The Cursed Prince

The Cursed Prince
PRINCE 16


__ADS_3

Pusat Kota begitu ramai di malam minggu, langit juga bersinar begitu cerah karena purnama yang bersinar terang. Disepanjang jalan pasangan muda-mudi berlalu lalang dan berhenti pada setiap stand dimana para pedagang tengah menawarkan barang jualannya. Disudut jalan Retro Cafe menjadi pilihan Philip untuk berbincang dengan asisten barunya. Satu alasan yang kenapa Cafe itu yang dipilih karena tempat itu selalu ramai dan buka 24 jam, entah bagaimana cara pemilik toko mengatur shift kerja para pegawainya.


"Kau sering kesini?" Tanya Rei saat Philip menghentikan mobilnya, ia bahkan langsung naik kelantai atas. Jika itu Rei tentu ia akan mencari tahu di internet terlebih dahulu untuk tempat yang akan dikunjungi, bagaimana cara order ditempat yang dikunjungi.


"Beberapa kali, dan disini tempat kesukaanku" Jawab Philip. Kursi pojok di lantai 2 dengan atap langit cerah. Retro Cafe menyajikan nuansa kuno yang di tata dengan rapi, instrumen music yang digunakan membuat siapapun yang datang bernostalgia dengan masa lalunya.


"Kau biasanya pesen apa?" tanya Rei saat tak paham apa-apa, ia tak pernah mengunjungi tempat makan elite. Ia hanya makan di warung samping jalan, kantin dan layanan pesan antar.


"Kopi" Jawab Philip. Ia tidak akan tidur malam ini. ia akan menikmati harinya yang datang sebulan sekali.


"Kau akan begadang?" Tanya Rei yang dibalas anggukan oleh Philip.


"Okey, kalau gitu kutemani" Jawab Rei. Tak lama seorang waiters datang membawa buku menu dan note buku pesanan.


"Kau tak risih jalan denganku?" Tanya Philip penasaran. Philip merasa aneh jika Rei tidak merasa asing. Philip saat purnama sangat berbeda dengan Philip saat hari-hari biasa.


"Aku masih merasa kalian orang yang berbeda" Jawab Rei jujur, tentu saja tidak mudah bagi Rei. Namun satu hal yang pasti Rei bersyukur karena tahu sejak awal, Ia bisa membayangkan jika purnama masih jauh dan ia hanya akan melihat wajah monster pada diri Philip.


"Nada bicaramu juga berbeda" Tambah Rei, Saat ini Philip yang ada dihadapannya berbicara dengan nada lembut dan begitu manis, berbeda dengan Philip yang lain. Begitu dingin dan singkat.


"Ada yang ingin ku tanyakan" Ujar Rei mengingat tujuan ia ikut karena rasa penasarannya.


"Itu akan membuka luka lama ku" Ujar Philip tersenyum tipis


"Siapa tahu aku bisa memberikan obat untukmu" Ucapan Rei cukup membuat Philip tersentuh, Seseorang akan membantunya. Seseorang mau mengenalnya.


"Kau bisa bertanya padaku kalau begitu" Ujar Philip dengan senyum tulusnya. Senyumnya begitu tulus hingga kedua matanya ikut tersenyum.


"Apa yang kau lakukan jika purnama datang ?" tanya Rei, moment sebulan sekali dalam 7 tahun tentu sangat ditunggu oleh Philip.


"Awal-awal kau tau aku sangat menolak diriku yang berubah sekejap, umurku masih 18 tahun, aku mengencani setiap wanita selama 2 tahun" Jawab Philip yg bahkan tak dikenalinya.


"Total ada 24 wanita selama 2 tahun?" tanya Rei lagi. Ia yakin tidak hanya 1 wanita.

__ADS_1


"mungkin lebih, aku sangat menyukai wanita saat itu" Jawab Philip membuat Rei bergidik


"Aku menemui tepat aku berubah hingga pukul 10 malam, lalu aku menyewa wanita untuk menemani malamku" Philip hanya tersenyum tipis mengingat begitu buruk dirinya.


"Wah~ kau tak takut terkena penyakit?" tanya Rei ambigu membuat Philip tertawa dengan ucapan Rei. Tawanya begitu renyah dan sudut matanya berair. Ia tertawa lepas hanya karena pertanyaan kekhawatiran Rei.


"Aku tak menidurinya, aku harus pulang tepat sebelum jam lima, tidak akan sempat" Ujar Philip membuat Rei mengangguk.


