The Cursed Prince

The Cursed Prince
Sendu ~


__ADS_3

"Mas?" Ulang Rei mengecek pendengarannya yang ia ragukan sendiri.


'Bagaimana bisa aku harus memanggilnya mas disaat aku hanya seorang pekerja' Freissya menahan diri untuk tidak tertawa saat melihat raut wajah Philip yang terlihat serius, Kini ia tak lagi terlihat menakutkan di mata Rei. Philip hanya tuannya yang memiliki wajah dengan rambut berlebih.


"Aku tak selancang itu" Jawab Rei akhirnya dan buru-buru masuk ke rumahnya.


'Aku melakukan kesalahan' Batin Rei saat menyadari tuannya ingin lebih dekat. Rei menyadari kehadirannya sudah cukup dekat namun Ia lupa, Jika tuannya pria kesepian dan Rei mendekatinya untuk lebih akrab.


"Tapi aku lebih lancang lagi karena hanya memanggil dengan namanya" gumam Rei lagi tanpa sadar jika Philip telah berada di dalam rumahnya.


"Memang kau sangaaat lancang" Ujar Philip dan kembali ke ruangannya , melihat Philip memasuki lift.


"Hufftt" Rei menghembuskan nafas kasar saat tau Philip mendengar ucapannya. Rei menghempaskan tubuhnya pada kamar tamu yang telah menjadi kamar pribadinya. Ia tak lagi mengekos namun telah benar-benar pindah ke rumah. Fasilitas yang diberikan keluarga Philip tak main-main. Rei memandang langit-langit kamar dan tertidur begitu saja, Kasur nya terlalu empuk membuat mata mudah mengantuk.


🐾


Rei kini tengah menata meja dapur dengan makanan yang telah dibuatnya. Philip dan Rio bahkan telah siap di meja makan, salahkan dirinya yang tidur terlalu nyenyak.


"Kenapa kau tampak kesal sekali?" Tanya Rio saat melihat raut wajah Rei yang tak bersemangat.


"Ah, temanku" Ujar Rei mengingat storygram temannya yang banyak memamerkan kemesraannya dengan kekasihnya.


"Pada jahat ya?" Tanya Rio lagi perhatian, sementara Philip hanya menyimak pembicaraan mereka. Selesai menyusun makanan Rei duduk berhadapan dengan keduanya.


"Pada pamer pacar" Jawab Rei yang membuat Philip menahan tawanya. Tentu saja Philip tak berfikir jika hal yang merusak suasana hati asistennya ternyata kesendirian yang tak berkesudahan.


"Jomblo tujuh tahun aja masih bisa ketawa" Ejek Rio pada Philip yang seketika menghentikan Philip untuk tertawa.


"Tapi aku ga pernah sesedih itu mas" Elak Philip tak terima


"Ya udah ayo liburan sama aku" Goda Rio membuat Rei mendelik


"Ga suka om-om" Jawab Rei lagi membuat Rio speechless


"Ya ga usah ungkit juga kali, aku udah punya cewe tau" Jawab Rio seketika membuat keduanya penasaran

__ADS_1


"Siapa?" Tanya Keduanya berbarengan dan membuat keduanya saling bertatapan karena keterkejutan dengan pertanyaan yang keluar secara spontan dan bersamaan.


"ntar mas nikah, kalian yang repot" Jawab Rio menyombongkan diri. Rio memang segalanya dalam kehidupan seorang Philip. Rio bahkan tak perlu repot menjawab pertanyaan keduanya.


"Mas beneran udah ada cewe?" Tanya Philip lagi, keduanya telah bersama cukup lama dan Rio tak pernah menyinggung kekasihnya sama sekali.


"Udah ada" Jawab Rio


"bohong" Philip masih tak percaya


"Ya elah, biarin aja kali kan udah umurnya" Kini Rei yang menyahut.


"Tapi.." Philip tak bisa meneruskan ucapannya


'Aku akan sendiri?' batin Philip sedih, ia memang sering menyuruh Rio untuk segera menikah, tapi ia tak pernah berfikir jika ia sudah cukup lama bergantung dan sulit untuk berpisah.


"Ga usah sedih gitu, mas tetep ada buat kamu" Jawab Rio yang membuat Philip terpaksa menyunggingkan senyumnya. Melihat interaksi itu, Rei mengerti kesepian Philip saat ini.


