
Didalam kamar Philip menatap langit-langit kamarnya, Ia menghindari cermin, bahkan ia juga menghindari ponsel karena ia akan melihat pantulan dirinya dari layar ponsel. Philip menatap tangannya lama. bulu tangannya tumbuh 3X lipat lebih banyak dan 2X lipat lebih panjang. Philip mendesah mengingat dirinya yang begitu menakutkan. Apa yang salah denganku.
drrrttttt drrtttttt
dtrrrtttt drrtttttt
Ponselnya berdering sejak tadi, beberapa wanita yang dikencaninya tengah mencarinya. "Aku harus kencan" Ujar Philip sendu, Philip seorang diri dikamar karena Rio tengah mengambilkan sarapan untuknya. Ucapan ibunya membuat Philip terisolasi, seorang diri di mansion lantai 3.
"Sarapan" Ujar Rio setelah membuka pintu kamar Philip. Philip menatap makanan yang dibawa Rio tanpa selera.
"Kesukaanku" Ujar Rio lagi menunjukan roti sandwich dengan banyak telur kocok didalamnya. Philip masih menatap piring yang Rio sodorkan.
"Aku tak berselera" Ujar Philip membuat Rio tenrtunduk lesu. Ia tahu ini tak mudah, berubah dalam sekejap. Philip berkaca-kaca merutuki betapa buruknya dia saat ini.
"Seorang maid melihatku" Ujar Philip mengutarakan ketakutannya
"Ah, itu, sudah ku beri penjelasan" Jawab Rio. Rio bahkan menjaga jarak dari Philip. Rio juga masih takut, melihat taring panjang Philip yang bisa menerkamnya kapanpun dia mau.
"Kau bilang apa?" tanya Philip
"Topeng Helloween" Jawab Rio sekadarnya. Maidnya juga percaya walau Helloween masih beberapa bulan lagi.
"Sepertinya aku tak menyukai sayuran lagi" Ujar Philip membuat Rio memundurkan kursinya refleks.
"Aku takkan memakanmu mas" Ujar Rio mengetahui jika Rio ketakutan karenanya.
"Kau mau apa?" Tanya Rio yang menawarkan bantuan pada Philip.
"Entah, aku mau balik lagi kek dulu" Ujar Philip tak meminta apapun, Ia hanya ingin kembali seperti semalam. Ia baik-baik saja saat malam, tak ada tanda-tanda mencurigakan. bahkan tidurnya begitu nyenyak.
"Nanti mas bantu cari jalan keluar" Ujar Rio menenangkan Philip. Philip hanya mengangguk lemah.
"Mas kalau ada kerjaan , kerjain aja dulu" Philip tak enak hati pada Rio yang menjaganya.
"Mas mau beli barang, mau nitip?" tanya Rio yang memang ada keperluan pribadi yang harus dibelinya.
"Beliin makan, ayam atau daging" Ujar Philip menunduk, menyembunyikan lidahnya yang ingin mengecap makanan.
"Ya, udah jangan kemana-mana" Pinta Rio yang dibalas anggukan Philip.
"Kunci aja ga papa, takut ada yang lihat" Pinta Philip yang dibalas anggukan oleh Rio. Rio-pun keluar kamar Philip sembari membawa makanan yang disentuh sama sekali oleh Philip.
__ADS_1
Selepas Rio mengunci kamar, Philip bergegas ke balkon kamarnya menunggu Rio benar-benar pergi. Ada yang membuat Philip penasaran, dan ia tak ingin di ketahui oleh siapapun.
Philip tersenyum tipis, saat suara mobil sport Rio keluar dari mansionnya, Philip bergegas kembali kekamar, membuka nakas meja dan mengambil alat pencukur. Sekian lama berfikir Philip merasa jika mencukur mungkin bisa mengurangi.
Philip memulai mencukur area tangannya terlebih dahulu yang lebih mudah. Philip menatap penuh harap pada tangannya saat alat pencukur menyentuh tangannya.
Philip tersenyum saat alat pencukur itu membabat bulu tangannya, namun senyum itu tak bertahan lama saat Philip merasakan alatnya ngadat. Tak sampai 5 menit alat itu dipakai dan kini tak bisa lagi digunakan. alat itu rusak dengan mudahnya. Philip mengerang frustasi namun otaknya tetap berfikir, mencoba tenang untuk mendapatkan pikiran jernihnya. Philip membuka kembali nakasnya, kali ini mengambil cream waxing yang bisa merontokan bulu-bulu namun harapannya kembali sirna saat bulu-bulu itu tak rontok sama sekali.
