
Firasat yang dimiliki Philip memang terlalu kuat, memasuki ruangan Philip merasa menjadi sorotan orang-orang karena hampir semua mata memandang ke arahnya. Philip merasa terintimidasi sedangkan Rei tetap nyaman. Hal wajar ketika memasuki ruangan semua mata memandang untuk tahu siapa yang datang. Namun Philip bukan lelaki biasa, ia lelaki yang terkurung bertahun-tahun di dalam mansion mewahnya.
"Aku takut mereka mengenaliku" Ujar Philip berbisik pelan, namun Rei tak mendengarnya. suara Philip hilang terbawa alunan music klasik yang berdentum keras di ruangan ini.
"Rei" Panggil Philip lagi menyadari Rei tidak menyahuti ucapannya
"Kenapa?" Tanya Rei polos membuat Philip terdiam, ia enggan bertanya saat menyadari dirinya begitu kekanakan dan penuh ketakutan saat ini.
"Itu mas Rio" Tunjuk Rei bersemangat sedangkan Philip kini mematung memandangi sosok yang berada disamping masnya.
"Disampingnya mantanku" Jawab Philip membuat Rei terdiam beberapa saat sebelum tawanya bergema. Memang takdir begitu lucu.
"Udah move on tapikan?" tanya Rei membuat Philip mengangguk
"bukan masalah move on-nya, aku memang tak pernah benar-benar menyukai wanita" Jawab Philip tanpa ragu membuat Rei bergidik mendengarnya.
"Dasar gay" ejek Rei yang tak menyukai jawaban Philip.
"Hah? apa?" Ini kali pertama Philip di ejek dengan seorang wanita yang tak lain merupakan pekerjanya dirumah.
"Ulangi?" Pinta Philip
"Habisnya apa, sama cewe ga suka" Rei beralasan, ia bahkan menghindari kontak mata dengan tuannya.
"Ya ga gay juga" Jawab Philip pelan, Ia sedikit putus asa dengan jawabannya
"Udah ayo samperin mas Rio" Ajak Rei enggan berlama-lama berdebat. Bukan hal yang bagus jika berdebat dengan tuannya.
-
-
-
Undangan pernikahan di tunjukan pada bridesmaid yang berjaga dan keduanya mendapatkan souvenir berupa miniatur yang lucu. Philip mengedarkan pandangannya menyusuri ruangan.
"Tak ada yang kukenali" Gumam Philip padahal dulu ia cukup akrab dengan beberapa teman kakaknya.
"Halo mas" Sapa Rei terlebih dahulu menyalami Rio yang diikuti dengan Philip dibelakangnya.
"Ah? Philip?!" Mata Reyna terbelalak melihat sosok Philip dibelakang tamu wanita itu.
"Ya ! kau Philipkan?" Tanyanya lagi memastikan
"Sudah kuduga berita itu bohong, kau kuliah ke luar negeri?" Seakan tak memberinya pilihan kesempatan untuk menjawab, Reyna, pengantin wanita itu terus memberi dingin ya dengan banyak pertanyaan.
Philip gagap tak bisa menjawab, Ia juga bukan tipikal orang yang bisa berbohong. Ia memilih bungkam terhadap pertanyaan yang dilontarkan.
"Tapi berita kematian sangat tidak lucu" Ucap Reyna yang cukup terkejut mendengar kabar itu dar televisi.
"Tapi masmu ga pernah jawab pas ditanya kebenaran berita itu, pasti ada alasannya" Ucap Reyna lagi tersenyum senang.
"Selamat atas pernikahanmu" Ucap Philip mengabaikan semua keterkejutan Reyna. Mantan kekasihnya. Ia bahkan tak mengingat pertanyaan apa saja yang diajukan.
"Ah iya terimakasih" Jawab Reyna tersenyum tulus.
"Kau pacarnya kan?" Tanya Reyna tanpa ragu,
"Iya" jawab Philip tanpa ragu menggandeng Rei tak memberi kesempatan Rei menjawab.
__ADS_1
"Mas selamat ya, ini mau langsung pergi ada urusan" Ujar Philip tak mau menyia-nyiakan malam purnama yang hanya datang sebulan sekali.
"Ga makan dulu ? atau mungkin ada yang mau kau temui" Ucap Rio mengingat kedua orang tua Philip hadir.
"Ah, kau benar" Philip mengulum senyum membayangkan ia bertemu dengan kedua orang tua yang sudah lama tak ditemuinya.
"Kau tunggu di mobil" Pinta Philip pada Rei yang dibalas anggukan.
"oke"
"Kita balik dulu ya mas, mba duluan" Pamit Rei dengan sopan sementara itu Philip mulai mengitari ruangan mencari orang tuanya yang sudah lama tak bisa ditemuinya. Jantung Philip berdetak kencang mencoba untuk tenang. Ia menyusuri para tamu yang usianya hampir dua kali lipat darinya.
srrrttttt
sebuah tangan menyeretnya dari arah pintu yang setengah terbuka.
"ayah" Senyum riang Philip setelah melihat sosok ayahnya yang masih terlihat sama.
