
Kini media benar-benar tertarik dengan kebenaran kematian pewaris tunggal PA Entertaiment, hampir semua berita menyelipkan PA Entertaiment sebagai berita terbaru. Berita tersebut membuat saham di perusahaan menurun dan perusahaan dibuat kalang kabut karena berita itu. Tak ada yang mengetahui kebenarannya kecuali keluarga Philip sendiri. Sehingga sulit untuk mengklarifikasinya.
Ayah Philip untuk pertamakalinya setelah 7 tahun datang berkunjung ke mansion setelah berita ini tersebar. Rio dan Rei menyambut dengan penuh kewas-wasan. Sementara Reyna di minta untuk tidak menimbrung karena pembahasan penuh rahasia.
“Kalian tinggallah disini” Ucap ayah Philip bermaksud untuk meminta Rio dan Reyna tinggal dimension.
“Itu bisa untuk mengurangi kecurigaan media, katakana jika yang beredar itu fotomu” titah ayah Philip yang membuat Rei mengkerutkan dahinya merasa tak setuju dengan ide yang diberikan.
“Tapi untuk foto yang beredar di pernikahan bagaimana?” Tanya Rio dengan hati-hati. Ia tahu kesalahannya namun ia tak menyesali membuat pertemuan diantara keduanya.
“Itu salahmu! Siapa yang mengundangnya! Kau bertindak gegabah” Ayah Philip menyalahkan Rio sepenuhnya dengan suara lantang.
“Kau ajak Reyna pergi, aku akan berbicara dengan Philip” Perintah mutlak ayah Philip pada Rei
“Kalau begitu saya pamit dulu” Ucap Rei dengan penuh rasa sopan.
Rei mengamati interaksi keduanya hingga menutup pintu. Ia tak bisa membayangkan menjadi Philip yang disalahkan sepenuhnya hanya karena kerinduan. Kerinduan yang tak berbalas sama menyakitkannya dengan mencintai bertepuk sebelah tangan, terlebih oleh orang tuannya sendiri. Rei menghela nafas panjang dibalik pintu hingga akhirnya mengajak Reyna yang sedari tadi berdiam dikamar.
“Mba, ngobrol diluar yuk” Ajak Rei yang dibalas anggukan oleh Reyna. Ia masih canggung. Ia hanya mengenal Rio dan tidak merasa akrab dengan keluarganya. Reyna membawa tas selempangnya dan menguncir kuda rambutnya sebelum keluar kamar. Rei sudah menunggu dengan pakaian santainya.
“Banyak hal yang terjadi dan diluar praduga kita” Ucap Rei sambil berjalan menuju gerbang utama mansion
“Kau sudah lama bekerja disini?” Tanya Reyna yang melihat Rei sudah terbiasa, bahkan umurnya sangat muda.
“Baru dua kali purnama” Jawab Rei yang tak ingat kapan tepatnya dia masuk kerja
“Dua purnama? Ah dua bulan?” Tanya Reyna lagi yang dibalas anggukan oleh Rei
__ADS_1
“Apa Philip baik-baik saja? Sepertinya masalahnya menjadi panjang” Reyna mengkhawatirkan adiknya. Ya, sekarang Reyna tak memiliki perasaan lebih. Philip hanya adik baginya. Adik dari suaminya.
“Apa dia pergi atau bersembunyi?” Tanya Reyna yang penasaran karena tak bisa bertemu dengannya walaupun mereka datang cukup pagi. Pertanyaan itu membuat Rei memutar otak mengingat pertanyaannya cukup sulit untuk dijawab.
“Philip.. ehmm, tuan Philip hanya datang sebulan sekali” Jawab Rei
“Sebulan sekali? Apa dia sesibuk itu, bahkan perusahaannya sekarang sedang bermasalah” Gumam Reyna yang hanya dibalas senyum tipis oleh Rei. Ia tahu pernyataan itu tak memerlukan jawaban.
“Jadi kita mau kemana?” Tanya Reyna saat mendapati langkah mereka sudah mencapai jalan raya.
“Ngobrol ringan aja, ada yang mau Rei tanyain juga, kedai kopi gimana? Suka kopi?” Tanya Rei beruntun yang dibalas anggukan oleh Reyna.
“Boleh, Udah lama ga nongkrong juga” Jawab Reyna mencoba mengakrabkan diri.
