The Cursed Prince

The Cursed Prince
Chapter 49


__ADS_3

"Tapi Philip" Rei ragu untuk mengirim postngannya.


"hmm" Gumam Philip yang sedang menyeruput minumnya.


"Apa ayahmu akan memarahimu lagi?" Tatapan memelas itu membuat Philip mendengus kesal. Ia tak suka dikasihani.


"Jangan pikirkan itu, aku akan baik-baik saja bahkan jika itu terjadi" cecar Philip yang dibalas anggukan oleh Rei.


"Menurutmu apa yang akan terjadi jika ini berhasil?" Tanya Rei yang masih khawatir


"Aku akan bertemu ayahku lagi, bertemu mas Rio atau mungkin aku bisa bertemu ibu" Terka Philip dengan santai. Ia tak begitu berharap, atau akan terjatuh karena ekspektasi yang sesuai.


"Kau tak keberatankan?"


"Siapa yang melankolis sekarang" Sindir Philip yang membuat Rei berdecih.


"Mau ambil foto dimana lagi?" Tanya Rei karena ia tak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini. Dengan foro yang diambilnya, dia bisa sering-sering melihat diponselnya. Walaupun tujuan awalnya untuk mengupload di SNSnya.


"Pantai?" Usul Rei yang memang sering diajak ke pantai.


"Kau mau ke pantai? Ke mall aja yuk, Image Philip Anderson itu suka belanja, buang-buang uang" Ujar Philip menyombongkan citranya.


"Boleh sih"


"Sih? Kenapa ada sihnya? Ga mau ya?" Sela Philip memotong ucapan lawannya.


"Bukan itu! Kau tuh ya suka banget motong pembicaraan" Omel Rei membuat Philip terkesan. Sangat manusiawi bukan jika seorang laki-laki suka melihat wanitanya mengomel. Bahkan hati Philip sudah mengklaim lawannya sebagai wanitanya.


"Kalau sukanya mall kenapa sering ajak aku ke pantai?"


"Ga suka aja jalan di Mall sendirian, lagian ga 24 jam sih bukanya" Philip beralasan


Akhirnya mereka memutuskan untuk pergi ke Mall, Sesampai di sana Rei terus menerus membuat foto candid dan mengupload di story SNSnya. Bukti digital sekarang lebih dipercaya daripada sekedar omongan.


"Pilih baju dulu buat gaya-gayaan" Usul Rei yang membuat Philip tak mengerti. Tak.ada yang salah dengan pakaiannya sekarang. Setidaknya itu menurut Philip.


"Biar kalau difoto , bajunya ga itu-itu aja, jadi bisa diupload buat besok-besok" Terang Rei dan Philip memahami itu dengan mudah.


Selepas berbelanja mereka memilih untuk pergi ke photo box. Meninggalkan banyak jejak akan mempermudah tujuannya.


"Wah, fotomu yang ini garang sekali" Komentar Rei saat Philip bergaya cool dengan memainkan sorot matanya.


"Aku lebih suka foto kita berdua" Puji Philip. Ia berencana memasang foto-fotonya di kamarnya nanti. Menyenangkan. Selama 7 tahun terakhir baru kali ini ia bisa benar-benar menikmati purnamanya.


"Kita kemana lagi?" Philip baru saja keluar dari toilet mall setelah selesai mengganti pakaiannya.


"Bikin vlog sama klarifikasi buat jaga-jaga" Rei sembari menyender di tembok depan toilet

__ADS_1


"Pikirkan saja bagaimana jika orang tuamu bertindak nanti" Ucap Rei yang dibalas anggukan


"Aku sudah memikirkan alasannya"


"Kalau begitu ayo buat video"


"Bikin vlog dulu, dimana?" Pendapat Philip, Alasannya sederhana. Ia belum ingin pulang.


"Dinner candle light?" Usul Philip mengerjapkan matanya memberi kesan manis yang menyebalkan.


"Jangan, aku masih kenyang" Sergah Rei cepat. Nuansa romatis? Bisa saja ia akan masuk ke dalam jebakan hati. Ia menolak.


"Kita rekam video aja, kaya kamu sekarang berdiri disini, sambil jalan aku videoin" Papar Rei memberikan gambaran sederhana.


"Okey" Sekenanya Philip menjawab, namun bukan masalah. Selagi ia tak sendiri.


"Live juga trus disave gimana?" tanya Philip meminta pendapat Rei.


"Boleh, semakin meyakinkan" Jawab Rei. Philip menyalakan ponselnya yang sudah tertaut dengan akunnya. Dengan pengikut yang masih sedikit tentu saja, Philip harus bosan karena tak ada yang menonton. Rei menjaga jarak agar dirinya tak terlihat.