"Lalu?" tanya Rei lagi


"Aku terlalu sungkan menjawabnya, umurmu baru 20" ujar Philip lagi walaupun dirinya saat itupun masih belasan tahun.


"Tapi kau menyewa wanita" Ujar Rei lagi


"Gairahku bisa tak terkontrol jika kau terus memaksaku menjawab itu" Ujar Philip membuat Rei secara refleks merapatkan jaket yang dipakainya.


"Ya.. yaudah bahas yang lain" Jawab Rei, wajahnya menunduk takut tak berani menatap Philip.


"Orang lain tak mengenal ku sebagai Philip Anderson, aku merubah namaku" Ujar Philip yang menjadi info baru bagi Rei. Rei langsung mendongak menatap majikannya.


"tetap saja namanya Philip" Balas Rei


"Kenapa kau berani bekerja di tempatku" Kini Philip yang bertanya , Ia sangat penasaran karena ini.


"Memang kenapa?" Tanya Rei lagi


"Aku sangaaatt butuh uang, tapi kau malah menghamburkan buat wanita sewaan" Balas Rei


"Kau mau mengungkitnya dan itu sudah berhenti 5 tahun yang lalu" Jawab Philip lagi kesal, karena kembali diungkit


"Aku butuh uang, buat kuliah" Jawab Rei akhirnya


"Aku juga minta maaf saat aku berteriak begitu keras saat awal pertemuan" Rei ingat ia belum meminta maaf dengan benar, ia berteriak begitu keras dan kembali dengan takut-takut

__ADS_1


"Responmu justru tak wajar" Ucap Philip mengingat pertemuan pertama beberapa hari lalu.


" Orang lain berlari sampai mas Rio kudu ngejar biar bisa jaga mulut" Philip serinf mendengar Rio harus mengunci pagar otomatis saat ada maid yang mencoba mendaftar lowongan


"Ada yang pingsan di tempatku juga" Philip tertawa kecil saat mengingatnya


"yang pingsan gimana?" Tanya Rei ikut tertawa membayangkan betapa takutnya orang itu hingga pingsan.


"ya mas Rio yang jelasin"


"Dulu tempat mansion sangat ramai, keluargaku punya hampir 10 asisten, semua di memiliki bagiannya masing-masing." Philip menceritakan keadaan mansion saat semuanya baik-baik saja. Terasa ramai walau tak banyak yang saling bincang. Tapi ada suasana hangat hanya dengan melihat jika ia tak sendiri


"Ah, aku juga bingung aku kudu apa disana? semua bersih pake alat" Rei sangat tidak paham kenapa mereka mencari pekerjaan, semua menggunakan alat, bahkan Rio dan Philip juga begitu mandiri mencuci pakaiannya.


"masakin aku aja, aku benar-benar tak tega lihat mas Rio bolak balik cuma buat nganterin aku makan" Alasan Philip keukeuh buka lowongan kerja walaupun mas Rio bilang itu tidak perlu


"Kau suka makan apa?" Tanya Rei lagi berusaha untuk menyesuaikan masakannya dengan selera makannya.


"daging"


"Spesifik nya" Pinta Rei


"Aku sebenarnya lebih suka sayuran tapi sepertinya aku dikutuk jadi jelmaan singa, jadi aku suka semua jenis daging" Mendengar Jawaban Philip. Bulu kuduk Rei berdiri, merinding membayangkan Philip memakan daging layaknya singa, Taring panjangnya mampu mengoyak siapapun.


"Masak? goreng? panggang" Uja Rei lagi sedikit gagap dan penuh waspada. Ia sangat takut jika jawabannya justru tidak dari semuanya.


"aku suka yang diolah" Jawab Philip membuat Rei tersenyum cerah. Setidaknya Philip tidak menjawab daging mentah.


"okey" Rei senang kekhawatirannya sedikit berkurang.


"Tapi disini benar-benar dingin, kau tak ingin masuk kedalam?" tanya Rei yang kedinginan meski jaket tebal masih membungkus tubuhnya.


"Sini ku peluk" Jawab Philip yang dibalas tatapan galak dari Rei. Matanya membulat sempurna. Philip berdiri lebih awal membawa cangkir minumnya.

__ADS_1


"Ayo ke dalem" Ajak Philip pindah tempat. Penghangat ruangan dinyalakan didalam ruangan sehingga Rei bisa melepas jaketnya.



__ADS_2