
Rei kini tengah bermain dengan ponselnya diatas ranjangnya. Mencatat beberapa kata-kata mutiara untuk menyemangati hidupnya. Jujur saja ini tak mudah. Karena ia harus mengkhawatirkan dan memikirkan orang lain daripada dirinya. Suara telepon berdering. Ibunya menelpon dikampung.
“Halo nak”
“Iya bu”
“Ibu udah ada uang, besok ibu kirim ya”
“Ga perlu bu, Rei udah ada kerjaan sekarang”
“Tapikan masih jadi tanggung jawab ibu sama bapak”
“Ibu, bapak sehat?”
“iya, sehat”
Rei menghabiskan setengah jam untukmembicarakan perkuliahannya. Ia cukup merindukan keluarganya.
Tok
Tok
Tok
“Ibu, udah dulu ya, temen Rei dateng” Ucap Rei mengakhiri telponnya. Rei mengusap air mata kerinduannya.
Rei bergegas menuju balik lemari dimana pintu itu terketuk.
“Ada apa ? tumben kau memanggilku” Tanya Rei membuat Philip membuang muka, ia kesepian
“Temani aku”Ucap Philip menunduk malu. Rei mengangguk.
“Disini saja” Ucap Rei menepuk tempat kosong disampingnya dan menunjukan bukunya menandakan ia sedang menulis.
“Disini juga ada camilan” Tunjuk Rei pada bungkusan di atas meja dengan senyum manisnya. Philip mengusap wajahnya sedikit frustasi karena ia semakin menyalahkan diri sendiri.
__ADS_1
“Kau kenapa?” Tanya Rei lagi namun Philip hanya bungkam.
“duduklah” Pinta Rei dan dituruti oleh Philip
“Aku tak ingin semenyedihkan ini” Ucap Philip
“Kau mau apa?” Tanya Rei ingin mengetahui mau Philip saat ini, ia mencoba untuk perhatian.
“Aku ingin sekolah sepertimu, aku ingin menghirup udara bebas seperti orang lain, aku ingin menyetir kendaraan, aku ingi..” Ucapannya tertahan. Philip sedang muak dengan hidupnya saat ini. Menyedihkan. Itu citra yang saat ini tak bisa ditolak. Rei mengelus bahu Philip pelan. Melihat tuannya menangis tentu saja menyayat hatinya yang merasa sangat gagal dalam usahanya. Rei menutup matanya mencoba untuk tidak ikut menangis.
“Tunggulah sedikit lagi” Ucap Rei lagi, Rei meraih tisu yang ada di nakas samping ranjangnya dan memberikannya pada Philip. Rei menepuk pelan punggung tuannya yang begitu rapuh. Philip mengatur nafasnya agar air matanya berhenti keluar, ia tak tahan. Ia sudah pada titik jenuhnya,padahal ia bisa bertahan sebelumnya selama tujuh tahun. Ia benar-benar merasa sesak. Rei masih menunggu Philip agar dirinya tenang.
‘Padahal belum ada tiga bulan tapi sudah sedramatis ini’ Batin Rei mengiba
“ayo kita buat rencana” Ucap Rei dengan senyum yang menenangkan. Philip justru menatap canggung.
“Aku minta maaf” Ucap Philip membuang muka. Ia merasa malu menangis didepan perempuan yang notabennya adalah pembantnya. Jam sudah menunjukan pukul sepuluh malam, sudah waktunya untuk tidur namun ia harus menenangkan tuannya.
Rei menyediakan secarik kertas, mencoba untuk membuat rencana.
“Maaf” Rei sadar ponselnya terlalu kecil untuk tangan Philip yang besar.
Philip menggigit bibir bawahnya berusaha untuk tidak sakit hati, toh Rei memang tak sengaja. Philip mengejakan namanya.
“And.ear.lip” Eja Philip dan Rei mengetik namanya. Begitu muncul Rei terkesiap dengan foto yang ada. Feed yang tertata sangat rapi. Jumlah followers yang masih sangat fantastis dan foto yang mencapai ratusan.
“Tampan” Gumam Rei menscroll timeline membuat Philip berdehem menyadarkan Rei yang terkekeh.
“Kau benar-benar tampan saat remaja” Puji Rei matanya tak bisa berhenti menatap foto itu. Philip hanya mengangguk karena ia sangat mengerti.
“Ini semua masa SMA mu?” Tanya Rei tak bisa menghentikan rasa takjubnya.
“Gayamu seperti pria dewasa” Komentar Rei lagi dan Philip enggan menyahuti. Sudah lama ia tak melihat foto-fotonya.
“Ini akan memakan banyak waktu” Ucap Rei saat melihat jumlah yang diikuti hanya 10 orang yang diketahui perusahaan keluarganya sementara pengikutnya mencapai puluhan ribu.
__ADS_1
“Kita cari nama yang kau dikenal dulu” Pinta Rei namun diurungkan. Rei merasa jarak keduanya terlalu dekat. Philip duduk tepat disampingnya tanpa jarak karena harus memonitor dari ponsel yang sama.
“Kita ganti pakai laptop” Ujar Rei terkekeh dan menggeser badannya. Philip yang sadar ikut menggeser tubuhnya menjauh.
“Aku tak sadar” Ucap Philip yang dibalas anggukan oleh Rei
Malam itu keduanya memonitor nama-nama yang mungkin ada dimasa lalu Philip. Nama yang mungkin bisa ditanyai.
“Mas Rio juga tahu beberapa” ucap Philip lagi namun Rei ragu jika harus bertanya.
“Album kenang-kenanganmu mana?” Tanya Rei
“aku mati tak lama setelah ujian” Ucap Philip membuat Rei bergidik ngeri. Philip mengatakan seakan-akan kematian bukan apa-apa untuknya.
“Kau membuatku takut” Rei menatap Philip ngeri
“Ah, maksudku bukan itu”
“Aku tau, tapi bisa saja kau memang sudah mati dan yang disampingku itu manusia jadi-jadian” Ucap Rei lagi membuat Philip menunduk. Ia hendak bergegas kekamarnya sampai akhirnya Rei mencegah membuat Philip kembali duduk.
“Aku tahu candaanku sangat keterlaluan” Rei tersenyum tipis
“Apa ada nama yang kau ingat?” Rei mengarahkan laptopnya kearah Philip sementara Rei mengatur mousenya
“Memoriku melemah seiring usiaku bertambah” ucap Philip merasa asing dengan nama-nama yang tertera.
“Menyedihkan” Jawab Rei mencembungkan pipinya
“Apa?”
“Aku tak bisa menyangkal, ka juga menyadari itu” Ucapan Rei benar-benar menamparnya.
‘Menyedihkan’
‘Memang hidupku sangat menyedihkan’
__ADS_1
Philip menyandarkan tubuhnya pada ranjang kamar Rei. Menggunaakan media social lamanya tak akan merubah keadaan sama sekali. Rei memutar otaknya sedang Philip merindukan kehidupan normalnya.