"Tapi jangan sampai aku kena sorot" Pintanya sebelum Philip memulai siaran langsungnya. Yang disetujui oleh Philip. Akan sedikit berbahaya jika harus tersorot. Media akan kejam dan berkata yang tidak-tidak. Philip tak lama melakukan siaran langsung. Hanya sepuluh menit.


Diawali opening oleh dirinya, lalu berjalan-jalan sambil memaparkan suasana malam, dan suasana hatinya. Ia juga mampir ke beberapa pedagang dan membeli beberapa jajanan.


Tepat pukul dua belas malam Philip daj Rei sampai dirumah dengan Reyna yang menyambutnya.


"Philip kau benar-benar pulang?" Dengan sedikit berlari Reyna menghampiri keduanya. Tangannya merengkuh tangan Philip yang tak lama dilepasnya, karena Philip memilih merangkul gadis disampingnya.


"Aku akan bermalam disini" Ucap Philip tanpa melepaskan rangkulannya. Rangkulan pinggang yang Rei terima dan harus ditahan untuk tidak memukulnya, Geli.Itu yang dirasakan Rei.


"kenapa sangat sebentar?" Reyna memelas menyayangkan jawaban Philip.


"Aku ada keperluan yang ga bisa dimundurin, Aku cukup sibuk beberapa tahun terakhir,"


"Kak Rio mana?" Philip basa-basi menanyakan kakaknya yang sudah lama tak terlihat. Sudah satu purnama Philip tak melihat kakaknya.


"Ada diatas, kupanggilkan ya" Reyna hendak pergi namun segera di cegah oleh Philip. Ia akan kehabisan waktu nanti.


"Ga perlu mba, lagian aku balik cuma mau ketemu Rei kok" Philip kini menggenggam tangan Rei dengan lembut.


"Kukira kalian tak benar-benar berpacaran" Reyna tersenyum mengendikan bahu. Tak percaya jika yang dilihatnya benar.


"Kalau kau berfikir aku masih seperti dulu, itu salah, aku sudah berubah mba, karena dia" Reyna menahan umpatannya dalam senyum manisnya. Ucapan lelaki didepannya sangat sulit untuk dipercaya.


"Kalau gitu kita mau kekamar dulu ya mba, temu kangen" Kata Philip membuat Rei mendelik mendengar ucapan ambigu itu.


Dengan sedikit ditarik, Rei membawa Philip. Langkahnya begitu kesal. Rei ingin segera menghajar Philip namun beda dengan yang terlihat oleh Reyna.

__ADS_1


"Agresif sekali" Gumamnya dan berjalan gontai menuju kamarnya.


"Aku hanya penasaran dengan hidupnya" Ucap Reyna bermonolog.


"Kenapa murung sayang?" tanya Rio yang membuat Reyna sedikit berlari dan menubruk dada bidangnya. Rio yang saat ini masih sibuk dengan berkas kantornya.


"Kau kenala?" tanya Rio dibalas gelengan oleh Reyna


"Pengen meluk aja" Jawab Reyna, tiga menit Reyna bermanja dalam pelukan suaminya. Suami yang sangat dicintainya.


"Mas sibuk terus, Reyna kangen" Bergelayut manja Reyna. Rio mengelus suari rambutnya pelan. Perempuannya memang menjadi lebih manja setelah pernikahan.


"Ya udah mas berhenti, mau tidur sekarang?" tanya Rio yang dibalas anggukan oleh Reyna. Beruntung ia sudah selesai mempelajari berkas untuk rapat esok hari.


.


.


.


Brakkk !


Rei mengunci Philip dalam kukungungan kecilnya membuat Philip menaikan alisnya kebingungan.


"Ambigu banget sih" Teriak Rei membuat Philip mau tak mau harus menutup telinganya.


"Apa" Philip tak memahami kesalahannya.


" temu kangen dikamar, itu namanya mau mesum" Jelas Rei membuat Philip beroh ria dengan menutup mulut dengan tangannya sedikit terkejut. Ucapannya benar-benar bisa disalah artikan ternyata.


"jadi mau?" Goda Philip meraih pinggang Rei dengan kerlingan nakalnya.


Deg


'Ini terlalu dekat' Batin Rei baru sadar.


"Ayo buat video" Rei mencoba untuk melepaskan rengkuhannya namun gagal. Tautannya cukup erat.


"Video mesum?"


"Hei!!!"


PLAK!!


Godaan Philip berakhir dengan tamparan yang cukup keras di pipinya membuat penampar itu terkejut sendiri.


"Maaf, Ga sengaja" Rei terkejut sendiri dengan tindakannya

__ADS_1


__ADS_2