
đź•“Pukul 16.00đź•“
Rio masih berkutat dengan laptopnya sementara Rei hanya diam mengamati yang dilakukan Rio.
"Haruskah aku masak sekarang?" Pikir Rei yang sedari tadi hanya diam dan bolak-balik berkeliling. Rumah ini sudah cukup bersih, entah bagaimana mereka membersihkannya.
"Selesai" ujar Rio yang merupakan Ketua Tim Design di perusahaan keluarga Philip.
"Kau pintar mengedit" Puji Rei tulus
"Aku kuliah di design" Jawab Rio yang entah mengapa Rei justru memberikan tepuk tangan hanya dengan mendengar jika Rio lulusan design.
"Kuliahmu, mulai kapan?" Tanya Rio yang tak bisa di jawab Reim Jadwal akademiknya belum keluar.
"Entahlah, jadwalnya tak pasti" ujar Rei
"Nanti malam ga usah masak" Ujar Rio yang membuat Rei kebingungan.
"Kau mau beli makanan pake jasa pesan antar?" tanya Rei ingin tahu
"bukan itu"
"makan diluar?"
"iya"
"lalu bagaimana dengan tuan Philip?"
"tinggal dibungkus"
"ah, begitu"
"aku boleh pulang lebih awal berati?" Rei bersemangat untuk pulang.
__ADS_1
"tepati kontrak"
"ah, oke"
Rei kembali ke sofa dan duduk menunggu malam tiba. Jam sembilan malam masih sangat lama.
Rei mengotak-atik ponselnya sementara Rio masih berkutat dengan laptopnya sesekali memijat matanya yang pegal karena terlalu fokus. Rei berinisiatif untuk keluar dan memilih menghias pekarangan untuk di buat menjadi taman. Walau mansion itu sangat bersih, namun pekarangannya sangat buruk tampak tak berpenghuni.
bahkan Rei bar menyadari jika tembok pagarnya telah berlumut. Namun Rio menolak dengan tegas saat Rei menawarkan diri untuk mengecat ulang.
Rei memotongi tanaman yang telah tinggi dan mencabuti rumput liar. Semua dilakukan semata-mata untuk mempercepat waktu. Ia akan merasa hari berjalan sangat lama jika hanya berdiam diri di mansion.
Setelah semua selesai, Rei duduk manis di bangku yang terbuat dari batang pohon yang di ukir dengan sangat detail. Menatap air mancur yang begitu jernih. Semenjak Rei hadir, Suasana Mansion berubah menjadi sedikit lebih ceria. Karena semua terawat dengan baik. Rei berpindah pada ayunan besi dengan sandaran yang sudah di cat ulang dan mendengarkan musik. Suasana begitu cerah berangin membuat mata Rei bisa mengantuk dan siap untuk tidur kapan saja, angin itu seperti memberi obat tidur untuknya.
"Rei" Panggil Rio dari teras mansion membuat Rei terbangun dan bergegas menghampiri.
"Dah sore sana mandi" Ujar Rio yang membuat Rei malas, Ia tak perlu di ingat kan bukan jika hanya untuk mandi. Toh dirinya sudah 20 tahun. Bukan anak kecil lagi.
Rei menatap arlojinya
Rei kembali dengan handuk tersampir di lehernya, dengan kaos merah jambu dan celana jeans panjang.
"Ini beneran ga usah masak?" Tanya Rei ragu.
"Iya, ga usah, tetep digaji kok" Ujar Rio mematahkan kekhawatiran Rei. Rei duduk di samping Rio.
"Ini desainmu?" tanya Rei menatap kagum pada desain logo yang dibuat Rio. Desain logo yang simpel namun mudah diingat.
"Mas aku pergi dulu" Ujar Philip yang kini tengah menuruni tangga. Sontak keduanya menengok kearahnya dan Rei dibuat terkejut dengan penampilan Philip yang berubah menjadi begitu menawan.
