
Viona bergerak cepat mengambil semangkuk bubur untuk Keynand. Dengan perasaan takut, dia langsung duduk di pinggir tempat tidur.
"Biar saya yang menyuapi anda." ucap Viona dengan pandangan tertunduk. Karena melihat kondisi pria yang dicintainya sedang jatuh sakit.
"Hemm." balas Keynand cepat. Lebih baik dia menurunkan egonya daripada dia akan kembali kesulitan untuk menyantap makan siangnya.
Viona tampak canggung menyuapi Keynand, bahkan tangannya sampai gemetaran. Apalagi melihat sorot mata tajam pria itu menatapnya dingin, seolah langsung menghunus jantungnya.
"Maaf, aku mau bertanya perihal bayimu, tuan. Kalau boleh tau kemana ibu dari bayimu?" tanya Viona takut-takut. Pasalnya dia tidak melihat ibu dari bayi mungil itu datang ke Villa.
"Kenapa kau begitu penasaran dengan masalah pribadiku? apa kamu berniat menyelidiki kehidupanku hah! seorang budak tidak dituntut untuk mempertanyakan masalah pribadi tuannya!" tegas Keynand dengan tatapan dingin dan tidak suka melihat tingkah wanita tawanannya yang sok akrab mempertanyakan tentang mendiang istrinya.
"Maaf tuan, saya tidak akan lagi bertanya perihal masalah pribadi anda." ucap Viona dengan pandangan tertunduk yang tidak enak hati.
Keynand langsung mengibaskan tangannya untuk mengusir Viona keluar dari kamarnya. Dengan berat hati, Viona membereskan cepat peralatan makan Keynand lalu meletakkannya kembali di atas nampan.
Sebelum keluar dari kamar tersebut, Viona kembali melirik ke arah tempat tidur bayi, dimana bayi mungil kesayangannya sedang tertidur pulas. Kemudian dia kembali melihat ke arah Keynand.
"Tuan, apa kau sudah memberikan nama untuk bayimu?" tanya Viona.
Sementara Keynand terlihat berpikir sejenak yang sudah melupakan hal penting tersebut. Iya ya, dia bahkan sampai lupa memberi nama putrinya. Padahal jauh-jauh hari dia bersama mendiang istrinya sudah mempersiapkan nama yang cocok untuk putrinya.
"Sudah! sejak lama aku mempersiapkannya bersama istriku, namanya adalah Daisy Estella Manav. Kau bisa memanggilnya baby Daisy." jawab Keynand cuek.
"Baby Daisy, nama yang bagus, tuan." ucap Viona tersenyum merekah. Kemudian pamit undur diri sambil membungkukkan badannya keluar dari kamar tersebut.
Keynand kemudian mengulurkan tangannya membuka laci nakas di samping tempat tidurnya untuk mengambil obat nyeri. Dia selalu mengonsumsi obat tersebut setiap kali terluka akibat tertembak.
***
Ketika Viona berjalan menuju dapur, kembali dia berpapasan dengan Alex (sekretaris Keynand) yang sedang berada di dekat tangga. Alex langsung bergerak menghampirinya.
"Hai Viona." sapa Alex tersenyum ramah yang baru saja selesai makan siang di ruang makan seorang diri.
Seharusnya Alex makan siang bersama tuannya, namun tuannya tak kunjung turun ke bawah untuk makan siang bersamanya.
"Iya tuan Alex. Bagaimana? anda sudah makan siang atau belum?" tanya Viona dengan ramahnya.
__ADS_1
"Sudah. Makanannya sangat enak" jawab Alex cepat. "Apa kau yang masak semua menu makan siangnya?" tanya Alex penasaran dan Viona hanya mampu menggangguk menanggapi ucapannya.
"Luar biasa, cantik, pintar, jago masak dan benar-benar istri idaman." ucap Alex memberikan pujian kepada Viona.
"Terima kasih atas pujiannya, tuan Alex. Kalau begitu aku ke dapur dulu." ucap Viona tersenyum ramah lalu berjalan menuju dapur. Namun Alex langsung menghentikan langkahnya.
"Bagaimana denganmu? kau sudah makan atau belum?" tanya Alex.
"Sudah" bohong Viona.
"Oh baguslah, aku ke atas dulu." ucap Alex dan bergegas menemui tuannya di kamar. Sedangkan Viona melangkah cepat ke dapur.
"Bagaimana? kau membawa kabar baik atau tidak!" ucap Keynand dingin melihat kedatangan sekretarisnya.
