
Philip menghentikan mobilnya mendadak membuat Rei ikut terkejut. Philip menatap Rei bingung sedangkan Rei dibuat gemetar karena kini ia berada di sisi kiri jembatan. Dan jalan begitu sepi. Rei menunduk menatap kedua tangannya yang kini memegang erat sabuk pengaman.
"Kau mengenalku?" Tanya Philip yang membuat Rei gelagapan menjawab.
"Ah.. bu.. bukan begitu" Rei langsung mengambil ponsel dari tasnya dengan terburu-buru dari menunjukan artikel yang dibacanya sore tadi. Artikel kematian putra tunggal PA Entertainment.
"Ah.. ini" Philip hanya tersenyum tipis mengerti alasan Rei menanyakannya.
Philip tak menjawab, hanya tersenyum tipis. senyum penuh arti dan kembali melajukan mobilnya. Jika tadi ia banyak bertanya. Kini hanya ada keheningan didalam mobil.
"Ka..u marah?" Tanya Rei takut menyinggung tuannya. Philip hanya tersenyum simpul enggan menjawab. Butuh waktu yang panjang untuk menjelaskan dan mobil bukan tempat yang menyenangkan untuk bercerita. Philip mengendarai mobilnya menuju Cafe yang tak jauh dari pantai. Angin malam cukup menusuk membuat Rei merutuki dirinya.
"Pasti dia balas dendam, apa dia akan membunuhku secara perlahan karena kedingingan " Gumam Rei menahan dingin di kursi cafe outdoor, sementara Philip tengah memesan makanan.
"Kau kedinginan?" Tanya Philip yang baru saja tiba, melihat Rei yang menyilangkan tangannya dan rambutnya yang terurai bergerak mengikuti arah angin.
"Pantai bukan hal bagus" Ujar Rei menjawab, Ini percakapan pertama setelah keheningan yang terjadi didalam mobil.
"Kucarikan jaket dulu" Ujar Philip dan bergegas pergi entah kemana, Rei menatap ponselnya yang begitu sepi tanpa chat. Ia begitu bosan ditinggal seorang diri di tempat yang tak pernah ia kunjungi sebelumnya.
Selama hampir 15 menit Rei berjalan bolak-balik hanya untuk mengurangi rasa dinginnya dan saat itu pula Philip datang membawa jaket tebal berwana merah maroon.
"Lama ya? Agak jauh soalnya" Ujar Philip menyodorkan jaketnya dan tanpa basa-basi Rei memakainya.
"Kau tak kedinginan?" Tanya Rei melihat Philip hanya dengan kaos hitam lengan panjangnya.
"Sepertinya karena terbiasa dengan bulu tebal itu" Jawab Philip sendu, Ia tak merasakan dingin walau surai rambutnya terkena terpaan angin.
"Kau benar yang dilantai tiga?" tanya Rei lagi memastikan, Ia masih dalam keadaan berusaha mempercayai.
"Kau tak percaya?" tanya Philip tak menyangka dengan pertanyaan Rei.
"Aku hanya memastikan" Jawab Rei sambil mengangguk seorang diri.
Philip tersenyum mendengar jawaban Rei.
"apa yang terjadi?" Rei mulai tak bisa menahan diri untuk tidak bertanya
"Bulan purnama" Jawab Philip sambil menunjukan bulan purnama yang bersinar begitu cerah
"maksudmu?" Tanya Rei tak menemukan jawaban
"aku tak tahu kau cukup lamban" Ujar Philip tersenyum begitu tulus
"Aku kembali ke wujud asli ku saat malam purnama" Jawab Philip yang membuat Rei mengangguk
"Sebulan sekali" Tambah Philip dengan nada sendu, namun walau begitu ia tetap bersyukur masih diberi kesempatan untuk melihat wajah aslinya dan seseorang bisa mengenali nya.
__ADS_1
"Jadi seperti ini aslimu" Rei memberikan acungan jempol, menilai ketampanan Philip yang terlalu berlebihan.
"Tampan bukan?" Tanya Philip
Rei kini menatap Philip dan menelisik wajahnya dengan seksama.
"Tampan, dagumu runcing, alismu tajam, matamu indah, kau juga tinggi" Rei menjawab dengan detail, bagaimanapun juga dia majikannya.
"Dan besok kau tak akan melihat wajah tampan ini lagi" Ujar Philip menyombongkan diri namun terdengar menyedihkan dk telinga Rei
"Biasanya aku tak menyukai orang sombong, tapi untuk kali ini , aku biarkan" Ujar Rei dengan senyumnya menampilkan deretan gigi rapihnya.
"Berapa umurmu?" tanya Philip
"dua puluh tahun"
"Sejak kapan kau.." Rei tak melanjutkan ucapannya karena takut menyinggung tuannya walau berkali-kali ia telah menyinggung
"7 tahun" Philip tertawa miris menjawabnya
"Artikel itu?"
