
"Tenang dulu tante. Aku akan menghubungi Keynand untuk membantu kita." ucap Laurent sambil mengeluarkan ponselnya dari dalam tasnya.
Kemudian Laurent segera menghubungi Keynand. Namun panggilannya tak kunjung diangkat oleh Keynand. Sementara itu tiga unit mobil melaju kencang terus mengikuti mobilnya.
Sial! kenapa Keynand tidak mengangkat panggilanku. Aiissshh... bisa-bisa kami tertangkap. Semua ini gara-gara baby Daisy, dasar anak pembawa sial. Batin Laurent kesal yang menyalahkan ponakannya sendiri.
Dengan kesal Laurent mengirimkan deretan pesan kepada Keynand bahwa sekarang ia, baby Daisy dan ibu Keynand dalam bahaya.
"Lebih cepat lagi pak." perintah Laurent kepada sang supir.
Tiba-tiba salah satu mobil melaju kencang mengejar mobil yang ditumpanginya. Membuat Laurent terkejut dan mulai panik melihat mobil berwarna hitam terus memepet bahkan ingin menyalip mobil yang ditumpanginya. Begitu halnya dengan nyonya Tias yang tengah mendekap hangat cucu kesayangannya. Apapun terjadi, hal pertama yang harus dilindunginya adalah cucu kesayangannya.
Brukk
"Aaaaaaa....lebih cepat lagi pak!" pekik Laurent. Kembali Laurent menghubungi Keynand, namun sayangnya tiba-tiba ponselnya terjatuh akibat gempuran keras mobil dibelakangnya.
"Ya Tuhan, lindungi kami." ucap Nyonya Tias panik sambil mendekap hangat cucunya. Wanita paruh baya itu sungguh takut jika cucunya sampai kenapa-kenapa. Ia berusaha untuk melindungi cucunya.
Di persimpangan jalan, sudah terlihat dua unit mobil beserta beberapa pemotor trail tampak konvoi menguasai jalan dan melaju ke arahnya. Membuat Laurent dan Nyonya Tias menajamkan penglihatannya untuk melihat di depan sana. Hingga kedua mata mereka berbinar timbul di pelupuk matanya.
"Mereka rombongan Keynand, Tante." ucap Laurent antusias dan mampu mengenali anak buah Keynand.
"Syukurlah, akhirnya anak nakal itu datang." ucap Nyonya Tias merasakan perasaan lega tak sengaja melihat putranya di antara pemotor trail tersebut.
Mobil hitam yang sedari tadi ingin menyalip mobilnya, seketika merem mendadak lalu putar haluan melihat rombongan Keynand datang dengan melakukan konvoi. Begitu halnya dua unit mobil yang juga sedang mengejar mobil yang ditumpangi oleh Nyonya Tias dan Laurent terlihat putar balik. Tiga unit mobil tersebut memilih untuk mundur daripada harus meladeni rombongan Keynand.
Keynand bergegas menghampiri mobil ibunya.
"Mama, kalian baik-baik saja kan." ucap Keynand dengan gurat khawatir dan sedang memastikan ibu dan anaknya baik-baik saja.
"Iya nak kami baik-baik saja. Untung kau datang tepat waktu. Jika tidak, mama tidak tahu apa yang akan dilakukan orang-orang tadi terhadap kami." ucap ibunya tersenyum.
"Benar Keynand, jika kau datang terlambat, aku tidak bisa membayangkan apa yang terjadi kepada kami. Mereka bahkan terus menabrak mobil yang kami tumpangi, seolah ingin menghancurkannya bersama para penumpangnya. Sungguh, aku takut jika terjadi sesuatu kepada ponakanku, aku sangat menyayanginya dan tidak akan membiarkannya terluka. Aku rela mati demi bisa melindunginya." ucap Laurent memasang wajah sendunya yang sedang mencoba menarik perhatian Keynand.
"Apa yang sebenarnya terjadi, kenapa Mama meninggalkan Villa dan berkeliaran di jalan begini sampai membawa Daisy segala. Kalau Mama ingin keluar, kabari aku terlebih dahulu, jangan sampai hal seperti ini terulang lagi." ucap Keynand dengan nada khawatir dan mencoba mencari tahu dari ibunya.
"Isy terus menangis dan tidak mau minum susu, bahkan saking lamanya menangis....Isy sempat muntah. Makanya mama jadi khawatir melihat kondisinya dan memutuskan untuk membawanya ke rumah sakit, jika terus dibiarkan, mama takut Isy....hiks...hiks.." Nyonya Tias tidak mampu melanjutkan ucapannya, ia terisak melihat cucu kesayangannya sudah tertidur pulas di gendongannya.
__ADS_1
Keynand menghembuskan nafasnya dengan kasar mendengar ucapan ibunya. Keynand merasa bersalah telah meninggalkan Villa dan lebih memilih ke markas besarnya untuk melihat langsung hukuman kedua penghianat.
Tapi, diluar dugaan keluarganya dalam bahaya, memang dirinya begitu bodoh dan selalu lalai menjaga keluarganya. Seharusnya ia memperbanyak pengawal untuk menjaga keluarganya. Masalah yang baru saja terjadi pasti ada sangkut pautnya dengan musuh bebuyutannya.