"Ada aku juga" Jawab Rei menyahut dan menciptakan suasana sedikit haru, Philip tak menyukai suasana seperti ini walaupun tak bisa disangkal ia sangat bersyukur.


"Beneran? udah sampe tahap mau nikah?" Tanya Rei kali ini yang membuat Rio **** senyum malu.


"Wah~ kenalin" Pinta Rei sangat penasaran


"Tapi.." Philip bergumam sedih. Kali ini bukan karena Rio menikah, namun ia merasa sedih jika ia tak bisa hadir. Tentu saja Philip ingin melihat Rio , yang sudah dianggap sebagai masnya sendiri di hari spesialnya.


"kenapa lagi?" Kini Rei yang tak bisa memahami Philip


"ah, selamat" Ujar Philip dengan seulas senyum tipisnya.


dan malam itu, Philip tak pernah bisa tidur dengan tenang, Ia tak bisa tidur cepat hanya karena memikirkan pernikahan Rio yang baginya cukup mendadak. Philip bahkan seperti linglung selama beberapa hari. Awalnya Rei hanya mengamati sampai ia menyadari jika ada yang salah dengan Philip.


"Kau baik-baik saja?" Tanya Rei saat melihat Philip hendak minum dibotol tanpa membuka botol nya, memakai sandal rumah yang tak sesuai pasangannya.


"Ah, aku" Philip tak meneruskan kata-katanya. Philip sangat sadar alasannya sangat kekanak-kanakan untuk seorang berusia 25 tahun

__ADS_1


"hmmm~" Rei menghela nafas melihat tingkah Philip. Dan menghampiri Philip.


"Duduklah, kau bisa cerita" Ucap Rei jengah dengan Philip yang selalu menjawab dengan sepatah kata. Philip juga menuruti Rei untuk duduk.


"Aku.." Philip menggantung kata-katanya.


" ini memalukan" Ujar Philip hendak berdiri namun diurungkan mendengar Rei berdehem memberi kode agar Philip tetap diam ditempat.


"Aku bisa menjadi pendengar yang baik untukmu" Ujar Rei kini dengan nada yang lebih lembut. Rei memberi senyum terbaiknya. Philip masih ragu namun ia mulai bersuara.


"Aku juga ingin menghadiri pernikahan itu" Ujar Philip akhirnya mengeluarkan pikiran yang mengganggunya.


"Ah, itu ternyata" Rei mengangguk paham


"Itu tak kekanak-kanakan" Jawab Rei mencoba memahami Philip. Rei berfikir sejenak.


"eum~" Gumam Rei sembari berfikir


"Ah, aku tau" Rei bersemangat saat menemukan ide yang menurutnya cemerlang.


"Apa?" Tanya Philip antusias dan memberi harapan besar pada jawaban Rei.


"Kau bisa menghilangkan rambut diwajahmu dengan pencukur rambut, untuk yang lain kau hanya perlu memakai kemeja panjang dan celana formal" Jawab Rei dengan mata berbinar, Ia merasa idenya sangat cemerlang namun Philip kembali pada tatapan sendu. Tidak ada harapan.


"Aku pernah mencobanya dan alat itu rusak sebelum aku menyelesaikannya, bahkan rambut-rambut ini tumbuh lagi dalam waktu tak lebih dari dua jam" Jawab Philip panjang lebar, ia sangat ingat tujuh tahun yang lalu ia mencari mesin pencukur dan merusaknya begitu saja. Rei yang mendengar terkejut dan juga merasa bersalah karena idenya yang diberikan, bukan hal yang bagus.


"Kau tak perlu memikirkanku" Ujar Philip lagi


"Tapi kau murung" Balas Rei membuat Philip terdiam. Ia tak tahu jika ekspresinya begitu kentara.


"Sangat jelas?" Tanya Philip lagi pelan. Rei hanya mengangguk menjawabnya.


"Kalau gitu, carikan aku solusi" Ujar Philip dan pergi ke ruangannya. Meninggalkan Rei yang kini masih berfikir di ruang tamu. Berfikir panjang dan hanya ada satu jawaban yang menurutnya paling benar.


Fullmoon !

__ADS_1


__ADS_2