The Cursed Prince

The Cursed Prince
Chapter 37


__ADS_3

Rei melangkahkan menuju gerbang mansion yang begitu luas. Ia bahkan harus mengabaikan rasa lelahnya. Ia sudah dibayar untuk bekerja sehingga tidak ada alasan untuknya bermalas-malasan, terlbih gaji yang diterimanya sangat besar apalagi fasilitas yang didapatnya.


“Apa yang harus kubeli ya?” Gumam Rei menatap ponselnya. Ia sudah membuat list namun iya tak yakin apakah itu semua sudah cukup. Lisa menghentikan taksi yang sudah dipesannya. Ia tak boleh kelelahan dulu. Harinya masih panjang untuk hari ini. Ia berhenti disebuah ruko yang cukup lengkap dan mulai berkeliling dari toko ke toko. Ia memulai membeli roll kabel, pewangi ruangan, humadifire, dan earphone.


“Ia harus mendengarkan lagu agar tak bosan” Gumam Rei memberi alasan pada diri sendiri.


“Apa lagi ya?? Eum..ah wallpaper sticker” Rei berjalan menuju toko wallsticker. Ia akan melapisi tembok dengan wallsticker alih-alih mengecat yang membuang banyak waktu. Rei memesan 10 lembar wall sticker dan menitipkannya di toko. Ia akan menyewa taksi untuk membawanya ke mansion nanti.


“Alat mandi?”


‘deg’


“Apa ada kamar mandi diruang bawah tanah?” Rei gelisah dengan pertanyaan yang tiba-tiba muncul dibenaknya. Pikirannya berkecamuk.


“Semoga saja” Rei kini memasuki minimarket yang menyediakan berbagai kebutuhan rumah. Rei mulai membeli beberapa alat mandi , camilan dan minuman instan.


“Wah.. mie yang sering kulihat di social media. Beli ah” Rei mengambil beberapa cup mie instan dengan beragam rasa yang berbeda. Ia selalu iri dengan mie instan yang harganya dua kali lipat dari yang biasa dia beli.


“Aku benar-benar menghabiskan banyak uang hari ini” Ucap Rei menatap nota belanjaannya yang cukp panjang.


***


Rio dan ayah Philip kini sedang berada dikantor. Berbagai media berusaha menghubungkan mereka namun tak ada yang didapat.


“Kita biarkan dulu” Putus sang ayah tidak ingin berbuat gegabah. Media pasti akan lelah jika tak mendapatkan jawaban dan memutuskan untuk menyerah. Setidaknya itulah alasannya.


***


Rei kembali dengan barang yang memenuhi meja ruang tamu. Rei mengistirahatkan tubuhnya pada salah satu kursi panjang disofa. Matanya terbelalak saat melihat Philip membawa dua kopernya sekaligus.


“Kau mau kemana?” Gurau Rei mendudukan tubuhnya. Philip hanya tersenyum miring mendengar pertanyaan Rei yang menurutnya sangat tidak lucu.


“Kenapa kau beli banyak sekali” Philip melihat belanjaan Rei yang tak hanya memenuhi meja, namun beberapa tergeletak di lantai.


“itu barang-barangmu” Ujar Rei tak terima


“Aku tak pernah menitip beli buku, tas dan sepatu” Jawab Philip lagi membuat Rei terdiam. Kalah telak.

__ADS_1


“Ini untuk kuliahku besok” Jawab Rei membereskan barang miliknya dan memindahkannya ke kamarnya.


“Mungkin tak sopan jika aku meminta bantuanmu, tapi wallsticker itu benar-benar berat untuk dibawa olehku” Ucap Rei dengan cengiran kudanya meminta bantuan, melihat Philip membawa dua koper sekaligus cukup membuatnya tertegun tak percaya. Tapi yang dilihatnya terlihat begitu mudah. Jadi menurut Rei itu juga akan mudah jika membawa wallsticker.


Philip pura-pura tak mendengar dan pergi keruang bawah tanah dengan kedua kopernya. Rei juga mengikuti dibelakangnya membawa dua kantung plastic besar yang dibelinya.


Deg


Rei terdiam di anak tangga tiga terakhir. Barang-barang beratnya sudah dipindahkan dari ranjang hingga kasur. Bahkan lemari kecil sudah bertenger disampingnya.


“Kapan kau memindahkan semuanya?” Tanya Rei takjub


“Kenapa kau bertanya? Tentu saja saat kau pergi” Jawab Philip membuat Rei nampak bodoh.


“Kan belum dipasang wall sticker”


“Tinggal pasang”


“Ambil dulu diatas”


“Kau menyuruhku?”