"Kalau begitu kita harus membawa isy ke rumah sakit. Kebetulan tak jauh dari sini ada sebuah rumah sakit, kira-kira sekitar tiga kilo jarak yang harus kita tempuh untuk sampai di rumah sakit terdekat." jelas Keynand sambil menghapus air mata ibunya. Sedangkan ibunya hanya mampu menggangguk menanggapi ucapannya.
Laurent tersenyum mendengar ucapan Keynand. Ia berharap bisa berduaan dengan Keynand selama di rumah sakit dan tidak akan membuang-buang kesempatan berharganya kali ini.
Kemudian Keynand bergegas masuk ke dalam mobil dan duduk di samping kursi kemudi. Setelah itu, mobil mulai melaju menuju rumah sakit terdekat.
Beberapa anak buah Keynand melakukan pengawalan untuknya dan terus mengikuti mobil di depannya yang merupakan mobil tuannya.
*
*
*
Markas The Lion.....
Waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam pada jam dinding raksasa yang tertempel di dinding lantai dasar. Dimana suasana lantai dasar begitu hening, hanya terdapat tiga penjaga yang sedang berjaga-jaga di area tersebut.
Terdengar derap langkah kaki seseorang sedang menuruni anak tangga menuju ruang bawah tanah. Orang itu begitu waspada disekitarnya, hingga berhasil menginjakkan kakinya di ruang bawah tanah.
Pandangannya mulai dialihkan ke sembarang arah hingga menangkap dua sosok Algojo yang menjaga ruang bawah tanah tampak mendengkur di kursinya.
Orang itu merasa aman disekitarnya, sehingga ia mengendap-endap melangkah ke sebuah ruangan tempat dua penghianat di kurung.
Sementara itu, dua penghianat yang tidak lain adalah Viona dan Alex terlihat meringkuk di atas tanah tanpa alas sama sekali. Orang itu mendekat ke arah pintu dan berdiri di sana untuk melihat kedua penghianat.
Tanpa diduga, orang itu mengeluarkan benda kecil berwarna hitam dan diyakini jepitan rambut. Kemudian orang itu mencoba membuka gembok pintu menggunakan benda kecil dipegangnya hingga akhirnya aksinya berhasil.
Kemudian orang itu melangkah masuk dan melangkah mendekati Alex.
Pakkkk
Orang itu menepuk-nepuk pipi Alex membuat Alex terbangun dan langsung melihat orang yang sudah membangunkan tidurnya.
__ADS_1
"Ssstt...aku akan membawamu keluar dari tempat ini, bro." bisik Orang itu. Sontak membuat Alex memicingkan kedua matanya mendengar ucapan orang itu.
"Ini aku, Lando." ucapnya kembali memperkenalkan diri.
"Lando!, untuk apa kau kesini? sebaiknya kau pergi, aku tidak ingin kau dalam masalah. Cepat pergi!." bisik Alex meminta rekannya pergi.
Ya pria itu bernama Lando, pria berusia 25 tahun dan merupakan anggota The Lion dan sekaligus teman baik Alex. Pria itu begitu banyak berhutang budi kepada Alex, karena diawal-awal menjadi anggota The Lion, Alex banyak membantunya dan bisa juga dikatakan sebagai guru terbaik untuknya.
"Tidak, aku tidak akan pergi. Aku datang untuk mengeluarkanmu dari sini. Asal kau tahu, aku berhutang budi kepadamu, bro. Kau pernah menyelamatkan nyawaku. Sekarang giliran aku yang akan menyelamatkanmu, aku tidak ingin kau mati di tempat ini bersama wanita cantik itu." ucapnya sambil menunjuk ke arah wanita yang tertidur pulas.
Alex juga ikut mengalihkan pandangannya melihat apa yang dilihat oleh rekannya itu.
"Lando...."
"Jangan mengajakku berdebat. Jujur saja, aku tidak percaya jika kau berkhianat di belakang tuan Keynand. Ini mungkin salah satu tak tik dari musuh untuk memecah belah hubungan kalian. Ayo lah kawan, jangan mengulur-ulur waktu, kita akan pergi bersama." ucap Lando sambil menaikkan alisnya.
Alex tampak berpikir sejenak sambil menatap tajam pria yang cukup ceroboh menurutnya.
"Baiklah." ucap Alex pada akhirnya.
Kemudian Alex membangunkan Viona, sontak membuat Viona terkejut dan beringsut mundur. Namun, mendadak Viona meringis kesakitan merasakan luka bekas cambukan berdenyut nyeri hingga membuatnya menjatuhkan air matanya. Tapi, buru-buru Viona mengusap kasar air matanya.
Alex dan Lando hanya bisa menghela nafas berat dan merasa iba akan nasib wanita malang itu.
"Ayo, kita harus pergi." ucap Alex lalu membantu Viona berdiri, namun lagi-lagi Viona meringis kesakitan.
Sehingga Alex dengan sigap menggendongnya.
"Turunkan aku, Alex....." ucap Viona tidak enak hati.
"Kita tidak punya banyak waktu, jadi menurut lah." ucap Alex tidak ingin dibantah.
"Benar yang dikatakannya, nona cantik." timpal Lando.
Mau tak mau Viona memilih menurut saja. Karena tidak mungkin juga ia akan kuat berjalan jauh.
Mereka keluar melewati terowongan, hingga akhirnya mereka berhasil keluar dari markas The Lion.
__ADS_1
Bersambung....