
Reyna dan Rei kini berada di kedai kopi, segelas kopi latte menemani keduanya. Rei menggigit bibirnya ragu untuk memulai pembicaraan. Sementara Reyna menunggu Rei berbicara.
“Kau masih kuliah?” Tanya Reyna yang dibalas anggukan oleh Rei
“Aku akan memulai semesterku besok” Jawab Rei yang sudah mendapat jadwal kuliahnya
“Lalu kau akan berhenti bekerja?” Tanya Reyna yang membuat Rei mengkerutkan keningnya. Semua orang menanyai hal yang sama.
“Aku tetap bekerja, Aku diberi keringanan” Jawab Rei yang dibalas anggukan mengerti oleh Reyna
“Aku tak tau jika Philip sebaik itu” Ucap Reyna
“Mungkin dia sudah banyak berubah” Jawab Rei seadanya, ia tak tahu apapun tentang orang yang ada disekelilingnya.
“Jadi apa yang mau kau bicarakan?” Tanya Reyna membuat Rei menyengir kuda
“Kurasa aku ingin lebih akrab, kalian akan tinggal dimension?” Tanya Rei memulai percakapan yang jauh dari rencana
“Ga tau sih, Mas Rio ga bilang apa-apa, aku ikut aja” Jawab Reyna yang hanya berfikir ia akan ikut dimana suaminya akan tinggal. Reyna bahkan sama sekali tak berfikir jika akan tinggal dimension yang terlalu besar untuknya.
“Kau pasti lelah bekerja sendiri, aku bahkan sedikit lelah hanya berjalan dari gerbang utama ke ruang tamu” Reyna tertawa memikirkannya saat mobil yang ditumpanginya memasuki gerbang yang disapa dengan pepohonan rindang dan di akhiri dengan taman kecil.
“Memang terlalu besar, tapi lama-lama terbiasa” Jawab Rei. Dan Rei berhasil mengalihkan topic. Ia tak bertanya tentang nama-nama wanita yang mungkin pernah dikencani Philip. Ia tidak merasa benar, Jika ia menanyakannya hanya akan menimbulkan kecurigaan Reyna terhadapnya. Sementara di mansion Rio berjalan gontai menuju lantai tiga dimaana Philip berada. Langkahnya terasa begitu berat. Rio memasuki kamar adiknya tanpa bisa berkata apapun. Hanya keheningan yang ada. Philip sendiri bahkan tak berani bertanya melihat raut gelisah kakaknya. Dalam pikiran Philip ayahnya pasti marah besar.
“Ayahmu memintaku untuk memindahkanmu” Ucap Rio setelah menghela nafas berat dengan nada lirihnya
“Apa ayah membeli rumah khusus untukku?” Tanya Philip dengan nada hati-hati, Rio tak menjawab ia hanya menggelengkan jawaban menunjukan jika kenyataannya tidak seperti yang Philip pikirkan.
“Ayo turun, ku tunjukan tempatnya” Ucap Rio berjalan mendahului Philip, Rio bahkan menghindari kontak mata tak berani menatap wajah adiknya, Ia tak ingin adiknya melihat luka dalam pandangannya. Philip hanya menuruti Rio, mengikuti dibelakangnya tanpa banyak bertanya. Sampai di lantai dasar. Sepi. Tak ada siapapun. Hanya ada Rio dan Philip dirumah itu.
__ADS_1
“Mereka pergi?” Tanya Philip yang tak mendapat jawaban. Keduanya berhenti di lemari buku berwarna putih. Rio membuka lemari dan menggeser rak buku. Sebuah tangga menuju bawah terlihat begitu gelap. Philip membelalakan matanya mulai mengerti yang dimaksud dipindahkan.
“Mas, Philip ga bakal disembunyiin didalem sanakan?” Philip melongok kedepan dan menatap kegelapan yang begitu jelas didepan matanya.
“Mas, Mas tau sendiri Philip takut gelap” Philip menatap Rio meminta kejelasan dan rio hanya bungkam
“Mas” Panggil Philip sekali lagi memastikan jika yang dikatakannya hanya untuk menakutinya
“Ini juga bukan mau mas” Rio akhirnya bersuara dengan lirih
“Nanti mas kasih pencahayaan didalamnya” Ucap Rio berusaha tegar, Ia menatap Philip tanpa ragu, memastikan jika yang dilakukan bukanlah hal yangs sulit. Ia akan membuat sesuatu yang terlihat menakutkan menjadi tak menakutkan sama sekali.
