The Cursed Prince

The Cursed Prince
PRINCE 8


__ADS_3

Para siswa kini tengah di sibukan dengan Ujian Nasional yang digelar selama 4 hari dengan satu mata pelajaran perhari. Philip mengerjakan dengan baik, ia bukan anak yang harus belajar lebih untuk mendapatkan nilai terbaiknya. Ia memang terlah terlahir cerdas dan mudah menangkap sesuatu dan mendapatkan yang diinginkan.


Ia masih memiliki 3 kekasih yang harus ditemui setelah ini.


"Philip" sapa Dinda yang kini tengah menunggunya di gerbang sekolah Philip. Umur Dinda satu tahun dibawahnya.


"Kau datang?" tanya Philip yang memberinya pelukan.


"Libur kan ? pasti banyak waktu luang" tanya Dinda yang dibalas anggukan Philip. Philip dijemput Rio dengan mobilnya.


"baru lagi?" tanya Rio yang diabaikan oleh Philip. Philip tahu Rio tengah memancingnya.


"Turun sini mas" Ujar Rio pada tempat Make It Cake.


Make it Cake


"Kau harus membuatkanku kue selamat" ujar Philip menarik tangan Dinda. Dengan senang hati mengikuti langkah Philip.


Di tempat itu Philip memilih kue polos dan beberapa hiasan untuk mempercantik kuenya.


"Kau yang hias" pinta Philip dengan penuh harap


drrrtttt drtttttt


Rachel menelponnya


"Sayang, kamu dimana?" Tanya Rachel dari sebrang sana


"Aku baru pulang ujian, Kau mencari ku?" tanya Philip yang kini baru saja sampai


"Sayang, nanti ke bioskop yuk, ada film bagus" Pinta Rachel


"Jam 3 sore aku akan menjemputmu, sayang" Balas Philip dengan senyum tipisnya


"oke , Rachel sayang Philip"


"Sayang Rachel juga 💋" Philip mematikan teleponnya.


Dan Kini Philip memfokuskan perhatiannya pada Dinda yang tengah menghias roti dengan hati-hati. Philip duduk didepannya ikut menghias sesekali mengisengi dinda dengan memoleskan coklat ke wajahnya.


"Ya, wajahku" Ujar dinda saat coklat menempel di pipinya dan hendak mengelapnya


"bukan begitu" Ujar Philip dan kini beralih duduk disampingnya.


Mendekatkan wajahnya dan secara refleks dinda menutup matanya. Mendapatkan ijin seperti itu Philip semakin mendekatkan wajahnya.


Cup

__ADS_1


Philip mencium pipi dinda yang terasa manis coklat, dan membersikan pipinya dengan lidahnya.


"Kau bukan anak dibawah umur, kau tak perlu malu-malu" ujar Philip yang kini menyenderkan dirinya di bahu dinda.


"Manis sekali" ucap Philip mengingat brasa coklat yang menempel di pipinya. Sementara dinda memalingkan wajahnya yang memerah.


"Biasanya ga agresif kek gini" ujar Dinda pada Philip yang membuat Philip tertawa kecil.


"itu baru pipimu" ujar Philip yang membuat Dinda bungkam tahu maksud Philip.


"Dah selesai" ujar Dinda dan Philip menatap kue yang dihiasnya. Tak terlalu ramai dengan hiasan.


"Ku foto dulu" ujar Dinda mengambil ponselnya dan menit Philip dengan kue yang dihiasnya.


"Sekarang kita selfie" Pinta Dinda mengaktifkan kamera depannya.


-


-


-


Didalam Mansion kini Philip bersama keluarga tengah merayakan party kecil karena Philip telah menyelesaikan tugasnya sebagai pelajar SMA.


"Kamu mau daftar dimana?" tanya Ayahnya membahas study lanjut yang akan dipilih anaknya. keluarga mereka tak pernah mengekang keinginan Philip. walau bukan hubungan manis namun tak pernah ada pertengkaran didalamnya.


'Karena aku lulus aku akan memutuskan semuanya' batin Philip ingin mencari gadis lain, Gadis universitas yang baginya terlihat lebih dewasa. Di dalam kamarnya Philip mengirim pesan broadcast pada pacar-pacar yang dimiliki. kini tak lagi 3 karena memang selalu bertambah setiap minggunya.


