
Rei menunggu Philip bercerita. Ia benar-benar penasaran. Ia akan menjadi pendengar yang baik untuk tuannya. Melihat ekspresi Rei yang menunggu membuat Philip tersenyum tanpa sadar. Ia merasa begitu senang, seseorang peduli dan tidak meninggalkannya.
"Kau tau luka ini kan?" Tanya Philip menunjuk pada pergelangan tangan dan Leher Philip yang membuat Rei bergidik menutup mata. Philip menyibak rambut tangannya membuat luka itu jelas dan membuat Rei tak sanggup untuk melihatnya.
"Cu..cutting" Jawab Rei mengalihkan pandangannya kearah lain.
"Ini bukan kali pertamaku" Ucap Philip mengawali ceritanya.
"Aku tidak pernah benar-benar ingin bertahan, hanya saja aku seperti tak diijinkan untuk mati begitu saja, mungkin itu kutukan yang mengerikan agar aku menderita selamanya" Philip mengucapkannya dengan nada santai namun tersirat kesedihan.
"Lantai 3 cukup tinggi bukan?" Tanya Philip membuat Rei mengangguk. Mansion ini sangat tinggi bahkan jika itu hanya lantai 3 dan masih ada lantai 4, lantai paling atas yang tak pernah di ketahui oleh Rei.
"Aku pernah terjun kebawah, berharap agar kesakitanku hilang" Cerita Philip lagi, ia ingat saat Informasi kematiannya 7 tahun yang lalu dan saat orang tuanya pergi meninggalkannya tanpa pamit. Ia putus asa.
"Kau terjun? dari atas ? yaa.. apa yang terjadi?" Rei melongok balkonnya yang cukup membuatnya ngeri karena ketinggian balkon.
"Tak terjadi apa-apa" Jawab Philip membuat Rei menganga. Jika itu orang biasa, siapapun yang melompat dari atas sini, tidak mungkin selamat, pasti akan berakhir koma tapi Philip.
"Aku bisa menunjukannya sekarang kalau kau mau" Ujar Philip dan terjun begitu saja membuat Rei berteriak kaget melihat Philip yang tiba-tiba.
"Yaaaakkkk" Rei melongok ke bawah dimana taman bunga itu berada, Dan Philip kini tengah duduk dengan nyaman di taman bunga itu. Rei segera menyusul turun dengan lift dan setengah berlari ke arah Philip.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Rei dengan nafas tersengal. Philip hanya mengendikan bahunya dan tersenyum.
"Mengejutkan bukan?" Tanya Philip lagi
"Kukira aku akan kehilangan pekerjaan" Ucap Rei membual alasan, Ia tak pernah menyangka Philip akan senekat itu.
"Lagi pula Philip yang mereka kenal sudah mati" Jawab Philip membuat Rei lagi-lagi merasa bersalah.
"Tapi Philip yang ku kenal belum mati" Jawab Rei membuat Philip bungkam. Philip tak pernah menyangka jawaban manis itu akan keluar dari teman barunya. Ya, Philip kini menganggap Rei sebagai temannya.
"Kalau sudah tahu gagal, kenapa mencoba lagi? apa.. apa lukamu itu terasa sakit?" Tanya Rei berhati-hati. Sangat mustahil jika tak terasa sakit.
"Perih, tapi aku tak tahu bagaimana mengobatinya, lagi pula aku yang melukainya" Jawab Philip memandang lukanya. Darah itu menggumpal dan begitu kental namun tidak mengalir.
"Kau tak perlu mengasihaniku" Ucap Philip membuat Rei mengerucutkan bibirnya. Ia tidak bisa untuk tidak mengkasihaninya.
__ADS_1
"Padahal itu bentuk kepedulian" Ujar Rei yang dibalas senyuman oleh Philip.
"Aku ingin purnama setiap hari" Ucap Philip penuh harap.
"Berhenti mengatakan sesuatu yang membuatku mengasihanimu" Ujar Rei akhirnya, Philip baru sadar jika ucapannya memang mengandung keinginan yang dalam.
