The Cursed Prince

The Cursed Prince
Chapter 48


__ADS_3

Sudah satu minggu pasca postingan itu di pajang, namun tak ada satupun komentar. Philip menatap laptop itu lelah. Rei mengatakan untuk rutin merefresh namun tak ada hasil.


Begitupula dengan Rei yang merefresh hpnya berkali-kali sampai bosan. Hal itu ternyata menarik perhatian temannya.


"Lo kenapa Rei" Tanya Arsen melihat raut Rei yang begitu kusut. Senyum samar muncul diwajahya.


"Lihat inii, ada postingan aneh" Ucap Rei menggoyangkan ponselnya. Arsen tampak tertarik dan duduk disampingnya. Saat ini mereka sedang di kelas menunggu dosen ke dua datang untuk mengajar. Ada waktu 10 menit setiap pergantian dosen.


"Apa? Mana lihat" tanya Arsen ingin tahu


"Hi ! I'm Philip Anderson, lama tak bersua"


Arsen tak menatap aneh postingan itu, ia justru memicingkan matanya berfikir.


"Emang Philip Anderson itu siapa?" Pertanyaan itu lolos dari bibir Arsen membuat Rei terkesiap.


"Lo ga tau?" tanya Rei


"Engga"


'Ku kira semua orang akan tahu, ah bodoh sekali, aku juga dulu tak tahu' Batin Rei.


"Jadi, dia tuh kabarnya meninggal 7 tahun yang lalu, tapi ga ada kejelasan tentang kematiannya, Dia anak dari PA Entertaimen, pewaris gitu Trus setelah sekian lama tiba-tiba ada postingan kaya gini" Jelas Rei panjang lebar. Arsen mengambil ponsel Rei dan melihat profil akun yang sedang di amatinnya.


"Elah, itu mah cuma orang cari sensasi" Arsen menyandarkan tubuhnya.


"Ko lo bisa ngomong gitu?"


"Nih, logika aja kalau dia ga cari sensasi, buktiin dulu ga langsung nyablak, mana followers juga dikit. Kalau emang ga punya kekuatan followers kan bisa lobi ke beberapa media online dulu, lagian ga semua orang tahu dia, caption mana ga jelas gitu.


"Hi I'm Philip, elah emang situ siapa? Kenal juga kaga dilihat dari jumlah likenya yang sedikit pasti beberapa mikir hal yang sama" Jelas Arsen membuatku mengangguk paham. Rei terlalu terburu-buru melewatkan beberapa point penting.


"Aku polos banget ya, bisa gampang banget kemakan hoax" Kekeh Rei tak mau di curigai


"Menurutku bukan polos sih, cuma bodoh aja" Jawab Arsen sambil menggeser kursinya.


"Sen, gue gampar lu tau rasa" Tatapan dan mematikan Rei tak membuat Arsen takut, ia justru geli mendengarnya


"Canda ah"


***


Rei bergegas kekamar Philip untuk berdiskusi dengan bungkus makanan yang biasa dibelinya untuk makan.


"Wow! Astaga" Rei menutup mata cepat, membalikan tubuhnya saat melihat Philip sedang mengganti kaosnya.


"Jangan salahkan aku, kau yang masuk tanpa mengetuk pintu" Jawab Philip merapikan kerah kaosnya.


"Saking capenya mandengin laptop, sampai ga sadar ternyata udah purnama" Philip mematut dirinya di cermin yang biasanya ia balik.


"Ga kerasa ya" Ucap Rei berjalan ragu.


"Apanya yang ga kerasa, mantengin laptop sampai pegel, jenuh, ngantuk tapi berharap besar" Keluh Philip yang kini sedang menyisir rambutnya.


"Kau mau kemana sekarang?" tanya Rei


"Kemana aja, bosen disini"


"Songong ya kalau lagi ganteng"


"Biarin, ayo siap-siap" Titah Philip

__ADS_1


"Bentar"


Rei bergegas kekamarnya, pergi untuk mandi dan memilih pakaian terbaiknya. Saat keluar kamar mandi dilihatnya Philip sedang berbaring di ranjangnya.


"Siapa yang nyuruh tiduran disini?!" Teriak Rei tiba-tiba, tentu saja ia terkejut. Beruntung sekali kali ini dia sudah berpakaian rapi. Biasanya ia hanya melilitkan handuk ditubuhnya.


"Udah ayo" Philip tak sabaran


"Aku mau dandan dulu"


"Kau pikir kencan"


"Ya udahlah ayo, nyebelin banget sih" Rei tak menyukai perdebatan sepele dan memilih mengalah. Ia menggerutu.sembari memasukan barang bawaannya ke dalam tas.


"Ngapain bawa dompet? Kaya mau bayarin aja" Philip tak bisa bungkam untuk menggoda Rei yang sedari tadi harus menahan kekesalannya.


"Tau gitu aku ga usah beli makan tadi" Rei mendeathglare Philip yang dibalas dengan senyum singkatnya.


"Udah beli?"


"udahlah, kalau belum mana bakal aku ngeluh" Rei menunjukan kresek putih yang ada diatas meja riasnya.


"Ya udah ayo" Philip menarik tangan Rei sembari membawa kresek putih itu


"Kita makan diluar" Ucap Philip namuj terhenti sebelum membuka pintu kamar.


"Reyna ada di luar ga?" Philip tak ingin ia keluar kamar sedangkan Reyna melihatnya, ia akan disemprot banyak pertanyaan yang membuatnya terkurung lebih lama atau bahkan bisa sampai tidak keluar nantinya.


