
Selepas Rio pulang, Rei benar-benar tak tahu apa yang harus dilakukannya. Ia bahkan tak berani untuk mengetuk ruangan itu, padahal jam makan malam hampir lewat. Jika biasanya Rei meminta tuannya untuk makan dilantai bawah, kali ini Rei memilih untu membawakan troli makannya ke ruangannya.
tok
tok
tok
Rei mengetuk pintu pelan dan memutar knop pintu namun tak terbuka. Pintu ruangan dikunci dari dalam.
"Dia pasti sangat kecewa" Batin Rei yang memahami alasan Philip mengunci kamarnya.
"Tuan" Panggil Rei takut-takut berkali-kali mengetuk pintu kamarnya namun tak ada sahutan sama sekali.
tok
tok
tok
Kini Rei mengetuknya lebih keras, dan tetap tak ada yang berubah. Tentu saja itu membuat Rei khawatir.
"Mas Rio aku kudu gimana?" Gumam Rei menghubungi masnya dengan mengirim pesan.
Mas, Pintu ruangan tuan Philip dikunci
Tak lama Rio membalas
Kuncinya ada di lemari gantung dekat tangga, Kau bisa cari yang ada kode Phi.An
Rei langsung bergegas menuju tempat yang ditunjukan Rio. Rey mendapatkan kunci cadangan ruangan Philip.
Rey memasukan kunci itu dan memutarnya secara perlahan. Pintu kamar Philip terbuka secara perlahan sambil menahan takut Rei menggenggam knop pintu dengan erat.
__ADS_1
Bentakan Philip tadi benar-benar membuatnya kembali menjadi asing. Bagaikan orang yang berbeda namun Rei memaklumi karena memang ucapan Rio yang teramat keterlaluan.
"Omaigatttt!!!" Seru Rei saat melihat pemandangan kamar yang begitu berantakan, Kursi yang patah kakinya, cermin besar yang pecah berkeping-keping, bahkan banyak noda darah dilantai dekat cermin besar dan di tembok yang seketika membuat Rei lemas. Ia tak menyukai darah. Rei memberanikan diri mengabaian pusing kepala mendadaknya dan mencari tuannya yang belum terlihat.
Saat Rei mencari tuannya, Pintu ruangan yang tak pernah disentuhnya terbuka dan Philip muncul dari pintu yang tersusun layaknya rak buku. Pintu itu begitu samar. Siapapun yang melihatnya hanya akan mengira itu sebuah rak buku. Philip keluar dengan keadaan luka disekitar wajahnya. Bau amis menyeruak kuat membuat kaki Rei lemas dan menopang tubuhnya pada tembok yang ada didekatnya.
“Makan malam sudah siap, tu..tuan” Ucap Rei tak berani menatap wajahnya.
‘tuan?’ Philip menyunggingkan senyum sinis saat mendengar Rei memanggilnya. Philip berlalu mengabaikan Rei. Rei terduduk lesu saat Philip menghilang dari pandangannya. Ia terlalu menakutkan.
Rei terduduk cukup lama sembari mengatur nafasnya dan saat mengedarkan pandangannya kesekeliling kamar. Ia baru menyadari dari jendela balkon jika tuannya tengah mengamatinya. Rei mengontrol dirinya dengan menarik nafas sedalam mungkin.
“Dia orang yang sama” Ucap Rei mencoba meyakinkan dirinya. Rei berdiri setelah dirasa bisa mengendalikan dirinya dan berjalan pelan. Kakinya begitu ragu untuk melangkah dan Rei membawa troli makannya menuju balkon dimana tuannya berada.
“Kupikir kau akan lari pergi begitu saja” Ujar Philip pelan sembari membuka makanan yang masih ditutup. Philip tak menyadari jika nyali Rei begitu besar untuk datang mengantarkan makan siang.
“Kau berada dipihak siapa?” tanya Philip membuat Rei berfikir lama. Rei memilih tak menjawab.
“Kau bisa berhenti jika kau tak sanggup” Ujar Philip lagi seketika membuat Rei menatapnya. Tentu saja dirinya tak mau dipecat begitu saja. Dirinya tak melakukan kesalahan.
“Ah, Jadi kau membelanya” Ujar Philip seketika membuat Rei membantah tak terima.
