The Cursed Prince

The Cursed Prince
Chapter 51


__ADS_3

Perkenalkan saya Philip Anderson


Terlalu sulit untuk memaparkan kesalahanku, aku menyadari tindakanku bukan sesuatu yang bisa dibenarkan.


Berita kematian yang dulu menghebohkan merupakan permintaanku, terjadi penolakan yang sengit. Namun aku ingin menjalani kehidupan normalku, aku tak ingin diincar oleh orang yang mungkin akan mengikutiku dan mengurungku berakhir dengan uang tebusan. Aku tak ingin hal itu berulang hingga aku membuat kebohongan untuk melindungi diriku sendiri. Aku hidup dengan baik. Aku melindungi diriku dengan keegoisanku. Sekali lagi aku minta maaf


Video berdurasi 1 menit itu telah ditonton ribuan kali. Membuat media heboh dan tak henti-hentinya menghubungi pesan. Begitupula dengan perusahan banyak yang menuntut kebenaran. Banyak pro kontra yang terjadi, sebagian berpihak pada Philip dengan dalih mempertahankan dirinya sedangkan yang lain menyalahkan perusahaan yang tak bisa menjaga keselamatan putranya.


***


"Kemasi barangmu" Titah Rio membuat Philip menatap meminta kejelasan. Philip mengemasi beberapa pakaiannya. Tidak banyak. Ia lebih memilih mengemask barang-barangnya.


Dua koper dibawa Rio dengan mobilnya, Asisten rumah tangga diliburkan dan Rio membawa Philip. Philip bahkan tak bertanya saat melihat ruangan Rei yang tampak bersih dari biasanya.


Rio hanya menurut. Ia tahu kesalahannya. Istrinya terjatuh dari tangga kareba melihatnya. Yang Philip tahu lukanya tidak parah. Ia bahkan berani bertaruh jika ia pingsan bukan karena jatuh melainkan karena melihatnya.


"Jadi mas masukin Reyna kerumah sakit, biar bisa bebas keluarin Philip?" tanya Philip mengharapkan jawaban namun hanya melihat rahang kakaknya yang mengeras.


Mobil itu berhenti disebuah rumah dengan pagar rumah yang tinggi. Bukan rumah mewah, cukup minimalis dan tak begitu banyak barang.


"Mulai sekarang kau tinggal disini"


"Jangan khawatirkan bagaimana hidupmu, aku akan rutin mengirimimu uang" Jelas Rio sebelum pergi.


'Aku benar-benar sendiri sekarang?' Batin Philip ketakutan


"Nanti Rei kujemput kesini" Ucap Rio membuat Philip membelalakan matanya. Rei terkena imbasnya.


***


Rei memandang Rio keheranan, tumben sekali Rei mendapat pesan jika Rio akan menjemput dan benar, Rio menjemputnya.


"Kenapa kesini mas?" Tanya Rei saat membelokan mobil menuju rumah yang asing baginya.


"Turunlah, ini kartu untukmu, gunakan seperlunya saja" Rio mengacungkan kartu kredit yang di terima oleh Rei. Rei turun dari mobilnya.


"Aku pergi" Pamit Rio dan mobil itu melesat meninggalkan Rei dengan segala pertanyaannya. Rei berjalan ragu menuju rumah itu.


Ceklek


Deg


Rei dibuat mendelik melihat tuannya yang sedang membaringkan tubuhnya di ruang tamu.


"Kau?" Kaget Philip langsung terduduk


"Apa yang terjadi?" Tanya Rei tak mengerti sedangkan Philip bungkam, mengendikan bahu tak mengerti.


“Kita diusir karena video itu? Aku sudah menghapus semua postingan setelah membaca pesan dari Rachel terlebih banyak laporan yang membuat akun dibanned karena berita bohong" Ucap Rei lagi. Philip memandang Rei tersenyum miris. Ia juga tak tahu alasan mereka dipindah.

__ADS_1


“Bisa jadi, atau mungkin karena istri mas Rio melihatku” jawab Philip membuat Rei semakin tak mengerti, tas yang sedari tadi di selempangkannya di letakan dikursi dan duduk berhadapan dengan tuannya.


“Bagaimana bisa?” tanya Rei


“Kulihat ada kunci yang menggantung diluar pintu tanpa bandul” Philip mengingat saat Rio membawa istrinya keluar dari kamar.


“Kunci? kunciku masih kubawa, ini" Rei mengeluarkan kuncinya


“Sepertinya dia meminta kunci cadangan pada asisten rumah" terang Philip yang membuat Rei menghela nafas berat.


