The Cursed Prince

The Cursed Prince
Don't Leave Me


__ADS_3

"Aku.. aku memang tak ingin kau pergi" Ucap Philip membuat keheningan sesaat. Rei mengerjakan matanya mendengar ucapan Philip yang tak pernah diduganya. Philip tersenyum kecil melihat gelagap gugup dari Rei.


"Ku cari foto lagi" Rei kini berusaha memfokuskan dirinya pada ponsel mencari foto yang diinginkannya.


"Semua orang meninggalkanku, apa kau juga akan meninggalkanku?" Tanya Philip tak peduli dengan raut gelisah Rei. Mendengar pertanyaan itu membuat Rei tak bisa berfikir. Ia tak bisa mengiyakan karena ia seorang mahasiswa yang memiliki kewajiban di kampusnya tapi iya juga tak mungkin menjawab tidak disaat Philip begitu kesepian.


"Kau tak menjawab, Tentu saja kau akan pergi nantinya, Bukankah foto ini untuk kenang-kenangan sebelum kau pergi?" Desak Philip terus agar Rei menjawab.


"Aku tak bisa menjanjikan tapi kau juga tahu aku masih kuliah, aku tak bisa disini terus" Jawab Rei benar-benar tak bermaksud akan membuatnya seorang diri.


"Aku benar-benar tak suka tatapan mengasihani" Ucap Philip membuat Rei kikuk, semua yang dilakukan dan diucapkan terasa serba salah.


"Kalau begitu foto lagi" Ucap Rei mengembangkan gaunnya.


"Aku yang pegang" Philip merebut remote kamera.


"Gaya bebas, oke" Philip memberi aba-aba


"satu"


"dua"


"tiga"


Cekrek


Cekrek


Cekrek


"Udah cukup?" Tanya Philip dan dibalas anggukan puas oleh Rei. Rei memandangi beberapa hasil jepretan kamera.


"Mau kukirim ke ponselmu?" Tanya Rei yang dibalas gelengan oleh Philip.


"Pindahkan ke laptopku" Ucap Philip yang dibalas anggukan oleh Rei.


"Aku udah bilang ke mas Rio buat adain pernikahan pas fullmoon" Ucap Rei yang seketika membuat wajah Philip tegang. Baru saja ia melupakan insiden bersama kakaknya, pengkhianat bagi Philip.


"Aku pergi" Ucap Philip bergegas untuk meninggalkan taman namun Rei mencegahnya dengan meraih tangannya


"Takkan pernah selesai jika kau terus menghindar" Ucap Rei masih menggenggam tangannya.

__ADS_1


"Lepas" Ucap Philip menghempaskan tangan Rei dan pergi begitu saja. Rei menghela nafas kasar, Ia benar-benar tak tahu cara melunakan hatinya. Ah, memadamkan amarahnya.


Hari itu, Rei bahkan tak berani untuk membawa makannya menuju ruangannya ataupun memanggilnya. Ia hanya mengetuk pintu kamar tuannya sebanyak tiga kali dan pergi ke kamarnya di lantai bawah.


👹


👹


👹


Sinar matahari menyelinap melalui ventilasi membangunkan gadis berusia 20 tahun yang kini masih berada dibalik selimut, masih dengan memeluk gulingnya.


"Kenapa pagi cepat sekali.. hoaaamm" Kantuk masih begitu terasa, Rei bangun dari tidurnya yang tak nyenyak, Ia menghabiskan malam hari untuk memikirkan cara agar tuannya bisa mendengarkannya namun hingga pukul tiga malam, Rei tetap buntu dengan pikirannya dan tertidur begitu saja.


"Aku akan masak dan tidur lagi" Ucap Rei bergegas untuk mencuci muka, untuk menyadarkan dirinya.


Didapur Rei mulai mengeluarkan berbagai jenis sayuran wortel, tomat, kentang, seledri dan lainnya juga beberapa hidangan frozen food yang akan dimasaknya.


"Aku juga bisa protes" Ucap Rei menyunggingkan senyum sinisnya dan mulai memasak telur gulung dengan isian sosis dan beberapa sayuran, nugget asam manis ala kadarnya, secangkir teh hangat dan satu teko air mineral.


