
Malam itu Rio datang dengan senyum cerahnya setelah mendapat telpon dari Rei, Tentu saja Rio tak mungkin meninggalkan Philip yang sudah dianggapnya sebagai adik sendiri. Suasana canggung diciptakan oleh Philip yang canggung tak berani menatap kakaknya.
"Rei bilang kau memaafkanku" Ucap Rio enteng. Bukan maksud mempermudah masalah namun ia hanya ingin kembali akrab dengan Philip.
Philip masih diam. Dikamarnya ia sudah merangkai kata saat Rei menyampaikan jika Rio bersedia untuk makan malam bersama. Namun tidak mudah bagi Philip saat berhadapan dengannya.
"Aku punya alasan" Ucap Rio tanpa ditanya. Rio dan Reyna sudah lama saling kenal, ia bahkan sudah lama menjalin hubungan.
"A..aku tak akan bertanya tentang alasan" Jawab Philip berusaha untuk tidak mengganggu privasi orang lain. Bagi Philip alasan hanya pembenaran semata.
"Aku akan memberitahu nanti, yang jelas kau bisa mendukung kami kan? dan maaf.. maaf perkataanku yang terakhir kali" Ucap Rio merasa bersalah saat mengucapkan jika orang lain tak menganggap jika Philip masih ada.
"Aku tak paham maksudmu" Jawab Philip enggan memperpanjang masalah. Rio tersenyum melihat adiknya yang tumbuh sedikit dewasa. Sifat labil dan marahnya bisa dikendalikan.
"mas.." Tanya Philip lagi dengan nada ragu
"apa?" tanya Rio mengalihkan semua perhatiannya untuk Philip.
"Sering-sering kesini ya" Pinta Philip belum mau kehilangan kakaknya. Rei yang memandangi keduanya hanya bisa terenyuh. Sifat manja dan bergantung Philip pada Rio dan kasih sayang Rio pada Philip terlihat begitu nyata.
"Kuliahmu mulai kapan?" Tanya Rio pada Rei
"Tiga minggu lagi" Rei menjawab dengan antusias.
"Bisa membagi waktu?" Tanya Rio membuat Rei berfikir
"Jadwalku belum keluar, mungkin jika aku biasa masak 3 kali sehari, setelah kuliah tidak lagi" Jawaban Rei tentu saja sedikit membuat Philip sedih. Dulu Rio yang selalu membuatkannya makan tiga kali sehari sebelum Rei dan setelah ini tidak lagi. Ia terlihat begitu lemah.
"Aku bisa belajar masak sendiri" Ucap Philip membuat Rio terperangah mendengar jawaban itu. Rei dan Rio saling beradu pandang tak percaya dengan jawaban Philip.
"aku serius" tambah Philip lagi yang membuat keduanya saling mengangguk dan tersenyum mempercayai Philip yang berubah menjadi lebih dewasa dengan begitu cepat.
❤
❤
__ADS_1
❤
Persiapan pernikahan sudah 89% di lakukan, tinggal menghitung hari untuk menuju pelaminan, Kini Rei dan Philip sibuk membungkus undangan yang akan di sebar kepada rekan kerja Rio. Rio sendiri kini tengah sibuk memadatkan pekerjaannya untuk persiapan cuti yang diberikan perusahaan untuknya. Tentu saja membuat ia lebih sering lembur.
"Undangannya cantik bukan?" Tunjuk Rei ada Philip melihat desain undangan dengan gerigi disisi samping, undangan berlapis dengan pita sebagai penutupnya. Desain undangan berwarna biru dengan paduan warna pink yang dipesan berdasarkan warna kesukaan masing-masing.
"Hanya pemborosan" Sirik Philip yang memang memiliki gengsi tinggi untuk mengiyakan pendapat. Rei sudah cuku mengenal Philip dan ia sudah mengerti cara berfikir Philip.
"Aku tak hanya ingin di pernikahan , saat purnama nanti" Ucap Philip yang tak bisa membayangkan jika di purnama nanti dirinya menghabiskan harinya di pernikahan kakaknya.
"Mau jalan-jalan?" Tanya Rei yang dibalas anggukan oleh Philip. Ia tak begitu menyukai keramaian para pembisnis berkumpul.
"Pantai lagi?" Tanya Rei yang dibalas senyum tipis oleh Philip. Entah sejak kapan dirimu mulai menyukai pantai.
