
Anin terdiam setelah mendengar perkataan panjang lebar yang telah di paparkan elang padanya.
Di lain sisi Anin juga membenarkan perkataan elang mengenai minimnya komunikasi yang terjalin diantara mereka, yang dimana elang sendirilah yang berperan cukup banyak dalam menciptakan jarak diantara mereka melalui sikap cuek dan dinginnya sementara Anin hanya mengikuti arus yang dimainkan elang sejak awal.
Tapi Anin tahu tidak selamanya ia harus mengikuti arus yang ada, terkadang ia juga di haruskan melawan arus jika tidak ingin terjebak dalam arus permainan yang tak berujung.
Dan kini elang datang menawarkan sebuah jalan keluar untuk kembali mengarungi sebuah hubungan rumah tangga secara bersama-sama memulai segala sesuatunya dari awal dan membangun komunikasi yang lancar selayaknya hubungan rumah tangga pada umumnya.
Dapatkan perkataan elang di percaya dan dijadikan pegangan oleh Anin, sementara dalam hatinya yang terdalam masih meragukan hal itu.
Anin takut saat ia berani melangkah pada hal yang lebih jauh justru elang akan kembali berpaling meninggalkannya.
tetapi jika ia menolak bahkan ia belum mencoba nya sama sekali bagaimana mungkin ia akan mengetahui akhirnya jika ia tidak berani mengambil sebuah keputusan.
" Aku akan mencobanya ...."
Jawaban tegas dari Anin sontak membuat elang yang semula menatap Anin dengan sebuah harapan kini nampak menyunggingkan seulas senyum pada bibirnya.
__ADS_1
Inilah yang di sukai elang dari diri Anin. Seorang gadis yang meski terlihat masih kekanak-kanakan dan kadang terlihat rapuh akan tetapi mampu berfikir dewasa jauh dari usianya.
Anin mampu menerima elang meski statusnya adalah seorang duda beranak satu.
Bahkan Anin masih mau memberikan kesempatan kedua disaat ia memiliki kebebasan untuk memilih menyerah dan terlepas dari ikatan pernikahan yang dipaksa ya sedari awal.
"Benarkah , Apa kamu yakin.... "
elang bertanya sekali lagi berusaha memberikan Anin kesempatan untuk kembali berfikir akan keputusannya kali ini.
mendengar jawaban Anin senyum tipis di bibir elang semakin merekah melebar.
"Kalau itu keputusanmu, maka perkataan ku di awal pernikahan akan tetap berlaku..."
"Hmmmm, maksud kakak...." tanya Anin bingung
" Tidak akan ada perceraian diantara kita..."
__ADS_1
Setalah mendengar hal tersebut, seketika wajah Anin memerah saat ia merasakan embusan nafas elang yang belum beranjak setelah membisikan kata tersebut di telinga Anin.
jarak diantara mereka berdua cukup dekat elang sengaja melakukan itu untuk menggoda Anin, setelah melihat respon Anin yang saat ini wajahnya tengah memerah malu membuat elang semakin ingin menggodanya lagi.
Perlahan elang mendekatkan wajahnya hingga hidung mancungnya kini telah mencium telinga belakang anin, menghirup udara dengan seduktif dan semakin menurunkan wajahnya pada cerik leher jenjang Anin.
" Kak...." suara Anin yang sedikit tercekat di tenggorokan akibat perlakuan tidak terduga dari elang yang kini tengah berada di cerik leher Anin hingga mau tak mau membuat Anin di dera rasa panik..
Jika dimakasud perkataan elang dengan memulai segala sesuatu nya dari awal yang berarti mereka akan melakukan hal yang lebih jauh lagi seperti melakukan hubungan suami istri , sementara itu ketika Anin mengambil keputusan tadi tidak terpikir sedikit pun bahwa hal seperti itu juga harus dilakukannya.
"Astaga....apa yang harus aku lakukan, kenapa hal seperti itu tidak aku pikirkan." suara batin anin.
Anin semakin di dera rasa panik saat ia merasakan sesuatu yang basah saat ini menempel pada cerik lehernya , di tambah dengan embusan nafas hangat yang terasa menggelitik lekuk lehernya.
"Kak elang, apa yang kakak lakukan...??
Anin berusaha menggunakan kedua tangannya untuk menjauhkan elang dari jangkauan lehernya yang mampu membuat Anin seketitika merasakan perasaan meremang untuk sesaat.
__ADS_1