The Cursed Prince

The Cursed Prince
You're Not a Monster


__ADS_3

"Kau menyuruhku?" Tanya Philip dengan nada tak percaya. Ini kali pertama seorang wanita menyuruhnya tanpa malu. Bahkan mantan kekasihnya harus merajuk dan menunjukan sisi imutnya untuk merayu Philip.


"Oh, ayolah, kau juga kesepian di ruangan sumpek itu" Jawab Rei lagi dan menyiapkan makanannya dengan cepat, Ia tak mau membuang waktu dan tak mau pikiran Philip berubah begitu saja.


Rei menyelesaikan makannya dengan cepat dan mencuci piring bekas keduanya. Tak banyak sehingga bisa berlangsung cepat.


"Nah, sekarang ayo kita keluar" Ajak Rei mengeringkan tangannya dengan pakaian yang dipakainya.


"Keluar?" Tanya Philip mengecek pendengaran nya. Selama 7 tahun ia hanya terkurung di mansionnya dan ia sama sekali tak pernah keluar rumah kecuali di balkon pantai tiga kamarnya.


"Dihalaman maksudku" Ralat Rei. Philip akan berfikiran buruk tentangnya.


"Aku alergi cahaya" elak Philip


"Berbohong tidak pantas untukmu, ayo" Rei berjalan lebih awal, Ia sangat ingin tuannya dapat menikmati hidupnya di rumah megahnya dan benar saja. Philip berjalan mengikuti langkah Rei dengan begitu ragu. Tidak mudah mempercayai orang yang belum lama dikenal.


"Aku takkan menipu, atau menjebakmu" Ujar Rei saat memahami keraguan Philip. Philip hanya menghela nafas. Mencoba untuk mempercayainya.


"Nah , aku kemarin ngecat ayunan sama nanem tanaman baru. cantikan?" Ujar Rei menunjukan ayunan besi yang awalnya berwarna putih berkarat yang disulapnya menjadi warna biru langit dan mengitari jarinya menunjuk tanaman yang ditanamnya dengan cantik. Tanaman hias yang ditata begitu rapi. Dan diurutkan berdasarkan ukuran yang dibuat sejajar dalam kotak kayu berukuran satu kali satu.


"Kau duduk disitu" Pinta Rei lagi agar Philip duduk di ayunan dengan backgroun semak buatan yang cukup tinggi. Rei mengambil kameranya dengan cepat


cekrek


"Ya!!' Teriak Philip langsing menghampiri Rei, Rautnua marah besar namun Rei tidak menyadari itu. Hasil jepretan itu langsung dicetak dengan bentuk polaroid dari kamera instanya.


"tidak buruk bukan?" Tanya Rei mengamati foto Philip diayunan. Philip hanya diam. Ia tak bisa marah, dan alasan untuk marah seperti menguap, Philip hanya terdiam memandangi dirinya yang ada dalam foto. Pria setengah singa menurutnya atau setengah kera menurut Rei. Rei menyadari keheningan dan menatap Philip yang masih terpaku pada gambar yang diambilnya.


"Kau jangan marah" Pinta Rei saat Philip hanya terdiam. Rei bahkan mengibaskan tangannya karena Philip melamun.


"Kalau gitu aku buang" Ujar Rei bersiap untuk merobek fotonya namun Philip menarik tangannya. Sosok yang difoto itu memang buruk, namun karena sudah terbiasa Philip sedikit terkesiap karena ini kali pertama seseorang mengambil gambarnya.


'tidak buruk' batin Philip


"Kau bisa simpan itu" Ujar Rei tersenyum dengan memamerkan deretan giginya


"Udara pagi itu menyegarkan, kau tau aku mengecat dengan berani tanpa izin siapapun" Pamer Rei, Ia memang belum lama bekerja disini, namun banyaknya waktu luang membuat dia berinisiatif untuk memperbaiki halaman yang tak terawat.


"Aku melihatmu saat mengecat" Ujar Philip membuat Rei mengangguk, tak heran jika Philip tahu, Philip selalu mengawasi sekitarnya.

__ADS_1


"Kau selalu mengawasiku sampai aku sedikit takut" Keluh Rei memberi kode agar Philip tidak terlalu intens dalam mengawasinya.


"benarkah?" Tanya Philip tak percaya, alasan ia mengamatinya karena ia masih heran dengan Rei yang tetap mau bekerja walau tuannya seperti monster


"Tapi sekarang tidak lagi" Jawab Rei yang sudah terbiasa.


dddrtttt drrrtttt


Ponsel Rei bergetar dari sakunya. Philip menatap sanksi pada ponsel Rei. Ia begitu waspada, ia takut jika itu mata-mata ataupun sekongkolan Rei.


