
Rei melangkah kakinya menuju kampus yang belum terlalu ramai. Kelasnya bahkan masih sepi. Rei membuka media social Philip dan mengamati fotonya. Sudut pengambilan fotonya benar-benar diperhitungkan dengan sangat matang.
“Good morning” Sapa Jessi yang baru saja datang dan memergoki Rei sedang menstalker.
“Hayoloh bukain apa?” Tanya Jessi dan memicingkan matanya.
“And.ear.lip” Eja Jessi melihat nickname akun yang membuat Jessi menjentikan jarinya.
“Anak dari PA Entertaimen kan?” tebak Jessi
“kau tau?” Tanya Rei terkejut. Tentu saja ia terkejut karena ia sama sekali tak tahu tentang PA Entertaiment dan Jessi dengan mudah menebak hanya karena sebuah nickname
“Kakak sepupuku satu sekolah dengannya, dia bilang kematiannya sangat mencurigakan karena tak terekspos sama sekali sedangkan keluarganya pemilik perusahaan besar” Ujar Jessi panjang lebar membuat Rei memiliki harapan tinggi.
“Pertemukan aku dengan kakak sepupumu” Pinta Rei membuat Jessi mengernyitkan keningnya
“Kenapa kau tiba-tiba penasaran dengan ini?” Tanya Jessi membuat Rei terdiam, ia tak bisa menjawab namun tatapan Jessi mengukungnya.
“Nanti kuberi tahu, yang jelas pertemukan aku dulu” Seulas senyum Rei ukir dengan eyesmile memohon dan Jessi hanya mengangguk. Jessi memberikan nomer kontak saudaranya dan Rei menerima dengan senang hati.
“Aku akan menghubunginya, Jessi kutraktir ya siang ini” Ajak Rei memberi sogokan yang tak mungkin Jessi menolaknya. Rei tersenyum lega memandangi nomer ponsel yang Jessi berikan.
__ADS_1
“Aku tak pernah tahu kau tertarik dengan anak PA Entertaiment”
“Aku hanya terkejut dengan akunnya yang berubah, aku penasaran” Ucap Rei mencoba berkelit yang nentu saja membuat Jessi tak percaya. Namun Jessi membiarkan. Kebohongan juga pasti memiliki alasan. Itu yang ada dipikiran Jessi saat ini.
***
Rei mampir ke toko pakaian dan kembali mencari beberapa potong pakaian untuk Philip. Ia menjadi sangat suka saat harus memilih pakaian dan membayangkan Philip mengenakan pakaiannya. Rei juga melakukan rutinitas hariannya, membeli makanan dan camilan. Ia membeli sedikit lebih banyak dari biasanya.
Saat Rei memasuki mansion dilihatnya Reyna yang menyambutnya antusias.
“Eshaaa” Reyna menyapa Rei
“Sepi banget mas Rio kerja, jadi ga ada temen”Ucap Reyna
“Aku ganti baju dulu kalau gitu mba, nanti mba tunggu bentar ya” Ucap Reid an bergegas kekamarnya.
Ceklek
Ia dibuat terkejut saat melihat Philip berbaring dikasurnya. Rei mengunci pintu kamarnya.
“Tuan” Ucap Rei menepuk pundak Philip dan menggoyangkan tubuhnya beberapa kali. Philip mengerjapkan matanya berkali-kali.
__ADS_1
“Kau sudah pulang” Philip tersenyum cerah mendapati Rei didepannya
“Aku bosan” Tambahnya lagi membuat Rei kelimpungan.
“Aku tak bisa menemanimu hari ini, aku habis belanja tadi” Rei mengeluarkan buku pelajaran, ponsel dan dompetnya.
“Kau bawalah, Reyna mau mampir kekamarku, dia sudah menunggu didepan” Ucap Rei membuat Philip kecewa. Philip mengangguk lemah dan berjalan gontai menuju kamarnya. Menatap punggung yang menunduk itu. Rei tidak tega. Namun Rei tak memiliki pilihan lagi. Rei bergegas merapikan ranjangnya dan mengganti pakaiannya. Setelah 10 menit Rei membuka pintu dengan senyum lebar yang dipaksakannya. Reyna tak menyadari dan langsung duduk di ranjangnya.
“Ini rambut apa?” Tanya Reyna melihat beberapa rambut pendek dikasurnya. Rei membelalakan matanya begitupula dengan Philip yang tengah menguping dibalik lemari.
“I..itu bonekaku” Jawab Rei gugup. Reyna tentu saja percaya dengan yang Reyna ucapkan.
“Mau kuambilkan minum mba?” Tanya Rei yang dibalas gelengan cepat oleh Reyna
“Mba penasaran kapan kamu jadian sama Philip, ceritain dong” Pancing Reyna membuat Rei linglung sesaat.
“Esha”
“Masih belum lama ini ko mba, baru tiga bulan” Philip tersenyum miring mendengar jawaban Rei. Ia benar-benar tak menyangka kebohongannya akan bertahan selama ini.
“Jadiannya gimana?”
__ADS_1
“Ah, itu”