-Hatiku telah berubah, maafkan aku, aku tak bisa menjalin hubungan denganmu lebih lama-


satu kalimat tiga jeda philip kirim pada wanitanya. Membuat ponselnya ramai seketika dan Philip memilih mengabaikannya. Ini bukan kali pertama Philip. liburan panjang ia harus menghabiskan waktu bersama kakaknya, Rio. Ia akan menghabiskan waktu untuk belajar tentang berkas perusahaan dan melanjutkan hobinya dalam desain grafis.


drtttty drtttttt


Temui aku di 'Coffeecafe'


satu pesan dari Rachel, hanya Rachel yang membalas pesannya dan menarik dirinya.


ok


Balas Philip. Dan bergegas menemuinya. Alasan Philip menemuinya karena Rachel satu-satunya yang meminta bertemu sedangkan yang lain mempertanyakan kesalahannya.


"Sudah kukatakan aku tak lagi mencintaimu" Ujar Philip sesampai di CoffeCafe


"Ya! kau main-main denganku?! aku bahkan tak melakukan kesalahan apapun" Rachel meninggikan suaranya membuat Philip menggosok telinganya, terganggu dengan suara nyaring dari Rachel.


"aku tak tahu kau menyukaimu sedalam itu" Cibir Philip pada Rachel, ia ingat Rachel sangat agresif dipertemuan awal. Ia tak menyangka akan melihat air mata dari perempuan yang menggoda dirinya.

__ADS_1


"Dan lagi kau bukan satu-satunya wanita bagiku, Kau pikir aku seperti itu hanya padamu?" Ucap Philip lagi dan menyodorkan ponselnya dimana ada sekitar 6 kontak yang dikirimi pesan yang sama. Rachel membaca pesan dengan sorot mata tak menyangka.


"Bahkan yang lain mempertanyakan kesalahannya dan meminta maaf padaku" Rachel membaca pesan dan memandang Philip secara bergantian.


"Kau tak bisa memperlakukan ku seperti ini" Geram Rachel menatap Philip.


PYAARRRRR


Rachel membanting ponsel Philip membuat Philip mendelik tajam, Kini mereka menjadi tontonan.


"APA YANG KAU LAKUKAN!" Gertak Philip dengan nada tinggi membuat Rachel tertawa senang melihat ekspresi marah Philip.


"Aku hanya merusak ponselmu" Ujar Rachel lagi


"Tarik ucapanmu" Pinta Rachel dengan nada putus asa


"Aku sudah bulat dengan keputusanku, kau hanya kenangan SMA-ku dan aku akan berjalan pada perjalanan selanjutnya" Jawab Philip dengan tenang.


"kau akan menyesal memperlakukanku seperti ini" Tangis Rachel pecah kepa Pria yang kini berdiri angkuh didepannya. Air mata itu tak membuat pria itu luluh.


"Aku sudah mengatakannya, aku tak pernah mengencani hanya satu gadis" Jawab pria itu dan berbalik meninggalkan Rachel dengan air matanya. tak peduli dengan teriakan Rachel dan tontonan orang-orang.


"kau sungguh akan menyesal Philip" Ucap Rachel dengan sorot mata tajam


-


-


-


Philip menghabiskan harinya untuk membalas pesan dari wanita-wanita yang diputuskannya. Tak sedikit yang merutuki dan menyumpahinya. Philip sudah terbiasa dengan pesan seperti itu. Philip tak ambil pusing dan kini ia membaringkan tubuhnya menatap langit-langit kamarnya.


Langit-langit itu begitu tinggi. Rio masuk ke kamarnya


"Ayo taruhan" Ajak Rio mengajak bermain game.


"taruhan apa lagi, aku udah beresin kamarku" ujar Philip


"Mas, aku jomblo sekarang" ujar Philip membanggakan dirinya dan membuat Rio menghampirinya. Meraba keningnya.


"Kau tak sakit? apa kau gila? karena disuruh kuliah?" tanya Rio sedikit khawatir dengan sikap tak biasa Philip.


"Mereka membosankan" ujar Philip membuat Rio menghembuskan nafas kasar mendengar jawaban Philip.


"berhenti main-main dengan wanita, atau kau kena karma nanti" ujar Rio memberi nasihat yang dianggap angin lalu oleh Philip.


"Mas kapan nikah?" tanya Philip

__ADS_1


"berisik, taruhan batal" Ujar Rio dan pergi berlalu begitu saja


__ADS_2