
Rei masuk ke mall dengan mendorong troli yang besar. Mengingat uang yang dibawanya. Rei memilih bahan makanan yang menurutnya bisa untuk beberapa hari. Rei memilih beragam jenis sayuran, ikan, daging, bumbu dapur juga keperluan lainnya seperti bahan pencuci piring, pencuci tangan, detergent. Rei menatap troli yang sudah cukup menumpuk banyak.
"Gimana aku bawanya nanti?" Pikir Rei sambil mendorong troli menuju ke kasir. Rei tersenyum senang karena ia akan makan enak setelag sekian lama. Rei hanya anak kos yang setiap harinya makan seadanya dan jarang untuk makan tiga kali sehari.
Kasir itu mengepaki barang belanjaan Rei dalam kantong belanja yang ada di mall. Mall disini sekarang memang jarang menggunakan banyak plastik, kebanyakan menggunakan kantong belanja mengikuti keputusan pemerintah untuk mengurangi penggunaan plastik.
Rei membawa belanjaannya dibantu staff Mall menuju taxy yang dipesannya. Tak lupa Rei memberikan Tips sebagai rasa terimakasih.
"Kemana mba?" Tanya supir taxy itu membuat Rei berfikir cukup lama. Ia tak tahu alamat tempat kerjanya.
"Nantiku tunjukin arahnya pak, ga tau detailnya, hehe" Rei terkekeh sendiri malu dengan jawabannya.
Rei menunjukan jalannya yang samar-samar diingatnya, setelah 15 menit Rei sampai di mansion yang ditinggalinya. Rei membuka gerbang mansion agar bisa membawa belanjaannya dengan mudah.
"Nona tinggal disini?" Tanya sopir itu keheranan
"Iya pak, asisten rumah tangga, hehhe" Kekeh Rei lagi
"Bukannya rumah ini udah lama kosong ya? sejak pewaris tunggalnya meninggal dunia" Tanya sopir itu yang membuat Rei bingung tak tahu apapun.
"ndak tau ih pak kalau itu" Ujar Rei dan pamit berlalu lebih dulu. Rei akan bertanya nanti pada Rio.
Rei membawa barang belanjaannya menuju dapur, menata jenis daging-dagingan dalam frezzer dan menata beberapa frozen food.
"Udah jam set 11 aja. makan siang jam 12, masak apa aku" Keluh Rei dan membuka ponselnya mencari resep makanan yang mudah disajikan.
Rei membuat masakannya dengan cepat, menghaluskan bumbu dengan mesin, hari kedua bekerja dengan uang yang didapatnya, Ia akan bekerja sebaik mungkin. Selama hampir 1 jam berkutat Rei menyajikan 2 lauk utama, 1 sayur dengan menu penutup berupa pudding susu. Rei menatanya di troli dan mendorongnya menuju lift yang akan mengantarnya ke lantai 3.
Sesampai lantai 3 Rei berfikir lama. Kini mereka hanya berdua dan lagi, Tuannya terlalu menakutkan. Ia selalu baik-baik saja dilantai bawah dan akan menjadi bergetar begitu menginjak lantai 3.
tok
tok
tok
Rei mengetuk pintu tiga kali dengan sedikit keras dan memutar knop secara perlahan. Dilihatnya tuannya tengah tidur di kasur nya. Rei menata makannya dengan tenang, mencoba untuk tidak bersuara.
"Kau benar-benar bekerja disini?" Ujar Philip yang ternyata hanya berbaring di ranjang nya, tak tertidur.
Rei mundur selangkah karena takut. Philip mengamati pergerakan itu dan memilih membalikan badannya. Berbicara tanpa menatap mungkin pilihan yang baik bagi Philip sedangkan Rei tak memahami niat baik tuannya.
"Iya, tuan aku bekerja disini" Jawab Rei menggenggam trolinya erat.
"Bekerjalah dengan baik. kau bisa keluar" Ujar Philip dengan tanpa basa-basi Rei dengan setengah berlari menuju pintu dan menutup pintu dengan sedikit keras tanpa sadar.
__ADS_1
"aku masih belum terbiasa" Ujar Rei mengontrol.nafasnya yang tercekat selama didalam ruangan. Setelah sedikit membaik Rei mencoba berkeliling di lantai 3. Cukup luas dan banyak ruangan yang dipisahkan dengan sekat-sekat.
Rei membuka balkon utama di lantai 3 dan menatap sekeliling yang begitu indah di mata nya.
"Aku juga harus makan" Ujar Rei dan turun namun pikirannya tiba-tiba terpikir dengan ucapan sopir yang mengantarnya tadi. Rei sembari menuju lantai dasar ia memandangi foto yang ada di dinding dengan seksama.
