
Pernikahan Rio dan Reyna digelar di hotel Arther's. Hotel bintang 5 yang terbaik di kotanya. Jadwal Undangan yang tertera pukul19.00 hingga selesai. Rei kini tengah menunggu Philip yang tak kunjung turun dari lantai 3.
"Apa purnama bukan hari ini? Tapi dikalender tanggal 15 kok" Rei mondar-mandir didepan lift menanti Philip. Namun Philip justru turun melalui tangga rumahnya.
"Ngapain disitu?" Tanya Philip membuat Rei terkejut. Rei menoleh ke arah lift dan Philip berkali-kali. Namun pada pandangan ke empat Rei lagi-lagi terpesona dengan wajah tampan Philip. Dagunya yang lancip, matanya yang tajam dengan rambutnya yabg ditata dengan formal. Setelan kemeja semi-formal yang terlihat lebih kasual.
"Kenapa lewat situ?" Tanya Rei kesal. Rei menghampiri Philip.
"Suka-suka, lagian ngapain disitu?" Kini Philip berpura-pura bodoh meledek Rei.
"Nungguin, untung aja ga nyusul ke atas tadi, rese banget" Rei mengeluarkan semua yang ada di kepala nya.
"Kau tau sendiri, aku jarang ke acara formal, aku bahkan harus menata rambutku mengikuti petunjuk internet, bagaimana? baguskan? atau aneh?" Kini Rei diberondongi pertanyaan oleh Philip. Rei yang mendengar pertanyaan itu sedikit sedih. Tentu saja tak mudah jadi Philip.
"Semua mata pasti akan melirikmu" Ujar Rei kemudian
"Ayo berangkat, keburu tambah malem" Ajak Rei lagi dan Philip hanya mengangguk. Philip menggandeng tangan Rei tanpa pamit. Genggaman tangan Rei begitu kaku.
"Aku tak diijinkan menggandeng tanganmu?" Tanya Philip melepas tangannya pelan.
"Bukan itu, kau begitu tiba-tiba" Elak Rei yang memang terkejut. Genggaman tangan Philip begitu pas untuk tangan Rei yang kecil. Philip membukakan pintu mobil untuk Rei sebelum ia duduk di kursi kemudinya.
"Pakaianmu benar-benar pas" Ucap Rei membuka pembicaraan tak umum dimobil.
"Pas gimana? cocok ?" tanya Philip lagi, Rei mengangguk.
"Kau tak bohong kan? aku tak tahu pakaian apa yang cocok untuk sekarang, aku hanya biasa pakai kaos, dan ini pakaianku saat remaja" Jawaban Philip lagi-lagi membuat Rei tak enak hati. Philip menjawabnya dengan begitu polos. Philip bahkan bicara lebih banyak saat ini.
"tapi itu seperti pakaian baru" Ucap Rei mencoba menghibur Philip. Begitu terlihat ekspresi Philip yang was-was, takut menjadi yang paling buruk. Berpuluhkali purnama Philip hanya pergi dengan setelan kaos , ia tak pernah mengunjungi kegiatan yang mengharuskan dirinya mengenakan pakaian formal. Ia bahkan masih merasa dirinya kurang.
__ADS_1
"Sepatuku bagaimana?" Tanya Philip lagi menunjukan sepatu kulitnya.
"Kau dapet darimana?" Rei begitu penasaran kali ini, jelas anak remaja jarang yang memiliki sepatu kulit.
"Aku pake punya mas Rio yang ada dikamar" Jawab Philip lagi tanpa ragu
"Kenapa kau terdengar menyedikan" Ucap Rei lirih, Philip mempunyai segalanya dulu sampai ia terkurung dari dunia luar. Jika bukan karena ponsel pintarnya mungkin Philip akan tetap dalam pikiran primitifnya.
"Aneh ya? atau ke toko sepatu dulu?" Tanya Philip tak sabaran.
"Bagus kok, ga ada yang aneh, cocok dengan stylemu" Rei memberi pendapat. Ia hanya merasa kasihan dengan dunia Philip. Philip yang bulan lalu menyeretnya jalan-jalan tanpa ragu tentang penampilan kini justru menjadi yang paling ribet.
"Aku percaya ucapanmu" Balas Philip akhirnya. Ia memilih mempercayainya daripada ia harus terus-menerus gelisah dengan pikirannya sendiri.