***
“Kau tau akibat yang kau perbuat!”
“Keegoisanmu!”
“Kenapa kau datang saat semua orang menganggapmu mati!!!”
“Aku takkan datang jika ayah mau mengunjungiku” Jawab Philip dengan hati-hati namun jawabannya tak mendapat respon baik. Tamparan mendarat di pipinya. Tamparan yang tak menyakiti fisiknya sama sekali. Namun tamparan itu justru menusuk hatinya. Philip hanya pria yang kehilangan masa remajanya karena wajahnya.
“Apa yang akan kau lakukan?” Tanya ayahnya dengan nada penuh penekanan
“Aku akan memikirkannya” Jawab Philip semakin lemah
__ADS_1
“KARENA ITU JANGAN BERTINDAK BODOH!!!” Ayah Philip kalap dan melempar barang yang ada didekatnya. Memecahkannya hingga hancur berkeping-keping. Air mata tertahan Philip tak menggoyahkan hati ayahnya.
“KAU!! PINDAH KERUANG BAWAH TANAH” Putus ayah Philip dan keluar dari ruangan itu. Disusul dengan Rio yang mencoba menenangkan ayahnya. Philip merosot terduduk. Ia bahkan mengabaikan pecahan kaca yang melukai dirinya.
‘Ruang bawah tanah ? Gelap ? Sendiri ? Apa ayah akan menguburku secara perlahan’ Sebulir air mata menetes diikuti dengan air mata yang lainnya, Philip menangis sesenggukan meringkuk didalam kamar luasnya.
‘Ruang bawah tanah’ Philip memikirkan ruangan sempit yang mungkin akan membunuhnya secara perlahan. Philip menundukan kepalanya menekuk lutunya. Menyembunyikan wajahnya dibalik kedua lututnya. Ia menangis hamper selama 3 jam lamanya. Rio belum juga kembali. Rei juga tak menghampirinya.
“Pada akhirnya semua orang meninggalkanku” Ucap Philip dengan senyum miringnya. Ia merutuki dirinya yang begitu sial. Ia menyalahkan masa lalunya yang arogan. Ia menyalahkan dirinya.
***
Sementara Rio terus bernegosiasi dengan ayahnya mengenai keputusan ayahnya yang terbilang berlebihan.
“Itu belum seberapa!” Gertak ayah Philip yang membuat Rio bungkam
“Aku bahkan ingin membuangya” Ucap ayah Philip membuat Rio membelalakan kedua matanya.
“ayah” Rio kalut tak tahu berada di pihak yang mana. Disatu sisi ayah Philip yang membesarkannya dan Philip yang selalu menemani masa kecilnya hingga saat ini.
“Kau tau letak ruang bawah tanah?” Tanya ayah Philip yang dibalas gelengan kepala oleh Rio. Ia tak pernah mendengarnya. Ia bahkan tak tau jika ada ruangan seperti itu didalam mansion ini.
Ayah Philip menggeser lemari buku yang ada didekat ruang tamu. Begitu lemari buku itu bergeser sebuah tangga menuju arah bawah terlihat begitu gelap dan menakutkan.
“Ayah ingin membiarkan Philip sendiri dalam kegelapan seperti itu?” Tanya Rio tak habis piker. Tangga itu begitu gelap bahkan pada tangga ketiga hingga seterusnya tak terlihat. Rio menggelengkan kepalanya membayangkan adiknya seorang diri didalam ruangan gelap itu.
“Itu hukuman yang layak untuknya” Jawab ayah Philip tanpa rasa bersalah.
__ADS_1
“Akan banyak media yang nantinya akan datang, segera sembunyikan dia atau aku akan menjual mansion ini sehingga tak ada tempat persembunyian lagi untuknya” Ucap ayah Philip mutlak. Perintahnya tak bisa dirundingkan lagi. Rio hanya mengangguk lemah. Setelah member tahu keberadaan ruang bawah tanah, ayah Philip keluar dari mansion dan pulang ke rumahnya. Meninggalkan Rio yang terduduk didepan tumpukan buku yang menjadi pintu utama ruang bawah tanah. Ruanga rahasia yang saat ini hanya dia seorang yang tahu. Rio menghela nafas gontai menuju ruang tamu. Wajahnya pucat membayangkan nasib adiknya. Ia merasa malu karena tak berdaya didepan orang yang membesarkan dirinya.