“Apa tidak berat?” Tanya Rei


“Apa aku harus memindahkan kursi pijat?” Tanya Philip merasa tubuhnya benar-benar terfotsir.


“Emang ada dimana?” Selama Rei membersihkan rumah tak pernah melihat kursi pijat


“Kamarku” Jawab Philip


“Ga usah kalau gitu” Lantai tiga cukup menguras tenaga, terlebih stopkontak hanya ada dua dan bisa saja merusak jika terlalu banyak barang yang harus di pakai bergantian.


“Ayo mulai” Rei mulai membuka gulungan wallpaper dengan warna dominasi hijau putih dengan motif polkadot berbagai warna soft yang berjarak renggang.


“Baguskan?” Rei meminta pendapat. Rei memilih motif ini cukup lama, menyandingkan dengan berbagai motif lainnya. Alasan lain Rei memilih motif polkadot karena hanya motif itu yang masih tersisa banyak di toko.


“Terlalu mencolok” Jawab Philip yang terbiasa dengan nuansa dark. Walaupun ia membenci gelap. Philip tak pernah membayangkan tidur di kamar dengan dinding bernuansa seceria ini.

__ADS_1


“Bagus tau” Jawab Rei mengembungkan pipinya kesal mendengar jawaban Philip. Ia teringat bagaimana ia mempertimbangkan saat memilih wallsticker.


“Minta pendapat tapi maksa” Ujar Philip menabuh genderang


“Ya udah pasang sekarang” Jawab Rei meredupkan gendering. Ia tak suka berdebat. Ia lebih suka memutuskan pendapat.


“Kamar mandinya gimana?” Tanya Rei teringat hal yang membuatnya gelisah saat berbelanja.


“Ah, ada disudut kiri, ayah tak benar-benar membuangku” Jawab Philip dengan senyum sumringahnya saat dia berhasil menemukan kamar mandi. Di dekat tangga. Rei bergegas melihat kamar mandi itu dan benar. Walaupun sedikit kumuh karena jarang dipakai. Airnya bahkan mengalir.


“Syukurlah, tadi kepikiran soalnya” Jawab Rei yang siap memasang wallsticker.


“Bahkan ada stopkontak dikamar mandi, kurasa itu untuk mesin cuci” Ucap Philip kembali membuat Rei termenung.


“Kenapa aku tak kepikiran pakaianmu” Jawab Rei . Waktu dua jam setengah mereka habiskan untuk memasang wallsticker, setelah itu memasang paku untuk menggantungkan lampu utama dan lampu tumbler dengan warna gold untuk lampu tidurnya.


“Kau benar-benar memikirkanku” Puji Philip yang memang tak bisa tidur dengan lampu padam ataupun dengan lampu terlalu terang.


“Kau harus memindahkan proyektor dan LCD” Ucap Rei bersemangat ia memandang suasana kamar yang jauh lebih baik. Dua vacuum cleaner saling beradu yang memang sengaja di letakan agar tidak perlu repot menyapu.


“Aku harus membersihkan kamar mandi” Ucap Rei yang di cegah oleh Philip


“Biar aku saja” Ucap Philip yang tak tega melihat Rei dengan segala pekerjaannya.


***


Paginya Rei bangun kesiangan karena kelelahan membereskan kamar baru Philip. Mereka menyelesaikan hingga tengah malam dan kini ia terbangun 1 jam tepat sebelum perkuliahan dimulai. Rei terbangun gugup dan bergegas kekamar mandi, memilih pakaian terbaiknya.


“Sarapannya gimana?” Ucap Rei memandang arlojinya khawatir. Ia benar-benar hamper telat. Rei bergegas menuju dapur dan membuka lemari dapur.


“Mie instan?” Rei tersenyum penuh arti pada mie instan cup yang dibelinya kemarin dan tersenyum senang.


“Ada jalan” Gumam Reid an bergegas mengambil air panas dan mengisinya.


“Aku harus berangkat kuliah, aku tak sempat masak, Ku buatkan mie instan, apa kau keberatan?” Tanya Rei dengan raut wajah melasnya. Philip yang masih setengah sadar hanya mengiyakan. Rei juga terburu-buru saat berbicara. Dan saat Rei hilang ditangga paling atas. Philip menyadari Rei meletakan beberapa camilan, minuman dan satu cup mie instan.


“Ah, dia tak sempat membuat sarapan, pantas saja dia terburu-buru” Ucap Philip dengan senyum tipisnya. Philip memandang kamar barunya yang disulapnya seharian dan hasilnya benar-benar mengagumkan. Seperti layaknya kamar biasanya namun tanpa ventilasi udara.

__ADS_1



__ADS_2