
Flashback mode on
Kini Rio sibuk menenangkan gadis mungil yang saat ini sedang menangis di taman. Awalnya ia tak menyadari siapa yang di temuinya di taman itu, saat ia baru saja menghadiri acara di gedung dekat taman. Saat itu cuaca begitu cerah sangat kontras dengan suasana hati gadis kecil yang dilihatnya di taman.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Rio duduk disampingnya.
"pergilah~ aku ingin sendiri" Ujar gadis itu, gadis dengan seragam SMA.
"Aku ingin duduk disini"
"Mas Rio ? bukannya .. kamu.. kakaknya Philip"
"Gadis perumahan itu ternyata"
"Mas kenapa Philip mutusin aku?"
"Aku salah apa?"
"Ga ada yang salah, emang dia yang salah"
"Kau menangis karena dia?"
Reyna tak menjawab.
"Hubungi aku kalau kau butuh teman cerita"
Rio hendak pergi namun dicegah oleh Reyna
"Temani aku" Pintanya sambil mengusap air mata yang keluar dari bola matanya.
"Mau jalan-jalan?" Tawar Rio yang membuat Reyna tersenyum tipis, ia sedang tak ingin sendiri. Ia butuh seseorang disampingnya. Rio mengajak Reyna berkeliling taman.
"Pernah naik sepeda tendem?" Tanya Rio menunjuk pada sewa sepeda yang tak jauh dari nya.
"Aku tak bisa naik sepeda" Jawab Reyna dengan sedikit tersipu malu. umurnya delapan belas tahun dan ia tak tahu bagaimana cara bersepeda.
"Aku tutor terbaik untuk ini" Rio menyombongkan diri dan mengajak Reyna untuk ke tempat sewa sepeda.
__ADS_1
Rio memilih sepeda berwarna putih bersih dengan motif hitam tanpa keranjang didepannya. Rio berfikir sedikit lama untuk menimbang untuk menyewa atau tidak.
"Ah, sepeda tendem saja" Pilih Rio beralih pada sepeda tendem berwarna hijau mengkilap.
"Gimana caranya?" Tanya Reyna setelah sedikit jauh dari tempat penyewaan.
"Kau duduk di jok belakang sepertiku, kakimu sampaikan? ayolah kau tak sependek itu" Ujar Rio yang melihat Reyna ragu untuk maju. Tinggi Reyna 160 cm berbeda 15 cm dari Rio. Rio tahu bahkan jika hanya dengan melihatnya.
Reyna mencoba duduk dengan ragu dan juga penasaran.
"Nanti saat kukayuh sepedanya kau hanya perlu mengikuti pedal yang ada dikedua kakimu" Ujar Rio memberi arahan dan Rio mulai mengayuh dengan pelan membuat kaki Reyna terbentur dengan beberapa kali hingga akhirnya ia bisa menginjakan kakinya pada pedal sepeda.
"Kakimu bisa mengayuh sekarang, jangan terlalu cepat karena banyak kelokan disini" Ujar Rio lagi yang sedikit was-was karena ia harus sering mengerem karena Reyna mengayuh dengan begitu bersemangat.
"Ini menyenangkan" Ujar Reyna akhirnya tersenyum.
"Kau juga bisa melepas tanganmu. takkan jatuh" Ujar Rio membuat Reyna dengan ragu mengulurkan tangannya ke atas dan di terpa angin. Sedikit tanjakan Rio mengayuh kelelahan.
"Di tanjakan ini berat, kau harus membantukj mengayuh" Tegur Rio yang membuat Reyna sadar dan kembali meletakan tangannya pada stang sepeda dan mengayuhnya dengan semangat.
"Ini benar-benar menyenangkan" Ujar Reyna yang kini duduk diantara rerumputan sambil memandangi sepeda tendem yang ada didepannya. Rio kembali dengan membawa dua cup minuman dingin.
"Aku suka keduanya" Ujar Reyna dan mengambil teh thailand. Ia butuh minuman yang menyegarkan setelah berkeringat.
"Mau coba?" Tawar Rio menawarkan minumnya.
"Aku akan terlihat begitu rakus bukan?" Ujar Reyna dan memindahkan sedotan minumnya ke minuman yang Rio miliki.
"Enak" Kesan pertama Reyna, Tentu saja ini bukan kali pertama Reyna meminum minuman seperti itu. Namun ia harus memuji sebagai tanda ia menghargai pemberian Rio.
