The Cursed Prince

The Cursed Prince
Chapter 40


__ADS_3

Rei kini memainkan pulpennya tanpa minat. Ia tak mengantuk sama sekali padahal hari sudah berganti. Ia masih memikirkan nasib tuannya yang begitu malang baginya. Rei memikirkan banyak cara namun tak ditemui titik terang.


‘Purnama masih lama’


Rei memandang ponselnya menscroll mencari ide di internet namun ia berakhir dengan menggulingkan tubuhkan ke segala arah karena frustasi.


‘Padahal aku hanya bekerja untuk mengurusnya, kenapa aku pusing sekali’ Gumam Rei


‘Haruskah aku nekat?’ Batinnya tak berhenti bermonolog. Rei membuka galeri ponselnya memandang foto dirinya bersama tuannya.


‘Padahal dia begitu tampan'


‘Apa foto ini bisa berguna?’


Rei memutuskan untuk memaksakan dirinya tidur. Ia memiliki jadwal kuliah jam setengah sembilan dan harus berangkat tiga puluh menit lebih awal agar tak telat.


***


Dering Alarm memekakan telinga membuat Rei terkejut dan bergegas bangun keluar kamar. Dilihatnya para pekerja sudah mulai membersihkan ruangan. Rei dibuat bingung dengan keadaan dan posisi dirinya. Rei bergegas menghampiri salah satu pekerja yang ada didapur. Rei mengambil pisau dan mencoba untuk membantu.


“Mba Rei ga usah, mba Rei kan masih kuliah. Siap-siap aja dulu” Ujar asisten yang berusia paruh baya.


“Tapi mba" Jawab Rei sungkan, karena posisinya juga sebagai pekerja


“Jangan sungkan mba, mas Rio juga udah bilang ke yang lain kok” Ucap Asisten itu


“Kalau gitu saya permisi dulu, eh nama mba siapa?” Tanya Rei setidaknya harus ada nama yang dikenal dari banyaknya pekerja sekarang.


Rei memilih untuk mandi dan mampir ke tempat Philip setelah selesai berdandan.


‘Ia masih tidur’ Langkah Rei terhenti di tangga tiga teratas.


“Ada apa?” Ujar Philip membalikan tubuhnya, menampakan wajah kusutnya yang samar namun tidak di mata Rei, karena sudah cukup lama mengenal.


“Kau sakit, kenapa suaramu begitu serak?” Tanya Rei bergegas menghampiri tuannya.


“Suaraku memang serak kalau bangun tidur” Philip bangun dari tidurnya, menyampirkan selimut yang menutupi sebagian tubuhnya.


“Ah.. kukira” Rei menggaruk belakang telinganya.

__ADS_1


“Kau berangkat pagi?”tanya Philip setelah meneguk segelas air putih di samping ranjangnya.


“Iya, nanti pulang sekitar jam lima, kau mau nitip apa?” Rei menawarkan


“Belikan yang ada” Jawab Philip seadanya


“Jangan gitu”


“Aku belum memikirkan”


“Aku akan menghubungimu nanti”


Rei mengangguk paham


“Lalu apa yang akan kau lakukan disini” Tanya Philip yang membuat Rei duduk kesal di lantai yang dilapisi permadani tebal.


“Pekerja yang mas Rio janjikan benar-benar sangat banyak” Rei membuat bulatan besar dengan tangannya menggambarkan banyaknya pegawai yang di pekerjakannya.


“tujuh tahun yang lalu hampir ada 10 orang sih” Ucap Philip yang membuat Rei membelalakan matanya.


“Yang benar saja? tidakkah itu membuang uang, apa uang yang mereka terima sama banyaknya dengan uang yang kuterima pertama kali?" tanya Rei yang entah ia begitu emosi.


“Uang seperti tidak ada artinya bukan? Aku bahkan bisa menghargai uang setelah bertemu orang sepertimu, tapi kurasa uang yang mereka berbeda dengan uang yang kau terima" Ucap Philip kemudian membuat Rei menyilangkan tangannya bersedia menyimak.


"Tentu saja karena mereka mengurus rumah dan kau mengurusku" Jawab Philip tanpa pikir panjang.


"Baby sister tapi kau bukan baby" Keluh Rei membuat Philip mendengus.


"Bukankah aku menggemaskan?" tanya Philip dengan mencoba bertingkah imut didepannya membuat Rei melotot dan memberi deathglare, Philip hanya terkekeh kecil.


"Aku tak pernah mengira akan bertemu orang sepertimu" Philip memandangi lawan bicaranya.


“Sepertiku?”


“Yang putus asa dan mau bekerja setelah melihat majikannya” Jawab Philip


“Ah, maksudmu dirimu sendiri, aku benar-benar menyesal pernah setakut itu, tapi sekarang yang kutahu majikanku sangat baik” Puji Rei tulus, Sejauh yang Rei tahu tentang majikannya, ia hanya begitu polos dan kemewahan yang ada membentuk karakter glamor dan tak tahu arti kerja keras, semua selalu didapat dengan mudah.


“Aku lapar”

__ADS_1


“Aku ga punya makanan, nanti kucoba ambilkan, aku ke lantai atas dulu” Rei pergi setelah melambaikan tangan pada Philip, sedang Philip kembali tidur, ia tak punya kegiatan berati.


***


Dimeja makan Rio dan Reyna kini tengah sarapan bersama.


“Rei sini” panggil Reyna yang membuat Rei menghampiri


“Agak sulit untuk menyebut namamu karena kita memiliki awalan yang sama. Rasanya seperti aku memanggil namaku sendiri” Kekeh Reyna yang disetujui oleh Rio


“Aku juga berfikir begitu” Ujar Rio


“Nama lengkapmu siapa?” tanya Reyna


“Freissya Magdalena” Jawab Rei masih canggung


“Bagus sekali, bagaimana jika kupanggil eisha atau lena”


“Esha akan lebih bagus sepertinya” Rio memberi pendapat


“Kalau gitu kupanggil esha, apa kau keberatan?” tanya Reyna yang dibalas gelengan kepala dengan cepat


“Aku tidak keberatan, Beberapa teman kuliahku juga memanggilku Esha. Mas Rio ada yang ingin aku tanyakan” Ucap Rei tiba-tiba


“Apa?”


“Aku dan para asisten disini memiliki posisi yang sama, tapi aku tak mengerti dengan jobdesk ku saat ini" Ucap Rei mengeluh


“Ah, kau belum memberitahunya mas?” Reyna mencolek suaminya yang hanya terkekeh kikuk


“belum”


“Kau bukan lagi asisten rumah disini” Jelas Reyna


“ aku mengatakan pada mereka kau adik angkatku”


“adik pungut” Ledek Rio membuat Rei menghela nafas kesal


“Kau fokus saja dulu pada kuliahmu" Ucap Rio

__ADS_1


“Mba Reyna ga keberatan?” Tanya Rei ragu, keberadaannya terlihat special karena hanya ada Reyna dan Rio.


“Kenapa aku harus keberatan? Kaukan pacar Philip” Ucap Reyna enteng membuat Rei kelabakan dan hanya mengangguk, reaksi yang tak jauh berbeda dengan Rio yang menegang tanpa alasan.


__ADS_2