The Cursed Prince

The Cursed Prince
Aku Tak Ingin Sendiri


__ADS_3

"Karena..." Philip tak meneruskan ucapannya , Ia terlalu bingung untuk melanjutkan. Rei tak menuntut Philip untuk menjawab.


"Kau bisa cerita nanti, ah apa darah itu bisa di bersihkan?" Tanya Rei melihat darah pada rambut-rambut tubuhnya. Darahnya cukup pekat , merah kehitaman. Philip tersenyum tipis melihat darah yang diperoleh dari ulahnya. Dipandangnya pergelangan tangan yang hanya membuatnya tersenyum miris. Rei tentu saja memiliki kepekaan dengan melihat apa yang terjadi. Bagaimana putus asa tuannya hanya dengan melihat luka di pergelangan tangannya.


"Aku akan membereskannya terlebih dahulu" Ujar Philip dan bergegas kekamar mandinya. Selepas pintu kamar mandi tertutup , Rei menghela nafas lega karena mendapati Philip yang telah sedikit lebih tenang. Rei berada di posisi iba sekaligus takut jika akan mengancam hidupnya nanti. Rei mengamati suasana di luar rumah dari balkon lantai tiga. hampir semua pemandangan terlihat.


"Apa dia benar-benar mengamatimu dari sini?" Gumam Rei pelan, menyenderkan kepalanya pada besi balkon yang terasa sedikit dingin.


"Ini akan baik-baik saja kan?" Gumam Rei lagi bermonolog seorang diri.


Philip kembali dengan pakaian santai nya, bekas darah tak terlihat lagi di tubuhnya.


"Bahkan lukanya tak bisa diobati" Ujar Rei tak bisa menempelkan perban luka karena rambut panjangnya yang akan terasa menyakitkan jika di tarik.


"Menyedihkan bukan?" Tanya Philip yang tiba-tiba berada di samping Rei. Membuat Rei gelagapan sendiri.


" Maafkan aku" Ucap Rei refleks menunduk dalam, Ia tak memiliki hak untuk mengkasihani majikannya.


"Kau bisa bicara santai denganku" Ucap Philip lagi tanpa memandang Rei. Matanya fokus pada jalanan depan rumahnya. Satu hal yang membuat Philip iri adalah suasana diluar rumag saat siang hari.


"Sa..saya bo..boleh sedikit akrab?" Tanya Rei ragu karena suasana hati Philip hari ini.


"Berbuat senyamanmu" Jawab Philip tak peduli raut tegang Rei dan menikmati makanannya seorang diri.


"Akan sangat menyenangkan jika seperti itu" Jawab Rei menyahuti ucapan Philip


"Tapi akan sangat baik, jika cara berbicaramu seperti ini" Jawab Rei yang tak pernah berhenti memuji cara Philip berbicara.


"Memang seperti apa aku berbicara?" Tanya Philip menghentikan makannya.


"Kau habiskan dulu saja" Rei tak enak jika Philipn harus berhenti makan hanya untuk mendengarkan ucapannya

__ADS_1


"Jawab dulu" Pinta Philip mutlak


"Begitu.. eum..tenang? perhatian? kau pendengar yang baik pastinya" Philip memiliki cara berbicara yang sangat halus, kepribadian yang begitu perhatian dan ia akan mendengarkan cerita orang lain.


"Aku memarahi kakaku" Jawab Philip merasa pujian itu sangat tidak pas.


"Karena kau tak terima" Elak Rei tak mau pendapatnya patah begitu saja.


"Aku habiskan dulu" Ujar Philip takut pembicaraan nya akan merusak suasana makannya. Rei hanya menunggu sambil menatap Philip dalam. Ada luka sobek di pergelangan tangan kanannya, di dahi dan dilehernya.


"Luka itu" Rei tak tega melihat luka yang terlihat cukup dalam


"Makananku belum habis" Philip menghentikan ucapan Rei.


"Ah, maaf"


Rei nunggu Philip selesai makan, Rei tersenyum simpul saat memperhatikan cara Philip makan begitu lahap sesekali memuji masak Rei yang mengalami keningkatan yang


signifikan. Rei sangat berterimakasih pada resep internet dan video yang membuat ia bisa memasak sedikit demi sedikit.


