
Rei begitu gelisah melihat lawan bicaranya antusias. Apa sekesepian itu sampai ia harus diberondongi banyak pertanyaan. Ia bahkan harus mengabaikan Philip yang sedari tadi menunggunya. Rei mengerjapkan matanya berkali-kali menyadarkan dirinya.
“Tapi kok bisa sih pacaran belum lama udah diajak tinggal disini” Entah apa yang dipikirkan Reyna yang selalu menanyakan Philip. Tentu saja ini bukan pertanyaan yang wajar didengar dari mulut seorang mantan kekasih. Rei sendiri tak bisa mengelak dari pertanyaan ini, terlebih dari mulut wanita yang tak istri majikannya.
“Jadiannya gimana?”Tanya Reyna lagi yang membuat Rei kelabakan. Ia harus memikirkan sifat Philip.
“Ketemu di pantai waktu itu” Jawab Rei seadanya, ia cukup kelimpungan memikirkan cara namun pantai sudah dua kali mereka kesana. Dan hanya tempat itu yang terpikirkan.
"Trus jadian gitu aja? ga ada masa PDKT?" tanya Reyna lagi yang antusias.
"Memang terjadi begitu saja, aku juga ga ada alasan untuk nolak" Ucap Rei membebaskan mulutnya yang tak terkontrol. Itu hanya imajinasi saat purnama dengan Philip.
“Anak itu memang suka sekali pantai” Ucap Reyna tersenyum. Matanya seperti menyiratkan kerinduan yang mendalam.
“Aku harap Philip tak segera membuangmu” Ucap Rei tertegun, membeku sejenak. Ia paham dengan yang dimaksud Reyna. Dibalik lemari Philip tiba-tiba kesulitan bernafas, dadanya sesak seketika mendengar penuturan Reyna.
‘Rei tak boleh meninggalkanku’ Batin Philip mengkhawatirkan dirinya. Rei tersenyum tipis.
“Ga ada alasan Philip ninggalin aku mba, kaya ga inget umur aja, yang ada aku yang ninggalin dia nanti kalau macem-macem" Jawab Rei dengan yakin. Ucapanya memang tak sepenuhnya salah. Rei bisa pergi jika urusannya meomang sudah selesai.
Dan untuk saat ini memang Philip yang lebih membutuhkannya daripada dirinya yang hanya membutuhkan uangnya.
“Benarkah? Aku ditinggalkan karena aku tidak lagi cantik dimatanya” Ingatan Reyna kembali pada masa dia dicampakan begitu saja tanpa mengerti kesalahannya. Rei mendengus kesal. Ia tahu tuannya bukan pria yang baik namun setidaknya sekarang ia yang paling menyedihkan dari semua orang yang dikenalnya.
“Tapikan mba udah punya mas Rio yang sayang sama mba” Rei menghibur istri majikannya yang dibalas anggukan.
“Awalnya aku dekat karena aku masih punya harapan agar bertemu dengan adiknya, namun siapa sangka dia jatuh hati padaku, walaupun pada akhirnya aku juga menyayanginya. Tapi aku masih merindukan adiknya” Jawab Reyna membuat Rei kesulitan meneguk saliva. Rei terdiam sejenak.
“Aku takut Philip hanya meninggalkanmu disini dan membawa wanita lain pada akhirnya” Ucap Reyna yang terlihat begitu tulus. Rei ingin tertawa mendengar ucapannya. Ia benar-benar tak butuh ancaman seperti itu karena dirinya tak memiliki hubungan serius.
__ADS_1
“Mba ga usah khawatir, Philip sudah takluk” Balas Rei dengan yakin. Rei memejamkan matanya dan memaksakan dirinya menguap agar istri dari majikannya itu mau keluar dari kamarnya.
“Kamu ngantuk?” Tanya Reyna cepat yang dibalas anggukan kaku oleh Rei.
“Perkuliahan cukup membosankan” Jawab Rei
“Kapan Philip pulang? Kau pasti tak tahu” Ucap Reyna lagi dengan senyum miring yang begitu samar. Rei tersenyum puas dengan pertanyaan yang amat mudah dijawab.
“Sekitar dua minggu lagi dia pulang, nanti ku kabari” Ucap Rei tersenyum manis. Reyna memaksakan senyumnya dan keluar dari kamarnya. Reyna menyandarkan diri pada tembok setelah menutup pintu kamar.
“Apa yang kau lakukan Reyna, kau istri Rio” Dipukul pipinya berkali-kali untuk menyadarkan dirinya. Reyna bergegas menuju kamarnya yang terletak dilantai tiga. Sedari tadi ia menunggu karena penasaran dengan keadaan mantan kekasihnya namun tak didapatinya jawaban.
Tok
Tok
Tok
“Sebentar” Ucap Rei masih membaringkan tubuhnya yang kelelahan. Menghitung satu sampai sepuluh Rei mengumpulkan niat untung bangun dan bergegas mengunci pintu kamar.
“Masuklah” Ucap Rei dan tak lama pintu lemari itu bergeser, Philip membuka lemari yang menjadi akses kamar dan ruangannya.
“Apa aku seharusnya tak kemari?” Tanya Philip ragu melihat Rei yang kembali membaringkan tubuhnya dan menutup matanya. Philip melangkah ragu mendekati bibir ranjang dan duduk meringkuk dibawah permadani yang halus.
“Maaf membuatmu harus terus berbohong” Ucap Philip membuat Rei sontak membuka matanya. Kenapa harus ada permintaan maaf
“Kau dengar semuanya?”
Philip mengangguk
__ADS_1
“Aku tidak akan mencampakanmu” Ucap Philip tiba-tiba membuat kerutan dikening Rei. Rei mendudukan tubuhnya. Philip memandangi tangannya dan teringat
“Ah, maaf, tentu saja kau takkan mau denganku” Lirih Philip yang terdengar oleh Rei, Rei tersenyum tipis mendengar kekhawatiran tuannya.
“Ucapan itu hanya akan terjawab jika kau benar-benar kembali” Ucap Rei yang membuat Philip semakin memeluk kedua kakinya.
“Aku tak tahu apa jadinya jika kau pergi, disaat aku mulai bergantung kepadamu” Philip memainkan bulu halus permadani dibawah kakinya. Rei tiba-tiba ikut duduk disamping Philip.
“Kenapa kau meninggalkan wanita semudah itu” Rei menumpukan kepalanya pada tangan diatas kaki yang ditekuk, menoleh kearah tuannya.
“Aku terbiasa mendapatkan semua yang kuinginkan” jawabnua sembari menatap buku yang tertata rapi
“Dan kali ini kau harus banyak berusaha untuk mendapatkannya”
“mendapatkanmu?
Deg
“bukan itu maksudku, kau harus mendapatkan kembali hidupmu” Rei tersenyum tipis memaklumi ucapan bodoh dari tuannya.
‘tentu saja ditolak, Philip bodoh’
“Aku tau ini akan lancang, tapi pinjami aku bahumu” Ucap Rei yang meletakan bahunya tanpa mendengar jawaban Philip terlebih dahulu. Nafas Philip tercekat membuat Rei tertawa menyadari itu.
"Apa perkuliahannya melelahkan?" tanya Philip dengan tangan yang mengambang, ia hendak mengelus surai rambut wanita disampingnya namun ia ragu, tak berani.
"Perkuliahanku menyenangkan, hidupmu melelahkan"
“Kau tak seharusnya menyukaiku, aku hanya pembantumu” Tambah Rei dengan begitu santai
__ADS_1
“dan aku monster bagimu”
Deg