"Philip Anderson?" Gumam Rei saat membaca sebuah nama dalam frame foto.
Rei akan mencari nama itu sembari makan. Ia ingin tahu tentang tuannya yang begitu menyeramkan.
Rei menghabiskan nasinya dan lauknya yang memang ia masak untuk porsi dua orang. Rei menelusuri ponselnya.
"Philip Anderson" Gumam Rei sembari mengetikan nama yang digumamkannya. Melihat hasil pencarian seketika membuat Rei membeku.
Sendok yang dipegangnya terjatuh.
R.I.P Philip Anderson , Pewaris utama PA Entertainment
Konspirasi kematian Pewaris PA Entertainment yang hingga kini belum terungkap.
"Lalu?" Rei bergegas keluar dari mansion dan berusaha mendial nomor Rio berkali-kali. Pikirannya berkelana, ia memikirkan beragam kemungkinan yang terjadi. Ia tahu PA Entertainment, sebuah agensi yang masuk dalam 5 besar agensy terbaik yang menghasilkan banyak penyanyi, aktor, aktris dan beberapa komedian. Memiliki beragam cabang store dan cafe yang terkenal di senangi kalangan atas.
"Kenapa aku baru tahu" Ujar Rei masih sembari berusaha mendial nomor Rio.
"kau kenapa?"
"Kau dimana?"
"Dikantor?"
"Sampai kapan?"
"Kenapa?"
"Ada yang mau ku tanyakan"
"Penting banget?"
"Banget!"
"Okey, tunggu di mansion"
Walaupun pekerjaan itu penting, namun tugas utama Rio adalah menjaga Philip, oleh karenanya sesibuk apapun Rio semua akan kalah jika haris berkaitan dengan Philip. Rio mengendarai mobilnya dengan sedikit mengebut mengingat nada bicara Rei yang ketakutan. Rei menunggu didepan mansion, di ayunan dekat pintu gerbang. Ia tak berani untuk masuk mansion lagi. Bahkan ia enggan untuk menatap lantai tiga dimana tuannya kini berada.
15 menit lamanya, Rio akhirnya sampai di mansion dan dicegat oleh Rei di pintu gerbang. Rei ikut masuk ke dalam mobilnya. Nafasnya memburu.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Rio melihat raut muka Rei yang gelisah.
"Tuan" Ujar Rei membuat Rio melajukan mobilnya cepat menuju tempat parkir dan Membuka pintu nya buru-buru. Jika Rei tak mencegatnya mungkin Rio kini telah berada di lantai tiga.
"Bukan itu" Ujar Rei dan menunjukan ponselnya. Rio membaca ponselnya dan sedikit bernafas lega mengerti apa yang dikhawatirkan Rei. Rio menatap meja makan yang masih belum habis.
"Ya udah, kita bahas sambil kau makan" Ujar Rio menunjuk dapur dengan dagunya membuat Rei malu saat menyadari makannya belum habis. Ia langsung berlari begitu membaca judul beritanya.
"Kau belanja banyak sekali" Ujar Rio saat mencari air dingin di lemari pendinginnya. Rei mengabaikannya hinhga Rio membawa dua botol minuman.
"Kau memberiku uang banyak sekali" Jawab Rei membuat Rio terkekeh
"Kau habiskan?" tanya Rio
"Masih ada" Jawab Rei yang memang membelanjakan hanya seperempat dari uang yang di terimanya. sembar merogoh sakunya.
"Untukmu" ujar Rio yang membuat Rei bingung.
"Belanjakan saja untuk besok" Ujar Rio enggan menerima kembalian.
"Jelaskan" Pinta Rei membuat Rio terdiam lama, ia tak tahu harus memulai dari mana.
"Malam ini langit cerah kan?" tanya Rio membuka kalender hp nya, Rei tak menjawab karena tak tahu arah yang dibicarakan Rio.
"Nanti malam kuceritakan" Ujar Rio lagi membuat Rei ragu
"Kau mau kerja lagi?" Tanya Rei yang takut ditinggal sendirian saat ini. Rio menggeleng.
"Kau istirahat saja dulu, nanti ku bangun kan sore" Ujar Rio dan bergegas menuju lift, ia akan melihat adiknya.
dddrtrttttttt ddrrtttttt
"Rio" panggil suara di sebrang telpon
"bibi? apa kabar?" tanya Rio sopan
"Baik-baik saja, bagaimana kabar Philip?" tanya ibu Philip setelag semua lama tak menghubunginya.
"Dia baik-baik saja" Jawab Rio dan panggilan terputus begitu saja
-
-
-
__ADS_1