"Tidak tuan, aku hanya ingin melihat kondisimu dan putrimu." ucap Alex.
Keynand berdengus kesal lalu melempar bantal ke arah sekretarisnya.
"Sebaiknya pulang saja, karena kamu tidak membawa kabar baik." kesal Keynand.
"Kau pikir aku senang terus bersembunyi di Villa ini, sementara musuhku bebas berkeliaran di luar sana hah!" kesal Keynand dengan tatapan tajam.
"Tenang tuan, mata-mata agen yang selalu membantu kita sudah turun tangan. Jadi kita hanya perlu tunggu hasilnya." ucap Alex.
"Aku sudah tidak membutuhkan bantuan mereka. Kerahkan saja anak buah ku menyerang markasnya." timpal Keynand.
"Kami sudah mencobanya tuan, tapi, kekuatan anak buah Jerox semakin bertambah. Mereka mulai tersebar melakukan penyamaran mencari keberadaan Anda bersama bayi anda." ucap Alex menjelaskan.
"Sial! andai saja dari dulu aku membubarkan kelompok Jerox, mungkin kelompok mereka tidak akan sebanyak sekarang." ucap Keynand yang menyesali perbuatannya di masa lalu tidak menghabisi nyawa mereka.
"Tak perlu mengungkit masa lalu tuan, yang jelas mereka belum bisa menguasai seluruh wilayah pelabuhan di negara ini dan daerah perbatasan." ucap Alex.
"Ya, kau benar. Mereka memang mengincar seluruh daerah kekuasaan kelompok kita." ucap Keynand dengan anggukan kepala.
Namun tiba-tiba obrolan mereka terhenti saat mendengar baby Daisy kembali menangis histeris. Keynand bergerak cepat menghampiri bayinya lalu menggendongnya cepat untuk menenangkannya.
"Astaga, susunya sudah habis." Keynand hanya menghela nafas berat melihat botol susu bayinya sudah kosong.
__ADS_1
"Alex!" teriak Keynand memanggil sekretarisnya.
"Iya tuan" ucap Alex mendekat ke arahnya.
"Panggil Viona kemari, aku ingin menyuruh wanita itu membuatkan susu untuk bayiku" jelas Keynand.
"Baik tuan." Ucap Alex dan bergerak cepat memanggil Viona.
Saat akan membuka pintu kamar, Alex dikejutkan dengan dua sosok wanita berbeda usia tengah berdiri di ambang pintu.
"Silahkan masuk, nyonya." ucap Alex ramah mempersilahkan wanita paruh baya itu masuk ke dalam kamar tuannya.
Karena wanita paruh baya itu adalah ibu dari tuannya.
"Mama!" ucap Keynand terkejut melihat kedatangan ibunya. "Bukankah aku sudah meminta mama untuk..." Keynand tidak melanjutkan ucapannya.
"Mama sangat mengkhawatirkan kalian. Untungnya Laurent datang berkunjung ke rumah. Maka dari itu, mama meminta tolong kepada Laurent untuk menemani mama menemui mu." ucap ibunya memotong ucapannya.
Tampak wanita cantik yang berdiri di samping ibunya melangkah anggun mendekat ke arahnya.
"Aku sangat merindukan ponakanku, jadi jangan menghalangiku untuk tidak datang menemuinya." ucap wanita cantik itu yang tidak lain adalah Laurent.
"Tapi aku..."
"Kita memiliki hak yang sama. Untuk itu kita bisa merawatnya bersama-sama." ucap Laurent tersenyum. Memang itulah menjadi tujuannya, selalu dekat dengan pria yang diincarnya.
Sementara Keynand langsung bungkam dan hanya mampu menghembuskan nafasnya dengan kasar melihat wanita cantik itu.
"Benar yang dikatakan Laurent, dia bisa membantumu merawat putrimu." ucap ibunya tersenyum.
"Tapi ma, aku tidak perlu bantuannya. Lagian putriku sudah memiliki pengasuh khusus yang siap menjaganya selama 24 jam." ucap Keynand yang terpaksa harus menjadikan Viona sebagai pengasuh putrinya.
"Itu dia orangnya." ucap Keynand melihat ke arah pintu. Karena bertepatan pula Viona melangkah masuk ke dalam kamarnya.
Seketika orang yang berada di dalam kamar tersebut langsung menoleh ke arah Viona. Sedangkan Viona hanya mampu bingung melihat raut wajah mereka.
Bersambung....
__ADS_1