
Ruko dua
lantai yang terlihat minimalis dari luar itu justru lenggang di dalamnya,
beragam jenis pakaian menyapanya, sangat berwarna dan begitu ceria. Tak heran
jika Rachel datang dengan tampilan modisnya. Tangga penghubung lantai dasar
dengan lantai diatasnya di hiasi ukiran cantik sebagai pegangannya.
"Bagus
yah" Puji Rei saat menapaki kakinya pada anak tangga selangkah demi
selangkah. Philip bungkam, enggan menjawab. Ia masih begitu kesal dengan wanita
yang membuatnya menderita selama tujuh tahun. Bahkan kemarin
mengerjainya.
"Kalian
sudah datang?" Sapa Rachel dengan pita pengukuran yang dikalungkan dengan
lehernya, ia tengah berdiri di depan manekin, sebuah gaun terpasang begitu
cantik. "Cantik sekali, ini buatan mbak?" tanya Rei terkagum, Rachel
hanya mengangguk kecil.
"Hasil
karyaku selalu bagus namun aku tak punya model yang cocok untuk memakai
karyaku" Ujarnya dengan nada sedih, "Jadi aku minta tolong ke kalian,
jadi model untuk tokoku” Rachel meletakan pita pengukurnya dan membuka
pintu yang ada masih dalam ruangan yang sama.
“Aku juga
__ADS_1
ga punya studio foto yang bagus, jadi aku minta bantuan kalian untuk jadi
model, terlebih kau Tuan Muda Philip Anderson,”
“Kau sudah
menandatangani kontrak kerja sama denganku kemarin” Rachel menunjukan kontrak
yang kini sudah rapi berbingkai diatas kursi kebesarannya.
“Picik sekali” Ucap Philip tersenyum miring. Ia melirik
studio foto yang tidak terlalu besar.
“Duduklah,” Rachel mempersilahkan keduanya, Rachel keluar
dari ruangannya dan kembali dengan minuman dingin ditangannya.
“Kau bekerja sendiri?” Tanya Rei penasaran, Rachel membalas
dengan anggukan kecilnya. “Aku masih merintis karir setelah menjadi single
parent”
wanita sepertimu?” Ledek Philip yang sangat kesal namun Rachel mampu membuat suasana
menjadi begitu dingin.
“Dia sudah meninggal, kecelakaan waktu kerja,” Jawab Rachel
dengan tenang. Namun Rei merasa bersalah karena Philip yang tak bisa menjaga
ucapannnya, Philip sendiri menegang.
“Kalian tunggu disini ya, aku harus menjemput anakku dulu”
Ucap Rachel meraih tas selempangnya dan pergi. Rei mendelik melihat Philip yang
mengendikan bahunya.
“Jangan salahkan aku” Philip tak terima disalahkan, namun Rei
__ADS_1
menunduk sedih, menjadi single parent diusia muda. “Setiap orang punya perihnya
masing-masing, dan akan semakin bijak jika kau bisa mengambil nilai positivenya”
Bijak Rei. Ia juga memiliki kehidupan perih namun ia memilih untuk membuang
rasa perihnya.
“Aku akan lebih berhati-hati” Ujar Philip akhirnya, Rei
tersenyum tipis, pria didepannya mau menuruti nasihatnya. “Bagaimana bisa dia
bekerja seorang diri dengan tempat sebesar ini” Rei kembali berkeliling.
Mengamati jahitan rapih dalam setiap gaun yang disentuhnya.
Rachel kembali setelah dua puluh menit dengan anaknya yang
terlihat masih kecil. “Wah, menggemaskan sekali, umur berapa tahun?” Tanya Rei
menatap gadis mungil dalam seragam dan tas dipunggungnya, rambutnya dikuncir
dua dengan pipi chubby membuatnya semakin menggemaskan.
“Empat tahun” Jawab Rachel, “Kenalin ini paman Philip dan
tante Rei” Rachel mengenalkan dua orang tamunya pada anaknya. “Nama adek siapa?”
Tanya Rei membungkuk menyejajarkan tubuhnya.
“Lia” jawabnya, Marchelia Sasikirana. Putri dari Marxel dan
Rachel. Lia mundur bersembunyi dibalik punggung ibuya, malu. Tingkah menggemaskan
dari seorang anak ketika bertemu dengan orang baru.
“Kau menikah sangat muda,” Ucap Rei mengacungkan jempolnya,
takjub. Ia selalu kagum dengan perempuan yang bisa merelakan masa mudanya dengan
menikah.
__ADS_1
“Jadi apa yang harus aku lakukan disini” Philip menyudahi basa basinya.