Terpaksa Menikahi Tawanan-ku

Terpaksa Menikahi Tawanan-ku
Bab 57


__ADS_3

Refleks Viona, bibi Jane dan Nenek Rosi langsung melepaskan pelukannya, lalu berbalik badan menghadap ke arah pria itu.


Deg!


Viona langsung membulatkan kedua matanya melihat pria itu. Begitu halnya sebaliknya tingkah pria itu yang bertatapan langsung dengan wanita hamil. Dan tanpa sadar pria itu langsung menjatuhkan payung hitam yang dipegangnya.


"Viona!" ucap pria itu dengan mata berkaca-kaca.


Viona tak menggubris ucapan pria itu, kedua tangannya di kepal kuat. Ia ingin sekali berteriak dan memaki-maki orang itu. Namun sayangnya, ia tidak mampu melakukannya.


Tidak hanya itu, mendadak raut wajah Viona berubah. Kedua matanya memancarkan kilatan amarah, ditambah dada nya begitu sesak seolah pisau belati kembali menghunus jantungnya hanya melihat wajah pria yang sangat dibencinya.


Pria itu adalah 'Keynand Petrico Manav' pria itulah yang sudah menyakitinya, memberikan banyak luka mendalam, kesakitan dan penderitaan hingga membuat kehidupannya hancur berkeping-keping.


"Viona." Pria itu kembali memanggil namanya dan pria itu tidak lain adalah Keynand.


Lagi-lagi Viona tidak memperdulikannya. Viona langsung berbalik badan sambil mengepalkan tangannya dan berusaha untuk menahan amarahnya. Ia tidak peduli hujan turun semakin derasnya membasahi sekujur tubuhnya.


“Viona! tolong maafkan aku” teriak keynand ditengah derasnya hujan sambil melangkah mendekati Viona.


Viona hanya mampu menggigit bibir bawahnya, ia berusaha untuk tidak menangis di depan pria yang sangat dibencinya itu. Sedangkan Nenek Rosi dan Bibi Jane yang tidak tahu permasalahan mereka memilih berjalan kearah halte bus meninggalkan mereka berdua.


"Viona, tolong maafkan aku, aku mengaku salah sudah membuatmu menderita." ucap Keynand memohon yang seolah tak memiliki kekuatan.


"Pergi! aku tidak ingin lagi melihat wajahmu!" tegas Viona tanpa ingin melihat wajah Keynand.


Keynand malah mendekatinya dan tanpa basa-basi Keynand langsung memeluk tubuh Viona dari belakang.


"Lepaskan aku!" Viona langsung memberontak sambil berusaha melepaskan tangan Keynand yang memeluknya, namun Keynand malah mengeratkan pelukannya.

__ADS_1


"Tidak. Aku tidak akan melepaskanmu lagi, Viona. Aku sangat tersiksa kehilangan dirimu, aku sangat-sangat merindukanmu,Viona... sangat merindukanmu. Sekarang, cukup kau berada di sampingku selamanya." ucap Keynand dengan mata berkaca-kaca hingga air mata haru seketika menetes dengan sendirinya.


"Jangan menyentuhku brengsek, lepaskan aku!" ucap Viona dengan nada tinggi bahkan air matanya berhasil lolos membasahi pipinya. Viona terus memberontak agar Keynand mau melepaskannya. Tapi, Keynand semakin mengeratkan pelukannya.


"Lepaskan aku!...hiks.... hiks..." ucap Viona terisak dengan air mata terus tumpah membasahi pipinya, membuat Keynand merasa iba mendengar suara isak tangis Viona.


"Tolong, biarkan aku memelukmu, Viona." ucap Keynand memohon dengan suara parau, dimana air matanya juga terus menetes tak terbendung.


Tapi sayangnya Viona tak mau diajak bekerjasama, Viona terus memukul lengan Keynand yang masih setia memeluknya. Sedangkan pria itu tersenyum tipis melihat tingkah laku istrinya.


Walaupun mendapatkan penolakan dari Viona, namun Keynand tidak akan patah semangat menghadapi Viona. Hari ini menjadi hari keberuntungannya bisa bertemu dengan istrinya. Kalau perlu ia ingin terus memeluk tubuh wanita yang sangat dirindukannya itu.


Keynand sudah tidak mampu menggambarkan perasaannya seperti apa yang jelas ia begitu terharu dan bahagia bisa bertemu dengan Viona, istrinya. Mendadak hatinya menghangat hanya menyentuh perut buncit Viona. Perlahan jemari tangannya mulai mengelus perut buncit Viona. Hingga membuat Viona tak lagi memberontak untuk lepas dari dekapan hangat Keynand.


Keynand mulai bermonolog dengan pikirannya sendiri, ia begitu yakin bahwa Viona sedang mengandung anaknya, darah dagingnya.


