The Cursed Prince

The Cursed Prince
Chapter 47


__ADS_3

Sepanjang perjalanan pulang Rei tak bisa berhenti berfikir. Bahkan jika ini kutukan karena ulah mantannya yang tidak terima, kenapa harus sekejam ini.


"Elsa, aman tapi cuma kenal Reyna" Langkah kaki Rei berhenti sejenak sebelum memasuki mansion yang ditinggalinya.


"Sudahlah, gunakan cara lain lagi nanti" Rei memasuki kamarnya, Tak melihat Philip, Rei langsung menuju ruangan dengan membawa tote bag laundryan milik tuannya.


"Laundry datang" Ucap Rei menjinjing tinggi-tinggi. Philip menatap jam dinding 19.39. Ini terlalu malam, tak seperti biasanya.


"Kenapa pulang malam sekali" keluh Philip merajuk, ia tak bisa menghilangkan kekhawatirannya, Sejak jam 15.00 ia mengintip kamar Rei berkali-kali dan didapatinya kamar yang kosong.


"Aku bertemu dengan orang-orang dimasa lalumu" ucap Rei di permadani di bawah ranjang tuannya. Tuannya ikut duduk didepannya.


"Elsa, kau ingat?" Tanya Rei yang dibalas gelengan kepala cepat


"Tidak" Philip menjawab lugas membuat Rei ingin sekali menjitak kepala tuannya yang tidak ada niat sedikitpun berfikir.


"Pikir dulu!" Gertak Rei kesal membuat Philip menggembungkan pipinya. Tidak lucu. Tidak menggemaskan.


"Beri aku klue lain" Ucap Philip akhirnya membuat Rei menghela nafas


"Kalian jadian 100 hari trus putus" Jelas Reinl yang membuat Philip terkekeh. Tentu saja ia ingat, hanya saja ia tak tahu nama-namanya.


"Dia beliin roti tart, trus mutusin" Ucap Philip sedikit tertawa mengingatnya.


"Sudah lama sekali ternyata" Cicit Philip menyadari itu.


"Kau yang diputus ? Bukan kau yang memutuskannya?" Tanya Rei tersentak


"Awalnya udah ada.l niatan mau mutusin, tapi pas tahu hari ke 100 mau kuundur, tapi dia mutusin karena kalau aku yang mutusin duluan jadinya ga bakal baik-baik, belum lagi cewek dibelakangku selama ini, ternyata dia tahu" Jelas Philip panjang lebar, ia menjadi tahu rasanya sakit ditinggalkan setelah keluarganya meninggalkannya.


"Ternyata, ditinggalkan menyakitkan ya" Philip tersenyum tipis, menyamarkan sayatan dihatinya yang perih mengingatnya.


"Aku menemuinya" Uctap Rei tiba-tiba membuat Philip terkejut.


"Dia bilang apa?" Philip bertanya dengan tak sabaran. Ia sangat ingin tahu jawabanya.


"Bilang kau kenangan indah dunia SMAnya" Ucap Rei tak memberi bumbu tambahan apapun, hanya menyampaikan sesuai yang disampaikan.


"itu menggelikan, ayolah jangan berbohong" Philip bergidik mendengar ungkapan semanis itu.


"Beneran, dia bilang gitu, dia juga kaget kamunmati tiba-tiba" Jelas Rei membuka makanannya.


"Ayo makan, aku beli dua porsi, aku belum,makan soalnya" Rei meletakan satu porsi didepan Philip.


"Kau saja dulu"


"Ya udah, aku makan dulu" Rei tanpa ragu untuk makan, sesekali ia menjawab pertanyaan-pertanyaan kecil Philip.


"Apa dia percaya aku mati?" tanya Philip pelan

__ADS_1


"Tidak, aku juga bertemu dengan Lila temen satu sekolahmu, kematianmu tidak lucu" Jawab Rei yang tiba-tiba pedih mengingat ucapan Lila, kelulusan Philip orang tuanya tak datang meski diundang.


"Nanti aku akan kesekolahmu, mungkin ijazahmu ada disana" Ucap Rei yang dibalas gelengan oleh Philip.


"Ga bisa gitu, kan ada cap jarinya" Balas Philip lagi yang membuat Rei mengangguk. Tidak mudah.


"Purnama masih lama?" tanya Philip merindukan purnama.


"Bentar lagi kok, ga usah ditunggu" Rei tersenyum mekar.


"Okey"


Rei makan dengan lahap, Ia benar-benar lapar. Ia pulang kuliah siang dan bertemu dengan dua tamu yang jaraknya cukup jauh dari rumah.


"Temanmu Elsa sudah menikah dan punya anak usia 6 tahun" Rei memberi kabar yang tak membuat Philip kaget kali ini.


"Menyenangkan sekali pasti, punya keluarga" Mata Philip menerawang menuju tembok yang dilukis pemandangan. Philip tersenyum kecil membayangkan dirinya memiliki keluarga.


"Jadi apa lagi?" tanya Philip saat Rei menyelesaikan makannya.