"Tentang beauty and the beast, ah.. apa aku menghina diriku sendiri?" tanya Philip sembari tertawa kecil.
"Jika kau sudah menerima dirimu seperti apa, Kau akan menjalani hidup lebih mudah" Ujar Rei memberi nasihat.
"Kau tunggu disini" Ujar Rei menyuruh Philip untuk tetap ditempat, Ia bergegas menuju kamarnya dan kembali dengan bingkisan paper bag yang cukup besar.
"Ratu Belle dan Prince Philip" Ujar Rei memamerkan gaunnya dan menyerahkan tuxedo hitam dengan aksen garis gold.
"Kau pakai itu, aku akan mengatur kamera" Ucap Rei dan ia kini tengah sibuk memasang kameranya, Mrngatur angel terbaik agar bisa mendapatkan foto terbaik nya.
Sementara Philip telah siap dengan tuxedonya.
"Kau ingin berfoto dalam keadaan aku banyak luka?" tanya Philip lagi, Ia hanya tak ingin merusak frame padahal Rei mempersiapkannya dengan sangat serius.
"Jelek tinggal edit" Ujar Rei dan ia kini bergegas ke dalam kamarnya, memakai gaunnya dan merias sedikit wajahnya. Rei memang sudah lama ingin mengenakan gaun cerah. Bekerja selama satu bulan ditempat Philip cukup untuk Rei membeli skincare dan makeup lengkap.
"giman? cantikan?" Ujar Rei berputar membuat gaunnya mengembang begitu cantik, ditambah senyum merekah dari bibir merahnya.
Kini Rei duduk bersebelahan dengan Philip.
"Pertama foto formal, kita hanya perlu duduk seperti ini dan tersenyum menghadap kamera, okey? aku akan ambil 3 cekrekan" Ujar Rei memberi aba-aba dan mengarahkan remote pada kamera dan lampu blitz menyala menyilaukan keduanya. Keduanya saling pandang.
satu
dua
tiga
dan tertawa dalam detik ketiga.
"Sepertinya harus diulang" Ujar Philip yang merasa berbuat salah karena menutup matanya terkena silauan blitz.
__ADS_1
"Jangan merem yaa.. aku juga merem sih tadi" Ucap Rei terkekeh
"Kau juga?" tanya Philip memastikan
Rei hanya mengangguk lucu. Kamera nya cukup mahal untuk dia yang pemula dan ia bahkan harus membaca tutorial untuk menyiapkan ini.
"Ku beri aba-aba" Ujar Rei lagi
satu
dua
tiga
Cekrek
Cekrek
Cekrek
Tiga kali jepretan dalam satu kali pencetan remote. File foto langsung muncul di ponsel yang terhubung dengan kamera. Rei menunjukan kameranya dan meminta pendapat Philip.
"Ah, wajahku tak jauh berbeda, aku bahkan tak bisa lebih ekspresif" Ujar Philip tersenyum cerah melihat foto yang ada. Ini kali pertama ia merasa foto itu begitu indah dipandang.
"Kau tersenyum" Rei tersenyum melihat senyum Philip
"Tidak begitu buruk ternyata" Ujar Philip menatap dalam
"Lagi?" Tawar Rei
"Ku cari referensi dulu di internet" Rei membuka situs pencarian dan mencari beberapa referensi foto beauty and the beast yang bisa di gunakan.
"Ini bagus" Ujar Rei menunjuk pada sebuah foto dimana Beast duduk di kursi dan Belle berdiri memegang tangannya mengajaknya pergi.
"Ini?" Tunjuk Philip yang dibalas anggukan oleh Rei. Rei mengarahkan remote pada kamera yang akan memotretnya dalam tiga detik, Rei berdiri dan Philip meraih tangannya cepat dan cekrek.
"Lihat.. bagus kan?" Tunjuk Rei pada ponselnya
__ADS_1
"Gambarnya seakan-akan memintaku untuk tidak pergi" Ucap Rei menggambarkan yang dilihatnya.
"Aku.. aku memang tak ingin kau pergi" Ucap Philip membuat keheningan sesaat.