"itu.." Philip tampak menimbang-nimbang ucapannya. Ia tak tau bagaimana harus mengucapkannya. Terlalu lama mengurung diri cukup membuat Philip gagap dalam memilih kata.
"Menjaga citra PA Entertainment" Jawab Philip membuat Rei speechless. Rei merasa sedih dan kaget mendengar jawaban itu. Philip bahkan menghindari kontak mata dengan Rei.
"Pasti berat untukmu" Jawab Rei yang dibalas Philip dengan mengendikan bahu. Kejadian itu sudah lama dan Philip sudah lama ingin melupakannya. Ia bahkan tak ingat kejadian sebenarnya seperti apa.
Tak lama makanan yang dipesannya pun datang. Dua porsi hidangan makanan yang membuat Rei langsung menyerbu sendok dan garpunya tanpa malu. Ia sudah menahan lapar sejak sore tadi.
"Kau benar-benar lapar?" Philip tertawa kecil melihat Rei begitu lahap, Rei hanya mengangguk semangat.
"Rio kakakmu?" Tanya Rei disela-sela kunyahannya.
"asistenku, udah kaya kakak sih" Jawab philip sembari mengiris steak, makanan kesukaannya.
"dia baik" Rei memuji dengan tulus.
"habis ini kemana?" Tanya Rei lagi, tangan kanannya meraih tisu dan mengusap bibirnya kasar.
"ga tau" Philip mengendikan bahu dan mulai menikmati makanannya.
"Padahal baru kemarin kau menjerit melihatku" Philip tiba-tiba teringat pertemuan beberapa hari yang lalu.
"Siapapun akan menjerit melihatmu" Rei mengelak tak terima, seakan-akan salah jika ia berteriak, padahal philip memang menakutkan kala itu.
"Bulu-bulu di seluruh tubuhmu dan taringmu yang panjang, seperti kau akan menerkamku" Rei bergidik sendiri mengatakan dengan penuh ekspresi.
__ADS_1
"tapi aku suka manusia" Jawab Philip membuat Rei menghentikan kegiatan mengunyahnya. Rei terdiam sebentar dan mencoba menelan makanannya bulat-bulat. Ia masih mencerna ucapan Philip.
"Ya!" Rei menatap Philip taja.
" Kenapa? Jika ada yang ingin kau tanyakan, tanyakan saja" Philip tersenyum manis membuat Rei berfikir, banyak yang ingin ia tanyakan. Hal seperti ini sungguh sangat langka.
"Aku tak yakin kau bisa bertanya santai denganku besok" Philip meledek Rei yang kini berbicara begitu santai, melupakan status mereka.
"berubah lagi?" tanya Rei
"menyedihkan bukan? dan ini sudah berlangsung selama 7 tahun" Philip meneguk minumnya.
"apa penyebabnya?" Rei menghentikan makannya, ia bahkan meletakan sendok dan garpu yang tadi dipegangnya
"aku juga tak tahu" Philip menerawang, satu hal yang pasti. Ia seperti inu karena gadis yang dikencaninya dulu. Namun Philip tak hafal siapa saja yang dikencaninya dulu.
"habiskan dulu, nanti cari cafe" Philip mendorong piring Rei agar ia kembali makan.
"good idea"
Rei menatap Philip dan tersenyum tipis. Tuannya begitu ramah. Tak semenakutkam yang dipikirkannya. Terlalu ramah. Senyum Philip tak pernah luntur. Wajahnya dipenuhi senyum membuat Rei berfikir apa yang membuat dirinya dikutuk.
Rei menyeruput minumnya sampai habis.
"Pergi sekarang?"
"tunggu lima menit dulu" Ujar Rei yang kekenyangan. Philip hanya tersenyum.
"Kau murah senyum" Puji Rei
"Karena aku tau, senyum membuatku semakin mempesona" Philip sangat tahu kelebihannya.
"kuakui"
"Kau terpesona denganku?" Tanya Philip tiba-tiba
"ketampananmu"
"ah.. itu" Philip hanya tersenyum malu mendengar jawaban Rei. Rei juga memaklumi Philip.
"Kau benar-benar tahu kelebihanmu" Rei berkata dengan tulus, Philip juga tersenyum tipis mendengar jawaban.
"Hanya itu yang terlihat, tapi aku tak sebaik itu. Perilakuku dimasa lalu yang menjadikanku seperti ini" Philip sangat yakin dengan ucapannya
"Apa seburuk itu?" Tanya Rei tak percaya. Sejauh ini Philip begitu ramah dan sangat sopan, Ia bahkan cukup perhatian.
"mungkin lebih buruk"
__ADS_1