"Aku angkat telpon dulu"


Rei sedikit menjauh menjawab telpon, Tak ada satupun yang menyadari jika pendengaran Philip begitu tajam. Dan Philip bersembunyi di balik semak-semak takut tiba-tiba Rei mengkhianatinya.


"halo"


"Anakku apa kabar?"


"sehat pah"


"Bagaimana kuliahnya Rei, ga papa?"


"nda pulang?"


"belum bisa, nanti ya"


"Ga ada uang saku nda papa?"


"nda papa, Rei udah ada kerjaan juga pah"


"baguslah, kau benar baik-baik saja kan?"


"iya"


"doain papa, biar bisa usahanya lancar, maafin papa yah"


"Rei paham kok pah"


panggilan terputus, Rei kembali dan Philip keluar dari tempat persembunyiannya.

__ADS_1


"orang tuamu?" tanya Philip saat Rei kembali


"ah iya" jawab Rei


"kau dengar?" tanya Rei yang merasa ia tak bersuara dengan keras.


"hanya dengar saat kau memanggil ayahmu" jawab Philip berbohong.


"ah, kau ngapain disitu? " tanya Rei karena Philip kembali dari semak-semak membuat rambutnya berantakan.


"trus disini mau apa?" Tanya Philip mengabaikan pertanyaan Rei.


"Kau harus menikmati suasana pagi dan lagi lihat fotomu" Rei menarik foto yang ada di tangan Philip tanpa permisi.


Foto itu dimana Philip terlihat seperti pemilik rumah yang kesepian, seperti memakai kostum bulu. Rei hanya memandang sisi positif yanh dilihatnya. Namun ia tak menyadari ada sisi sakit hati dari Philip.


"Mungkin seperti sedang pakai kostum, aku lagi bikin rencana disini" Ujar Rei lagi membuat Philip penasaran.


"apa?" tanya Philip


"nanti kukasih tau" Rei enggan memberi tahu, ia masih berfikir tentang konsep. Mendengar itu Philip menjadi lebih waspada. Ia benar-benar takut jika tidak bisa mempercayai Rei.


"sekarang nikmati harimu, jangan selalu di atas, kau juga bisa berkeliling mengitari mansion" Pinta Rei agar Philip tak menyendiri terus. ia sangat ingat betapa ramah dan perhatiannya Philip tadi malam.


"Aku sudah tak takut" Tambah Rei lagi jujur, Ia tak lagi memiliki ketakutan terhadap Philip.


"Kau pikir aku akan mendengar ucapanmu" Ujar Philip ketus dengan senyum sinis yang ta begitu terlihat, namun sorot matanya berubah. Rei menyadari perubahan ekspresi tuannya.


"Wah~ apa satu hal yang pasti. walau rupamu berubah kepribadianmu tidak akan berubah semudah itu" Jawab Rei


"Kau sekarang hanya mencoba angkuh, tapi sisi aslimu begitu baik semalam" Tambah Rei memuji dengan tulus. Saat malam purnama dengan Philip, Rei tak bisa mengalihkan perhatiannya pada yang lain. Philip menjadi sudut pandangnya karena perlakuannya yang begitu baik.


"sisi yang mana?" Tanya Philip sanksi.


"Kau tak pernah melepas senyummu, nada bicaramu juga lembut, berhenti angkuh, kau orang baik aku tau" Ujar Rei menjabarkan betapa baiknya Philip, Rei bahkan baru akhir-akhir ini menyadari jika diawal Philip tak pernah bisa didekati karena Philip tak ingin Rei ketakutan. Ia bahkan makan secara terpisah agar orang lain tak kehilangan selera makannya.


"Dengan wajah monster ini, semua itu tidak ada, Philip yang kau lihat semalam bukan Philip yang hari ini" Jawab Philip sendu. Satu alasan pasti yang Rei tangkap. Philip tak ingin terlihat lemah.


"Dan satu hal, kamu bukan monster" Jawab Rei lagi dengan senyum manisnya. Mendengar jawaban manis itu refleks membuat Philip merengkuh Rei dalam pelukannya tanpa sadar. Rei terkesiap, terkejut dan ia hanya memilih diam.

__ADS_1


"Terimakasih, telah mengatakan hal baik tentangku" Ucap Philip sembari memeluk Rei. Rei tak bisa berontak atau marah.


__ADS_2