Philip mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Ia tak ingin cepat sampai karena ia tak tahu apa yang harus dilakukan saat disana.
"Kalau ada orang tuaku gimana ya?" Gumam Philip bermonolog, namun Rei dapat mendengarnya dengan jelas.
"Mereka tak membuangkukan?" Tanya Philip lebih kepada diri sendiri. Ia sedang meyakinkan dirinya. Sudah lama orang tuanya tak menghubunginya. Yang selalu Philip yakini, Rio kakaknya selalu mengabari orang tuanya tentang kabar dirinya. Sehingga orang tuanya tak menghubunginya.
"Kenapa kau berfikir mereka membuangmu? hilangkan pikiran burukmu itu" Ucap Rei memberi nasihat.
"Kau bisa mempercayai ku" Ucapan Rei merupakan ucapan ajaib yang selalu ingin Philip dengar.
"Aku akan mempercayai mu" Ucap Philip.
'Aku akan menyapa orang tuaku' Philip mengulum senyum bahagia, Ia sudah lama merindukan orang tuanya. Ia akan menyapanya diam-diam agar tak ada kabar buruk yang mungkin akan merusak citra perusahaan.
"Kalau di pernikahan, kita kudu ngapain aja?" Philip kembali menanyakan pertanyaan yang menurut Rei sepele. Namun lagi-lagi Rei harus memahami Philip. Ia kehilangan masa remajanya dengan cara yang tidak adil.
__ADS_1
"Di pernikahan? eum aku juga ga begitu tau sih, paling kasih selamat ke pengantin trus makan jamuan, paling itu sih" Rei yang saat ini berusia 20 tahun harus menjelaskan hal sepele pada Philip yang berusia 25 tahun. Ia merasa tak sopan jika menjawab pertanyaan seperti itu.
"Kau harus selalu didekatku" Pinta Philip yang takut Rei meninggalkannya dan berkeliaran sendiri.
"Aku datang kan memang untuk menemanimu, jika bukan karena kau majikanku mana mungkin aku diundang" Jawab Rei yang membuat Philip berdehem tak suka.
"Kau bisa anggap aku temanmu" Philip menatap lurus jalanan yang sedikit ramai. Beberapa pekerja memang pulang sedikit malam karena menyelesaikan pekerjaan itu yang membuat jalanan masih cukup padat.
"Lima tahun diatasku" Rei keberatan jika harus menganggap Philip teman, namun ia tak akan keberatan jika harus saling akrab.
"Sekalipun aku lebih tua , banyak hal yang aku tak tahu" Philip menggigit bibir bawahnya. Ia harus menahan emosi yang entah datang dari mana. Ia tak marah dengan siapapun, Ia hanya marah dengan kehidupan yang tidak adil baginya.
"Sekali-kali kau harus ceritakan tentang dunia perkuliahanmu"
"Kau jangan mengatakan hal yang sedih, kau tak tahu seberapa aku berdandan untuk hari ini" Ucapan Rei memang terkesan tajam, namun riasannya bukan point utama dari ucapannya. Ia hanya ingin Philip menikmati harinya tanpa harus merasa sedih akan hal-hal yang telah terlewat.
"Tapi aku penasaran"
"Pasti ku cerita kan padamu nanti" Balas Rei akhirnya
"Ini tempatnya kan?" Tanya Philip menunjukan hotel Arther's yang ada di sebrang nya.
"Besar sekali" Ucap Rei sampai harus memajukan dirinya untuk melihat seberapa menjulang gedung tersebut.
Philip memarkirkan mobilnya di dekat pintu parkir.
"Ingatkan aku dimana aku parkir" Ucap Philip. Philip menjadi orang yang sangat berbeda hari ini. Sikapnya berbeda. Sikap kekanakannya begitu menonjol hari ini.
Philip menggandeng tangan Rei, namun kakinya diam tak melangkah. Philip ragu untuk masuk hotel.
__ADS_1
"Kau tak tahu tempatnya?" Tanya Rei yang dibalas anggukan oleh Philip. Namun bukan itu yang membuat Philip terdiam tak melangkah. Namun Philip merasakan sesuatu yang mengganjal, ia tak nyaman dengan perasaannya.