
Tidak ada istilah istirahat bagi Freissya Magdalena atau biasa di panggil Rei yang kini tengah sibuk memindahkan barang-barang nya. Ia meminta pindah tempat setelah berhasil berbicara empat mata dengan Rio. Ia pindah ke kamar dimana lemari ruang bawah tanah itu berada, Ia tak bisa membayangkan jika kamar itu di tempati orang lain dan ia akan semakin sulit membantu Philip. Bahkan kini ia tak akan bisa untuk untuk memasak dengan leluasa. Rei memindahkan pakaian-pakaiannya yang untung saja tidak terlalu banyak baginya.
"Kenapa pindah? bukannya lebih luas disana?" tanya Reyna membantu Rei. Reyna terheran karena Rei membereskan pakaiannya dengan buru-buru.
"Keburu di tempatin orang lain, ada koleksi buku soalnya dikamar yang ini" Ucap Rei beralasan. Alasan terbaik ialah buku , karena ia mahasiswa.
"Enak yah bisa request sesuka hati" Ucap Reyna yang dibalas anggukan oleh Rei.
"Mansion ini emang ga main-main ngasih fasilitas" Ucap Rei yang memang bisa sesuka hati bekerja.
"Bidang pangan?" tanya Reyna lagi saat menemukan buku diktat milik Rei.
"Hehe, iya katanya jurusan pangan ga bakal punah karena setiap manusia butuh makan, jadi aku milih ini" Rei memberikan alasannya.
Reyna tersenyum lucu mendengar alasan Rei.
"Berapa pekerja yang ditambah?" tanya Rei yang dibalas gelengan kepala oleh Reyna.
"ga tau, mas Rio ga bilang, aku juga baru tau, ini aja pindah dadakan, padahal aku lebih suka di apartemen lebih nyaman" Ucap Reyna yang juga tidak tahu alasannya. Reyna sendiri merasa tak nyaman di mansion, ia tak pernah mengharapkan dirinya menjadi cinderella yang hidup dalam gelimang harta dengan seorang pangeran. Ia merasa akan ada ungkapan buruk yang ditujukan untuknya.
"mba mikirin apa?" tanya Rei melihat Reyna hanya melamun. Pandangan Reyna menerawang jauh dan Rei sadar akan itu.
"Ga ada, cuma kepikiran aja kalau nanti reuni gitu ya.. nanti pasti ada tanya-tanya kabar pasti nanti ada yang bilang 'Reyna hidupnya enak ya sekarang' kepikiran itu aja" Ujar Reyna tersenyum samar. Rei memahami itu dengan mudah. Tentu saja karena dirinya pernah iri terhadap orang yang mendadak kaya.
***
Memindahkan barang dana menata rapi bukan hal mudah bagi Rei. Energinya terkuras habis dan kini Rei terbaring nyaman di kamar barunya, Ia bahkan melupakan dirinya yang belum memasak makan malam, begitu keluar kamar dilihatnya Reyna dan Rio sedang memasak bersama dengan apron couple yang tidak pernah Rei lihat sebelumnya
"Maafkan aku, aku tidur terlalu pulas" Rei meminta maaf namun Reyna hanya menjawab dengan senyum manis nya.
"Kau istirahat saja , kau pasti lelah"
"Kami memang ingin masak bersama" Kata Rio membuat Rei mematung mengamati adegan roman didepan mata.
Rei menghampiri keduanya dengan canggung, ia juga memikirkan keadaan tuannya yang mungkin saja sudah kelaparan.
"Apa yang bisa ku bantu?" Tanya Rei pelan dan refleks menggaruk tengkuknya.
"Kau duduk saja, anggap hari ini bonus untukmu" Jawab Rio tak memahami kegelisahan Rei. Rei sekali lagi minta maaf dan pergi ke kamar nya. Ia membuka tasnya.
Ia masih memiliki beberapa snack di tasnya dan membawanya ke tempat Philip.
Rei melangkahkan kakinya menuruni tangga dengan ragu. Ekspresi bersalahnya begitu kentara.
"Ada masalah?" tanya Philip menyadari
"Ini benar-benar sulit" Rei duduk dimana permadani digelar.
"Aku bahkan tidak bisa memasak karena mereka lebih dulu memasak" Keluh Rei membuat Philip sedikit mengerti.
"Aku harus bagaimana?" Rei meminta pendapat. Jika seperti ini , ia tak bisa memenuhi jobdesk kerjanya.
"Aku tak harus makan nasi" Ujar Philip tak yakin , Ia tak ingin membuat Rei terlalu khawatir. Ia juga tak paham kenapa situasi berubah sekejam ini.
"Tau gini aku beli makan banyak" Rei tak mengira jika ia juga akan disulitkan dalam membuat makan malam.
__ADS_1
"Aku minta maaf" Ucap Rei dengan nada kesalnya.
"Aku cuma bawa camilanku, nanti aku buatkan makan malam agak larut" Ucap Rei. Ia tak memiliki alasan untuk masak melihat mereka memasak dengan porsi agak banyak.
"Oh iya, kamarku kini tepat didepan lemari pintu ini" Rei memberi tahu dengan senyum simpulnya, menampilkan dimple di pipi kirinya.
