The Cursed Prince

The Cursed Prince
Chapter 45


__ADS_3

“dan aku monster bagimu”


Deg


Ucapan tuannya tentu saja keterlaluan, itu penghinaan pada diri sendiri.


‘bodoh, kenapa jantungku berdebar’


Rei justru tak bisa mengendalikan detak jantungnya, entah rasa bersalah yang menjalat atau kekesalan karena tuannya begitu terdengar putus asa.


“Ayolah berhenti bermelankolis” Rei mendorong tubuh tuannya dan menegakan tubuhnya, ia mengambil meja lipatnya, meletakan laptop diatasnya.


“Aku sudah menemukan salah satu kontak orang yang satu sekolah denganmu” Ucap Rei menunjukan ponselnya tertera dengan kontak nama 'Temen Kakak Jessi'


“Kau serius?” Tanya Philip


“Aku bahkan sepercaya diri ini dan kau masih meragukanku?” Rei berdecih


“Maaf, aku hanya terlalu senang" Jawab Philip yang juga sedikit takut.


"Kudengar kau sulit berkata maaf sebelumnya, perlu kuberi tahu, terlalu sering mengatakan maaf juga tidak baik" Ucap Rei mengelus pundak tuannya. Diperlakukan kekanakan tentu saja melukai tuannya, karena itu bukan teori kehidupan dengan tingkat sulit.


Rei mengetikan pesan pada sebuah nomer yang sudah ia simpan di kontaknya


‘Permisi kak, ada yang ingin aku tanyakan apa bisa bertemu? Aku Freissya Magdalena, teman satu jurusan jessi’


‘Okey, Jessi sudah mengabariku, temui aku besok karena lusa dan beberapa bulan selanjutnya aku akan ke luar kota’


“Lihat. Berhasil” Tunjuk Rei pada balasan yang didapatnya

__ADS_1


“Siapa namanya?” tanya Philip lagi


“Ga tau”


“Bodoh” Ejek Philip membuat Rei memutar badannya, menghadap Philip dengan tangan bersedekap.


“Ekhm, lalu bagaimana dengan ingatan yang menurun? Haruskah kuledek pikun?” Rei memberi senyum miring yang membuat Philip murung membuang muka.


“Aku kalah”


“Kau bilang kesepian tadi, temani aku mengerjakan tugas” Rei mengambil buku tulisnya, setelah kontrak kuliah seorang dosen memberi tugas pra-materi. Riska membuka tab baru untuk mencari materi.


“Aku belum makan” Ucap Philip tiba-tiba


“Lalu yang sedari tadi kau lakukan?”


“menguping pembicaraan kalian”


"Pasti sudah dingin" Keluh Rei yang langsung diambil Philip. Philip sedikit menjauh dari karpet dan makan dilantai. Makannya sedikit berantakan mungkin akan mengotori permadani itu. Rei tak banyak bertanya, karena jika ia bertanya hanya akan ada luka untuk jawaban yang terlontar dari mulut tuannya.


Rei mengerjakan tugas dengan tenang sampai Philip selesai makan dan kembali duduk disampingnya.


"Tapi Rei" Ucapan Philip tertahan ragu


"Hmm?" Deheman balasan karena tangannya masih sibuk menulis dan bibirnya berkomat kamit membaca materi.


"Tentang kau yang akan mencampakanku jika aku macam-macam maksudnya apa?" Pikiran Philip tak bisa dikendalikan. Sedari tadi ia masih terus kepikiran.


"Hey, dengar" Rei meletakan pulpennya dan sedikit menjauhkan laptopnya. Ia tak bisa mengabaikan tuannya.

__ADS_1


"Bohong jika aku bilang tak menyukaimu setelah melihat berbagai sifatmu, namun aku juga tak mungkin mengiyakan, mungkin untuk saat ini aku memang tak keberatan akan dirimu tapi bagaimana kedepannya, aku juga punya orang tua yang selalu ingin dikenalkan siapa pacarku sekarang" Ucap Rei tersenyum dengan manis, ucapannya memang akan menyakiti Philip namun dengan ini ia juga akan mengerti jika perasaan Rei terhadapnya saat ini begitu tulus.


"Daripada memikirkan itu, aku masih memikirkan agar kau bisa hidup normal seperti lainnya" Mata itu ikut tersenyum seiring dengan bibienya yang melengkung.


"Aku juga tak bisa menjanjikan apapun terhadapmu, termasuk untuk tidak pergi, maka dari itu ayo bekerja keras" Ucapan Rei menhadi tamparan keras bagi Philip.


'Egois! Aku egois' Batin Philip menyalahkan dirinya. ia tertunduk malu. Rei menoleh dan menepuk pundak Philip. Philip mengusap ujung matanya yang sedikit berair. Rei tak bida menahan tawanya.


"Bayi besarku terharu" Goda Rei mencolek lengan Philip dan menjatuhkan kepalanya di bahu Philip. Kini hubungannya tak lagi atasan dan majikan melainkan hubungan pertemanan yang terjalin tanpa sadar.


"Aku sangat egois bukan? Aku selalu menyombongkan wajah tampanku yang hanya sebulan sekali bisa di lihat"


"Apa masalahnya, ini tampan kok" Ucap Rei mencubit pipi kiri Philip


"Itu tidak menyakitkan sama sekali" jawab Philip membuat Rei berdecih kesal.


"Bahkan jika tak sakit, kau harus pura-pura kesakitan" Celoteh Rei


"Aw"


"Aku ingin menghajarmu sekarang juga, tapi aku ingin mengerjakan tugasku"


"kubantu"


"Kau tau memangnya?"


"aku banyak belajar, aku juga mempelajari beberapa diktatmu yang semester lalu"


"Baguslah"

__ADS_1


Philip mencoba menghilangkan pikiran buruknya. Masih beruntung ia tak sendiri saat ini, ia membantu mengerjakan tugas. Ia benar-benar lemah untuk sekarang. Sekedar jahilpun ia merasa tidak berhak. Tak ditinggalkan pun sudah sesuatu yang harusnya disyukuri. Ia tak berhak menginginkan apapun, keluarganya sudah meninggalkannya.


__ADS_2