"Ga guna!" Philip melempar cream waxing pada tembok membuat cream dalam wadah pecah menimbulkan suara
PYAAAR
yang cukup keras, Philip tak peduli. Ia bahkan kini terkurung dikamarnya karena keinginannya yang tak terkabulkan. Philip kini meraih ponselnya untuk mencari cara untuk menghilangkan bulu rambut yang sederhana. Namun headline yang muncul dalam pemberitaan cukup membuatnya geram.
"AAARRRGHHHHHHHH!!!!!!!!!" Geram Philip kesla saat membaca berita yang kini tengah trending.
PA Entertainment mengkonfirmasi kematian putranya Philip Anderson
PA berduka, R.I.P Philip Anderson
Philip membanting ponselnya dan air matanya lolos tanpa bisa dicegah. Bagaimanapun Philip hanya seorang pria beruska 18 tahun. Walaupun sikapnya yang angkuh, Ia tetap seorang remaja yang masih rapuh. Air matanya turun deras hingga nafasnya sesak.
Philip meraih benda-benda yang berada didekatnya.
BUGGHHH!!!
Philip memukuli dan melempar barang yang ada di pandangannya, tak peduli.
"Apa salahku" Gumam Philip yang kini telah sedikit tenang dan duduk. Selimutnya di genggam begitu erat. Ia merasa sangat kesepian.
BRAGH
Rio membuka pintu dengan tak sabar, setengah membanting pintu. Rio langsung menghambur membuka selimut yang hampir menutup seluruh tubuhnya philip.
Rio menghela nafas lega saat melihat Philip. pandangannya begitu sendu. Rio tahu, Philip telah membaca berita.
"Kau punya mas" Ujar Rio menenangkan Philip, Philip menatap Rio dengan penuh putus asa.
"Kau akan baik-baik saja" Ujar Rio menyemangati Philip. Philip hanya memberi seulas senyum yang mungkin tak bisa dilihat oleh Rio yang telah dianggap sebagai kakanya.
"Sepertinya para asisten disini berhenti bekerja" Ujar Rio membuat Philip kembali lesu.
__ADS_1
"Kau bisa bebas berenang seperti biasa" Ujar Rio meonghibur Philip. Rio sangat tahu jika Philip sangat suka berenang, berendam.
"Mas, Philip ga mau kaya gini" ujar Philip
"Philip mau kuliah" tambah Philip lagi membuat panas mata Rio. Rio menahan diri untuk tidak menangis mendengar ucapan Philip.
"Nanti mas usahain" Ujar Rio lagi.
-
-
-
Hari itu keluarga Philip pulang lebih awal, Philip hanya diam tak pedulu seakan-akan tak tahu menahu tentang berita yang digegerkan keluarganya. Philip bahkan hanya diam saat berkumpul di ruang makan. Makan malam kali ini bukan buatan maid yang biasa bekerja di mansionnya, melainkan melalui layanan pesan antar restoran terdekat.
"Kami akan pindah" Ujar Ayah Philip memulai pembicaraan saat makanannya telah habis. Philip tak merespon, Ia tahu keluarganya akan meninggalkannya.
"Kau bisa menjaga philipkan? Kau tetap bekerja di perusahaan" Ujar ayah Philip pada Rio dan disanggupi oleh Rio.
"Ada yang mau kau katakan?" tanya ayah Philip pada Philip, sementara ibu Philip hanya menunduk sedih, tak berani melihat ekspresi anaknya yang tak terlihat karena rambut yang menutupi hampir seluruh wajahnya.
"Untuk apa, toh kalian akan meninggalkanku" Jawab Philip dan pergi kekamarnya. Philip hanya remaja berusia 18 tahun.
"Aku yang akan bicara dengan philip" ujar Rio memberi pengertian kepada kedua orang tua philip yang telah merawatnya.
"Bagaimanapun juga, Perusahaan punya banyak karyawan yang harus dilindungi" Ujar ayah philip memberi alasan tentang pengumunan kematian Philip.
"Lalu bagaimana dengan philip?" tanya Rio yang mengkhawatirkan adiknya.
"Kami mempercayaimu" Ujar Ibu philip
"Kami tak akan menelantarkan kalian, aku akan sering-sering menghubungi kalian nantinya" ujar ibu philip dan Rio hanya mengangguk.
"Akan kupastikan philip baik-baik saja" jawab Rio dan pamit untuk menyusul Rio dikamarnya.
-
-
-
__ADS_1
" Ya!!! kenapa kau malah membunuhnya!" teriak seorang wanita pada wanita paruh baya.
"Sudah kukatakan! cukup buat dia menderita!! bukan justru membunuhnya!!!" Teriak wanita itu saat melihat berita kematian Philip Anderson. Pewaris tunggal PA Entertaiment.