"Kenapa pindah?" Tanya Philip
"Mulai besok bakal ada penambahan pekerja" Rei kembali mendengus kesal.
"Apa maksud kakamu, kenapa dia melakukan ini kepadamu?!" Rei benar-benar kesal sekarang.
"Pasti dia punya alasan"
"Kau bukan orang sebaik itu, aku tahu"
"Lalu aku harus bagaimana? aku juga tak bisa berbuat apa-apa"
"Ah, maaf aku terbawa emosi"
"Udah balik sana, nanti dicariin, kau belum kunci kamar kan?"
"Ho iya?!"
"Kalau gitu aku balik dulu, kau jangan lupa makan"
Rei memanjat dengan setengah berlari dan saat keluar dari pintu lemari. Rio sudah berdiri didepan pintu.
"Ceroboh sekali" Rio menggelengkan kepala membuat Rei menyengir kuda. Ia tak mau mendapat amukan.
"Aku lupa, heheh"
"haruskah?" Rei terbengong sampai akhirnya ia ikut di meja makan. Makan dengan canggung. Dirinya merasa terpisah jauh dari pasangan pengantin yang masih sangat baru.
'Lauknya abis semua, sisa nasi, cuma dikit ga mungkin masak karena bakal curiga, otak ayolah berfikir' Rei berfikir lama untuk memberi makan tuannya yang hanya di temani camilan namun ide itu tak juga muncul hingga makan malam berakhir.
"Biar aku yang cuci" Ucap Rei siap saat Reyna mulai membereskan meja makan
"Ia biarkan Rei, dia sudah merasa tak enak kita memasak" Jawab Rio memberi ruang untuk Rei
"Kalau gitu kami duluan ya, maaf juga" pamit Reyna dan Rio menggandengnya menuju kamar dilantai tiga. Kamar yang tepat berada disebelah kamar lama Philip.
'Jangan lupa kunci kamar' Ujar Rio dengan isyarat tangannya.
Rei mencuci piring dengan pandangan miris, lauknya benar-benar habis disaat, dia bahkan tak bisa hanya menyimpan di kotak makan.
Rei menyelesaikan cuciannya dan memasak beberapa makanan frozen food, nugget, sosis, telur gulung dan dimsum yang memang ada di lemari pendingin. Philip bilang tak harus nasi karena nasi memang sudah habis, jadi Rei membuat dengan porsi yang cukup banyak.
Setelah setengah jam Rei selesai dengan menyusun makanannya di tempat makan yang dibawanya. Sesegera mungkin ia kekamar dan mengunci pintu kamarnya.
"Tadaaa" Seru Rei berjalan ke ruang bawah tanah,dilihatnya Philip tengah asyik membaca buku
"Kau belajar? Kau ambil buku dari mana?" tanya Rei
"Aku kekamarmu tadi" Jawab Philip dengan santai
__ADS_1
"Kau berani sekali"
"Lagi pula membosankan hanya diam disini" Ujar Philip menutup bukunya
"Setidaknya jika itu lantai 3 aku masih bisa melihat pemandangan, disini apa yang bisa kulihat"
"Aku" Ejek Rei berusaha mencairkan suasana. Philip terkekeh merespon jawab Rei.
"Ini makanlah, aku benar-benar berusaha membuat ini sebaik mungkin"
"Sebanyak ini" Tanya Philip dengan dua kotak lauk dan nasi yang sisa.
"Banyak ya?Nasinya tinggal dikit soalnya"
"Kalau gitu temani aku makan" Ujar Philip tak memmempermasalagkan
"Kau ada film ga?"
"Di laptop ada, buka aja"
Rei memutuskan untuk menonton film sambil memakan camilan dan lauk yang ia buat untuk tuannya. Tuannya keberatan jika harus menghabiskan semuanya.
Rei dengan senang hati menyalakan laptopnya, proyektor dan LCD siap di nyalakan.
"Kau baik-baik saja?" tanya Rei
"Ini menyedihkan"
"Aku tadi hampir bertanya pada istri mas Rio, tentang mantan-mantanmu tapi kuurungkan"
"Dia takkan tahu" Jawab Philip
"Akun sosial media mu yang dulu ?"
"Setelah info kematian, akunku benar-benar tak bisa digunakan dan hanya ada tulisan mengenang kematian"
"Ah kau benar, media sosial sudah secanggih itu" Jawab Rei mengerti
"Aku akan cari tau yang lain kalau begitu"
"Jangan terlalu keras"
"Aku sudah terlalu bersantai bukan?"
"Bagaimana dengan kuliahmu, lancar?"
"Tadi hanya kontrak kuliah"
"Aku masih memikirkan makan siang mu, haruskah kubeli microwave?" Rei tak terkecoh meski pembicaraan dialihkan
"Berlebihan sekali, aku baik-baik saja"
"Kau pernah sakit? Demam gitu? Pusing atau batuk?"
"Pernah"
__ADS_1
"Kau tetap harus makan teratur, akan kuusahakan"
Malam itu Rei menghabiskan sebagian malamnya dengan menonton menemani Philip dan sesekali berbagi kesan kuliahnya hari ini. Philip dengan senang hati mendengarkan karena ia memang butuh teman berbincang