"Suasana hatimu sudah baikan?" Tanya Rei ingin berbicara dengan nyaman. Pembicaraannya cukup sensitif bagi keadaan Philip


"apa yang mau kau bicarakan?" Tanya Philip sedikit ketus.


"foto"


"kau ingin menyebarkannya di media sosial"


“Kenapa pikiranmu picik sekali?” Tanya Rei mendengar Philip yang begitu mencurigainya. Rei hanya tersenyum kecut mendengar jawab Philip.


“Kalau gitu lanjutkan” Ucap Philip ingin mendengar rinci ucapan Rei sebelumnya.

__ADS_1


“Foto beauty and the beast, bukan maksudku meledekmu, aku ingin menunjukan jika kau tak semenakutkan seperti yang kau kira” Rei menjelaskan dengan hati-hati. Pembicaraannya sangat sensitive. Ia tak mau menyakiti tuannya.


“Kalau gitu lakukan” Jawab Philip sontak membuat mata Rei berbinar cerah. Ia tak menyangka akan semudah ini. Memang ia meminta tidak pada waktu yang tepat namun memang seperti itu cara Rei dalam mengobati rasa sakit orang. Ia akan mengalihkan perhatian orang tersebut dengan tak mengungkit masalahnya. Ia akan bertanya nanti saat keadaan baik-baik saja. Atau mungkin saat purnama dimana suasana hati Philip sangat baik.


Philip memandang Rei yang tersenyum cerah dengan ketulusan yang dapat ditangkap dari sorot matanya yang begitu jujur. Mata bulat itu akan ikut tersenyum secara otomtis saat bibir Rei terukir senyuman.


‘Aku hanya takut sendiri, aku tak mau dan tak bisa sendiri dan aku harus menggunakan segala cara agar orang yang mengenalku tak pergi’ Batin Philip yang bergejolak menahan ketakutan yang ia bayangkan.


Rei membereskan mejanya dari piring kosong bekas Philip makan siang dan menyimpannya dalam troli. Rei bersiap untuk turun namun Philip mencegahnya.


“Temani aku” Ucap Philip dengan nada lirih tersirat ketakutan dan kesepian yang mendalam.


“Aku juga takkan pergi, hanya menaruh piring” Ujar Rei berbohong.


“Aku harus mendengarkan cerita” Ujar Rei mengkode agar Philip mau membagikan sedikit ceritanya agar ia bisa memahami Philip.


Rei duduk dikursi balkon bersiap mendengarkan cerita Philip. Namun Philip hanya terdiam tak bersuara. Rei mengerutkan keningnya mencoba meyakinkan Philip dan mengkode jika ia tengah menunggunya berbicara.


"Apa jika dibiarkan saja tak infeksi?" Tanya Rei melihat luka yang masih membekas di pergelangan tangannya. masih ada noda darah yang tak bisa dihilangkan dengan mudah .


"Ini bukan kali pertamaku" Jawab Philip lagi membuat Rei menjadi sedih hanya dengan mendengarnya.


"Kau pasti selalu ragu untuk benar-benar melakukannya" Ujar Rei sangat ingin menyentuh luka yang terlihat.


"Ini menyedihkan, tapi aku tak pernah berhasil disetiap percobaan" Jawab Philip lagi


"Lihat, luka Ini cukup dalam, tapi seperti nya takdir ku memang bukan sekarang, luka itu membekas tapi darah itu tak mau mengalir" Jawab Philip menjelaskan, Rei hanya mengangguk paham.


Jika itu manusia biasa, luka dalam seperti itu jika dibiarkan pasti akan menyebabkan kematian karena kehabisan darah, namun kasus Philip berbeda , darah itu tak mau mengalir. Darah itu berhenti begitu saja seperti ada yang menahannya keluar.


"Kau seharusnya menyisir seluruh tubuhmu" Ujar Rei menggoda Philip karena rambutnya begitu berantakan setelah mandi.

__ADS_1


"Atau nanti akan menjadi sarang kutu" Ejek Rei lagi dengan senyum meluluhkannya. Dengan senyum seperti itu, yang menular. mau tak mau Philip juga ikut tersenyum.


"Jadi kau ingin aku bbercerita?" Tanya Philip yang juga sudah lama butuh pendengar baik untuk ceritanya dan kesedihannya selama ini. Ia tak pernah menceritakan masalahnya karena enggan untuk menambah beban mereka.


__ADS_2