya. Viona mengangkat tinggi testpack tersebut hingga matanya membulat sempurna melihat dua garis merah terpampang jelas dalam testpack tersebut, itu artinya dia memang hamil.


"Tidak! ini tidak mungkin!" ucap Viona hingga air matanya menetes dengan sendirinya. Bersamaan pula tubuhnya merosot ke bawah dan begitu terpukul dengan kenyataan pahit yang tengah dihadapinya.


Mengapa disaat-saat seperti ini ia harus mengandung anak Pria kejam itu, pria yang sangat dibencinya. Viona menangis pilu memeluk kedua lututnya. Ia semakin membenci Keynand.


"Aku membencimu Keynand, aku bersumpah akan membalasmu. Kau hanya pria bajingan yang pecundang." ucap Viona terisak lalu menutup mulutnya agar tangisnya tak kedengaran keluar.


Viona terus menangis pilu di dalam kamar mandi. Ia tidak bisa berbuat apa-apa selain menerima janin yang dititipkan pria kejam itu di dalam rahimnya.

__ADS_1


Lama menangisi perihal kehamilannya, Viona segera mengusap kasar air matanya. Tidak seharusnya ia bersedih seperti ini, apalagi ia sedang hamil. Bukankah hal ini menjadi peluang baginya untuk balas dendam kepada Keynand.


"Sekarang aku memiliki kekuatan untuk melawanmu, Keynand. Aku sedang mengandung anakmu. Aku pastikan kau tidak akan pernah lagi mengataiku sebagai sampah tak berguna, menginjak-injak harga diriku dan kau tidak akan pernah menyakitiku. Tapi, akulah yang akan menyakitimu hingga kau kehilangan kebahagiaan yang pernah kau dapatkan." ucap Viona tak main-main dan memiliki tekad kuat untuk balas dendam kepada Keynand.


*


*


*


Sementara di tempat lain..


Alex baru saja sampai di apartemennya. Ia langsung bergerak menuju kamarnya untuk memastikan apakah Laurent masih ada di kamarnya ataukah wanita licik itu sudah kabur.


Ceklek


Alex membuka pintu kamarnya dan bergegas masuk ke dalam. Pemandangan yang pertama kali ia lihat adalah sosok wanita hanya memakai handuk tengah tidur tengkurap di atas tempat tidurnya.


Tanpa basa-basi Alex melebarkan selimut lalu menutupi tubuh Laurent.


"Dia selalu saja ingin menggodaku." gumam Alex sembari melangkah menuju kamar mandi.


Sementara Laurent yang berpura-pura tidur langsung bangun dan bergegas turun dari tempat tidur. Laurent berlari mendekati pintu, ia ingin kabur dari Alex. Namun langkahnya terhenti saat mendengar suara seseorang bertepuk tangan.


Prokkk...prokk


"Kau mau kemana nona Laurent? jika kau berani keluar dari kamar ini, maka salah satu jemari kau akan menjadi menu makan malam mu." ucap suara tegas seseorang.


Membuat Laurent berbalik badan dan langsung membulatkan kedua matanya melihat pria yang sudah menculiknya. Kedua matanya memancarkan ketakutan hanya melihat Alex, ia segera memeluk tubuhnya sendiri untuk melindunginya.

__ADS_1


"A-apa maumu? aku sudah berkata jujur..tapi kau masih mengurungku di apartemen jelekmu. Aku memiliki keluarga, mereka pasti mencariku. Tolong biarkan aku pulang. " ucap Laurent gugup dengan bibir bergetar menandakan bahwa dirinya begitu takut kepada Alex.


"Ha ha ha, selamanya kau akan terkurung di sini nona Laurent, sekali kau berbuat licik maka terima sendiri akibatnya, camkan itu!" ucapnya lalu menutup pintu kamar mandi dengan cara membantingnya, sontak membuat Laurent terkejut.


"Sial!, aku tidak ingin berurusan dengan pria babu itu, mengapa malah sekarang aku yang terkurung di tempatnya. Aku harus cari cara untuk keluar dari sini." gumam Laurent sambil memegang erat handuknya.


Laurent hanya menggunakan selembar handuk yang melekat di tubuhnya. Tak ada baju ganti yang disiapkan oleh pria yang menculiknya dan ia tidak akan memakai pakaian pria itu.


Kini Alex tengah makan malam seorang diri, Laurent hanya mampu berdiri di dekat meja pantry menatap kesal kearahnya sambil memegangi perutnya yang keroncongan, karena seharian ini Laurent belum makan apa-apa.


"Kau ingin membunuhku di tempatmu tanpa memberiku makan!" ucap Laurent dengan nada tinggi.


Seketika Alex menurunkan sendok di tangannya lalu melipat lengannya di depan dada, pandangannya langsung tertuju ke arah Laurent yang berdiri di dekat meja pantry dengan penampilan masih mengenakan handuk.


"Memang tujuanku untuk membunuhmu secara perlahan-lahan di tempatku." ucap Alex dingin dengan tatapan tajam. Lalu Alex menggebrak meja dan memilih kembali ke kamar. Tapi sebelumnya ia sempat melirik ke arah Laurent.


"Jika kau masih ingin hidup, makanlah makanan sisa dariku." sinis Alex, kemudian melangkah ke kamarnya.


"Dasar pria jahat, bajingan... arghhh, aku akan membalasnya." kesal Laurent. Mau tak mau ia terpaksa memakan makanan sisa dari Alex. Ia tidak ingin mati kelaparan di apartemen Alex.


"Sialan!, aku seperti gelandangan memakan makanan sisa pria babu itu." omel Laurent dengan makanan yang memenuhi mulutnya.


Hingga hari terus berlalu, Alex tetap mengurung Laurent di apartemennya. Alex tidak akan membiarkan wanita licik itu mendapatkan kebebasan, setelah apa yang diperbuat kepadanya.


Alex duduk termenung menatap kalender di tangannya. Hari ini adalah hari kesepakatan ia bersama kakeknya, dimana ia harus membawa calon istrinya ke hadapan kakeknya.


"Aku belum menemukan wanita...." Alex tidak melanjutkan ucapannya karena mendengar teriakkan Laurent. Seketika sebuah ide terlintas di pikirannya, hingga seringai licik terpatri diwajahnya. Kemudian Alex menghubungi seseorang.


"Siapkan gaun pengantin yang paling mahal untuk calon istriku." ucapnya di ujung telepon lalu bergegas keluar dari ruang kerjanya.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2