
Wanita itu berkacak pinggang didepan pria yang didepannya dipenuhi bau dupa. "Apalagi kali ini?" tanya Pria itu membuat wanita didepannya tersenyum lebar. "Kau sangat tahu apa yang ku inginkan boy" Wanita itu tersenyum lebar menghampiri laki-laki yang di panggil boy.
"Aku baru mengencani orang baru-baru ini" Ucap wanita itu sembari merapikan poni rambutnya. Rachel Dwinata. "Kau diputuskan lagi?" tanya boy dibalas anggukan oleh lawan bicaranya. "Kali ini katakan dengan jelas apa yang kau inginkan" Ucapnya membuat senyum itu kian cerah. Rachel duduk disampingnya menyilangkan kakinya.
"Kali ini buat dia lebih menderita" Pinta Rachel dengan sorot mata penuh kekesalan. "Dia menyombongkan wajah tampannya, aku tidak suka" Ucap Rachel dengan manja dibalas anggukan mengerti oleh pria itu. "Dia orang yang sangat kaya raya, aku tak memintamu menjadikannya miskin, tapi buat semua orang meninggalkan dia, jangan lupakan wajahnya yang membuatku muak" Ucap Rachel dengan nada ketusnya. "Janji ini yang terakhir?" tanya pria bernama boy itu.
"Kenapa harus terakhir?" Rachel mengerjapkan matanya tak ada balasan. Rachel mengangguk setuju. "Ini terakhir" putus Rachel.
Rachel berjalan riang menuju rumahnya. Ia selalu mendatangi pria itu jika suasana hatinya buruk. Boy sendiri merupakan pria yang lebih muda darinya, ia sedang mencoba kemampuan ilmu sihir yang di peroleh turun menurun dari moyangnya. Ilmu sihir atau ilmu hitam baginya sama saja.
"Aku tak sabar menunggu apa yang akan terjadi" Rachel memejamkan matanya. Ia akan tidur nyenyak malam ini. Sebuah pesan masuk membuatnya menyipitkan mata mencari ponsel dikasurnya.
Boy : "Aku sudah melakukannya"
Pesan singkat yang membuat Rachel kegirangan, "aku akan mentransfer uangnya besok" Ucap Rachel menggunakan voice messegenya. Ia kembali memejamkan mata. Malam ini begitu menenangkan baginya.
***
Rachel bangun dari tidurnya, ia akan hangout dengan teman-teman sebelum perpisahan nanti. Beberapa hari lalu ia baru menyelesaikan ujian untuk kelulusannya. Ia memesan Frapuchino sambil tertawa disela pembincangan seru dengan temannya.
"Rachel, bukannya itu cowokmu yang dulu?" tanya Fina menunjuk layar ponselnya yang memberitakan kematian pewaris dari perusahaan ternama. Wanita itu menscrool membaca headline yang mengeluarkan statment tak selaras.
'Bunuh diri' , 'Pembunuhan' , 'Kecelakaan' membaca headline itu membuat Rachel pening seketika. "Kenapa cowok gue mati!" Erang Rachel mengambil tasnya dan pergi begitu saja. Ia akan menghampiri penyihir kecil boy. Dukun kecil tepatnya.
BRAKK!!! Rachel dengan tatapan mengeram marah menatap tajam boy yang terkejut.
"Ada apa?" tanya boy tak mengerti dengan kilatan amarah di sorot mata lawannya.
"SIAPA YANG NYURUH LO BUNUH PHILIP!!! GUE BILANG BUAT DIA DI BUANG! BUAT DIA GA BISA NYOMBONGIN WAJAHNYA!!" Pekik Rachel dengan lantang membuat pria didepannya beringsut masih tak mengerti arah pembicaraannya.
__ADS_1
"KENAPA LO BUNUH PHILIP!!!!" Tuduh Rachel lagi membuat boy menggelengkan kepalanya "Aku ga bunuh siapa-siapa" Elak boy yang memang tak merasa membunuh siapapun. "TERUS INI APA??!!" Rachel melempar ponsenya dengan layar yang menunjukan headline news hari ini. Boy membelalakan matanya tak kalah terkejut. "Tapi aku tak membunuh siapapun" Boy terus mengelak. "Dia belum mati" Imbuhnya lagi membuat Rachel terus menggeram.
"Aku akan membuat perhitungan denganmu boy!!" Ancam Rachel dan pergi dengan melemparkan pintunya menutupnya dengan keras. Amarah Rachel naik turun meninggalkan boy yang kini memegang ponselnya. "Apa yang terjadi?" Monolog boy tak mengerti.