“Mas serius?” Tanya Philip menelisik mata Rio
“Mas, kalian ga bermaksud bunuh aku secara perlahankan?” Philip mundur selangkah saat pertanyaannya tak dijawab., Philip akhirnya paham dengan raut wajah mas Rio yang begitu gelisah.
“Bunuh secara langsungpun bukan masalah” Jawab Philip dengan sedikit tawa yang terdengar pedih. Philip memilih menjauh dari tempat itu dan bergegas ke lantai tiga, menuju singgasananya. Menyembunyikan air matanya. Seorang diri.
Reyna dan Rei kembali dengan rona bersinar diwajah masing-masing. Keduanya berhasil mengakrabkan diri dan berteman. Mereka bahkan sempat berbelanja bahan makanan sebelum kembali kemansion.
“Kalian darimana?” Tanya Rio basa-basi saat melihat keduanya pulang
“Belanja” Jawab Rei sambil mengangkat kantung belanjanya.
“Mau balik sekarang mas?” Tanya Reyna yang dibalas anggukan oleh Rio.
“Ada tugas negara” Jawab Rio dengan memaksakan tawanya sambil menggoyangkan ponsel yang digenggamnya.
“Yah, maaf ga bisa masak bareng hari ini” Ucap Reyna dengan nada penuh penyesalan begitupula dengan Rei menjawabnya.
__ADS_1
“Sayang sekali” Ucap Rei dengan ekspresi yang tak jauh berbeda dengan Rei. Rio sendiri hanya menatap lucu interaksi keduanya.
“Lalu kau tinggal sendirian?” Tanya Reyna menatap sekeliling. Mansion itu terlalu besar untuk seorang diri.
“Orang lain pasti akan iri mendengarku tinggal dirumah sebesar ini, namun faktanya tak menyenangkan bukan?” Balas Rei yang mendapatkan tatapan iba dari Reyna
“Aku akan sering mampir kalau begitu, bolehkan mas?” Tanya Reyna yang mulai nyaman berteman dengan Reyna. Rio tentu saja tak memiliki alasan untuk menolak keinginan istrinya.
“Kalau gitu kita balik dulu” Pamit Rio dan disusul istrinya yang menggandeng mesra tangan suaminya.
“Iri sekali punya kekasih” Ucap Rei melihat kemesraan keduanya. Rei kembali melanjutkan aktivitasnya dan menuju dapur untuk menyimpan barang belanjaannya. Ia memilih barang sebentar untuk beristirahat. Berbelanja cukup memakan tenaga, terlebih langkah kaki yang ditujunya cukup jauh. Keduanya memang memilih berjalan kaki,Rei berfikir akan canggung jika harus naik taksi bersama. Dan memilih berjalan kaki. Rei kembali kekamarnya. Membaringkan tubuhnya dan memejamkan mata barang sebentar. Ia ingin istirahat setengah jam. Namun gagal ketika sebuah pesan masuk mengagetkannya.
Pergi ke lemari buku yang ada didekat kamarmu
Sebuah pesan dari mas Rio, membuat Rei mengernyitkan dahinya.
“Kenapa dia ga bilang apa-apa tadi?” Gumam Rei dan bergegas menuju lemari buku. Sebuah stick note berwarna kuning tertempel di pintu lemari.
Buka lemarinya
Rei tertawa kecil saat menemukan perintah yang menurutnya kekanakan. Kenapa harus menyuruhnya dengan sebuah stick note. Rei membuka lemari itu secara perlahan. Ia tak pernah membukanya karena takut melanggar privasi. Ia hanya bertugas memasak dan membersihkan rumah. Sebuah perintah kembali tertulis di stick note masih dengan warna yang sama. Tertempel di ujung rak didalam lemari.
Geser tepat pada perintah ini tertulis, akan ada ruang rahasia. Ruangan baru Philip
Rei mengenyitkan dahinya dan secara perlahan mengikuti perintah yang tertulis, Rei menggeser rak itu secara berhati-hati. Dan bingo! Rak itu bergeser. Sebuah ruangan bawah tanah membuat Rei tak bisa menutup mulutnya. Ia benar-benar terkejut kali ini sampai sebuah perintah menyadarkannya.
Ruangan baru Philip
Rei menatap tangga yang meremang dan berjalan ragu menapaki tangga dengan pencahayaan yang masih remang-remang. Rei berjalan dengan hati-hati.
__ADS_1
“Philip??!” Pekik Rei saat melihat sosoknya meringkuk seorang diri diujung tembok.