“Trus apa yang harus kita lakukan?”


“Rachel jalan terakhir, jika tetap gagal. Kau lebih baik cari pekerjaan lain,aku tak ingin terus berharap” Kata Philip yang terdengar nada putus asa didalamnya.


“Tapi”


“Turuti saja, aku masih tuanmu”


Rei tak mau terlarut terbawa suasana ia langsung melenggang mengelilingi tempat tinggal barunya. Lebih dekat dari kampusnya. Namun sedikit lebih ramai. Ia memiliki tetangga sekarang walaupun rumah itu tidak berhimpitan.


“Kau sudah membereskan barangmu?” Tanya Rei yang dibalas gelengan oleh Philip.


“Rumah ini terlalu berdebu dan panas, tidak ada AC” Keluh Philip yang sedari tadi berjongkok mengipasi dirinya.


“Manja sekali” Ejek Rei


“Aku akan membenahi lemari dan kau yang menyapu” Rei membagi tugas dengan lancang membuat tuannya tak terima.


“Sekali lagi kukatakan, aku ini masih tuanmu”


“Kalau begitu silahkan tidur tuan, akan kubangunkan saat sudah bersih” Rei melenggang masuk ke salah satu kamar. Barang-barang yang mau di bersihkan ternyata sudah tertata rapi.


“Kau yang merapikannya?” Rei menghampiri Philip dengan berkacak pinggang. Rei mungkin takkan heran jika tuannya membersihkan kamar untuk dirinya sendiri, namun ternyata kamar Rei juga sudah bersih.


“Apa kurang bersih? Kenapa saat ku bilang berdebu kau tidak mengelak? Padahal aku sudah membersihkan sejak datang kesini” Philip merajuk sebal


“Aku tak memperhatikan” Kekeh Rei menyatukan telapak tangannya, meminta maaf.


“Kalau gitu kita makan” Rei mengacungkan makanan. Dijalan Rei menyempatkan waktu untuk mampir ke warung untuk membeli makanan.


Merekapun menikmati makanan mereka. Beruntung alat dapur disini lumayan lengkap. Rei akan berbelanja mulai besok.


“hubungi Rachel” Titah Philip membuat Rei ingat.


“oh iya”


Rei dengan semangat menghubungi Rachel. Ia memiliki harapan besar terhadapnya.


Philip.Anderson : Kita harus bertemu

__ADS_1


Rachel Dwinata : Mana nomer hpmu?


Rei mengetikan nomer hp nya dan tak lama ponselnya langsung berdering. Panggilan masuk dari nomer tak dikenal. Rei bergegas mengangkatnya


Rei : Halo ?


Rachel : Kau menipuku?! Ini bukan Philip ?!


Rei : Rachel ?


Rachel : Sia-sia aku menelpon


Rei : Tunggu! Ini benar nomer Philip


Rachel : Buktikan, mana suaranya?


Rei : ...


Philip : ( Biar aku yang bicara ) , Kau ingin bertemu bukan?


Rachel : Kau benar-benar Philip ternyata.


Terdengar suara tawa dari sebrang telepon yang di loudspeaker


Rachel :Kau yang membutuhkanku , sadar dirilah. Kirimkan alamatmu akan akan datang.


Tuttt.. Panggilan dimatikan sebelah pihak meninggalkan Philip yang masih menganga hendak menjawab


"Gimana?" Tanya Rei yang dibalas anggukan oleh Philip


"Berikan saja" Jawab Philip yang dituruti oleh Rei. Rei mengirimkan alamat rumahnya pada Rachel melalui pesan.


"Dia takkan membohongi kitakan?" Rei takut jika harapannya yak sesuai


"Aku akan buat perhitunfan jika itu sampai terjadi" geram Philip memikirkan kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi.


***


Ceklek


Brakkk


Tanpa salam, tanpa peringatan, tanpa kabar seorang wanita masuk kedalam rumah. Rei terjengit melihat wanita itu masuk rumah begitu saja.


Wanita denga gaya modis, rambut panjang bergelombang berwarna pirang, tingginya sekitar 167 cm, heels tinggi, kacamata dan tas yang tergantung di lengannya.


"Wah, disini tempat tinggalnya ? dia tinggal di tempat seperti ini? Bukankah ini terlalu kecil? hei! Ini sama sekali bukan gayanya"


"Rachel?"

__ADS_1


__ADS_2