Rei mendorong trolinya menuju lantai 3 dan mengetuk nya sedikit kasar


TOK


TOK


TOK


"Ah, alarm" Rei meraih ponselnya dan mengeset alarmnya di jam sebelas siang. Ia akan bangun untuk masak makan siang.





Philip dikamar hanya memandang langit-langit kamarnya. Ini sudah hari kedua dirinya tak beranjak dari kamarnya. Bahkan tak ada yang menemuinya, Rio tak pernah datang setelah menjelaskan ia akan menikah dan dengan Rei ia tak pernah lagi bertemu setelah moment foto bersama.


"Apa dia akan meninggalkanku sekarang?" Ujar Philip menatap kalender yang diberi tanda. Minggu depan adalah Purnama yang Philip tunggu. Namun Purnama kali ini mungkin ia akan kesepian lebih dalam. Entah bagaimana bisa kakaknya merencanakan pernikahan tanpa diketahuinya dan mengabarinya H-10 acara. Philip menghela nafas kasar. Ia kesepian.


"Jika bukan luka, mungkin aku akan mati karena kesepian " Ujar Philip, ia bahkan mengabaikan ketukan pintu dari Rei yang menyuruhnya makan malam. Ia tak berselera makan. Rei selalu meninggalkan troli makannya didepan pintu.

__ADS_1


" Sudah lah " Philips mematikan lampu kamarnya lebih awal. Jam dinding baru saja menunjukan pukul tujuh malam dan Philip memilih untuk tidur, Ia akan melewatkan makan malamnya.


🌜


🌜


🌜


Oi jangan lupa bayar registrasi tinggal 3 hari lagi, Ayo wisuda bareng-bareng


Rei membaca pesan dari grup kelasnya dan cepat-cepat membuka kalender di aplikasi ponselnya.


"Bodoh! kenapa baru inget" Rei bergegas untuk kekamar mandi setelah membawa beberapa pakaian anti kusut yang selalu jadi andalan untuk waktu yang mendesak.


"Tapi belum masak" Rei menghela nafas.


"Kenapa buru-buru banget sih" Ucap Rei yang tersadar jika karyawan universitas mulai bekerja pukul 08.00 sedangkan sekarang masih pukul 06.30


"Ah, dulu kan kampusku jauh, walau sekarang lebih jauh lagi" Ucap Rei menatap arlojinya.


Rei kembali kekamarnya dengan setelan celana kulot hitam dengan atasan kemeja biru laut. Kini Rei mematut dirinya didepan cermin dengan lampu LED yang melingkari cermin. Cermin yang dibelinya beberapa hari lalu.


"Urutannya apa ya?" Rei mengerutkan keningnya membuka pouch skincare yang dibelinya saat bertemu dengan temannya.


"Harus glowingkan ? biar ga di tatap kasihan" Ujar Rei dan mulai mendandani dirinya setelah selesai membaca urutan skincare dan make up.


"Tas kecil aja" Rei mengambil tas yang senada dengan pakaiannya. Rei tersenyum sekali sebelum keluar dari kamarnya.


"Ah?! masak! aish" Rei menimang-nimang untuk memasak


"Beli aja apa yah?" Rei menscrool ponselnya dan mencari makanan yang sudah buka di pagi hari.


"masa makan ayam goreng pagi-pagi" Rei menghela nafas kesal dan pergi ke dapur, meraih apron hitam yang ada di dapur.


"Masih sejam lagi, lagupula kantor buka sampe sore" Ujar Rei bermonolog dan mulai memotong beberapa jenis sayuran.


Ia akan membuat sayur sop dan makanan beku menjadi andalan menu pelengkap. Tuannya juga tak pernah protes dengan menu yang monoton.


Setengah jam Rei berkutat di dapur, dan bergegas kelantai tiga untuk mengambil troli.


"Dia tak makan?" Tanya Rei pada diri sendiri melihat makanan itu telah dingin tak tersentuh.

__ADS_1


Rei menatap miris makanan yang harus dibuangnya. Rei mendorong troli dengan tak semangat melihat makanan yang tak tersentuh. Rei membuang makanan yang tak bersalah itu dan mengisi troli dengan makanan yang baru dibuatnya.


"Tuan.. Sarapanmu" Rei mengetuk pintu tiga kali dan pergi ke kampus nya. Ia tak peduli tuannya akan menyahut atau tidak. Yang Rei tahu. Tuannya memiliki gengsi yang tinggi.


__ADS_2