“bu..bukaan begitu” Rei gagap saat harus menguatkan argumennya. Ia benar-benar tak bisa berada di pihak manapun karena Rei belum mendengar alasan dari keduanya.
“Kau pikir, aku marah tanpa alasan?” Kini Philip bertanya dengan nada ketusnya membuat Rei terdiam.
“Kalau gitu, tuan bisa jelaskan padaku” Ujar Rei memberanikan diri. Rei masih menunduk tak berani menatapnya. Alasan pertama karena suasana hati tuannya sedang tidak baik-baik saja, alasan kedua karena noda darah yang ada disekitar tubuhnya.
“Kau butuh alasan? Kau tak punya logika?” Ejek Philip lagi benar-benar merasa sangat sakit saat tahu tak ada orang yang berada dipihaknya.
“Orang yang paling kupercaya, menghinaku begitu jelasnya” Philip tertawa saat tak ada hal yang bisa ditertawakan.
"Aku.. akan berada dipihakmu" Jawab Rei seketika menghentikan tawa Philip. Philip menatap Rei haru. Seseorang berada di pihaknya.
__ADS_1
"Lihat aku" Pinta Philip ingin melihat kejujuran Rei. Rei yang mendapatkan perintah justru semakin menurunkan kepalanya. takut.
"Kau tak dengar? Lihat aku" Pinta Philip lagi masih dengan nada memerintah. Rei mencoba untuk menatapnya namun ia kembali menurunkan tatapannya saat melihat darah didekat dahi dan tangan Philip.
"Rei.. lihat aku" Kini Philip mengatakan dengan nada yang pernah ia dengar saat purnama. Nada yang begitu lembut namun tersirat kelemahan dirinya. Rei tentu saja langsung menatapnya. Memastikan pendengarannya.
"Wajahmu berubah, tapi suaramu tak berubah" Komentar Rei mengingat suara lembutnya. Suara pria baik yang memperlakukan orang lain dengan begitu baik.
"Kau berada dipihakku?" Tanya Philip lagi membuat Rei mengangguk. Tanpa alasan Rei saat ini memilih berada di pihak Philip. Dimana ia menolak saudaranya jika berkencan dengan mantan kekasihnya.
"Bukan karena aku masih mencintainya" Ujar Philip hendak memaparkan alasannya. Namun ia tak berucap sepatah kata lagi setelahnya.
"Aku tahu yang kau rasakan" Ujar Rei memaksakan senyum tipisnya. Ia masih ragu setiap melihat kamar Philip yang begitu kacau.
"Aku akan makan, kau bereskan kekacauanku" Titah Philip yang membuat Rei langsung berdiri.
"Jangan sampai terluka" Ujar Philip lagi mewanti-wanti. Suasana hati Philip sedikit berubah dan menjadi lebih rigan saat tahu ia tak sendiri. Philip menikmati makannya sembari sesekali melirik Rei yang membereskan kamarnya.
"Kursinya?" Ujar Rei menunjuk kursi besi yang telah patah kedua kakinya.
"Buang saja" Jawab Philip dan kembali memfokuskan dirinya untuk makan. Sebuah menu yang seimbang karena porsi yang pas dan paduan jenis warna-warni buah yang di bawa.
Rei membersihkan potongan kaca cermin dan memungutinnya dengan tisu. Ia bahkan harus menutup hidungnya saat melihat darah dan aromanya menyeruak. Aroma darahnya lebih kuat dari biasanya.
"Kau sudah makan?" Tanya Philip saat Rei sudah selesai membersihkan kamarnya. Rei hanya menggeleng. Ia dalam suasana tak berselera makan setelah darah yang dilihatnya.
"Kau pasti orang hebat" Puji Rei saat menyadari Philip hidup begitu mewah dengan jalan hidup yang tak mudah. Kehidupannya terlalu banyak drama yang menyakitkan.
"Aku akan bertanya ke mas Rio setelah ini" Ujar Rei menawarkan diri agar masalah diantara keduanya cepat terselesaikan.
""Kau bilang bukan karena masih mencintanyakan?" Tanya Rei memastikan. Philip hanya mengangguk
"Lalu karena apa?" Tanya Rei lagi semakin penasaran
__ADS_1
"Karena...."