"Sudah lebih baikan?" Tanya Rio perhatian.
"Karenamu" Jawab Reyna membuat Rio terdiam cukup lama. Satu kata ucapan Reyna cukup membuat Rio tersipu dan jatuh cinta saat itu juga. Rio segera menyadarkan dirinya dengan meminum minumannya dengan terburu.
"Kau pasti sangat haus" Ejek Reyna saat melihat minuman Rio yang berkurang lebih dari setengahnya.
"sepertinya" Kekeh Rio menyembunyikan telinganya yang mulai memerah.
__ADS_1
'Logika~ kembalilah' Batin Rio mensugesti dirinya.
"boleh kutanya?" Tanya Rio saat berhasil mengatasi dirinya.
"Ah, aku menangis karena orang tuaku bercerai hari ini" Jawab Reyna dengan senyum tipisnya. Ia lebih tegar saat ini. Ia tahu takkan ada yang berbeda dari sebelumnya karena ia akan tetap tinggal di perumahan itu, dengan kakaknya.
"Kau tahu sendiri aku baru diputuskan tiga hari yang lalu, aku.. hanya merasa dunia begitu tidak adil" Jawab Reyna menguatkan diri untuk tidak menangis didepan Rio.
"Kita bisa berteman bukan?" tanya Rio yang tujuh tahun berada di atas nya. Reyna tidak langsung menjawab karena Rio kakak Philip. Pria yang menyakitinya.
"Kau bisa menghubungiku jika kau butuh sandaran" Ucap Rio yang meluluhkan Reyna.
'Hanya berteman, tidak ada yang salah' Reyna tersenyum
"Aku akan menghubungi mu nanti" Jawab Reyna membuat keduanya tersenyum. Itu adalah awal dari perjalanan menuju kisah cinta mereka
flashback end
Ruang tamu yang berisi satu wanita dengan dua pria begitu tegang. Sorot mata pria berusia 25 tahun itu begitu tajam menatap pria 32 tahun yang kini sebagai lawan bicaranya. sedangkan wanita itu hanya menyimak tak tahu awal cerita keduanya.
"Mas tapi dia mantan pacarku" Ujar Philip begitu tersulut mendengar ucapan masnya.
"Kau masih menyukainya?" Tanya Rio membuat Philip terdiam. Tentu saja Philip sudah melepasnya sejak lama. Namun bukan berati masnya bisa mengencaninya begitu saja.
"Lagi pula itu berlalu sangat lama, ia bahkan tak menganggapmu ada, bukankan semua orang juga telah melupakanmu, yang mereka tahu kau sudah mati" Jawaban Rio tentu saja membuat Philip marah.
"DAN KAU MENGANGGAPKU BENAR-BENAR TIDAK ADA?!" Philip kalap membanting vas bunga yang ada didekatnya. Philip pergi ke ruangannya sedangkan Rio masih terdiam ditempatnya. Ia menyadari ucapannya keterlaluan.
"Nanti aku yang ngomong mas" Ujar Rei menyadari Rio hanya tertunduk lemah.
"Ucapan mas keterlaluankan?" Tanyanya memastikan, Tanpa bertanya pun ia sudah menyadari ucapannya keterlaluan. Philip tak pernah membentaknya. Ini kali pertama baginya. Philip selalu bersikap manis sebelumnya.
"Nanti kukabarin kalau dia udah baikan, mas udah netapin tanggal?" Tanya Rei mengingat pesannya tidak dibalas saat itu.
"Fullmoon?" Tanya Rio memastikan arah pembicaraan keduanya.
"Iya" Jawab Rei.
__ADS_1
"Mas pastiin Philip harus hadir, kau bantu mas bujuk Philip ya" Pinta Rio yang dibalas anggukan semangat oleh Rei. Rio pamit untuk pulang keapartemennya yang tak jauh dari mansion keluarga Philip.
Kini Rei membaringkan dirinya pada bantal sofa sibuk memikirkan cara agar Philip bisa memaafkan kakaknya dan memberikan alasan logis agar menerima agar keduanya menikah. Tentu saja ini tidak mudah. Rei bahkan tak bisa membayangkan jika saudaranya menikahi mantan kekasihnya. Tentu saja itu sulit untuk diterima.