
Dengan tergesa-gesa Anin berjalan masuk ke lobi rumah sakit dengan membawa 2 tentengan besar yang di dalam nya ada perlengkapan dirinya Aira dan elang Anin terburu-buru berjalan menuju kamar rawat Aira...
Setiba nya di depan pintu kamar rawat Aira sejenak Anin mengusap keringat di kening nya karena sudah berjalan terburu-buru takut Aira rewel tidak mau makan kalau bukan amin yang menyuapi nya...
Dengan gerakan perlahan tanpa menimbulkan suaraAnin membuka kenop pintu kamar rawat Aira, ketika pintu itu terbuka seperempat bagian, saat itulah hati Anin merasakan sesak seketika.
Anin melihat Aira kini sedang di suapi dengan telaten oleh seorang wanita cantik yang senyum manis selalu menyungging di sudut bibir nya...terdengar pula canda tawa diantara mereka, sementara elang hanya terdiam di samping sisi Aira sambil tatapan nya yang begitu intens selalu terarah pada wanita cantik itu..bahkan Anin pun selama menikah belum pernah mendapatkan tatapan dan senyuman seintens itu.
Anin menarik nafas panjang nya guna untuk menetralkan keadaan hati nya sekarang entah kenapa Anin merasakan perasaan yang aneh saat melihat pemandangan itu, pemandangan layak nya keluarga bahagia.
Anin tidak melanjutkan niat nya untuk masuk ke dalam kamar rawat Aira karena Anin merasa jika kehadirannya nanti akan mengganggu suasana yang terjadi disana dan mungkin kehadiran Anin pun tidak akan ada artinya....
Anin memutuskan untuk menutup kembali pintu itu dan Pergi sejenak untuk menenangkan hatinya.
Anin pergi ke sebuah cafetaria di dekat rumah sakit dan langsung memesan minuman dingin disana...
Tak beberapa lama entah darimana dia mengetahui keberadaan Anin tiba2 terdengar suara....
"Enak ya....bersantai-santai ria sambil menikmati jus disini Mrs. Alexander...."
Anin yang pandangannya sedang tertuju ke luar cafetaria itu langsung menoleh terkejut ketika melihat elang sudah berdiri di hadapannya tak ketinggalan tatapan mata elang nya sangat menyeramkan bagi Anin.
__ADS_1
"Kak Elang...."
"Jadi ini yang kamu lakukan, sedari tadi Aira terus menanyakan keberadaan mu dan bertanya kenapa belum datang, sementara kamu disini tengah asik bersantai sambil meminum jus.."
elang mengeluarkan kata-kata pedasnya yang seketika membuat Anin menunduk merasa bersalah.
"Maaf...."
Hanya kata itu yang mampu Anin katakan, ia bingung harus menjawab apa.
Elang menarik tangan Anin secar paksa
"Ayo cepat,,Aira sudah menunggu mu dari tadi..."
Elang kembali menatap Anin dengan tatapan tajam, Anin kembali menunduk karena sudah tak kuasa di tatap elang seperti itu
"Jadi kamu tidak mau menemui Aira...???
"Bukan begitu kak....hanya saja...." Anin terdiam sejenak sebelum melanjutkan perkataannya...
"Aku tidak mau mengganggu kebersamaan kalian..." ucap Anin menunduk
__ADS_1
"Kalian....maksud mu...??? elang terdiam sejenak sebelum mengerti dengan maksud perkataan anin tentang kalian.
"Bodoh....jadi alasan kamu tidak jadi masuk ke dalam ruangan rawat Aira karena ada Virni disana, Virni adalah asisten ku di perusahaan tidak hanya da Virni ada Andra dan yang lainnya.dia datang untuk membawakan berkas penting dan urgent yang harus aku tanda tangani sekalian dia menjenguk Aira..."
Elang tertawa dalam hatinya, tidak habis fikir dengan Anin , bagaimana mana mungkin dia lebih memilih pergi dan tidak jadi masuk karena di dalam ruangan itu ada Virni...
"Aku tidak tau dengan itu semua, yang pasti aku melihat kalian tampak serasi..." ucap Anin dengan tetap menunduk
"Aww...." Anin mendongak saat elang menyentil kening nya.
"Kau ini bodoh atau apa hah....!!! aku heran sebenarnya yang sekarang menjadi istri aku itu kau Apa Virni...???
"Aku ..." jawab Anin dengan polos nya...
Saat ini sikap kepolosan Anin hampir mirip dengan Aira...
Merasa kesal dengan sikap konyol tapi lucu Anin saat ini elang segera menarik tangan Anin kembali dan membawa nya berjalan menuju ruang rawat Aira .
"Sudah....sekarang kita ke ruangan Aira...Virni sudah tidak ada disana dia sudah kembali ke kantor ku setelah menyuapi Aira...
Anin dan elang berjalan bersama dengan tangan elang yang terus menggandeng nya
__ADS_1
Hangat dan nyaman...
itu lah yang dirasakan Anin saat ini saat elang menggenggam dengan erat jari jemari Anin yang mungil.