
Mereka sampai di rumah pukul 01.15 dan Rei bergegas ke kamar tamu. Ruang tamu menjadi ruangannya saat ia tak punya pekerjaan. Rei meletakan tas dan mencuci muka terlebih dahulu. sementara Philip menyiapkan proyektor dan film yang aja di tonton nya.
"Kau suka film apa?" Tanya Philip saat Rei datang membawa camilan yang dibelinya. Rei menata di mena sambil berfikir. Ia jarang menonton film.
"Action?" tanya Rei , ia ingat pernah menonton film bersama teman satu kosnya di semester satu.
"Romance juga suka" Tambah Rei lagi.
"Yang terbaru?" tanya Philip mencari lewat saluran internet film yang akan di carinya
"Aladin?" Tawar Philip pada Rei, Rei berfikir sejenak
"Okey" Setuju Rei. Aladin pernah menjadi cerita kesukaan ya. Ia suka cerita Disney. namun ia lebih menyukai Beauty and The Beast namun takut menyinggung tuannya.
Film diputar dengan layar proyektor pada ruangan khusus yang memang sering di gunakan Philip dulu untuk berkumpul dengan temannya. Mereka memilih duduk di karpet bersandar sofa daripada duduk langsung di sofa. Rei menekuk lututnya mencari posisi ternyaman.
"Tapi apa seperti ini rasanya nonton di bioskop?" Tanya Rei saat opening baru dimulai, speaker disetel cukup keras dalam ruangan kedap suara itu.
"Suasana gelap, pantulan cahayanya sama, nadanya juga sama hanya saja di bioskop lebih ramai" Philip menjabarkan suasana bioskop.
"benarkah?" Tanya Rei senang
"Tapi itu tujuh tahun yang lalu, ga tau yang sekarang" Jawab Philip lagi-lagi membuat Rei merasa bersalah.
"Jika ada yang mengajakmu ke bioskop kau bisa mengiyakannya sekarang, nanti ceritakan padaku apakah masih sama atau ada yang berubah" Ujar Philip lagi.
"Kalau gitu, purnama selanjutnya ke bioskop" Ujar Rei menghibur Philip.
"Nantilah" Balas Philip tak begitu peduli. Ia hanya mengucapkan asal.
Kini mereka asyik menonton film, satu film terasa kurang bagi Rei dan Rei meminta untuk menonton film lainnya, Philip hanya menurut dan pada putaran film kedua, Rei tak kuasa menahan kantuknya dan tertidur, bersandarkan sofa. Ia bahkan tak sadar jika tidurnya mengeluarkan suara dengan mulut terbuka. Tak sampai film selesai. Philip membenarkan posisi tidur Rei, mengangkatnya di atas sofa, Ia tak akan memindahkan kekamar hanya membiarkannya di sofa dan memberinya selimut double.
"Terimakasih" Ucap Philip sebelum pergi untuk bergegas ke kamar nya. Philip bahkan membersihkan bekas makanan mereka berdua sebelum kekamar.
❤
❤
❤
🕖
__ADS_1
07.00
🕖
Cahaya dari balik tirai menyeruak menyilaukan, membuat Rei mengerjapkan matanya terganggu karena cahaya yang masuk. Melihat tempat yang berbeda Rei langsung terbangun dan dilihatnya Rio tengah mengamati di sofa sebelahnya.
"Ah, maaf" Rei langsung melipat selimutnya dengan gugup
"Apa aku kesiangan?" Tanya Rei lagi memfokuskan matanya pada arloji dan tersenyum
"syukurlah, aku tak telat" Senyum Rei merekah begitu saja
"Kau tak pulang" Tanya Rio membuat Rei terdiam berfikir. Kenapa ia bisa tertidur di sofa.
"Ah..." Rei ingat yang terjadi semalam
"Aku ketiduran" Jawab Rei diakhiri dengan kekehan khasnya.
"Aku mau buat sarapan" Ujar Rei hendak melenggang ke dapur.
"Ya, Cuci mukamu dulu" Teriak Rio yang membuat Rei putar arah menuju kamar mandi.
❤
❤
❤
Menu pagi ini adalah bubur ayam spesial dengan toping suwiran ayam, bawang goreng, kacang dengan kuah kaldu ayam yang membuat rasa nikmat tersendiri. Rei juga merebus telur dan di potong nya menjadi dua untuk topping bubur ayam dengan minumnya secangkir teh hijau dan satu teko air putih.