Mata tajamnya yang berwarna coklat cerah, dengan rambut hitam pekat ditutupi dengan topi hitam dengan ring didepannya, Hidung mancung dengan senyum menawannya, bahkan tindik di telinganya begitu pas tak membuat ia terlihat seperti remaja nakal, Tingginya sekitar 178cm dengan proporsi tubuh yang sempurna.
Rei tak bisa berkedip menatapnya. Sosoknya begitu sempurna, Bahkan cara dia menuruni tangga begitu casual, kedua telapak tangannya di masukan dalam saku. Sementara Rio tersenyum lucu melihat reaksi Rei yang diam terpesona.
__ADS_1
"Kutemani" Ujar Philip yang ditolak mentah-mentah
"Hariku akan jadi buruk nanti" Ujar Philip, dan saat itu Philip menyadari Rei masih menatapnya dalam.
"Kenapa?" Tanya Philip membuat Rei sadar dan segera menepuk kedua pipinya membuat Philip dan rio tertawa bersama.
"Ah, Kau terkejut?" Tanya Philip
"Perkenalan, Philip Anderson , Tuanmu" Ujar Philip masih dengan senyumnya.
"Kau bisa tanyakan apapun tanpa perlu takut sekarang" Ujar Rio mempersilahkan Rei untuk pergi. Namun Rei hanya diam membeku di tempat. Philip tersenyum diikuti dengan matanya yang ikut tersenyum, Philip memang memiliki eyesmile yang membuatnya tampak begitu ramah.
"Kalau begitu kau temani aku" Ujar Philip menghampiri Rei dan menarik tangan Rei tanpa penolakan sedikitpun. Rei hanya menyeimbangkan langkah kaki Philip, masih tak bisa bersuara. Kini dirinya takut. Ia masih terngiang dengan berita kematian putra tunggak PA Enteraiment yang tidak lain adalah seseorang yang kini duduk di kursi pengemudi. Seseorang yang duduk di sampingnya.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Philip, nadanya begitu lembut. Philip memang memiliki bawaan sifat yang lembut dan tenang.
"Kau pasti sangat terkejut" Ujar Philip melakukan mobilnya pada tempat yang akan dikunjunginya. Ia akan menghabiskan harinya tanpa tidur untuk malam ini, malam yang hanya ia temui sebulan sekali. Philip percaya, Jika dirinya memang dikutuk dan kembali menjadi semula hanya saat bulan purnama.
Philip menyusuri jalanan yang kini cukup.padat karena beberapa orang yang baru kembali dari bekerja, adapun yang baru bekerja. para pedangan malam yang kini tengah membereskan dagangannya. Philip sesekali menoleh pada gadis disampingnya yang sejak tadi masih terdiam.
"Ya, kau tak mau bicara? kau bilang banyak yang ingin kau tanyakan?" Ujar Philip dengan sedikit tertawa, hanya untuk mencairkan keheningan. Gadis itu tampak mengeratkan pegangannya pada tali tas yang di pakaiannya. Philip hanya tersenyum tipis.
"Kau masih takut?" Tanya Philip lagi. Philip tahu dia tak akan menjawabnya namun entah mengapa Philip terus menanyainya.
"Kau masih kuliah?" Tanya Philip lagi
"Tuan Philip?" Rei mulai bersuara namun Philip hanya terkekeh mendengarnya.
"Terlalu kaku. kau bisa memanggilku hanya dengan nama" Philip merasa berlebihan jika harus dipanggil tuan
"Panggil aku Philip" Pintanya yang hanya dibalas anggukan oleh kecil oleh Rei
"Anak manis" Jawab Philip hendak mengelus surai rambutnya namun Rei justru menghindar ketakutan. Philip melihat itu merasa bersalah. "Ah, maaf" Ujar Philip yang terbiasa melakukan hal manis dengan kekasihnya. Bahkan saat purnama sesekali ia menyewa gadis untuk menemani harinya. itu berlangsung selama dua tahun semenjak kutukan itu datang, dan kini ia hanya ingin menikmati udara segar setelah terkurung lama dalam mansion.
__ADS_1
"Kau masih hidup?" Pertanyaan Rei seketika membuat Philip menepikan mobilnya menginjak remnya mendadak.
'Kau masih hidup?'