PLAK
"ngapain kamu disini !" Tatapan tajam ayah Philip tak membuat Philip takut. Rasa rindu itu terlalu besar untuk menutup rasa takut terhadap ayahnya
"aku merindukanmu" Philip memeluk ayahnya secara refleks namun bukannya balasan peluk yang didapatnya namun dorongan dan sentakan. Philip bahkan tak sadar jika tamparan sebagai sapaannya.
"Anakku sudah mati!" Melihat sosok didepannya membuang muka membuat Philip sadar, Hatinya teriris dengan jawaban dari sosok yang sudah lama ingin dilihatnya.
"ayah" Panggil Philip tak menyangka.
"pergi, jangan merusak acara hari ini! semua sudah berjalan dengan baik bahkan tanpamu, Jangan merusak nama baik keluarga" tegasnya lagi membuat Philip hanya bisa menggigit bibir bawahnya menahan emosinya.
"dan jangan pernah bertemu lagi"
"ayah" Bibirnya bergetar menahan air mata yang sedari menggenang.
Philip Anderson, sudah hampir 7 tahun terkurung karena kutukannya. Meski usianya tapi sudah memasuki 25 tahun namun mentalnya masih layaknya remaja 18 tahun. Ia tak memahami bagaimana dunia orang dewasa berjalan.
Dugh
Philip merosot terduduk begitu saja mendengar pernyataan kejam ayahnya. orang yang selama ini dicarinya.
"Aku akan kembali yah~" ucap Philip dalam isak tangis kecilnya. Air matanya tertahan di kedua matanya namun nafasnya naik turun.
Selama 10 menit Philip hanya terduduk di balik pintu. menenangkan dirinya. mencoba untuk tidak tersulut emosi.
"mungkin aku memang sudah mati" Philip berjalan dengan sedikit terhuyung. Ia mematut pantulan dirinya di kaca kamar mandi. Matanya sedikit merah.
"apa yang harus kujawab kalau Rei nanya" Philip membasuh wajahnya berkali-kali
"aku nangis saking terharunya? ah aku tak pandai berbohong" Philip keluar dari kamar mandi setelah mengusap wajahnya dengan tisu. Pipinya merah tamparannya cukup keras.
Sesampai di tempat parkir Philip hanya terdiam.
"Apa aku benar-benar dibuang?" Pikiran Philip masih kalut
"Mungkin ayah hanya belum menerimaku, ayo Philip semangat" Seulas senyum Philip paksakan, ia akan menjalani hidup sebaik mungkin.
"temukan hidupmu lagi"
"Oi disini" Teriakan Rei dari sisi kanan tempat parkir. Rei melambaikan tangannya agar Philip mengetahui lokasinya. Philip menghampiri Rei.
__ADS_1
"Menunggu lama?" Tanya Philip
"Lumayan" Jawab Rei
"Tapi aku mau ngasih pelajaran dulu"
Bugh
"Kenapa menendangku?" Tanya Philip keheranan, tendangannya tak membuatnya sakit sama sekali.
"Siapa tadi yang ngaku-ngaku jadi pacar" Gerutu Rei kesal saat Philip menjawab pertanyaan istri masnya.
"Dari pada jawab jomblo, kasian banget kedengarannya mana udah 25 tahun" Ujar Philip menjawab dengan logika yang baru saja muncul dari kepalanya.
"Padahalkan emang jomblo" Ucap Rei
"buruk rupa lagi" tambahnya lagi mengejek
"Yaaa.." Rajuk Philip tak terima dengan ucapan Rei
"Lihat aku tampan hari ini" Ujar Philip memamerkan wajahnya
"besok engga" Rei tak mau mengalah
"Emang" Jawab Philip, ia tak sakit hati kali ini. Ini kali pertama ia tak sakit hati ketika rupanya di ejek.
"Mau kemana sekarang?" Tanya Rei menatap arlojinya yang sudah hampir menunjukan pukul 20.15
"pantai"jawab Philip tanpa ragu, Philip berjalan kearah pintu mobilnya.
"Gimana tadi ketemu ?" Tanya Rei sembari memasang sabuk pengaman nya.
"apa?" tanya Philip tak paham dengan arah pertanyaannya.
"keluargamu" jelas Rei lagi
"Nanti mau berkunjung katanya" Jawab Philip menatap lurus , Menghindari kontak mata menjadi keharusan bagi Philip yang tak bisa berbohong.
"Kau pasti begitu senang, matanya sampai sembab karena bahagiakan?" Tanya Rei lagi
"tentu saja, siapa yang tak bahagia bertemu keluarga" Jawab Philip sedikit lirih
"Baguslah" Rei menyandarkan punggungnya pada jok mobil
Philip menyalakan mobilnya dan melaju kearah pantai, sepanjang perjalanan hanya iringan musik yang mengisi keheningan.
"Lusa aku mulai kekampus" Ucap Rei tiba-tiba membuat Philip memelankan musik yang diputar.
"Jadi lebih awal?" tanya Philip
"Ada yang harus diurus" Jawab Rei lagi
"Fokus saja pada studymu" Ucap Philip enggan merepotkan terlalu banyak
"Aku tetap harus tinggal di tempatmu" jawab Rei tanpa ragu
"Butuh kendaraan?" Tanya Philip lagi yang dibalas gelengan oleh Rei
"Aku hanya butuh bangun lebih awal" Jawab Rei
__ADS_1