Keynand tidak menggubris ucapan Viona, membuat Viona langsung menyikut perut Keynand dengan kesalnya, hingga Keynand meringis kesakitan dan langsung melepaskan pelukannya.


"Itu menjadi pelukan terakhirmu!. Satu lagi, aku tidak mengenalmu!" ketus Viona dengan tatapan penuh kebencian. Ia tidak ingin lagi berurusan dengan pria yang sangat dibencinya.


Kemudian dengan cepat Viona berjalan kearah halte bus, dimana Bibi Jane dan Nenek Rosi sudah berteduh di sana. Namun, baru dua langkah, Keynand kembali mencekal tangannya.


"Tolong...maafkan aku, Viona. Aku sungguh menyesal tidak mempercayaimu. Bisa kau katakan padaku? apa yang harus ku lakukan untuk mendapatkan maaf darimu." ucap Keynand dengan tatapan sendunya.


"Pergi dari kehidupanku! karena aku tidak ingin lagi melihatmu." ucap Viona dingin sambil menunjuk-nunjuk ke arah Keynand. Sontak Keynand langsung bersimpuh di hadapan Viona.


"Tidak Viona, aku ingin selalu berada disampingmu selama aku bisa, kaulah hal yang penting bagiku. Kaulah yang sangat berarti bagiku, kaulah wanita yang aku cintai. Kaulah ibu terbaik untuk anakku dan kaulah yang akan melahirkan anak-anakku. Perlu kau tahu, aku terus mencarimu kemana-mana, namun pencarianku tak pernah membuahkan hasil. Aku tak tahu harus bagaimana ketika kau pergi dariku, aku hanya mampu menyendiri dan melupakan hal di sekitarku. Asal kau tahu, aku sangat membutuhkanmu dan ingin selalu berada di sampingmu." ucap Keynand bersungguh-sungguh dari lubuk hatinya yang terdalam.


Viona hanya mampu menatap Keynand dengan tatapan kebencian lalu kembali melangkah. Namun mendadak Viona menghentikan langkahnya dan langsung meringis kesakitan memegangi perutnya.

__ADS_1


"Aaakkhh." Viona histeris kesakitan. Tiba-tiba Viona merasakan kesakitan yang luar biasa dari dalam perutnya.


Membuat Keynand tampak khawatir melihat Viona. Dan bergerak cepat mendekatinya.


"Viona, kau kenapa?" tanyanya dengan nada khawatir.


"Akkkkhh... perutku!.. perutku sakit..." ucap Viona sambil mencengkram kuat lengan Keynand. Bahkan terlihat darah segar mengalir di betisnya.


Keynand menjadi panik dan langsung menggendong tubuh Viona, lalu segera memasukkannya ke dalam mobil. Bibi Jane segera menghampiri mobil Keynand.


"Maaf tuan, apa...Vivi!" Bibi Jane terkejut mendengar Viona merengek kesakitan. "Jangan-jangan Vivi mau melahirkan!" ucapnya terlonjat kaget.


"Ayo, kita harus segera membawanya ke rumah sakit." ucap Keynand lalu menutup pintu mobilnya.


"Ah iya, tunggu sebentar." ucap Bibi Jane lalu bergerak cepat menghampiri ibunya. Setelah itu, mereka bergegas masuk ke dalam mobil Keynand.


Setelah semuanya lengkap, mobil Keynand mulai melaju kencang menuju rumah sakit terdekat. Dimana di dalam mobil Viona terus meringis kesakitan mencengkeram kuat lengan Keynand.


Setibanya di rumah sakit, Keynand langsung menggendong tubuh Viona dan berlari masuk ke dalam rumah sakit.


"Tolong selamatkan istri dan anakku. Berikan perawatan terbaik untuknya. Aku akan membayarnya berapapun." teriak Keynand dengan raut wajah tampak panik.


Hingga dua perawat berlarian menghampirinya sambil mendorong brankar. Keynand dengan hati-hati meletakkan tubuh Viona di atas brankar, kemudian segera mendorong brankar nya menuju ruang persalinan.


Ya Tuhan selamatkan istri dan anakku. Lancarkan persalinannya dan jangan membuatnya kembali tersiksa. Biarkan aku menebus segala dosa yang pernah ku perbuat kepada mereka. Batin Keynand dengan mata berkaca-kaca dan membiarkan Viona terus menerus mencengkeram kuat lengannya.


Ia bahkan rela berbagi kesakitan dengan sang istri. Karena apa yang sedang dialami oleh istrinya sekarang adalah sebuah perjuangan untuk melahirkan buah hatinya. Dimana istrinya akan bertarung dengan nyawa. Sungguh ia tidak ingin lagi kehilangan sosok wanita yang dicintainya.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2