***
Rachel menghela nafas mengakhiri ceritanya. Philip menatap wanita gila didepannya dengan tatapan percaya.
"Kutukan itu seharusnya tidak lama tuan muda, karena aku terus menghubungimu" Ucap Rachel membuat Philip menunduk "Aku menghancurkan ponselku" Jawab Philip.
"See, lihat. Aku sudah mencoba menperbaiki namun dia mengacaunya" Rachel tak mau disalahkan. Rei juga diam, ia merasa tak berhak mencampuri perbincangan ini. Ia hanya akan menengahi jika perselisihan semakin sengit.
"Kupikir kau beneran mati" Kekeh Rachel sambil menunjuk Philip. "Ternyata masih dalam kutukan itu".
"Yang jelas itu bukan lagi salahku, orang tuamu yang mencampuri urusanku" Ujar Rachel dengan nada tajamnya.
"Tentu saja, makanya ayo buat kontrak, aku tak mau dirugikan setelah ini" Ucap Rachel yang mulai menulis di secarik kertas yang diberikan oleh Rei. Penanya menari dalam genggamannya. "berapa yang kau mau?" tanya Philip tak menyerah. Sejauh ini uang selalu menang dalam perdebatan sengit apapun.
"Aku memang butuh uang, tapi untuk sekarang aku lebih menginginkan tubuhmu daripada hartamu" Senyum miring terpajang nyata di bibir Rachel meninggalkan keterkejutan diwajah Rei dan Philip.
"Kenapa serius sekali sih" Rachel kembali tertawa sembari menyodorkan secarik kontrak yang harus ditandatangani keduanya.
***Yang bertanda tangan dibawah ini :
Saya Philip Anderson dan Freissya Magdalena akan membantu pihak pertama ( Rachel Dwinata ) dalam segala hal dalam membangun bisnis yang sedang dijalaninya. Kontrak ini berlaku hingga waktu yang tidak bisa dipastikan dan akan dipertanggung jawabkan dengan sebaik-baiknya.
Yang bertanda tangan (Philip Anderson)
Yang bertanda tangan (Freissya Magdalena)
__ADS_1
Disetujui oleh (Rachel Dwinata***)
"Tanda tangani ini" Titah Rachel pada Philip dan Rei membuat keduanya saling melempar pandangan. "Kurasa ini bukan hal buruk" Ujar Rei merasa tak ada yang salah. "Kalau kau yang bilang begitu, maka akan kutanda tangani" Jawab Philip meraih pena dan menanda tanganinya.
"Okey selesai" Rachel tersenyum menang, ia mengeluarkan ponselnya lagi dan memotret bukti kontrak.
Cekrek
Cekrek
Cekrek
Rachel memoto surat perjanjian itu sebanyak tiga kali dan mengirim pada nomer Rei yang digunakan untuk menelpon kemarin.
Rachel membuka dompetnya dan mengacungkan kartu nama pada Rei. "Besok kalian temui aku disini" Tunjuk Rachel pada alamat yang tertera.
"Rich's Modiste" Gumam Rei membaca kartu nama yang terpajang. "Kalau begitu aku pulang dulu" Ujarnya sembari memakai kacamatanya lagi. Tasnya sudah bertengger dilengannya.
"Kau kabur begitu saja?" Geram Philip membuat Rachel menyipitkan matanya di balik kacamatanya. "Memang sudah selesai, apa yang kau harapkan?" Senyum miring itu tak henti menghiasi wajahnya
"Aku akan membunuhmu jika fotoku sampai tersebar" Ancam Philip dibalas anggukan mengejek oleh Rachel. "Okey, Aku sudah tak sabar menunggu kau membunuhku tuan" Jawabnya tetap dalamm keangkuahan yang kuat.
"Sampai jumpa besok tuan muda Philip dan kau anak muda, kau harus mencari pekerjaan baru, ini nasihat dari orang yang lebih tua darimu" Rachel melambaikan tangannya dan menghilang di balik pintu. Rei menggenggam lengan Philip yang hampir mengejarnya.
"Kenapa kau menghalangiku" tanya Philip lirih menatap tangannya yang digenggam.
"Dia penipu" tambah Philip lagi mendesis geram
"Aku akan menemuinya lagi jika ucapannya tak bisa dipercaya" balas Rei menenangkan tuannya. Membuat tuannya terduduk lemah dibangkunya. Nafasnya masih memburu selaras dengan emosinya yang belum turun
__ADS_1