"Ga ada"


"Okelah aman"


Philip mengeluarkan mobilnya sedangkan Rei menunggu di depan pintu. Philip mengendarai mobilnya dan berhenti di taman yang tak jauh dari tempatnya. Hanya sekitar 15 menit.


"Ngabisin waktu dijalan ga asik"


"Lagian ada yang harus kita bahas" Tambah Philip membuay Rei mengerti


"bahasanya udah jadi kita yah, wah Jadi tersanjung" Goda Rei namun diabaikan boleh Philip yang langsung membuka pintu mobilnya.


"Sambil makan ya" Rei mengeluarkan bungkus makan yang dibelinya.


"Duduk di bangku itu saja" Tunjuk Rei pada bangku dengan pencahayaan yang sedikit lebih redup membuat Philip mencolek pundak Rei


"Wah berani ya sekarang, aku ga tau kau seagresif itu" Goda Philip membuat Rei mendelik.


"Padahal kemaren-kemaren melow sekarang bisa kaya gini ya" Ungkit Rei dengan kejadian minggu lalu.


"Gimana? Mau jadi pacarku?" Ucap Philip terkekeh. Senyumnya begitu cerah. Rei meninggalkan Philip begitu saja dan memilih salah satu bangku dibawah payung besar yang melindungi diatas kepalanya. Rei meletakan makanannya dan merogoh ponselnya.


"Jadi, selama ini tuh cara kita salah" Ucap Rei mengabaikan Philip yan menggodanya.


"Caramu" Koreksi Philip tak terima


"Kenapa ga mau disalahin disaat ga ngasih ide sama sekali" Celoteh Rei karena setiap ucapannya yang tak seharusnya dijawab malah menjawab, sedangkan pertanyaannya diabaikan.


"Iya sayang iya, trus" Philip masih menggoda Rei, memandang Rei dengan meletakan tangannya di telinganya sementara tubuhnya menyandar condong ke kiri.


Rei memutar matanyanya jengah.


"Jadi sebelum itu kita harus mengontak beberapa media berita dulu, jadi kita delete postingannya dulu"

__ADS_1


Akhirnya mereka memutuskan untuk mendelete postingannya Mencari beberapa media akun gosip yang bisa membantunya.


"Setelah itu, kita follow dulu akun berita dan kirim pesan, bantu aku merangkai kata"


Ucap Rei saay membuka pesan untuk dikirim.


"Puisi? Pengakuan?"


"Philip" Mendengar teguran halus itu, Philip justru mengerjapkan mata, menggodanya.


"Aku pergi ya?" Rei mengangkat tasnya


"Wah, sayangku marah, sini aku yang ketik" Philip mengambil alih ponselnya. Rei tak bisa bohong jika ia menyukai cara Philip memanggilnya.


Selamat malam


Saya Philip Anderson, anak dari PA Entertaiment ingin menyatakan jika berita 7 tahun yang lalu adalah sebuah kebohongan. Silahkan tinjau di postingan di akun ini. Aku minta maaf karena telah membohongi publik selama ini


"okey kirim" Ucap Philip menekan tombol kirim dan mengcopy paste tulisannya dan mengirim ke beberapa media lainnya. Philip mengembalikan ponselnya.


"Bukannya terlalu, urakan ya? Kaya kuranag panjang gitu pesannya" Komentar Rei saat membaca pesan yang sudah dikirim


"Ga papa, lagian yang mereka butuhkan beritanya"


"Trus apa lagi yang harus kulakukan?" Tanya Philip merasa tugasnya sudah selesai.


"Bikin foto dan video" Ucap Rei membuat Philip mengangkat alisnya


"Sekarang?" tanya Philip


"Iya"


"Foto disini dulu, trus kita cari beberapa spot foto lainnya" Jelas Rei


"Bahasa lain kencankan?" Philip memberi wink yang bohong jika itu tidak membuat hati Rei berdebar.


"Jangan menggodaku jika hanya melihatmu murung lagi besok" Rei memberi Philip peringatan.


"Aku pasti selalu membuatmu khawatir, maafkan aku" Tak peduli yang diucapkan Philip, Rei membuka ponselnya.


Cekrek


Cekrek


Cekrek


Mengambil foto tanpa aba-aba namun melihat hasilnya membuat Rei kesusahan meneguk salivanya. Pasalnya hasil foto yang didapatnya tidak ada cacat sama sekali.


"Sekarang aku mau makan dulu, jangan ganggu" Pinta Rei yang dibalas anggukan kecil oleh Philip. Philip mengambil ponsel Rei dan memoto dirinyan sendiri dengan kamera depannya. Aktivitasnya tak dikomentari sama sekali oleh Rei. Philip memilih berhenti dan mulai makan. Terdengar gerutuan kecil dibibirnya yang membuat Riska tersenyum tipis. Selesai makan Rei kembali sibuk dengan ponselnya. Rei akan mengupload foto yang baru diambilnya.


Rei menuliskan caption


'Malam ini langit cerah, jangan buang waktumu hanya dirumah, lihatlah keluar, bintang bertaburan di gelapnya malam. Itu indah'


Rei tak lupa memberi hastag pendukung dan menandai beberapa akun dipositngannya.


"Lihat? Gini gimana?" Rei meminta pendapat. Philip hanya mengangguk setuju.


"Semoga kali ini berhasil" Ucap Philip


"Tapi philip" Riska ragu untuk mengirim postngannya.

__ADS_1


"hmm" Gumam Philip yang sedang menyeruput minumnya.


"Apa ayahmu akan memarahimu lagi?" Tatapan memelas itu membuat Philip mendengus kesal. Ia tak suka dikasihani.


__ADS_2