"Mas sarapan dulu kan?" Tanya Rei yang dibalas gelengan kepala.
"Mau ketemu klient di cafe, sekalian sarapan juga" Balas Rio membuat Rei mengerucutkan bibir kesal. Pasalnya ia sudah membuat bubur cukup banyak.
"Mas berangkat dulu" Ujar Rio dan pergi setelag merapikan dasinya. Rei kini bergegas ke lantai 3 tanpa membawa troli. Ia akan menyuruh tuannya untuk makan di lantai bawah. Tuannya tidak boleh manja bukan?. Setidaknya itu yang ada dipikiran Rei.
tok
tok
tok
__ADS_1
Rei memutar knop perlahan dan dilihatnya tuannya masih berada di balik selimut. Rei mengernyitkan dahinya. Ia ingat tuannya tak kedinginan saat malam tapi ia malah menggunakan selimut untuk tidur. Rei mengamati tidur tuannya dari kejauhan. Wajahnya kini tak sebersih saat malam, bulu-bulu yang cukup tebal memenuhi wajahnya , punggung tangannya.
"Sangat disayangkan" Gumam Rei bersimpati.
"berhenti bersimpati" Ucap Philip yang ternyata sudah bangun. Namun mata nya tertutup dengan rambut-rambut.
"Kau sudah bangun, waktunya sarapan tuan" Ucap Rei dengan senyumnya, Ia tak perlu takut lagi. Satu satunya yang membuat Rei takut adalah gigi taring Philip yang begitu tajam, seperti vampir.
"Aku akan sarapan, kau keluar" Ujar Philip mengusir Rei
"Tapi aku tak membawa sarapannya kesini, kau harus turun ke lantai untuk sarapan, Kalau begitu saya permisi" Ujar Rei tak menerima penolakan.
"Ah, dan lagi, aku membuat makanan spesial seperti janjiku semalam" Tambah Rei. Ia baru yakin jika Philip akan turun setelah mendengar ucapannya. Rei sangat yakin tuannya tidak akan turun jika karena makanannya namun ia akan turun karena penasaran dengan makanan spesial yang dibuatnya.
Rei menyimpan bubur nya dalam microwave untuk menjaga agar tetap hangat. Tuannya sangat lamban untuk turun dari tiga lantai. Yang Rei tahu tuannya akan gengsi jika langsung turun.
Lima belas menit menunggu Philip keluar dari liftnya.
"aku harus mematikan liftnya" Ujar Rei pelan. lift hanya akan memanjakan pemilik rumah. Walaupun ia juga menikmati fasilitas yang ada di rumah ini.
"Tadaaaa" Rei mengambil bubur ayam dalam microwave dengan sarung tangannya. Philip sedikit terkesiap merasa tertipu saat melihat bubur ayam yang dijadikan menu spesialnya.
"Kau bilang makanan spesial, bubur ayam?" Tanya Philip dengan nada mengejek.
"Udah jangan kebanyakan protes, makan aja, spesial ga spesial juga pasti abis, laper mah ga bisa dibohongin" Jawab Rei dengan berani.
"Wah, kau semakin berani" Ujar Philip memperjelas jika dia adalah tuannya.
"Yaa.. tak bisakah sedikit akrab, kau terlalu tinggi gengsinya" Ujar Rei lagi yang diabaikan oleh Philip. Philip melahap makannya namun Rei justru terdiam, ia tak bisa membohongi dirinya jika ia kehilangan selera makan saat melihat tuannya.
"Bagus dianter, ga punya selera makan kan?" tebak. Philip yang dibalas anggukan kecil oleh Rei. Tentu saja Rei malu dan pasti akan sangat menyinggung tuannya.
"Kalau gitu kau habiskan dulu" Pinta Rei dan Philip kembali makan tanpa memperhatikan Rei. tak butuh waktu lama Philip meneguk secangkir teh dan air putih dengan cepat.
"Kau mau kemana?" Tanya Rei saat melihat Philip memundurkan kursinya hendak pergi.
"Tentu saja ke kamar ku" Jawab Philip
"Kau tunggu di ruang tamu, aku menyelesaikan makan ku dulu" Pinta Rei sambil menunjuk ruang tamu yang tak jauh dari dapur.
"Kau menyuruhku?"
__ADS_1