"Kau makan dulu saja, aku mau mandi dulu,badanku lengket semua" Rei bergegas pergi kekamarnya, bohong jika ia mau mandi.


Nyatanya sampai kamar ia berbaring dan tertidur tanpa sadar. Philip yang sedari tadi menunggu tak bisa bersabar dan bergegas menghampiri.


Deg


'Mana yang katanya mau mandi' Philip melangkahkan kaki nya menghampiri Rei. Menatap wajah lelahnya, dengan dengkuran yang keluar dari mulutnya.


"Kau pasti sangat lelah" Philip tersenyum kecil, kekecewaannya berkurang seiring dengan raut lelahnya yang begitu terpampang di wajahnya.


"Terimakasih sudah mau membantuku sejauh ini" Ucap Philip lagi.


Philip menaikan selimut Rei sebatas dagu agar ia tidak kedinginan saat bangun pagi nanti, menyalakan lampu tidur dan mematikan lampu utama.


"Selamat malam"


Ucap Philip dan kembali kekamarnya. Ia tak bisa tidur. Ia penasaran dengan pembicaraan yang tergantung tadi.


"Ngomongin apa ya mereka?" Pikiran Philip menerawang. Ia memikirkan berbagai percakapan yang mungkin terjadi diantara keduanya.


"Aku juga ingin punya keluarga" Philip berkaca mengingat sudah 7 tahun ia tak bertemu orang tuanya, pengecualin ayahnya yang menamparnya di upacara pernikahan kakaknya. Ayahnya sudah membuangnya. Rio bahkan tak pernah terlihat sejak pernikahannya dan ibunya, ia hanya bisa memandangi fotonya.


Hingga fajar Philip masih terjaga, jika bukan karena jam yang tertempel di dinding ia juga takkan tahu jika hari sudah berganti.


Ceklek


"Kau sudah bangun?" Wajah segar Rei muncul di balik tangga. Wajahnya masih basah karena baru saja mencuci muka daj rambutnya diikat cepol.


"Ah , iya" Jawab Philip melamun, ia belum tidur

__ADS_1


"Aku minta maaf, semalam aku ketiduran, aku benar-benar tak sengaja" Rei bergegas turun dengan tangan yang ditangkupkan meminta maaf.


"Ah iya" Philip jawab sekadarnya. Ia masih tak sadar jika pagi sudah menyapa.


"Beneran?" tanya Rei yang dibalas anggukan kecil


"Rei, aku lapar" Ucap Philip tiba-tiba dengan menggosok perutnya.


"Ku buatkan makanan dulu kalau gitu" Rei memberi wink tanpa sadar dan bergegas menuju dapur meninggalkan Philip yang kembali termenung, hingga akhirnya ia memutuskan untuk mandi. Hari ini kuliahnya libur.


Rei kembali saat Philip mengeringkan rambutnya. Rei tertawa lucu, Philip menggemaskan sekali. Pemandangan yang baru dilihatnya selam dua bulan ini. Rambut basah Philip ditubuhnya yang tak terbalut pakainanya.


"Kaya kucing ya" Ucap Rei meletakan makananannya.


"Kucing?"


"Rambutnya layu, padahal.kalau keringngembang gitu" Jelas Rei yang membuat Philip mengerti.


Rei hanya membawa satu tepak makan dengan lauk yang lebih banyak, Ia sendiri akan makan siang siang nanti, ia bisa dan terbiasa melewatkan waktu sarapannya.


"Kita pake cara lain ya" Ucap Rei yang tak mempan mencari tahu mantan kekasihnya.


"Aku mempercayakan semuanya padamu" Jawab Philip tanpa ragu.


"Kau tak keberatan? Kau bahkan tak bertanya lebih" tanya Rei sedari tadi ia terus memimpin, Philip bahkan tak banyak bicara.


“Kau saja yang atur, aku ikut permainanmu, kau tau aku mempercayai diriku sepenuhnya padamu” Jawab Philip membuat Rei meneguk saliva ragu. Philip mempercayainya sebesar ini.


“Kau serius?" tanya Rei lagi memastikan, Idenya kali ini terlalu beresiko.


“Aku mempercayaimu karena kau satu-satunya orang yang menerimaku dengan baik sejauh ini” Jawaban Philip lagi-lagi membuat Rei membeku. Ia merasa pundaknya menanggung beban yang amat berat.


“Baiklah, aku akan menyelamatkanmu, aku bersungguh-sungguh” Ujar Rei dengan nada lirih, Ia harus memegang ucapannya.


"Kali ini aku benar-benar terkesan padamu" Rei kini membuka ponselnya dan mengotak-atik akun sosial medianya. Rei mengetikan cukup lama.


"Ayo kita pake cara lain, Aku sudah memikirakan semalaman untuk ini" Ucap Rei membuat Philip berdecih.


"Kau ketiduran lebih awal" Ejek Philip Rei membungkam tuannya da menunjukan ponselnya.


Sebuah akun baru dibuatnya.


Dengan username : Philip.Anderson


Postingan black color dengan caption singkat.


"Hi ! I'm Philip Anderson, lama tak bersua"


Send

__ADS_1


__ADS_2