"Kau bilang akan mengajariku masak" Tagih Philip membuat Rei menghentikan aktivitasnya. Ia tengah melipat undangan saat ini dan ucapannya mampu mem-pause gerakannya.
"Kau yang bilang" Tambah Philip lagi.
"Kau juga tau aku tak pandai masak" Ucap Rei lagi ragu
"Kalau gitu bantu aku masak untuk siang ini" Tawar Rei enggan menghamburkan bahan. Ia tahu tak mudah untuk mengajari memasak dari dirinya yang masih ala kadarnya. Rei pergi ke dapur dan melihat bumbu rempah dan bahan baku yang tersedia.
"Syukurlah~ masih banyak" Ucap Rei yang tak perlu lelah untuk pergi ke pasar ataupun minimarket. Rei kembali duduk lesehan pada karpet berisi segudang undangan yang harus disusun perblok.
"Kau sudah menemukan yang ingin kau buat?" Tanya Philip saat Rei kembali.
"Nugget ayam dengan bumbu asam manis, trus ditambah acar, anggap aja kaya Steak gitu" Pinta Rei yang bahkan tak tahu bentuk steak yang sebenarnya.
Jam dinding terus berputar tanpa lelah sedangkan Philip dan Rei kini begitu kelelahan setelah duduk diatas karpet hampir selama 2 jam.
"Selesai" Rei begitu riang membenarkan undangan terakhir dan langsung membaringkan diri di karpet meluruskan tulang punggungnya yang mulai pegal.
"Ayo masak" Ucap Philip tiba-tiba membuat Rei mendelik. Ia baru saja meluruskan punggung. Ia sedang kelelahan dan Philip memintanya memasak
"Kau bilang akan mengajari ku" Tagih Philip lagi membuat Rei memaksakan senyumnya. Tuannya tak kenal lelah.
__ADS_1
"Apa kau tak lelah? Sudah hampir dua jam duduk bersila" Rei tak habis pikir
"Mataku lelah, tapi tubuhku tidak" Jawab Philip dengan santai dan ia bergegas meletakan undangan yang telah di susunnya ke meja ruang tamu. Rei berjalan malas menuju dapur untuk menyiapkan makan malam. Philip menyusul Rei kemudian.
"Pertama apa?" Entah apa yang merasuki Philip hingga ia begitu antusias hari ini.
"Pertama siapin bahan, nah aku udah nyiapin bahannya" Rei menyiapkan satu bungkus nugget yang isinya tinggal separuh, bawang bombay, bawang putih, cabai rawit, tomat, saos cabai, garam dan gula. Philip memandang asing semua bahan.
"Ini apa?" tunjuk Philip pada bahan berbentuk bulat segenggaman.
"Bawang bombay" jawab Rei
"Bawang? ada yang seperti ini?" Tanya Philip dan menggenggam bawang bombay, ia tak tahu ada bawang raksasa bernama bombay.
"itu ada" Jawab Rei menahan tawa melihat raut terkejut Philip.
"Kalau begitu ayo" Ujar Philip
"Karena ini kali pertama kau hanya melihat dulu" Ujar Rei yang sudah lapar, ia tak mau makanannya dirusak oleh tangan ajaibnya.
Rei memasukan seluruh nugget yang tersisa ke dalam minyak panas dan Philip mengamatinya percikan minyak yang mendidih bagaikan ia menonton pertunjukan.
"Nah sudah matang kita tiriskan" Rei meniriskan nugget yang sudah berwarna kuning kecoklatan
"bagaimana kau tahu itu sudah matang?" Tanya Philip ragu
"Lihat warnanya dan ini memang sudah matang, cukup dimasak 3-4 menit dengan api sedang" Tambah Rei menjelaskan api yang digunakan.
"Harum nya" Philip menyukai aroma nugget yang sudah matang
"Kita buat bumbunya sekarang" Dan Philip mengamati dengan seksama bagaimana Rei bahan yang sudah di potong kecil dan ditumis.
Rei memasukan saus cabai dan nugget yang telah di tiriskan kembali di masak. Philip menatap takjub pada makanan yang dibuat Rei kini.
"Ini mudah" Ucap Philip dan akan mencobanya saat Rei sibuk kuliah nanti.
__ADS_1
"Kelihatannya" Tambah Rei membuat Philip menatap sinis Rei tak terima. Philip percaya ia akan sangat mudah memasak seperti itu.